Khotbah: 20260809-1700: Perbedaan antara revisi
baru |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 6: | Baris 6: | ||
| subtitle= | | subtitle= | ||
| name= Boy Arifin Djambek | | name= Boy Arifin Djambek | ||
| completename= Pdt Boy Arifin Djambek | | completename= Pdt Boy Arifin Djambek | ||
| type= khotbah | | type= khotbah | ||
| event= Ibadah Raya | | event= Ibadah Raya | ||
Revisi terkini sejak 11 Agustus 2026 16.11
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 9 Agustus 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
Cinta akan uang sangat berbahaya karena dapat membuat seseorang seperti Yudas Iskariot: menukar panggilan yang mulia, menyalahgunakan kesempatan yang Tuhan berikan, bahkan menempatkan keuntungan materi di atas Tuhan sendiri. Uang pada dirinya netral dan dapat dipakai menjadi berkat, tetapi ketika uang menjadi pusat hidup, seseorang dapat mengorbankan iman, integritas, keluarga, pelayanan, dan kebenaran demi keuntungan sementara. Karena itu orang percaya harus menghargai panggilannya, memakai setiap kesempatan untuk menyenangkan Tuhan, dan menjaga Yesus tetap menjadi Pribadi yang terutama serta tidak tergantikan oleh harta apa pun.
Shalom, Bapak/Ibu, kita berada di bulan kemerdekaan. Minggu depan bangsa Indonesia akan memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satu pekerjaan rumah yang besar bagi bangsa kita, yang harus terus kita doakan dan kawal, adalah pemberantasan korupsi.
Mengapa korupsi bisa terjadi? Kalau kita kembali kepada Firman Tuhan, salah satu akar persoalannya adalah cinta akan uang. Karena itu, menyambut kemerdekaan Indonesia, sebagai umat Tuhan kita perlu memastikan bahwa jangan sampai ada cinta akan uang yang menguasai kehidupan kita.
Uang itu sendiri bukan masalah. Kita semua masih membutuhkan uang. Uang adalah alat yang netral. Yang menjadi masalah adalah cinta akan uang.
Kalau seseorang sedang jatuh cinta, hampir setiap hari yang dipikirkan adalah orang yang dicintainya. Demikian juga ketika seseorang mulai mencintai uang, yang terus memenuhi pikirannya adalah uang.
Dia mulai mengejar uang sampai melupakan keluarga, ibadah, pelayanan, bahkan mengorbankan nilai-nilai yang benar. Kalau sudah sampai di sana, itu berbahaya.
Firman Tuhan berkata:
- Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. (1 Timotius 6:9)
Mengapa?
- Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1 Timotius 6:10)
Hari ini kita akan belajar dari satu tokoh Alkitab yang hidupnya bukan hanya dipenuhi berbagai duka, tetapi akhirnya menuju kebinasaan karena membiarkan cinta uang menguasainya. Namanya adalah Yudas Iskariot. Karena itu pesannya sederhana: Jangan seperti Yudas Iskariot
Nama Yudas sendiri sebenarnya bukan nama yang buruk. Dalam Perjanjian Baru ada Surat Yudas. Nama Yudas berhubungan dengan nama Yehuda dan memiliki arti pujian atau ucapan syukur.
Namun kita akan belajar secara khusus dari Yudas Iskariot, murid Tuhan Yesus yang kemudian menjadi pengkhianat.
- Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. (Matius 26:14-16)
Dari tiga ayat ini kita akan belajar tiga bahaya cinta akan uang.
Ayat itu dimulai dengan kalimat:
- Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot. (Matius 26:14)
Perhatikan: sampai mendekati akhir pelayanan Tuhan Yesus, Yudas masih dikenal sebagai seorang dari kedua belas murid. Artinya, panggilan awal Yudas sangat luar biasa. Mari kita lihat bagaimana para rasul dipanggil.
- Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. (Matius 10:1)
Dalam Injil Markus kita membaca:
- Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil. (Markus 3:13-14)
Lukas bahkan mencatat bahwa sebelum memilih kedua belas rasul, Tuhan Yesus berdoa semalam-malaman.
- Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul. (Lukas 6:12-13)
Di antara nama-nama itu terdapat:
- …Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. (Lukas 6:16)
Bayangkan betapa istimewanya panggilan Yudas! Dia dipanggil untuk menyertai Tuhan Yesus. Kurang lebih tiga setengah tahun dia hidup dekat dengan Yesus. Dia melihat bagaimana Yesus berdoa, mengajar, melayani orang, menghadapi persoalan, dan melakukan mukjizat.
Dia bukan hanya dipanggil menyertai Yesus, tetapi juga diutus. Bahkan para rasul menerima kuasa pelayanan dari Tuhan.
- Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. (Matius 10:8)
Kita tidak diberi catatan rinci mengenai setiap mukjizat yang dilakukan masing-masing rasul, sehingga kita tidak perlu memastikan hal yang tidak dicatat Alkitab. Namun yang jelas, Yudas termasuk di antara kedua belas orang yang dipanggil, diutus, dan diberi otoritas pelayanan oleh Tuhan Yesus.
Panggilan awalnya luar biasa.
Namun benih cinta akan uang tidak dibereskan.
Akhirnya dia menukar panggilan yang begitu istimewa.
Seharusnya namanya dikenang sebagai rasul Tuhan. Tetapi sekarang namanya justru identik dengan pengkhianatan. Itulah bahayanya cinta akan uang.
Cinta akan uang dapat membuat seseorang menukar panggilan hidupnya.
Saudara, jangan tukar panggilan yang Tuhan berikan hanya demi uang.
Jangan tukar pelayanan.
Jangan tukar integritas.
Jangan tukar keluarga.
Jangan tukar iman.
Jangan tukar masa depan rohani hanya untuk keuntungan sesaat.
Panggilan Tuhan jauh lebih berharga.
Setiap kita menerima kasih karunia yang luar biasa dari Tuhan. Karena itu jangan pernah memandang rendah panggilan yang sudah dipercayakan-Nya kepada kita.
Jangan tukar panggilan hidupmu.
Jangan seperti Yudas Iskariot.
#2 Cinta akan uang membuat kita menyia-nyiakan kesempatan
Firman Tuhan berkata:
- Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. (Matius 26:16)
Perhatikan kata kesempatan. Yudas masih mempunyai kesempatan. Tetapi kesempatan itu tidak lagi dipakainya untuk menyenangkan hati Tuhan. Dahulu dia mengikuti Yesus. Sekarang dia mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus.
Dahulu kesempatannya dipakai melayani Tuhan. Sekarang kesempatan itu dipakai untuk mengkhianati Tuhan. Cinta akan uang telah mengubah arah hidupnya. Saudara, selama kita masih dapat menarik napas, berarti Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita.
Pertanyaannya: untuk apa kita memakai kesempatan yang Tuhan berikan? Untuk menyenangkan hati Tuhan atau justru mempermalukan nama Tuhan?
Ada sebuah lagu yang sering dinyanyikan:
Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Semakin seseorang mendekati akhir kehidupannya, sering kali dia semakin sadar betapa mahalnya waktu dan kesempatan. Saya terlibat membantu pelayanan di Yayasan Graha Bina Asuh, di mana ada banyak opa dan oma yang sudah lanjut usia. Ketika melihat mereka, kita semakin mengerti bahwa kehidupan ini tidak berlangsung selamanya. Karena itu, selama Tuhan masih memberikan waktu, gunakanlah kesempatan untuk melayani-Nya.
Jangan sampai suatu hari kita berkata, “Andai dahulu saya lebih sungguh-sungguh. Andai dahulu saya lebih banyak melayani. Andai dahulu saya memakai waktu saya dengan lebih benar.” Gunakan kesempatan sekarang!
Hari-hari ini kita juga mempunyai panggilan bersama untuk menuntaskan Amanat Agung. Gereja Tuhan bergerak bersama menjangkau jiwa, membangun COOL, membuka gereja, dan memuridkan banyak orang. Pekerjaan ini bukan tugas satu atau dua orang. Kalau seluruh tubuh Kristus bergerak bersama, apa yang kelihatannya besar dapat dikerjakan.
Kita memiliki waktu yang terbatas. Karena itu jangan hanya menghitung berapa tahun yang masih tersisa. Hitunglah kesempatan yang masih Tuhan berikan hari demi hari. Setiap hari adalah kesempatan. Kesempatan untuk:
- mengasihi seseorang,
- memberitakan Injil,
- mengampuni,
- melayani,
- menolong,
- memberi,
- berdoa,
- dan menyenangkan hati Tuhan.
Jangan biarkan cinta akan uang mencuri kesempatan itu. Yudas memakai kesempatan untuk menyerahkan Yesus. Kita memakai kesempatan untuk memuliakan Yesus.
Inilah bagian yang paling tragis. Yudas akhirnya menukar Tuhan Yesus dengan tiga puluh uang perak.
- Ia berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. (Matius 26:15)
Bayangkan. Selama kurang lebih tiga setengah tahun Yudas melihat Yesus.
Dia melihat kasih-Nya.
Dia mendengar Firman-Nya.
Dia menyaksikan mukjizat-Nya.
Dia melihat orang sakit disembuhkan.
Dia melihat kehidupan manusia dipulihkan.
Namun ketika cinta akan uang sudah menguasai hati, seluruh kemuliaan Tuhan seolah kehilangan nilainya. Yesus ditukar dengan tiga puluh uang perak. Kita tidak perlu terlalu memaksakan konversi nilai tiga puluh uang perak ke dalam rupiah modern karena nilai ekonomi, daya beli, dan jenis mata uang kuno tidak dapat dibandingkan secara sederhana dengan harga perak hari ini.
Namun Alkitab memberikan kepada kita satu gambaran yang sangat kuat mengenai nilai tiga puluh syikal perak. Firman Tuhan berkata:
- Tetapi jika lembu itu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus membayar tiga puluh syikal perak kepada tuan budak itu, dan lembu itu harus dilempari mati dengan batu. (Keluaran 21:32)
Dalam hukum Perjanjian Lama, tiga puluh syikal perak adalah jumlah yang berkaitan dengan ganti rugi atas seorang budak. Betapa tragis. Yudas menghargai Tuhan Yesus, yang Mahamulia, hanya dengan sejumlah uang yang nilainya dalam konteks hukum tersebut dikaitkan dengan seorang budak.
Itulah yang dapat terjadi ketika cinta akan uang menguasai hati. Nilai-nilai menjadi terbalik.
Yang kekal dianggap murah.
Yang sementara dianggap mahal.
Tuhan dianggap dapat ditukar.
Integritas dianggap dapat dijual.
Panggilan dianggap dapat digadaikan.
Jangan sampai terjadi dalam hidup kita. Saudara mungkin tidak pernah secara literal menjual Yesus dengan tiga puluh uang perak. Tetapi setiap kali kita memilih uang daripada kebenaran, kita perlu berhati-hati.
Ketika kita berkata:
“Yang penting untung, walaupun harus berbohong.”
“Yang penting dapat proyek, walaupun harus menyuap.”
“Yang penting jabatan aman, walaupun harus mengorbankan iman.”
“Yang penting uang masuk, walaupun keluarga dan pelayanan ditinggalkan.”
Benih yang sama sedang bekerja. Karena itu jangan bermain-main dengan cinta akan uang. Firman Tuhan tidak berkata bahwa uang adalah akar segala kejahatan. Yang dikatakan adalah:
- Akar segala kejahatan ialah cinta uang. (1 Timotius 6:10a)
Uang dapat dipakai menjadi berkat.
Dengan uang kita dapat menolong orang.
Mendukung pelayanan.
Memelihara keluarga.
Memberkati pekerjaan Tuhan.
Menolong orang miskin.
Tetapi jangan sampai uang menjadi tuan. Tuhan Yesus berkata:
- Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Matius 6:24b)
Uang harus menjadi alat yang kita kelola. Yesus tetap Tuhan kita.
Bagaimana menjaga hati dari cinta akan uang?
Kalau kita tidak ingin menjadi seperti Yudas Iskariot, ada tiga hal yang perlu kita pegang.
- Hargai panggilan Tuhan. Panggilan yang Tuhan berikan jauh lebih mahal daripada seluruh keuntungan dunia. Jangan tukar panggilanmu.
- Hargai kesempatan yang Tuhan berikan. Selama masih hidup, pakailah waktu untuk menyenangkan hati Tuhan. Jangan tunggu nanti.
- Tempatkan Yesus sebagai yang terutama. Jangan pernah menukar Tuhan dengan sesuatu yang sementara. Berapa pun nilainya, tidak ada harta di dunia yang dapat dibandingkan dengan Kristus.
Penutup
Kisah Yudas Iskariot merupakan peringatan yang keras mengenai bahaya cinta akan uang.
Dia memiliki panggilan yang luar biasa, tetapi menukarnya.
Dia mempunyai kesempatan yang sangat besar, tetapi menyalahgunakannya.
Dan pada akhirnya dia menukar Tuhan Yesus dengan tiga puluh uang perak.
Mari periksa hati kita.
Apakah ada cinta akan uang di dalam diri kita?
Apakah uang mulai lebih penting daripada Tuhan?
Apakah demi uang kita mulai mengorbankan keluarga, integritas, ibadah, pelayanan, dan kebenaran?
Kalau ada, mari datang kepada Tuhan. Yesus harus tetap menjadi yang pertama dan yang terutama dalam kehidupan kita.
Jangan tukar panggilanmu.
Jangan sia-siakan kesempatanmu.
Jangan pernah menukar Tuhanmu.
Yesus Kristus tetap nomor satu dan segalanya dalam hidup kita.
Nyanyi:
Sekali Yesus, selamanya Yesus
Harapanku tak akan hilang
Karena kasih-Nya sekarang ku ada
Oh Yesusku, kucinta Kau selamanya