Khotbah: 20261101-0930: Perbedaan antara revisi
←Membuat halaman berisi '{{unified info| templatetype=khotbah | namespace= Khotbah | pagename= 20261101-0930 | toptitle= | title= Berpegang pada Tuhan Yesus di tengah badai | subtitle= | name= Chris Silitonga | completename= Pdt Chris Silitonga, MEd | type= khotbah | event= Ibadah Raya | date= 2026-11-01 | location= Grha Amal Kasih | church= GBI Danau Bogor Raya | city= Bogor | illustration16x9= Chris Silitonga-20261101-0930.webp | illustrationA5= | illustration1x1= Chris Silitonga-20...' |
k fmt |
||
| Baris 268: | Baris 268: | ||
Ada tujuan yang biasanya baru kita mengerti setelah badainya berakhir. | Ada tujuan yang biasanya baru kita mengerti setelah badainya berakhir. | ||
Setelah badainya berakhir, kita melihat: '''Tuhan baik dan sungguh baik.''' | |||
Setelah badainya berakhir, kita melihat: | |||
'''Tuhan baik dan sungguh baik.''' | |||
Salah satunya dijelaskan Paulus dalam {{sabdaweb2v|2 Korintus 1:3-4}}: | Salah satunya dijelaskan Paulus dalam {{sabdaweb2v|2 Korintus 1:3-4}}: | ||
Revisi per 2 November 2026 11.07
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 1 November 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
| |
Tidak peduli masalah, persoalan, dan pergumulan yang kita hadapi, Allah yang kita sembah adalah Allah yang peduli dengan kita; Dia tahu pergumulan kita, mengalami apa yang kita alami, dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus. Saat menghadapi badai, jangan menunda-nunda untuk berseru kepada Tuhan, tetapi “Tenanglah, ini Aku, jangan takut,” stay in the boat, bertahanlah karena mukjizat adalah bagian Tuhan dan bagian kita adalah ketaatan. Kalau Tuhan mengizinkan badai ada dalam hidup kita, ada tujuan yang mungkin baru kita mengerti setelah badainya berakhir, sehingga kita dapat menghibur orang lain dengan penghiburan yang kita sendiri terima dari Allah.
Shalom, senang bisa bertemu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, jemaat GBI Danau Bogor Raya di ibadah kedua dan juga yang mengikuti secara online. Saya percaya kita semua dalam keadaan penuh sukacita apa pun yang terjadi, karena kasih karunia Tuhan kepada kita berlimpah-limpah. Yang setuju katakan amin. Beri tepuk tangan kemuliaan buat Tuhan. Haleluya!
Di ibadah yang kedua ini saya akan mengangkat sebuah tema yang saya beri judul: Berpegang pada Tuhan Yesus di Tengah Badai.
Saudara-saudara, kita memasuki bulan November dan kita bisa melihat secara kebangsaan negeri kita masih menghadapi badai. Badai di sini tentunya bukan berbicara mengenai fenomena alam, tetapi kesukaran-kesukaran, kesulitan, tantangan, dan pergumulan yang melanda negeri ini.
Belum lagi kita berbicara bahwa masing-masing daripada kita tentunya menghadapi badai kita masing-masing. Oleh karena itu, menjelang dua bulan terakhir kita akan menutup tahun 2026 ini, saya rindu kepada kita semua bahwa waktu kita menghadapi badai, waktu kita menghadapi persoalan, kita tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita tidak mengandalkan tangan kita, tetapi kita memegang Dia yang jauh lebih berkuasa, jauh lebih powerful, jauh lebih sanggup daripada kita semua.
Kita berpegangan tangan dengan Tuhan Yesus. Amin!
Setiap badai bersifat personal
Sebelum lebih jauh membahas hal ini, saya mau supaya kita menyamakan persepsi terlebih dahulu.
Ketika kita berbicara soal badai, yang pertama tentu bukan hanya fenomena alam, tetapi persoalan, pergumulan, tantangan, dan kesulitan dalam hidup.
Yang kedua, kita tidak boleh menganggap bahwa badai yang kita hadapi itu lebih besar atau lebih kecil daripada badai yang sedang dihadapi orang lain. Demikian juga badai orang lain tidak boleh kita nilai lebih besar atau lebih kecil daripada persoalan kita.
Kita enggak boleh menggunakan status ekonomi atau kemampuan ekonomi untuk menilai kadar pergumulan seseorang.
“Oh, kamu kaya, masa kayak begitu saja sulit? Coba kayak saya yang berkekurangan.” Enggak bisa begitu.
Atau orang yang secara keuangan lebih diberkati berkata, “Cengeng banget sih, baru masalah begitu. Kan gampang.” Enggak bisa begitu.
Secara generasi juga sama. Yang lebih tua enggak boleh berkata kepada yang lebih muda, “Aduh, Nak, umurmu belum lama di muka bumi. Persoalan apa sih? Belum lihat seperti saya yang sudah panjang hidupnya. Kamu masih kepala dua saja, cengeng banget.” Enggak bisa seperti itu.
Demikian juga generasi muda enggak bisa meremehkan pergumulan orang yang lebih tua.
Faktanya: Setiap persoalan dan pergumulan hidup yang kita hadapi itu personal, itu individual.
Tetapi ada satu garis merah yang Allah tunjukkan kepada kita di dalam Alkitab: Tidak peduli masalah, persoalan, dan pergumulan yang kita hadapi, Allah yang kita sembah adalah Allah yang peduli dengan kita.
Amin!
Allah peduli terhadap pergumulan kita
Salah satu bukti bahwa Allah peduli kepada kita adalah di dalam Alkitab dicatat banyak sekali keluhan, tangisan, bahkan protes kepada Tuhan terhadap persoalan yang sedang dihadapi. Dan Tuhan tidak marah dengan hal itu.
Roh Kudus menginspirasi para penulis Alkitab untuk menuliskan doa-doa semacam itu di dalam Alkitab. Kadang-kadang ada yang bertanya, “Kenapa Alkitab disebut kitab suci tetapi di dalamnya ada orang marah, berkeluh kesah kepada Tuhan?”
Justru fakta bahwa Roh Kudus mengizinkan doa-doa, keluhan, dan pergumulan itu ditulis dalam Alkitab menunjukkan bahwa Allah peduli terhadap apa yang kita hadapi.
Salah satu contohnya adalah doa pemazmur dalam Mazmur 69:2-4,
- Selamatkanlah aku, ya Allah, sebab air telah naik sampai ke leherku! Aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam, tidak ada tempat bertumpu. Aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang menghanyutkan aku. Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku.
Anda bisa lihat doa ini. “Selamatkan aku. Air sudah naik sampai ke leherku, Tuhan. Di bawah kakiku enggak ada tempat pijakan. Aku tenggelam. Gelombang pasang datang. Aku sudah letih berseru.”
Doa yang begitu menyesakkan dinaikkan oleh sang pemazmur. Tetapi Allah memandang hal itu penting.
Apa yang ditulis ribuan tahun lalu dalam Mazmur masih beresonansi kepada kita sampai hari ini!
Tuhan mendengar doamu.
Tuhan tahu pergumulanmu.
Tuhan tahu hal-hal yang mungkin tidak pernah engkau ungkapkan kepada orang lain.
Allah mengetahuinya dan Allah peduli terhadap engkau.
Haleluya!
Dua badai bersama Tuhan Yesus
Hari ini kita akan belajar dari dua peristiwa ketika Tuhan Yesus berinteraksi dengan murid-murid-Nya di dalam dua badai yang berbeda. Badainya memang badai alam, tetapi kita akan belajar langsung dari Tuhan Yesus bagaimana seharusnya kita menyikapi badai dan persoalan dalam hidup.
Biasanya khotbah mengenai menghadapi badai banyak mengajarkan supaya jemaat kuat beriman—fokusnya kepada bagian manusia.
Tetapi hari ini saya mau mengajak kita melihat dari sisi Tuhan Yesusnya, lalu bagaimana kita merespons setiap badai yang mungkin Tuhan izinkan lewat dalam hidup kita.
Badai pertama: Yesus ada di dalam perahu
- Lalu mengamuklah topan yang dahsyat sekali dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?”
Peristiwanya, Yesus sedang berada di Danau Galilea. Dia menyeberang dengan menggunakan perahu bersama murid-murid-Nya.
Ketika berada di tengah danau, terjadi badai sedemikian besar sampai air mulai masuk ke dalam perahu. Murid-murid berusaha menyelamatkan perahu itu, sampai akhirnya mereka berkata: “Guru, Engkau tidur-tidur saja. Tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?”
Saya enggak tahu keadaanmu, Bapak, Ibu, Saudara. Mungkin ada yang merasa seperti itu:
“Ya, saya tahu Imanuel, Tuhan bersama dengan saya.”
“Saya tahu Tuhan ada di dalam perahu kehidupan saya.”
“Tapi, Pastor, kayaknya Dia tidur-tidur saja. Kayaknya saya sudah lakukan segala macam cara, tetapi Tuhan sepertinya tidak melakukan apa-apa.”
Saya enggak tahu, barangkali ada yang pernah punya perasaan seperti itu atau sekarang sedang berada dalam perasaan seperti itu.
Tetapi dengarkan baik-baik fakta ini: Sekalipun Tuhan Yesus sepertinya ‘tidur’ di dalam perahu hidupmu, faktanya Dia tetap bersamamu.
Dia hadir dengan engkau! Dia ada di dalam perahu kehidupanmu! Amin!
Mungkin Anda bertanya, “Apa gunanya Yesus ada di dalam perahu hidup saya kalau Dia tidur?”
Ketika saya menyusun bahan khotbah ini, kata tidur ini sedikit mengganggu saya. Kenapa Markus sampai menulis Yesus tidur, bahkan memakai bantal? Ini bukan tidur-tiduran. Dia memang tidur.
Mengapa? Dan dari kata tidur itu saya mendapatkan kekuatan dan kasih Tuhan. Faktanya bahwa Yesus tidur di atas perahu berarti: Dia mengalami apa yang kita alami.
Kenapa Yesus tidur?
Dia capek.
Dia letih.
Dia ingin tidur.
Kita enggak boleh lupa: Yesus itu Tuhan 100%, tetapi Dia juga manusia 100%. Amin!
Sering kali kita berpikir, “Dia Tuhan, saya manusia. Enggak bisa nyambung.” Kita lupa bahwa Dia adalah Allah yang datang menjadi manusia seperti kita. Seluruh perjalanan kehidupan manusia itu Dia jalani.
Dia tahu rasanya letih.
Dia tahu rasanya overwork.
Dia tahu rasanya bekerja tetapi tidak dihargai.
Dia tahu rasanya disalahgunakan dan disalahmengerti.
Dia tahu rasanya difitnah.
Banyak orang datang kepada Yesus minta mukjizat, minta makanan, minta pertolongan. Tidak semuanya benar-benar mencari Dia sebagai Tuhan. Dan Yohanes Pembaptis, kerabat-Nya, juga baru saja dibunuh. Dalam kemanusiaan-Nya Dia juga mengalami keletihan. Poin yang mau saya sampaikan: Jangan lupa, Dia Tuhan tetapi Dia juga sungguh-sungguh menjadi manusia. Dia mengalami keletihan yang kita alami.
Tahun 30 Masehi dengan tahun 2026 memang berbeda teknologinya, berbeda cara hidupnya. Tetapi persoalan dasar manusia tidak berubah.
Kita bergumul dengan kesehatan.
Dengan pekerjaan.
Dengan keuangan.
Dengan persoalan mental.
Dengan relasi.
Dan Yesus berkata melalui kehidupan-Nya:
- “Aku tahu pergumulanmu.”
“Aku tahu rasanya disalahmengerti.”
“Aku tahu rasanya overwork.”
“Aku tahu rasanya ditolak.”
“Aku tahu ketakutanmu akan masa depan.”
Kita semua butuh istirahat. Hidup di dunia melelahkan. Dan dari pesan sederhana ini, Yesus seperti berkata:
- “Aku mengerti. Aku bukan Allah yang tidak nyambung dengan kamu. Aku mengalami apa yang kamu alami.”
Haleluya!
Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus
Firman Tuhan berkata:
- Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (Roma 8:35)
Dan:
- Tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:39)
Kalau Tuhan sudah mengulurkan tangan kasih-Nya kepada kita, enggak ada yang bisa menghalangi tangan Tuhan.
Mau perang, mau pedang, mau persoalan apa pun, enggak bisa menghalangi kasih karunia Tuhan. Karena itu jangan kita menolak uluran tangan Tuhan. Kita berkata: “Tuhan, aku butuh tangan-Mu.” Pegang tangan Dia!
Kasih karunia dan kekuatan Tuhan mengalir dalam kehidupan kita.
Kita lanjutkan Markus 4:39-40,
- Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”
Di ayat sebelumnya murid-murid berkata: “Guru, Engkau enggak peduli?” Tetapi kemudian Ia pun bangun. Yesus mendengar seruan mereka. Dia bangun dan berkata: “Diam! Tenanglah!”
Dan karena Dia Raja di atas segala raja, semuanya tunduk kepada perkataan-Nya.
Apa poin yang mau saya angkat? Saat kita menghadapi badai, jangan menunda-nunda waktu untuk berseru kepada Tuhan Yesus. Jangan tunda-tunda! Sering kali kita enggak sadar kita sombong. Sudah jelas ombak mulai datang, angin mulai datang, tetapi kita enggak berseru kepada Tuhan.
Mayoritas persoalan hidup biasanya mempunyai tanda-tanda atau gejalanya. Pendapatan mulai menurun, pengeluaran makin tinggi. Segera berdoa.
Jangan berkata, “Saya masih kuat. Saya kenal direktur ini. Saya kenal orang di pemerintahan itu.”
Sudah mulai ada masalah kesehatan? Segera berdoa.
Mulai ada persoalan dalam keluarga?
Anak-anak sudah enggak saling bicara.
Kakak-adik bermasalah.
Suami-istri mulai punggung-punggungan.
Kalau tanda-tandanya mulai ada: Jangan tunggu. Segera berseru kepada Tuhan!
Jangan ketika sudah terjadi baru berkata:
“Mana Tuhan?”
“Kok Tuhan enggak baik?”
Padahal tanda-tandanya sudah ada.
Tuhan sudah berkata: “Eh, ada masalah. Ayo segera berseru.”
Firman Tuhan berkata: “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”
Apakah masalahmu hari ini sudah menjadi badai? Belum terlambat untuk berseru kepada Tuhan. Apakah mungkin badai belum kelihatan, tetapi air mulai bergolak dan awan mulai muncul? Jangan tunda-tunda. Berseru kepada Tuhan!
Badai kedua: Stay in the boat
Sekarang kita belajar dari badai yang kedua.
Yesus yang sama.
Murid-murid yang sama.
Danau yang sama.
Tetapi peristiwa yang berbeda.
- Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.
- Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"
- Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
- Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
- Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.
Tuhan tidak meminta kita membuat mukjizat
Kalau sudah panik, kalau sudah ada badai, Tuhan saja bisa dikira hantu. Tetapi saya tidak mau fokus berkhotbah tentang Petrus tenggelam atau kurang imannya. Itu sudah banyak dibicarakan.
Saya mau angkat sebuah fakta dari kisah ini: Tuhan tidak meminta Petrus berjalan di atas air.
Perhatikan baik-baik. Petrus yang meminta. Dia berkata, “Kalau itu Engkau, Tuhan, suruh aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Lalu Yesus berkata, “Datanglah.” Tetapi inisiatif awalnya datang dari Petrus.
Tuhan enggak pernah berkata kepada semua murid, “Keluar dari perahu. Ayo semua jalan di atas air.” Tidak. Setelah menyelamatkan Petrus, Yesus justru membawa dia kembali ke perahu.
Perhatikan: Tuhan enggak meminta kita membuat mukjizat. Mukjizat itu bagian Tuhan.
Bagian kita adalah ketaatan. Yesus hanya berkata: “Tenanglah. Ini Aku. Jangan takut.”
Stay in the boat.
Bertahan di dalam perahu.
Jangan ke mana-mana.
Tenang. Ini Aku.
Tuhan yang menciptakan langit dan bumi sedang datang.
Bertahan bisa menjadi tindakan iman
Tuhan berkata:
“Tenang.”
“Jangan panik.”
“Jangan tinggalkan perahu.”
“Jangan tinggalkan keluarga.”
“Jangan berpikir untuk bercerai.”
“Jangan berpikir meninggalkan anak.”
“Jangan berpikir meninggalkan orang tua.”
“Jangan berpikir meninggalkan gereja.”
Stay there. Here I am. Ini Aku datang.
Saudara-saudara, tindakan iman sering kali kita pikir berarti: “Saya akan melangkah kepada hal yang baru.” Ya, itu bisa benar. Tetapi kadang-kadang tindakan iman adalah: “Saya akan tetap bertahan di tempat ini karena saya tahu pertolongan saya akan datang.”
Tuhan akan masuk ke perahu saya.
Tuhan akan menyelamatkan usaha saya.
Tuhan akan menolong pendidikan saya.
Tuhan akan menolong pernikahan saya.
Tuhan akan menolong keluarga saya.
Hari ini pesannya: Stay in the boat. Bertahanlah di dalam perahumu itu. Perhatikan Tuhan semesta alam yang akan datang ke dalam perahumu dan meneduhkan badai itu. Kalau engkau merasa, “Tuhan enggak ada di dalam perahu saya,” angkat kepalamu. Dia enggak pernah jauh dari perahu hidupmu. Mungkin Dia sedang berjalan di atas badai itu menuju kepadamu.
Itu Tuhan Yesus. Manusia sering mengecewakan, tetapi Tuhan Yesus tidak pernah mengecewakan. Dia yang berperang ganti kita. Dia yang meneduhkan badai buat kita.
Badai bukan tanpa tujuan
Satu prinsip yang harus kita pegang sebagai orang Kristen, anak-anak Tuhan: Tidak ada badai hidup yang terjadi secara acak atau tanpa tujuan.
Bagi kita anak-anak Tuhan, percayalah kalau Tuhan mengizinkan badai ada dalam hidup kita, itu bukan karena Tuhan iseng atau mau membinasakan kita.
Ada tujuan yang biasanya baru kita mengerti setelah badainya berakhir. Setelah badainya berakhir, kita melihat: Tuhan baik dan sungguh baik.
Salah satunya dijelaskan Paulus dalam 2 Korintus 1:3-4:
- Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.
Salah satu alasan Tuhan mengizinkan kita melewati badai adalah supaya kita mampu menghibur mereka yang juga sedang menghadapi persoalan dengan penghiburan dan kekuatan yang kita sendiri terima dari Tuhan.
Kesaksian: Badai dalam keluarga kami
Saya tutup dengan kesaksian ini. Kalau saya berkhotbah mengenai hal ini, jangan berpikir pendeta yang berdiri di depan tidak menghadapi badai. Badai juga terjadi dalam keluarga kami.
Tahun lalu ada badai yang sangat besar melanda keluarga kami. Suatu kali saya ditelepon dan diberi tahu: “Pak Chris, adiknya stroke.” Ini stroke yang ketiga kali. Fungsi otaknya tinggal sekitar 20%.
Akhirnya dia dibawa ke rumah sakit dan dipasang alat-alat. Setelah beberapa hari dokter memanggil keluarga kami. Kami diberikan dua opsi. Kalau alat terus dipasang, secara medis kondisinya tetap sangat berat dan intervensi medis akan terus dilakukan ketika fungsi tubuhnya turun. Kalau alat-alat itu dilepas, dokter memperkirakan prosesnya akan lebih cepat, tetapi tanpa intervensi yang membuatnya terus mengalami penderitaan.
Pilihan diberikan kepada keluarga. Biarpun saya pendeta, berat buat saya. Itu adik perempuan saya. Saya anak pertama, dia anak kedua, satu-satunya perempuan dalam keluarga kami. Setelah melalui proses doa dan berbicara dengan suaminya serta keluarga besar, kami memutuskan melepaskan alat-alat itu.
Kami kembalikan kepada kasih dan kedaulatan Tuhan. Bagian kami memastikan, kalau memang harus berpulang, dia tidak dalam kesakitan.
Hari ketika kami akan ke rumah sakit untuk melepas alat itu, saya enggak kuat. Saya minta istri saya menyetir. Kami dari Sentul menuju Bintaro. Di jalan tol, dalam keadaan hujan, tiba-tiba mobil dari bahu jalan menabrak mobil kami dengan kecepatan tinggi.
Mobil kami bergeser. Istri saya kehilangan kendali. Saya pegang setir dan mengarahkannya kembali ke jalur lambat karena ada truk di jalur tengah. Ketika kembali ke jalur lambat, mobil kami berhadapan dengan tembok jalan tol.
Seluruh sistem keselamatan mobil menyala dan mobil akhirnya berhenti dengan aman. Ketika kami lihat, setengah badan mobil sebelah kiri hancur. Yang menabrak ternyata anggota TNI berpangkat kapten. Tetapi kami memilih untuk tidak memaki-maki dan tidak mencerca. Dia bertanggung jawab. Bahkan kami kemudian dikawal sampai ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit saya baru tahu adik ipar saya belum sanggup memberitahu kedua anak mereka. Dia berkata: “Aku enggak sanggup, Bang. Anak-anak masih SMP dan SMA. Hari ini alat mamanya akan dicabut. Mereka akan marah enggak sama aku karena keputusan ini?” Saya bilang: “Sudah. Saya pamannya. Saya akan bicara. Dan saya pendeta.”
Saya berbicara kepada dua anak laki-laki itu bahwa secara medis keadaan mamanya sangat berat dan mereka harus menerima keputusan keluarga. Saya berkata: “Kamu pulang ke rumah, pakai baju yang terbaik. Mamamu memang tidak sadar, tetapi beri dia memori yang baik. Pegang tangannya. Kita enggak tahu, mungkin telinganya masih mendengar.”
Berat, Saudara. Berat. Seminggu setelah kejadian itu saya terus menangis di saat teduh.
“Tuhan, ada apa dengan semuanya ini?”
“Kok begini?”
“Apakah ada sesuatu yang salah saya buat?”
Kalau saya memang berdosa, saya minta ampun kepada Tuhan.
Tetapi ketika saya mulai tenang, saya merasa Tuhan memberikan pengertian kepada saya: “Supaya kamu punya modal bersaksi, Chris.”
Saya berkata, “Itu saja, Tuhan?”
“Iya, Chris. Supaya kamu punya modal bersaksi.”
Benar. Sebelumnya saya enggak punya pengalaman nyaris mati seperti itu. Sekarang saya tahu rasanya.
Saya juga sebelumnya tidak tahu bagaimana mendoakan seorang anggota TNI berbeda agama yang menabrak kami. Sekarang saya punya pengalaman mendoakan dia. Ternyata dia sedang galau karena akan dikirim bertugas ke luar negeri. Kami akhirnya berdamai dengan baik. Mobil kami diperbaiki dan asuransinya masih berjalan. Bahkan mekanik yang menangani ternyata jemaat GBI juga.
Lalu bagaimana dengan adik saya? Alatnya dicabut. Tetapi: Dia masih hidup sampai hari ini!
Seminggu setelah alat dicabut, masih hidup.
Sebulan kemudian, masih hidup.
Dia akhirnya pulang ke rumah.
Hari ini dia masih survive, walaupun fungsi otaknya tinggal sekitar 20%.
Keponakan-keponakan saya tidak kehilangan mamanya. Saya tidak kehilangan adik saya.
Lihat: Tidak ada yang lost di dalam Tuhan.
Yang Tuhan minta: Bertahan.
Stay.
Here I am. Aku datang.
Tuhan mengasihimu dan tidak meninggalkanmu saat engkau berhadapan dengan badai hidupmu.
Tenanglah. Jangan takut.
Teruslah berseru dan percaya kepada-Nya.
Dan lihatlah, badai itu pun diredakan-Nya.
Beri kemuliaan buat Tuhan! Haleluya!
Nyanyi:
Sujud di altar-Nya
Kubawa hidupku
Kuterima anugerah-Nya
Dia ampuniku dan bebaskanku
Dia ubah hidupku
Baharui hatiku
Sesuatu terjadi
Saat datang di altar-Nya