Article:20260917/IN
![]() ![]() | |
| Inspirational | |
| Tanggal | 07 Oktober 2026 |
| Oleh | Daniel Djaka Muljana |
| Baca juga | |
| |
| |
Manusia melihat apa yang tampak dari luar, tetapi Tuhan melihat keadaan hati kita. Kesombongan, sakit hati, dan kepahitan dapat menjadi seperti batu-batu yang menghambat pertumbuhan dan buah dalam kehidupan rohani. Karena itu, mari memberi diri untuk terus dibentuk Tuhan agar hati kita menjadi tanah yang baik dan hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang.
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
Ayat ini mengatakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita, yaitu tentang hati. Manusia sering melihat apa yang tampak di luar. Kita berkata, “Wah, orang ini pintar, orang ini hebat, orang ini luar biasa.” Tetapi Tuhan melihat sesuatu yang lebih dalam, yaitu hati kita.
Kita bisa menggambarkannya seperti sebuah pohon. Mungkin kita melihat sebuah pohon mangga yang kelihatannya begitu bagus. Namun setelah menunggu cukup lama, kita mulai bertanya, “Mengapa pohon ini tidak berbuah? Mengapa tidak ada sesuatu yang dihasilkan?”
Demikian juga dalam kehidupan rohani. Seseorang mungkin berkata, “Saya sudah melayani. Saya sudah mengambil bagian dalam banyak hal.” Ia mungkin merasa sudah bertumbuh, tetapi orang-orang di sekitarnya justru melihat hal yang berbeda dari perkataan, sikap, atau kehidupannya.
Kadang-kadang kita hanya melihat keadaan tanah di permukaan. Tanah itu kelihatannya subur dan bagus, tetapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalamnya. Bisa saja di bawah permukaan terdapat tanah yang keras, banyak batu, dan bagian-bagian yang belum dibajak atau dihancurkan.
Hal yang sama dapat terjadi di dalam hati kita.
Salah satu batu yang perlu kita perhatikan adalah kesombongan. Ketika seseorang mulai merasa dirinya berhasil, ia bisa mulai tinggi hati. Ia melihat orang lain belum berhasil, lalu mulai merendahkan mereka atau memamerkan apa yang dimilikinya. Padahal bukan itu yang Tuhan inginkan.
Tuhan menginginkan kita menjadi seperti tanah yang baik, yaitu hati yang siap dibentuk oleh-Nya. Ketika Tuhan memberikan pertumbuhan dan keberhasilan, seharusnya kita bertanya, “Apa yang Tuhan ingin saya kerjakan melalui semua ini?”
Mungkin kita melihat seseorang yang memiliki kemampuan atau kepandaian tertentu. Daripada membandingkan diri atau merasa lebih baik, kita perlu bertanya bagaimana kita dapat menjadi berkat bagi orang itu. Tuhan ingin setiap pertumbuhan dalam hidup kita menghasilkan buah bagi orang lain.
Selain kesombongan, ada juga batu lain yang harus dibuang, yaitu sakit hati dan kepahitan. Mungkin dahulu kita pernah dihina atau diperlakukan tidak baik. Ketika suatu hari kita berhasil, kita bisa tergoda untuk berkata, “Dulu dia memperlakukan saya seperti itu, sekarang saya akan melakukan hal yang sama kepadanya.”
Hal seperti itulah yang perlu kita buang dari dalam hati. Tuhan tidak menginginkan kita hidup dalam pembalasan atau kepahitan. Tuhan melihat hati dan kehidupan kita. Ia ingin hidup kita berakar dan bertumbuh dengan baik.
Tanah yang keras perlu terus digali. Batu-batu perlu dibuang. Kesombongan, sakit hati, dan kepahitan perlu disingkirkan supaya hidup kita menjadi tanah yang baik dan menghasilkan buah.
Karena itu, sebagai pelayan-pelayan Tuhan, mari kita terus memberi diri untuk dibentuk. Jangan hanya terlihat baik dari luar, tetapi biarlah hati kita juga terus diperbarui. Ketika hati kita dibentuk Tuhan, hidup kita akan bertumbuh, berbuah, dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Amin.
- Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)
