Profetik

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 27 Januari 2024 15.36 oleh Leo (bicara | kontrib)
Lompat ke: navigasi, cari
Cawankecapi.png

Pelayanan profetik merupakan wadah pelayanan para pendoa dan imam pujian dan penyembahan. Doa, pujian, dan penyembahan merupakan satu kekuatan yang tidak terpisahkan bagi orang percaya. Pelayanan ini berawal dari visi Gembala Pembina tentang Cawan dan Kecapi dalam Wahyu 5:8,

Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.

Secara khusus, seorang pendoa juga haruslah seorang pemuji penyembah, begitu juga seorang imam pujian penyembahan haruslah seorang pendoa. Apabila ini benar dilakukan, maka akan bangkit pendoa dan imam pemuji penyembah yang tangguh dan terobosan-terobosan akan terjadi, sehingga menjadi berkat untuk keluarga, lingkungan, kota, bangsa, bahkan bangsa-bangsa (Wahyu 5:8).

Renungan profetik

Mengapa Tuhan masih membiarkan kita berada di ruang persiapan?

Tiap-tiap kali seorang gadis mendapat giliran untuk masuk menghadap raja Ahasyweros, dan sebelumnya ia dirawat menurut peraturan bagi para perempuan selama dua belas bulan, sebab seluruh waktu itu digunakan untuk pemakaian wangi-wangian: enam bulan untuk memakai minyak mur dan enam bulan lagi untuk memakai minyak kasai serta lain-lain wangi-wangian perempuan.

Ester 2:12

Ester 2:12 sering kali hanya dibaca sebagai keterangan tentang adat istana Persia. Namun, di balik ayat ini tersimpan sebuah prinsip rohani yang sangat berharga. Sebelum Ester menghadap raja, ia tidak langsung memasuki ruang takhta. Ia harus melewati masa persiapan selama dua belas bulan, yang secara khusus dibagi menjadi dua tahap: enam bulan dengan minyak mur dan enam bulan berikutnya dengan minyak kasai.

Saat kita memasuki semester kedua tahun 2026, mengingatkan kita pada sebuah pelajaran yang relevan, yakni bahwa Tuhan sering bekerja melalui tahapan. Sebelum membawa seseorang memasuki musim yang baru, Ia terlebih dahulu mempersiapkan orang tersebut melalui proses yang tidak boleh dipercepat. Yang menarik, Alkitab memberi perhatian khusus pada semester kedua, yaitu masa penggunaan minyak kasai. Kasai (cassia) adalah rempah yang harum dan bernilai tinggi.

Dalam Perjanjian Lama, kasai juga disebut sebagai salah satu bahan minyak urapan kudus (Keluaran 30:22-25). Walaupun konteks Ester berbeda, penyebutan kasai mengingatkan kita bahwa kehidupan yang dipersiapkan Tuhan seharusnya memancarkan sesuatu yang berkenan kepada-Nya. Mungkin inilah yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup banyak orang saat ini.

Semester kedua bukan sekadar kelanjutan dari semester pertama, tetapi bisa menjadi musim ketika Tuhan membentuk "keharuman" hidup kita. Bukankah dua orang dapat melewati pergumulan yang sama tetapi menghasilkan respons yang berbeda? Ada yang menjadi pahit, ada yang menjadi semakin penuh kasih. Ada yang kehilangan pengharapan, tetapi ada pula yang justru bertumbuh dalam iman. Perbedaannya terletak pada apakah kita mengizinkan Roh Kudus bekerja selama proses itu berlangsung.

Mungkin hari-hari ini kita masih menunggu jawaban doa, kesempatan baru, pemulihan keluarga, atau terobosan dalam pekerjaan dan pelayanan. Penantian memang tidak mudah, tetapi kisah Ester mengingatkan bahwa penantian bukan berarti Tuhan sedang diam. Justru di dalam ruang persiapan itulah Tuhan sedang membangun sesuatu yang lebih penting daripada sekadar mengubah keadaan: Ia sedang membentuk pribadi kita.

Rasul Paulus berkata,

Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus ... (2 Korintus 2:15)

Keharuman itu tidak lahir secara instan. Ia terbentuk melalui kesetiaan, ketaatan, kerendahan hati, dan hubungan yang terus dipelihara dengan Tuhan. Kehidupan yang semakin menyerupai Kristus selalu menjadi persiapan terbaik sebelum Tuhan mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar. Karena itu, jangan memandang semester kedua ini hanya sebagai sisa waktu sebelum tahun berganti.

Mungkin justru inilah musim ketika Tuhan sedang memperdalam iman, memurnikan motivasi, dan mempersiapkan kita memasuki musim berikutnya. Tuhan tidak pernah membuang waktu. Setiap hari dalam ruang persiapan memiliki tujuan yang indah, meskipun kita belum melihat hasilnya. Ketika akhirnya Ester melangkah menghadap raja, ia datang bukan sebagai pribadi yang terburu-buru, melainkan sebagai seseorang yang telah dipersiapkan.

Demikian pula dengan kita. Di dalam Kerajaan Allah, pintu yang dibuka Tuhan hampir selalu didahului oleh hati yang telah dipersiapkan-Nya. Mungkin semester kedua ini bukan sekadar tentang menunggu apa yang akan Tuhan lakukan bagi kita, tetapi tentang mengizinkan-Nya menyelesaikan pekerjaan-Nya di dalam kita, sehingga ketika pintu itu terbuka, kita benar-benar siap melangkah masuk ke dalam rencana-Nya. Amin. (DL)

Saat kita memasuki semester kedua tahun 2026, mengingatkan kita pada sebuah pelajaran yang relevan, yakni bahwa Tuhan sering bekerja melalui tahapan. Sebelum membawa seseorang memasuki musim yang baru, Ia terlebih dahulu mempersiapkan orang tersebut melalui proses yang tidak boleh dipercepat.


Lihat pula