Keluarga yang bangkit menjadi terang (Pdt Jaliaman Sinaga, MDiv)
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 28 Januari 2024 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
| |
Keluarga yang bangkit dan menjadi terang bukan keluarga yang tidak memiliki masalah atau konflik, tetapi keluarga yang dengan pertolongan Tuhan berhasil mengatasi konflik, belajar saling menerima, mengampuni, menghargai perbedaan, dan terus bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus. Supaya keluarga bangkit dan menjadi terang, setiap anggota keluarga harus terkoneksi dengan Tuhan, bertumbuh di dalam Tuhan, membangun mezbah keluarga, serta memiliki paradigma yang benar bahwa masalah tidak selalu berarti Tuhan membenci kita karena kadang Tuhan sedang membawa kita bertumbuh melalui proses. Dalam persoalan, Tuhan tidak selalu langsung memberikan delivering grace, tetapi sering memberikan sustaining grace—menopang kita untuk berjalan bersama-Nya sampai kita keluar sebagai pemenang dan meninggalkan warisan iman bagi generasi berikutnya.
Shalom, Bapak, Ibu. Puji Tuhan.
Hari ini tanpa terasa kita ada di minggu terakhir bulan Januari. Topik kita hari ini tetap berkaitan dengan tema besar yang Tuhan berikan melalui Gembala Sidang kita, yaitu Tahun untuk Bangkit dan Jadi Teranglah. Karena itu topik kita hari ini adalah keluarga yang bangkit menjadi terang. Katakan, "Keluarga yang bangkit menjadi terang."
Kita baca beberapa ayat Firman Tuhan yang berkaitan dengan hal ini. Mari kita baca Mazmur 144:12,
- Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!
Saya tertarik dengan kata-kata ini. Anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya. Artinya, mereka bertumbuh bukan hanya secara fisik, tetapi juga karakter dan kehidupan spiritualnya. Anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru yang dipahat untuk bangunan istana. Bukan untuk tempat sembarangan, tetapi untuk istana. Berarti sesuatu yang berguna dan berkualitas.
Kalau kita rindu anak-anak kita mendapat pasangan yang sungguh berkualitas, kita juga harus mendidik anak-anak kita menjadi pribadi yang berkualitas. Dan semuanya dimulai dari pasangan suami-istri yang berkualitas.
Kita baca ayat berikutnya:
- Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.
Bagi kita orang tua, merupakan satu sukacita kalau mendengar anak-anak kita hidup dalam kebenaran. Pernah seseorang bercerita kepada kami, "Pak, Bu, anak Bapak dan Ibu waktu itu melayani kami dan kami sangat diberkati." Wah, rasanya senang sekali.
Anak kedua kami, Aca Sinaga dan suaminya, Andy Ambarita, menggembalakan di sebuah GBI di Australia. Ketika mereka melayani dan orang yang dilayani berkata bahwa mereka diberkati, itu menjadi satu kebahagiaan bagi kami sebagai orang tua.
Apalagi tantangannya sekarang besar. Ada istilah generasi sandwich, ada juga strawberry generation. Stroberi kelihatannya bagus, merah, menarik, tetapi gampang rusak dan rapuh. Generasi sekarang banyak yang tampil di media sosial dan di muka umum harus kelihatan bagus, tetapi jangan sampai di dalamnya karakternya rapuh. Kita berdoa anak-Fanak kita tidak rapuh, tetapi tangguh. Anak-anak perempuan kita menjadi seperti tiang-tiang yang dipahat untuk istana. Kita beri kemuliaan bagi Tuhan! Haleluya!
Keluarga yang bangkit bukan keluarga tanpa masalah
Bagaimana keluarga yang bangkit menjadi terang itu? Jangan pernah berpikir keluarga yang bangkit adalah keluarga yang absen dari problem atau konflik. Bukan berarti tidak pernah sakit hati atau kecewa. Kadang-kadang justru orang yang paling kita hormati dan paling kita apresiasi diizinkan Tuhan menyakiti hati kita supaya kita belajar memberikan respons yang benar.
Bagi seorang istri, yang paling berpotensi melukai hati adalah suaminya sendiri. Demikian juga bagi seorang suami, yang paling berpotensi melukai hatinya adalah istrinya sendiri. Kenapa? Karena pernikahan terdiri dari laki-laki yang tidak sempurna menikah dengan perempuan yang tidak sempurna, tetapi melalui pernikahan keduanya semakin disempurnakan oleh Tuhan.
Sampai hari ini saya masih terus diproses. Dan yang Tuhan pakai untuk memproses saya paling banyak adalah wanita yang ada di sebelah saya ini. Tetapi saya percaya dia juga diproses oleh seorang laki-laki yang namanya Jaliaman Sinaga. Jadi kalau pasangan Anda memproses Anda, berarti pernikahan Anda sedang menggenapi rancangan Tuhan yang indah.
Keluarga yang bangkit bukan keluarga yang tidak punya masalah atau konflik, tetapi keluarga yang berhasil mengatasi setiap konflik dan keluar sebagai pemenang, bahkan lebih daripada pemenang.
Kita tidak bisa memilih keluarga asal, tetapi bisa menentukan keluarga yang kita bangun
Setiap sesi kehidupan punya masalah masing-masing. Anda dan saya tidak bisa memilih di keluarga mana kita dilahirkan. Saya lahir di kaki Gunung Simbolon, di daerah Sumatera Utara. Sampai hari ini mungkin enggak ada di Google. Saya tidak bisa berkata kepada Tuhan, "Kenapa saya lahir di sana?" Itu kedaulatan Tuhan.
Kita juga tidak bisa memilih siapa yang menjadi papa dan mama kita. Ada orang yang berkata, "Kenapa papa dan mama saya bercerai? Kenapa papa meninggalkan kami? Kenapa mama seperti itu?" Kita tidak bisa memilih.
Ada seorang wanita berkata, "Sejak lahir saya tidak kenal papa dan mama karena dititipkan kepada nenek." Tetapi puji Tuhan, hari ini wanita itu mengenal Tuhan, bertemu dengan suami yang mencintai Tuhan, dan mereka melayani Tuhan.
Apa pun latar belakang kita, kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan dan dibesarkan. Tetapi kita bisa menentukan keluarga seperti apa yang akan kita bangun dan kehidupan seperti apa yang akan kita jalani hari esok. Itu pilihan kita.
Penyebab masalah dalam keluarga
Keluarga yang bangkit dan menjadi terang bukan keluarga yang absen dari masalah. Karena itu kita perlu memahami beberapa penyebab masalah dalam keluarga.
#1 Semua orang telah berbuat dosa
Kita baca Roma 3:23,
- Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.
Manusia diciptakan Tuhan penuh dengan kemuliaan-Nya. Tetapi ketika manusia berbuat dosa, manusia kehilangan kemuliaan itu. Walaupun kita sudah menerima Yesus dan menjadi anak Tuhan, godaan untuk berbuat dosa masih ada.
Paulus berkata bahwa ada saatnya dia ingin berbuat baik, tetapi justru yang tidak ingin dilakukan itulah yang dilakukan. Artinya godaan itu masih ada. Tetapi jangan jadikan itu pembelaan, karena Roh Allah yang ada di dalam kita lebih besar.
Siapa pun bisa jatuh. Daud bisa jatuh. Tetapi Yusuf tidak jatuh. Apa yang membedakan? Respons kita terhadap godaan.
Kita baca Roma 6:23,
- Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Kita semua berjuang supaya apa yang dimulai dalam Roh juga diakhiri di dalam Roh. Jangan berakhir dalam daging. Hidup ini penuh perjuangan. Kalau ada godaan, itu biasa. Tetapi ketika kita mengandalkan Tuhan, tantangan dan godaan sebesar apa pun bisa kita lalui oleh anugerah Tuhan.
Yusuf adalah anak muda yang belum menikah ketika digoda istri Potifar. Alkitab berkata godaan itu terjadi berkali-kali. Tetapi Yusuf berkata, "Tidak," bahkan ketika bajunya ditarik, dia memilih lari. Kenapa Daud jatuh? Daud memberi respons yang berbeda terhadap godaan.
Jadi godaan masih ada, tetapi respons kita menentukan. Kalau kita seperti Yusuf dan berkata, "Tidak," saya percaya kita keluar sebagai pemenang.
Pernikahan bukan tempat memelihara ego
Yang harus dikalahkan dalam diri kita adalah ego. Kalau Anda egois, jangan menikah, karena pernikahan adalah konsep untuk berbagi dalam kehidupan. Keegoisan membuat kita sering masuk dalam berbagai masalah pernikahan. Tetapi ketika kita mengerti bahwa kita harus berbagi, saling mengampuni, dan saling menerima, kita bisa bertumbuh bersama.
Waktu pacaran mungkin gampang sekali buka dompet. Setelah menikah mulai mikir anak, masa depan, tabungan, dan kebutuhan keluarga. Bukan berarti pelit, tetapi belajar hemat. Kalau semuanya hanya "saya, saya, saya", rumah tangga bisa hancur.
Sering orang memiliki konsep yang salah tentang pernikahan. Dia berpikir tujuan pernikahan adalah mencari kebahagiaan. Padahal tujuan pernikahan bukan sekadar mengejar kebahagiaan. Pernikahan adalah untuk menggenapi rencana Allah, dan kebahagiaan adalah bonus.
Firman Tuhan berkata tidak baik manusia seorang diri. Tuhan memberikan seorang penolong yang sepadan. Kalau saya menikah dengan kamu, pertanyaannya bukan, "Saya dapat apa dari kamu?" tetapi, "Ketika saya menikah dengan kamu, bagaimana saya menjadi berkat buat kamu?" Ketika pasangan mengecewakan kita, kita kembali ingat tujuan kita hadir dalam kehidupannya: supaya dia semakin baik dan supaya bersama-sama kita menggenapi rencana Tuhan.
#2 Ada perbedaan-perbedaan
Penyebab masalah yang kedua adalah adanya perbedaan-perbedaan. Sering kali konsep kita begini, "Kalau saya menikah dengan kamu, saya ingin mengubah kamu supaya sama seperti saya." Tidak bisa.
Saya tidak bisa mengubah istri saya. Bahkan anak saya yang punya DNA saya saja tidak bisa saya ubah sesuka saya. Yang bisa saya lakukan adalah menabur benih Firman, lalu kalau perubahan yang saya harapkan belum terlihat, saya terlebih dahulu mengubah respons saya. Ketika respons saya berubah, kita bisa semakin cocok.
Kalau kita tidak mau mengubah respons, setiap hari bisa cekcok. Kalau 38 tahun cekcok terus, capek. Dan yang paling menderita adalah anak-anak yang setiap hari melihat orang tuanya bertengkar.
Gambaran pernikahan kita hari ini menjadi salah satu gambaran pernikahan yang dilihat anak-anak kita. Kalau kita mau anak-anak punya gambaran pernikahan yang baik, kita harus belajar memberi teladan. Boleh ada perbedaan dan konflik, tetapi selesaikan.
Firman Tuhan berkata jangan biarkan matahari terbenam sebelum amarahmu padam. Jangan sampai bukan hanya matahari yang terbenam, tetapi bulan, minggu, bahkan tahun juga lewat dan sakit hati itu tetap disimpan. Mari kita ingat hal-hal yang baik. Kalau mau jadi "ahli sejarah", jadilah ahli sejarah yang dikuduskan: ingat Firman Tuhan, ingat kebaikan Tuhan.
Karunia kita berbeda-beda
Kita baca Roma 12,
- Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.
Karunia yang dianugerahkan kepada kita berbeda-beda. Potensi dan passion yang kita miliki bisa berbeda. Anak Anda dua atau tiga pun semuanya bisa berbeda.
Ada yang seperti musik jazz, ada yang rock and roll, ada yang keroncong. Tidak ada yang lebih bagus atau lebih jelek. Ciptaan Tuhan luar biasa. Miliaran manusia di dunia ini tidak ada yang sama persis. Sidik jari pun berbeda.
Karena itu, perbedaan yang tidak disinergikan dan malah dipertentangkan akan menjadi sumber konflik. Kalau saya pendoa, saya tidak bisa memaksa pasangan saya harus sama seperti saya. Kalau istri punya karunia pendoa dan suami tidak, mungkin suami punya karunia lain. Jangan dipaksa.
Kita harus saling menghargai apa yang Tuhan taruh dalam pasangan dan anak-anak kita. Kalau orang tua dulu ingin menjadi dokter tetapi tidak tercapai, jangan paksa anak menjadi dokter padahal lihat darah saja pingsan. Hargai passion anak kita, dorong dia, dan saya percaya dia akan maksimal sesuai karunia yang Tuhan berikan.
Terima dan sinergikan perbedaan
Ada perbedaan pria dan wanita. Ada perbedaan pohon keluarga. Ada perbedaan latar belakang. Intinya kita tidak bisa mengubah pasangan menjadi sama seperti kita.
Tetapi sejauh saya menerima dia—accept—dengan perbedaan yang ada, lalu kita menyinergikan perbedaan itu, konflik bisa dikelola dengan lebih baik.
Contohnya, seorang suami mungkin lebih hemat dan susah mengeluarkan uang. Biasanya Tuhan berikan istri yang lebih mudah mengeluarkan uang. Itu juga bisa terjadi karena perbedaan pohon keluarga dan pengalaman masa lalu.
Kalau perbedaan ini disikapi dengan benar, saya menerima dia dengan keadaannya dan memahami latar belakangnya, kita tidak perlu terus konflik dalam hal yang sama. Konflik sering terjadi karena ego berkata, "Kamu harus begini. Kamu harus seperti saya." Karena itu perbedaan harus disinergikan.
#3 Ada luka hati yang belum disembuhkan
Penyebab masalah berikutnya adalah luka-luka di hati yang belum disembuhkan. Dalam perjalanan hidup ini kita bisa terluka. Siapa yang dari lahir sampai hari ini tidak pernah terluka? Kalau kita jujur, hampir semua pernah terluka.
Masalahnya adalah ketika luka itu tidak disembuhkan. Orang yang terluka berpotensi melukai orang lain. Seorang suami yang terluka dan belum mengalami pemulihan akan sangat berpotensi melukai orang-orang yang paling dekat dengannya. Yang paling dekat siapa? Pasangannya.
Karena itu jangan menikah sambil membawa "koper" berisi luka-luka masa lalu yang belum dibereskan. Mungkin luka dengan orang tua, luka dengan saudara, luka dengan mantan, atau luka karena peristiwa tertentu. Kemudian dia menikah dan berharap pasangannya menggantikan figur yang hilang atau menyembuhkan semuanya. Ketika ternyata pasangannya tidak bisa memenuhi itu, timbul masalah.
Firman Tuhan berkata dalam Efesus 4:26,
- Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.
Kalau ingat seseorang kita masih jengkel, coba periksa kembali hati kita. Kita bisa tetap mengingat peristiwa yang pernah terjadi, tetapi kalau kita bisa menceritakannya dengan tenang, itu pertanda lukanya sudah semakin sembuh. Sebaliknya, kalau berkata, "Saya sudah mengampuni," tetapi setiap ingat orang itu hati langsung kembali panas, mungkin masih ada bagian yang perlu dibereskan.
Kita semua bisa terluka, tetapi jangan terus memelihara luka. Firman Tuhan berkata,
- Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Kalau engkau berkata, "Tuhan, saya enggak bisa. Terlalu sakit. Tapi saya minta Tuhan kuatkan saya. Saya mau mengampuni," saya percaya Tuhan memberikan kekuatan untuk mengampuni.
#4 Ada masalah yang Tuhan izinkan
Ada juga masalah yang bukan muncul karena dosa atau kesalahan kita, tetapi Tuhan izinkan. Kita ingat Roma 8:28, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.
Karena itu ketika keluarga kita mengalami masalah, kita harus ingat bahwa ada rencana Tuhan yang besar dalam kehidupan kita.
Kita lihat kisah Ayub. Tuhan mengizinkan Ayub mengalami kehilangan yang luar biasa. Bukan karena Ayub sedang hidup dalam pemberontakan terhadap Tuhan. Tetapi ketika kita membaca bagian akhirnya, Ayub berkata bahwa dahulu dia hanya mendengar tentang Tuhan, tetapi sekarang matanya sendiri memandang Dia. Dan dia berkata bahwa tidak ada rencana Tuhan yang gagal. Akhirnya Tuhan memulihkan kehidupan Ayub.
Jadi kalau kita mengalami masalah, mungkin memang ada kesalahan kita. Kalau ada dosa, bereskan. Tetapi tidak semua masalah yang kita hadapi terjadi karena dosa kita. Ada masalah yang Tuhan izinkan, dan kalau Tuhan mengizinkannya, kita percaya Tuhan mau membawa kita semakin bertumbuh di dalam Dia.
Bagaimana keluarga bangkit dan menjadi terang?
#1 Terkoneksi dengan Tuhan
Yang pertama, pastikan kita terkoneksi dengan sumbernya. Siapa sumbernya? Tuhan.
Sumber mukjizat adalah Tuhan. Sumber berkat adalah Tuhan. Keselamatan kita berasal dari Tuhan.
Sama seperti lampu, kalau tidak dikoneksikan kepada sumber listrik, lampu tidak akan hidup dan menjadi terang. Begitu juga kehidupan pribadi kita. Kalau kita mau bangkit dan menjadi terang, kita harus terkoneksi dengan Tuhan.
Kita terkoneksi dengan Tuhan pertama kali ketika membuka hati, mengaku sebagai orang berdosa, dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kalau ada Bapak, Ibu yang mungkin sejak kecil sudah ke gereja tetapi belum pernah secara pribadi menerima Yesus: Open your heart. Buka hatimu. Terima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatmu. Terima Yesus satu kali, tetapi bertobat perlu berkali-kali.
Semakin dekat dengan Tuhan, semakin dekat satu sama lain
Bayangkan sebuah segitiga. Kalau suami terkoneksi dengan Tuhan dan terus bertumbuh menuju Tuhan, sementara istri juga bertumbuh menuju Tuhan, semakin keduanya mendekat kepada Tuhan, semakin dekat juga hubungan suami-istri.
Sebaliknya, kalau istri jauh dari Tuhan dan suami juga jauh dari Tuhan, mereka berdua juga semakin berjauhan. Semakin dekat dengan Tuhan, secara rohani dan emosional pasangan juga semakin dekat. Karena itu, dekatlah kepada Tuhan bersama-sama.
#2 Bertumbuh di dalam Tuhan
Kita harus bertumbuh menuju kedewasaan. Tuhan mau kita terus bertumbuh menjadi serupa seperti Kristus.
Kita baca 2 Petrus 1,
- Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.
Ini namanya pertumbuhan: iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih kepada semua orang. Terus bertumbuh.
Jangan pernah berhenti belajar. Jangan pernah berhenti sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Paulus berkata,
- Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya.
Kita harus belajar mengenal Tuhan lebih dalam daripada apa pun yang ada di dunia ini. Kadang-kadang kita kepo terhadap banyak hal, tetapi enggak kepo kepada Tuhan. Mari kita berkata, "Aku ingin mengenal Tuhan lebih dalam lagi," karena itu menjadi jaminan supaya kita terus bangkit dan menjadi terang.
Bangun mezbah keluarga
Realisasinya secara sederhana adalah membangun mezbah keluarga. Suami, istri, dan anak-anak berdoa bersama-sama, membaca Firman bersama-sama, serta menciptakan waktu untuk bersama-sama datang kepada Tuhan.
Saya percaya kalau suami, istri, dan anak-anak membiasakan ini sedini mungkin, kita akan mengalami indahnya hidup dalam kerukunan.
Firman Tuhan berkata dalam Mazmur 133,
- Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
Adakah seorang imam dalam keluarga yang mendoakan anak-anaknya ketika mereka mau meninggalkan rumah? Kalau suami sebagai imam sedang tidak ada, istri melakukannya. Jangan biarkan anak kita pergi ke sekolah, bekerja, atau melakukan aktivitasnya tanpa kita mendoakan mereka dan menyerahkan mereka dalam perlindungan Tuhan.
#3 Miliki paradigma yang benar tentang masalah
Yang berikutnya, miliki paradigma yang benar tentang masalah. Masalah bukan berarti Tuhan benci kepada kita. Masalah bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada kita. Ada rencana Tuhan yang indah.
Kadang-kadang ketika kita punya masalah, Tuhan tidak langsung memberikan mukjizat saat itu juga. Ada yang disebut delivering grace, ketika Tuhan langsung melepaskan kita dari masalah. Tetapi ada juga sustaining grace, yaitu ketika Tuhan menopang kehidupan kita selama kita berjalan melewati masalah itu.
Misalnya saya sedang menghadapi banjir setinggi ini. Doa saya tentu, "Tuhan, kirim perahu. Saya mau keluar dari banjir ini." Tetapi mungkin Tuhan tidak langsung memberikan perahu. Tuhan seperti mengulurkan tangan kanan-Nya dan berkata, "Yuk, berjalan di dalam banjir ini. Aku pegang tanganmu. Jalan bersama dengan Aku sampai akhirnya engkau keluar sebagai pemenang."
Itulah sustaining grace. Kita sering merindukan Tuhan langsung melepaskan kita, tetapi kadang-kadang Tuhan memberikan kekuatan untuk melewati masa-masa yang sulit itu supaya kita merasakan kehadiran-Nya, lawatan-Nya, dan jamahan-Nya dalam kehidupan kita.
Kita semakin bergantung kepada Tuhan dan berkata, "Thy will be done in my life. Jadilah kehendak-Mu dalam hidup saya."
Meninggalkan warisan iman
Ada satu kalimat yang sangat bagus: "Family is living and leaving a legacy."
Keluarga hidup dalam iman dan meninggalkan warisan iman. Kalau itu kita lakukan, saya percaya itu sesuatu yang sangat bernilai, dan anak-anak kita akan mengingatnya.
Kesaksian tentang cucu kami
Ketika cucu kami yang keempat lahir, dia lahir sungsang. Beberapa bulan kemudian harus dilakukan pemeriksaan X-ray. Ternyata hasilnya menunjukkan bahwa kedua tulang pahanya tidak berada pada posisi yang seharusnya.
Rasanya bagaimana? Orang tuanya melayani Tuhan. Mereka hidup sungguh-sungguh. Kita bisa bertanya, "Kenapa Tuhan izinkan?"
Ketika saya berdoa, satu kalimat yang saya tangkap adalah, "Sekolah iman." Kalau Tuhan belum menjawab doa kita langsung, mungkin Tuhan sedang membentuk kita.
Puji Tuhan, anak itu kemudian memakai alat khusus. Awalnya alat itu harus dipakai hampir 23 jam sehari selama beberapa minggu. Ketika diperiksa kembali, ternyata masih ada bagian yang belum masuk sebagaimana mestinya. Dokter berkata kejadian seperti itu jarang, tetapi memang ada kemungkinan.
Kita sebagai anak Tuhan bisa bertanya, "Kenapa kami mendapat bagian yang seperti ini? Kenapa Tuhan enggak langsung buat mukjizat?" Tetapi kembali kami diingatkan bahwa kehadiran Tuhan di dalam kehidupan kita jauh lebih berarti daripada sekadar Tuhan langsung membuat mukjizat.
Alat kemudian dipasang kembali, kali ini lebih keras. Kakinya harus berada dalam posisi terbuka selama hampir 23 jam sehari, selama sekitar dua bulan. Kami melihatnya, kasihan sekali. Masih kecil sudah harus mengalami semuanya itu. Tetapi puji Tuhan, orang tuanya mengalami sustaining grace.
Setelah dua bulan dilakukan X-ray lagi dan dokter berkata kedua tulangnya sudah masuk pada tempatnya. Kita beri kemuliaan bagi Tuhan!
Tetapi prosesnya belum langsung selesai. Alat masih harus dipakai lagi dengan durasi yang semakin dikurangi dan kemudian akan dilakukan pemeriksaan kembali. Karena itu kami masih mohon dukungan doa supaya posisi tulangnya tetap berada di tempat yang benar.
Kiranya kesaksian ini menjadi berkat bagi kita. Ketika kita mengalami persoalan, ada kehadiran Tuhan, dan melalui semua itu kita semakin bergantung kepada Tuhan.
Nyanyi:
Banyak yang Kau perbuat
Di dalam hidupku
Rancangan indah-Mu
Terjadi di hidupku
Bapa yang mengerti
Segala yang kuperlu
Kasih-Mu sempurna
Nyata dalam hidupku
Kubersyukur Bapa
Kubersyukur Tuhan
Buat kasih setia-Mu
Di dalam hidupku
Kubersyukur
Kubersyukur Bapa
Kubersyukur Tuhan
Buat kasih setia-Mu
Di dalam hidupku
Kubersyukur
Tuhan