Berhasil tanpa kehilangan hikmat
![]() ![]() | |
| Inspirational | |
| Tanggal | 08 Agustus 2026 |
| Oleh | Dr Ir Anton Hendranata, MSi |
| Baca juga | |
| |
| |
Keberhasilan sejati tidak cukup hanya dibangun dengan kecerdasan, jabatan, atau harta, tetapi harus disertai hikmat dari Tuhan. Orang bijak mau mendengarkan nasihat, menerima teguran, menjaga integritas, dan mengambil keputusan dengan kerendahan hati. Ketika keberhasilan disertai hikmat Tuhan, hidup kita akan menjadi berkat bagi keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan sesama.
“Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.”
Setiap orang ingin berhasil dalam kehidupan, keluarga, pekerjaan, ekonomi, dan kepemimpinan. Namun, keberhasilan sejati tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, kedudukan, atau banyaknya harta. Keberhasilan juga memerlukan hikmat agar semuanya dijalani sesuai kehendak Tuhan.
Orang cerdas sering berusaha membuktikan bahwa dirinya benar dan ingin memenangkan perdebatan atau persaingan. Sebaliknya, orang bijak memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan, belajar, serta memahami kehendak Tuhan dan sesama.
Menjadi pribadi yang bijak berarti mengutamakan kebenaran, kasih, dan pengertian di atas ego. Orang bijak bersedia menerima nasihat dan teguran. Sementara itu, orang bodoh merasa pandangannya selalu benar, banyak berbicara, sulit mendengarkan, bahkan memaksakan kehendak.
Dalam kehidupan sehari-hari, kebijaksanaan terlihat ketika kita menghadapi perbedaan pendapat di tengah keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan pergaulan. Orang bijak tidak terburu-buru menyalahkan. Ia mendengarkan, mempertimbangkan keadaan, berdoa, lalu mencari jalan keluar yang membawa damai. Baginya, kebenaran dan hubungan yang baik lebih berharga daripada gengsi pribadi.
Hikmat juga dibutuhkan dalam mengelola ekonomi. Orang bijak tidak hanya berusaha memperoleh penghasilan, tetapi juga menggunakannya secara jujur dan bertanggung jawab. Ia mampu membedakan kebutuhan dari keinginan, menghindari utang yang tak perlu, menabung untuk masa depan, serta tetap bermurah hati.
Dalam dunia usaha, hikmat Tuhan mengajar kita mencari keuntungan tanpa mengorbankan kejujuran dan integritas. Pekerja, pelanggan, serta rekan bisnis harus diperlakukan dengan adil. Keuntungan yang diperoleh melalui kelicikan mungkin terlihat besar, tetapi tidak akan menghasilkan damai sejahtera.
Hikmat yang sama juga diperlukan dalam kepemimpinan. Pemimpin yang hanya mengandalkan kecerdasan ingin selalu didengar dan ditaati. Namun, pemimpin berhikmat mau menerima masukan, mengakui kesalahan, serta mengambil keputusan demi kepentingan bersama. Kepemimpinan sejati bukanlah kesempatan untuk berkuasa, melainkan panggilan untuk melayani dan memberi teladan seperti Kristus.
Janganlah bersandar pada pengetahuan sendiri. Mintalah hikmat yang berasal dari Tuhan dan jangan “ngeyel” atau mengeraskan hati terhadap kebenaran firman-Nya. Ketika tunduk kepada Tuhan, kita akan dimampukan melihat setiap persoalan dari sudut pandang-Nya.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil menjadi pembawa damai. Kuasailah diri dan jagalah tutur kata, sebab kelembutan dapat meredakan kegeraman.
Keberhasilan tanpa hikmat dapat membawa seseorang pada kesombongan dan kehancuran. Sebaliknya, keberhasilan yang disertai hikmat Tuhan akan menjadi berkat bagi keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan sesama. Teruslah belajar, bersedia ditegur, dan rela dibentuk oleh Tuhan.
Amin.

