Be reconciled (Pdt Chris Silitonga, MEd)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Di dalam Kristus kita menjadi ciptaan baru dan didamaikan dengan Allah, karena hubungan yang pernah terputus oleh dosa disambungkan kembali melalui karya Kristus di kayu salib. Karena Kristus, kita juga dapat berdamai dengan diri sendiri, tidak lagi ditentukan atau terjerat oleh masa lalu, tetapi menyongsong kehidupan baru dan masa depan di dalam Kristus. Sebagai sesama rekan sekerja Allah, kita juga dipanggil untuk berdamai, saling menerima, saling mengasihi, dan saling mengampuni supaya kita tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang telah kita terima.

Shalom, senang bisa bertemu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, jemaat Tuhan GBI Danau Bogor Raya di tempat ini. Sungguh sukacita bisa melayani Bapak, Ibu, Saudara sekalian dari ibadah pagi sampai ibadah yang ketiga, yang terakhir di tempat ini pada hari ini. Puji Tuhan.

Di ibadah yang ketiga ini saya mau mengangkat sebuah tema yang saya beri judul Be reconciled, atau diperdamaikan. Katakan, “Diperdamaikan.” Haleluya.

Sering kali dalam hidup kita terlalu sibuk mencari hal-hal yang detail, sampai kehilangan gambaran besar. Kita terlalu terobsesi dengan hal-hal yang detail dan lupa dengan gambaran besar.

Termasuk di dalam kehidupan rohani. Kita mungkin terobsesi, “Bagaimana caranya supaya membuka pintu surga? Bagaimana caranya supaya berkat datang? Bagaimana caranya supaya ini dan itu terjadi?”

Saya katakan, hal-hal detail itu bagus, karena Alkitab sendiri mengajarkan banyak hal secara detail. Tetapi sore hari ini, di minggu pertama bulan November, mulai mendekati Natal, saya mau mengajak kita semua: jangan hanya terpaku kepada hal yang detail. Ayo kita juga melihat gambaran besar apa yang Allah buat dalam kehidupan kita.

Sering kali kita tidak sadar bahwa Allah demikian baik dan Tuhan demikian mengasihi kita. Kita hanya melihat hal-hal yang detail, sampai gambaran besar mengenai kasih itu menjadi tidak kelihatan.

Itu yang rindu saya bagikan sore menjelang malam hari ini.

Gambaran besar tentang pendamaian

Pemberitaan Firman sore hari ini saya ambil dari 2 Korintus 5:17-6:1.

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.
Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus; seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami. Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima.

Dari pembacaan tadi kita melihat banyak sekali kata mengenai mendamaikan, pendamaian, dan perdamaian.

Kata pendamaian yang kita baca dalam Alkitab bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani katallagē. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi reconciliation, rekonsiliasi.

Setiap kali Saudara membaca kata pendamaian atau berdamai di dalam Alkitab, jangan hanya berpikir dengan definisi bahasa Indonesia sehari-hari bahwa damai artinya tenang, enggak ada konflik, semuanya baik-baik saja.

Rekonsiliasi mempunyai pengertian bahwa sebelumnya pernah ada hubungan yang terputus atau konflik, tetapi sekarang nyambung kembali.

Jadi damai di sini bukan sekadar tenang tanpa konflik, tetapi sesuatu yang pernah terputus sekarang disambungkan kembali.

Sering kali kita sebagai anak Tuhan tidak memiliki gambaran besar mengenai arti pendamaian dan rekonsiliasi ini, sehingga kita menjalani hidup dengan berat, ketakutan, dan beban terus. Padahal di dalam Kristus kita memperoleh hal-hal yang luar biasa.

Yang masih mau belajar katakan amin.

#1 Kita didamaikan dengan Tuhan melalui Kristus dan di dalam Kristus

Yang pertama, berdasarkan ayat 17 dan 18: Kita didamaikan dengan Tuhan melalui Kristus dan di dalam Kristus. We are being reconciled to God through Christ and in Christ.

Perhatikan ayat 17:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.

Perhatikan: siapa yang ada di dalam Kristus. Ayat ini tidak mengatakan yang di luar Kristus. Ayat ini berbicara tentang orang yang ada di dalam Kristus. Dengan kata lain, ciptaan baru didapat ketika seseorang ada di dalam Kristus.

Di sinilah kadang-kadang kita sering bingung. “Pak, kenapa keluarga saya enggak berubah? Sudah saya nasihati. Orang itu di COOL enggak berubah-berubah. Anak muda sudah bertahun-tahun dinasihati, tetapi yang lama masih muncul dan yang barunya belum datang.”

Padahal ayat ini jelas: Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Di sini sering kali kita miss the point. Kita pikir karena seseorang sudah dengar Firman Tuhan dan sudah lama di gereja, otomatis menjadi manusia baru.

Tidak.

Kalau dia hanya sekadar mendengar nasihat Firman Tuhan tetapi belum benar-benar ada di dalam Kristus, dia belum menjadi ciptaan baru. Ini sebabnya penginjilan harus dilakukan.

Kita sering salah pandang. Kita pikir karena saudara atau teman kita sudah Kristen sejak lahir, sering datang ke gereja, setiap ibadah datang, berarti semuanya sudah beres.

Pertanyaannya:
Sudah di dalam Kristus belum?
Sudah lahir baru belum?
Sudah dengan imannya sendiri berkata, “Saya orang berdosa, saya membutuhkan Juru Selamat, saya mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat,” belum?

Kadang-kadang kita berpikir karena waktu kecil sudah dibaptis percik, berarti aman dan beres. Tidak.

Kekristenan dan keselamatan yang menyatakan seseorang ada di dalam Kristus atau tidak bukan KTP, bukan kartu keluarga. Dia sendiri harus berkata, “Saya sekarang di dalam Kristus.”

Baru dengan demikian dia didamaikan dengan Tuhan.

Alkitab enggak pernah bilang orang baik masuk surga karena kebaikannya. Orang yang masuk surga adalah orang berdosa yang dibenarkan karena percaya kepada Tuhan Yesus.

Jangan kita salah memahami hal ini.

Betapa besar kasih Bapa

Ayat 18 berkata:

Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya.

Kalau Saudara renungkan ini, betapa Bapa di surga sayang sekali kepada kita. Bapa di surga sangat ingin supaya kita berdamai dengan Dia, karena hubungan itu pernah terputus oleh dosa.

Dan harga yang Dia bayar begitu besar. Pribadi kedua dari Tritunggal harus mati di kayu salib untuk kita.

Saya mendapatkan revelation ini ketika sedang mencuci baju di rumah. Saya enggak cuci pakai tangan. Biasanya istri saya masak, lalu saya bantu memasukkan baju ke mesin cuci.

Kalau bajunya lebih kotor, saya harus tambahkan deterjen atau putaran mesinnya dibuat lebih lama supaya bajunya bersih.

Di situ saya berpikir: kalau untuk mencuci pakaian yang lebih kotor saja perlu lebih banyak deterjen dan proses yang lebih panjang, betapa besar dosa kita sampai Yesus harus mati di kayu salib.

Dosa kita begitu besar sampai yang membasuh kita adalah darah Anak Domba Allah sendiri. Dia yang bergulat dengan penderitaan.

Kita enggak perlu masuk “mesin cuci”. Dia yang mengalami semuanya demi kita. Sampai sedemikian besar kasih Bapa kepada kita.

Jangan lupakan itu!

Setiap kali kita memasuki masa Natal, pesan Natal dan pesan Paskah selalu sama: Tuhan datang untuk menyelamatkan kita.

Kenapa Dia lakukan itu? Karena Dia rindu supaya hubungan yang rusak dan terpisahkan oleh dosa akhirnya bisa nyambung kembali. Dan semua itu terjadi karena Kristus.

Jangan salah memahami Bapa di surga

Hari ini saya mau minta kepada jemaat sekalian: jangan salah memahami Bapamu di surga.

Saya menemukan ada orang-orang yang sudah lama melayani Tuhan tetapi memandang Bapa sebagai Bapa yang kejam.
“Sedikit salah, Tuhan hukum.”
“Sedikit salah, Tuhan hukum.”

Akhirnya melayani Tuhan dengan ketakutan dan bukan dengan sukacita. Padahal Firman berkata kasih melenyapkan ketakutan.

Jangan salah memahami Bapamu di surga. Dia bukan Bapa yang sedikit-sedikit langsung menghukum. Tuhan panjang sabar dengan kita.

Suatu kali ada seorang ibu berkonsultasi dengan saya. Dia merasa sangat berdosa pada hari itu. Saya tanya, “Kenapa kamu merasa begitu?”
Dia berkata, “Tuhan pasti marah sekali sama saya karena pagi ini saya berbuat dosa besar.”
“Dosa apa?”
“Tadi pagi saya bertengkar dengan suami saya. Di puncak pertengkaran, suami saya berkata, ‘Kalau begini, bercerai saja.’ Dan saya jawab, ‘Baiklah, kita bercerai.’”
Lalu ibu ini pergi ke kantor. Di luar rumah dia langsung sadar, “Aduh, kenapa saya ngomong begitu?”

Dia minta ampun kepada Tuhan. “Tuhan, ampuni saya. Ampuni mulut ini.”

Tetapi dia harus segera ke kantor dan belum sempat kembali untuk berdamai dengan suaminya.
Kemudian dia naik kendaraan umum, tetapi dapat kendaraan yang jelek dan bau. Langsung dia berpikir: “Ini dia. Tuhan marah sama saya.”
Sampai di tempat bus, dia hampir ketinggalan. Harus berlari-lari. Sampai di kantor, laptopnya bermasalah. WhatsApp dan email enggak jalan.
Dia kembali berpikir: “Ini Tuhan marah sama saya.”
Belum jam 10.15 dia sudah menangis.

Saya tanya ibu ini, “Ibu percaya Tuhan baik?”
“Percaya.”
“Ibu percaya kalau engkau minta ampun, Tuhan mengampuni dosamu?”
“Percaya.”
“Kamu tadi sudah minta ampun?”
“Sudah, Pak.”
Ya sudah. Terima pengampunan itu.

That's it.

Jangan terus berpikir, “Saya pasti dikutuk seharian karena tadi ngomong bercerai.” Bapamu di surga enggak seperti itu. Kalau kita punya anak dan anak kita salah, kita enggak langsung berkata, “Bukan anak Papa lagi. Bukan anak Mama lagi.”

Tidak.

Kita menegur, meminta dia minta maaf. Tetapi kasih kita tetap berlaku untuk anak itu. Dan ketika dia minta maaf, kita mengampuni dan memberikan kesempatan lagi. Ingat, Yesus mati di kayu salib supaya kita bisa berdamai dan disambungkan kembali dengan Bapa. Karena itu, sekalipun kita punya kesalahan dan dosa, kita tahu kita punya Bapa yang siap mengampuni ketika kita datang bertobat kepada-Nya.

Perjalanan kita bersama Tuhan adalah perjalanan pendamaian. Kita masih bisa jatuh. Kita masih bisa tersandung. Tetapi waktu kita jatuh dan tersandung, Tuhan tidak meninggalkan kita tergeletak. Dia menopang kita.

Salib Kristus bukan hanya menjelaskan kasih Kristus, tetapi juga menjelaskan kasih Allah Bapa yang luar biasa kepada kita.

Karena karya Kristus, Allah mengampuni kita, mendamaikan kita dengan diri-Nya, dan menjadikan kita baru.

#2 Kita didamaikan dengan diri sendiri melalui Kristus dan di dalam Kristus

Yang kedua: Kita didamaikan dengan diri kita sendiri melalui Kristus dan di dalam Kristus. You are being reconciled to yourself through Christ and in Christ.

Perhatikan ayat 19:

Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka.

Karena Kristus, dosa kita ditebus. Paulus berkata bahwa ada berita pendamaian yang dipercayakan kepadanya. Artinya ada kesempatan, ada second chance oleh karena Kristus.

Lalu ayat 20 berkata:

Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian:

Don't be too hard on yourself.

Jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri.

Banyak anak Tuhan enggak bisa hidup dengan bahagia karena terlalu keras terhadap dirinya sendiri.

Engkau berkata: “Dulu saya gagal.”
“Saya enggak boleh gagal lagi.”
“Saya enggak boleh gagal lagi.”

Betul, kita belajar dari kegagalan. Tetapi engkau sudah ditebus dari masa lalu itu. Kehidupan kita tidak ditentukan oleh masa lalu. Masa lalu membawa kita sampai masa kini, tetapi masa depan kita ada di dalam Kristus.

Sering kali karena kesalahan dan perbuatan yang tidak baik di masa lalu, kita menjadi terlalu keras kepada diri sendiri. Siapa yang sanggup sempurna di dunia ini? Tidak ada. Hanya Yesus yang sempurna.

Kalau hari ini engkau masih melakukan pelanggaran, minta ampun kepada Tuhan dan dengan iman terima pengampunan-Nya. Tetapi jangan terlalu keras terhadap dirimu sendiri. Kita bukan orang yang sudah sempurna. Kita terus disempurnakan di dalam Kristus.

Sering kali karena terlalu keras terhadap diri sendiri, kita juga tidak mampu membangun relasi yang sehat dengan orang lain, bahkan dengan diri kita sendiri.

Kristus datang dan mati di kayu salib supaya engkau juga bisa berdamai dengan dirimu sendiri.

Engkau bisa berdamai dengan masa lalumu.
Engkau tidak lagi terjerat oleh masa lalumu.
Engkau berdamai.
Engkau move on.
Dan engkau menyongsong kehidupan baru bersama Kristus.

Saya bukan masa lalu saya

Kalau saya merenungkan perjalanan hidup saya, istri saya tahu apa adanya. Saya berasal dari keluarga yang broken home, keluarga yang tidak sempurna. Orang mungkin berkata, “Oh, Chris waktu mudanya baik.” Tidak. Mereka enggak tahu apa yang ada di pikiran saya.

Ketika saya menerima keselamatan, saya berkata, “Yes, Tuhan, saya menjadi manusia baru.” Tetapi saya sendiri masih sulit berekonsiliasi dengan diri saya. Saya pacaran lama dengan istri saya yang duduk di depan ini. Lama sekali pacarannya. Saya bahkan takut melamar dia.

Saya berpikir: “Aduh, saya ini siapa?” “Masa lalu saya, keluarga saya seperti ini. Apakah saya layak menerima kebahagiaan ini?”

Dalam ketakutan itu, mentor saya pada waktu itu berkata: “Chris, you are not your father. Kamu bukan ayahmu. You are not even your mother. Kamu bukan ibumu. You are you. Kamu adalah kamu yang sudah ditebus di dalam Kristus. Kamu adalah ciptaan baru.”

Dari situ saya mulai memberanikan diri melamar. Saya tidak bisa menghapus masa lalu saya. It's there. Banyak orang tahu. Tetapi saya tidak lagi dikendalikan olehnya.

Kenapa? Itu semua sudah ditebus oleh Kristus. Sekarang saya adalah ciptaan yang baru.

Karena Kristus, keberadaan dirimu tidak ditentukan oleh masa lalumu, tetapi oleh siapa engkau sekarang dan masa depanmu di dalam Kristus.

Kalau hari ini saya bisa menjadi pendeta, bukan karena kuat dan gagah saya. Itu semua karena Tuhan.

#3 Kita didamaikan dengan sesama rekan sekerja melalui Kristus dan di dalam Kristus

Yang ketiga dan terakhir: Kita didamaikan dengan sesama rekan sekerja melalui Kristus dan di dalam Kristus. We are being reconciled to fellow ministers through Christ and in Christ.

Perhatikan ayat 21:

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Lalu 2 Korintus 6:1:

Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima.

Ini menarik. Surat Korintus bukan surat khusus untuk pengerja atau pendeta. Ini surat Paulus kepada jemaat. Jemaat Korintus bahkan adalah jemaat yang sangat banyak masalahnya. Tetapi Paulus menyapa jemaat ini dengan berkata: “Sebagai teman-teman sekerja.”

Padahal tidak semua jemaat adalah diaken.
Tidak semua jemaat adalah pendeta.
Tidak semua jemaat adalah gembala COOL.
Ada yang jemaat, ya jemaat saja.
Tetapi Paulus menyapa mereka sebagai teman-teman sekerja.

Saudara yang duduk di sini, mungkin ada yang pekerja gereja, mungkin ada yang memang jemaat biasa.

Dengarkan baik-baik: Kita semua adalah pekerja Allah.
Kita semua pembawa pesan penginjilan.
Kita semua pembawa pesan pendamaian.
Tidak bergantung apakah kita punya jabatan struktural di gereja atau tidak.
Semua yang mendengar khotbah hari ini adalah teman-teman sekerja!

Dan kepada teman-teman sekerja ini Paulus berkata: Berdamai!
Jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah yang sudah dianugerahkan kepada kita.

Bagaimana orang mau datang ke gereja kalau gereja pecah?
Bagaimana orang mau datang kepada Tuhan kalau mereka melihat orang di dalam gereja saling gontok-gontokan?
Bagaimana orang bisa datang kepada Tuhan kalau anak-anak Tuhan, teman-teman sekerja Allah, ternyata tidak saling mengasihi?

Semua kita adalah orang yang tidak sempurna, yang masih terus disempurnakan oleh Tuhan.

Tetapi sebagai anak-anak Tuhan, sebagai pengikut Kristus, di dalam ketidaksempurnaan kita:

  • Kita mau berdamai.
  • Kita mau saling mengasihi.
  • Kita mau saling mengampuni.

Demikian juga kita mengharapkan kita dikasihi, diampuni, dan diberikan kesempatan kedua ketika kita melakukan kesalahan.
Oleh karena inilah Kristus mati di kayu salib.
Dan kayu salib itu dimulai dengan kedatangan-Nya yang pertama, lahir di dunia.

Menjelang perayaan Natal yang tidak lama lagi, renungkanlah betapa besar karya Kristus di atas kayu salib supaya kita bisa mendapatkan rekonsiliasi dan pendamaian itu.

Karena Kristus, mari kita saling menerima, saling mengasihi, dan saling mengampuni sebagai sesama rekan sekerja dan anggota keluarga Allah.

Penutup

Apa yang akan kita dapatkan ketika kita melakukan semua ini?

Paulus menulis dalam Filipi 3:13-14:

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Panggilan surgawi bisa berbicara mengenai panggilan yang Tuhan berikan kepada kita selama hidup di dunia ini.

Ketika kita berjalan di dalam pendamaian, kita bisa semakin jelas melihat:
“Minggu depan saya harus melakukan apa?”
“Bulan depan saya harus melakukan apa?”
“Tahun depan saya harus melakukan apa?”

Panggilan Tuhan menjadi semakin jelas ketika kita berjalan di dalam pendamaian dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dan dengan sesama anak Tuhan, rekan-rekan sekerja di dalam tubuh Kristus.

Saya berdoa, Saudara-saudara sekalian, Anda berjalan dalam pendamaian. Yang mengerti, yang setuju, katakan amin! Beri kemuliaan buat Tuhan!

Nyanyi:

Sujud di altar-Nya
Kubawa hidupku
Kuterima anugerah-Nya
Dia ampuniku dan bebaskanku

Dia ubah hidupku
Baharui hatiku
Sesuatu terjadi
Saat datang di altar-Nya