Khotbah: 20260712-0930/SR: Perbedaan antara revisi

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Leo (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
Leo (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 31: Baris 31:
| shortsummary=  Di tengah dunia yang penuh goncangan, kebisingan, dan distraksi, Tuhan memanggil umat-Nya untuk diam, menyingkirkan berbagai gangguan, dan kembali duduk di bawah kaki-Nya.
| shortsummary=  Di tengah dunia yang penuh goncangan, kebisingan, dan distraksi, Tuhan memanggil umat-Nya untuk diam, menyingkirkan berbagai gangguan, dan kembali duduk di bawah kaki-Nya.
}}
}}
Shalom dan selamat pagi.
Shalom dan selamat pagi. Semuanya diberkati oleh Tuhan? Amin. Puji Tuhan.
 
Semuanya diberkati oleh Tuhan? Amin. Puji Tuhan.


Tanpa terasa kita sudah berada di minggu kedua bulan Juli. Rasanya begitu cepat kita sudah masuk ke semester kedua tahun 2026. Ini juga mengingatkan kita bahwa Tuhan segera datang. Tuhan segera datang menjemput gereja-Nya. Siapa yang mau menantikan kedatangan Tuhan dengan sungguh-sungguh? Puji Tuhan!
Tanpa terasa kita sudah berada di minggu kedua bulan Juli. Rasanya begitu cepat kita sudah masuk ke semester kedua tahun 2026. Ini juga mengingatkan kita bahwa Tuhan segera datang. Tuhan segera datang menjemput gereja-Nya. Siapa yang mau menantikan kedatangan Tuhan dengan sungguh-sungguh? Puji Tuhan!

Revisi terkini sejak 13 Juli 2026 13.46

Di tengah dunia yang penuh goncangan, kebisingan, dan distraksi, Tuhan memanggil umat-Nya untuk diam, menyingkirkan berbagai gangguan, dan kembali duduk di bawah kaki-Nya. Seperti Maria yang memilih bagian terbaik, orang percaya perlu membangun kebiasaan bersekutu dengan Tuhan, mendengarkan Firman-Nya, dan menjadikan keintiman dengan-Nya sebagai prioritas sebelum melakukan berbagai pelayanan. Ketika kita diam dan sungguh mengenal bahwa Allah kita besar serta memegang seluruh kehidupan di tangan-Nya, kita tidak lagi dikuasai kebimbangan, tetapi dapat menghadapi setiap goncangan dengan iman, ketenangan, dan keyakinan akan kuasa-Nya.

Shalom dan selamat pagi. Semuanya diberkati oleh Tuhan? Amin. Puji Tuhan.

Tanpa terasa kita sudah berada di minggu kedua bulan Juli. Rasanya begitu cepat kita sudah masuk ke semester kedua tahun 2026. Ini juga mengingatkan kita bahwa Tuhan segera datang. Tuhan segera datang menjemput gereja-Nya. Siapa yang mau menantikan kedatangan Tuhan dengan sungguh-sungguh? Puji Tuhan!

Tadi kita baru saja menaikkan pujian Be Still and Know. Pujian itu diambil dari Mazmur 46:11, dan itu juga menjadi tema saya pada pagi hari ini: Be Still and Know.

Be still, and know that I am God;
Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!
(Mazmur 46:11)

Di tengah-tengah goncangan yang luar biasa, dunia sedang digoncangkan, Indonesia sedang digoncangkan, bahkan Saudara dan saya sedang mengalami berbagai goncangan. Keluarga demi keluarga mengalami goncangan.

Mungkin Saudara datang ke tempat ini dengan hati yang bergemuruh. Mungkin pikiran Saudara sedang kalut dan seluruh keberadaan kita terasa digoncangkan. Namun justru melalui semuanya itu, Tuhan punya satu tujuan: supaya kita semakin melekat kepada Tuhan dan semakin mencari Tuhan. Karena di situlah kekuatan yang Tuhan sediakan bagi kita. Katakan amin!

Para pemimpin rohani mengingatkan bahwa ke depan, goncangan bukan semakin sederhana atau semakin kecil. Goncangan akan semakin dahsyat. Tetapi Saudara dan saya harus tinggal di dalam satu Kerajaan yang tidak dapat digoncangkan, yaitu Kerajaan Tuhan Yesus Kristus.

Haleluya!

Ketika kita menghadapi goncangan, hati bergemuruh, pikiran kalut, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin hal itu belum terjadi saat ini, tetapi kita perlu mempersiapkan diri menghadapi goncangan yang lebih besar.

Apa yang harus kita lakukan?

#1 Diamlah

Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi! (Mazmur 46:11)

Kalau Saudara membaca Mazmur 46:2-12, hampir seluruh bagian itu berbicara tentang goncangan. Tetapi di tengah-tengah semua goncangan itu, hanya ada satu perintah yang Tuhan sediakan bagi kita:

Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.

Bagian pertama yang harus kita lakukan adalah: diam. Gampang atau susah?

Kalau Saudara berpuasa sampai pukul 12.00 atau sampai sore, tidak makan dan tidak minum, mungkin kita sanggup. Tetapi bisakah kita berpuasa untuk tidak berbicara? Bisakah kita berdiam diri satu hari penuh? Tuhan berkata: diamlah.

Hari-hari ini, di Amsterdam, Belanda, ada beberapa mahasiswa yang membentuk satu komunitas bernama The Offline Club. Mengapa dinamakan offline? Karena mereka sudah jenuh melihat bagaimana hidup manusia dikuasai oleh telepon genggam, komputer, dan berbagai perangkat digital.

Setiap detik ada berita yang masuk. Kita baru mulai membaca satu artikel rohani, lalu muncul berbagai notifikasi. Kita terdistraksi. Kita ingin membaca dengan serius, tetapi tidak bisa karena ada begitu banyak gangguan. Karena itu mereka membentuk The Offline Club. Gerakan ini kemudian menyebar sampai ke London, Paris, Barcelona, Turki, bahkan kabarnya sudah masuk ke Bali.

Mengapa banyak orang tertarik? Karena mereka sudah jenuh melihat bagaimana dunia sekarang dikuasai oleh kehidupan digital. Semuanya serba cepat. Cepat, cepat, cepat. Mereka ingin kembali mengalami ritme hidup yang lebih lambat, seperti pada era tahun 1990-an ketika smartphone belum ada.

Ketika mereka mengikuti kegiatan itu, tempat yang dipakai antara lain museum dan gereja-gereja tua. Telepon genggam mereka ditaruh di dalam loker. Lalu mereka mulai menggambar, merajut, menulis, atau melakukan hal-hal sederhana lainnya.

Mereka berkata bahwa manusia hari-hari ini membutuhkan digital detox. Betul atau benar?

Kita sering berpikir tentang detoksifikasi tubuh dengan makanan sehat, sayur, dan buah-buahan. Tetapi pernahkah kita memikirkan digital detox? Menyingkirkan untuk sementara berbagai berita dan informasi yang membombardir serta mengalihkan fokus kita.

Termasuk di gereja. Pendeta sedang berkhotbah, pujian dan penyembahan sedang dinaikkan, tetapi kita masih sibuk dengan telepon genggam.

Puji Tuhan, jemaat di sini semuanya berkonsentrasi ke depan untuk memuliakan nama Tuhan. Amin!

Saya sempat mendengar cerita tentang seorang hamba Tuhan yang sedang berkhotbah. Ketika tiba waktu persembahan dan dia sedang tidak berbicara, ternyata kamera di belakang mimbar merekam dia sedang membuka permainan di telepon genggamnya. Sementara jemaat memberikan persembahan, pendetanya bermain game. Di sini tidak ada, kan?

Saya sampai berpikir, apakah gedung ini perlu dijadikan zona tanpa Wi-Fi atau offline zone, supaya kita tidak sibuk dengan telepon genggam dan dapat sungguh-sungguh berkonsentrasi kepada Firman Tuhan.

Karena inilah yang kita butuhkan hari-hari ini. Manusia punya kecenderungan ketika menghadapi masalah atau tantangan: kita ingin segera bergerak. Kita lebih suka melakukan A, B, C, dan D daripada duduk diam terlebih dahulu. Ketika menghadapi masalah, kita ingin menguasai dan menyelesaikannya sendiri. Namun kita perlu mengerti: seluruh hidup kita ada di dalam tangan Tuhan. Semua masalah yang kita hadapi ada di dalam kendali Tuhan. Amin!

Itulah yang perlu kita lakukan: duduk diam di bawah kaki Tuhan.

Memilih bagian yang terbaik

Suatu waktu Yesus datang ke rumah Lazarus, Maria, dan Marta. Di sana kita melihat dua sikap yang berbeda.

Marta sangat sibuk. Tidak salah. Tuhan Yesus datang, dan Marta ingin memberikan yang terbaik. Dia pergi ke dapur, menyiapkan berbagai makanan, membersihkan rumah, dan mengatur semuanya agar berjalan dengan baik. Marta menggambarkan orang yang melayani untuk Tuhan.

Kalau saya mengingat masa lalu, itu juga saya sekali. Saya senang sekali melayani untuk Tuhan. Tetapi saya lupa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting: bukan hanya melayani untuk Tuhan, melainkan melayani Tuhan. Berbeda atau sama? Berbeda!

Melayani untuk Tuhan berbicara tentang melakukan berbagai pekerjaan bagi Tuhan. Tetapi melayani Tuhan berarti datang kepada-Nya, duduk di bawah kaki-Nya, dan mendengarkan suara-Nya.

Marta sangat sibuk melakukan semuanya. Tetapi Maria duduk di bawah kaki Yesus dan mendengarkan seluruh pengajaran-Nya. Sampai akhirnya Marta protes kepada Tuhan. “Tuhan, masa Maria hanya duduk? Suruh dia membantu saya. Saya sudah capek melakukan semuanya.”

Tetapi apa yang Tuhan katakan kepada Marta?

Tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya. (Lukas 10:42)

Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya. Apa maksudnya? Marta menyiapkan makanan. Makanan itu akan habis. Dia membersihkan lantai, tetapi lantai itu bisa kotor lagi. Semua pekerjaan itu baik, tetapi hasilnya bisa berlalu. Namun Maria mengambil bagian yang terbaik, yang tidak dapat diambil daripadanya: duduk di bawah kaki Tuhan.

Siapa yang mau mengambil bagian yang terbaik? Amin! Duduk di bawah kaki Tuhan! Kita sering lupa karena begitu banyak kesibukan. Kita lupa esensinya.

Waktu Yesus berada di Taman Getsemani, Dia bergumul dengan sangat berat. Lalu Dia mendapati Petrus dan murid-murid lainnya tertidur.

Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? (Matius 26:40b)

Satu jam saja. Siapa yang mau melakukan perintah Tuhan?

Mari kita mulai dari diri saya, keluarga saya, para hamba Tuhan, dan seluruh jemaat. Ayo kita ikuti perintah Tuhan. Sediakan waktu untuk duduk diam di bawah kaki-Nya. Ini adalah persiapan menghadapi goncangan yang lebih besar.

Hari-hari ini kita perlu membangun kebiasaan yang baik. Pada waktu retret anak-anak muda, saya pernah ditanya: bagaimana membangun suatu kebiasaan?

Sebetulnya sederhana. Mulailah berdoa pada pagi hari, sebelum memulai berbagai kesibukan. Mulailah dengan duduk di bawah kaki Tuhan. Tidak perlu langsung lama. Mulai saja 10 menit. Lakukan terus secara rutin dan konsisten. Menurut para ahli, ketika suatu hal dilakukan terus selama beberapa minggu, itu akan menjadi kebiasaan. Kemudian, kebiasaan itu akan menjadi kebutuhan.

Kita akan mulai merasa, “Saya membutuhkan waktu untuk duduk di bawah kaki Tuhan.”

Iblis tidak bisa menghancurkan kita begitu saja. Tetapi dia berusaha mengganggu dan mengalihkan fokus kita, supaya Firman Tuhan tidak sampai kepada kita, supaya pujian dan penyembahan kita tidak naik kepada Tuhan. Dia mendistraksi kita, mengganggu kita, dan membuat fokus kita hilang. Karena itu kita harus kembali kepada esensi: duduk diam di bawah kaki Tuhan.

Haleluya!

#2 Ketahuilah bahwa Allah kita besar

Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah. Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunung pun kepunyaan-Nya. Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya. Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. (Mazmur 95:3-6)

Semua yang mengaminkan ayat ini? Semuanya milik Tuhan. Gunung, lembah, laut, daratan, semuanya ada di dalam tangan-Nya. Karena itu Tuhan berkata: datanglah, sujud dan sembahlah Dia.

Pada tahun 2012, kami memulai pelayanan Bogor Agape Ministries. Kami pergi ke berbagai daerah kantong Kristen: Merauke, Sangihe, Samosir, Alor, Kupang, dan banyak tempat lainnya. Pada tahun 2014, kami pergi ke Kepulauan Nias. Ibu kotanya Gunungsitoli. Tetapi jauh di bagian selatan ada satu kota kecil bernama Telukdalam.

Ketika saya bersama rombongan datang, kami disambut oleh seorang kepala suku dengan pakaian kebesarannya. Ada satu perkataan kepala suku itu yang terus saya ingat. Dia berkata: “Kalau Yesus adalah Allah yang besar, Dia harus membuktikannya.

Saya tidak mengajak dia berdebat. Tetapi perkataan itu menjadi dorongan bagi kami. Malam itu kami akan mengadakan KKR. Dalam hati saya berkata, “Kita akan melihat bagaimana kuasa Tuhan dinyatakan.

Puji Tuhan, malam itu hampir seribu orang datang. Banyak orang mengalami kesembuhan, pemulihan, dan berbagai hal yang ajaib.

Mengapa? Karena kita punya Allah yang besar! Saudara percaya bahwa kita punya Allah yang besar? Dia adalah Pencipta segala sesuatu.

Kalau Saudara percaya, jangan bimbang. Jangan ragu. Orang yang bimbang tidak akan menerima apa-apa. Ketika Saudara berdoa, berdoalah dengan penuh kepercayaan. Kuasa darah Yesus sanggup memberikan kesembuhan, pertolongan, pemulihan, dan kemenangan bagi Saudara.

Tuhan memberkati!

Nyanyi:

I have faced many mountains
Been through trials
And shed many tears
When I look around and it all seems hopeless
I won't fear
I won't fear

I'll be still and know
Know You are God
You're right here with me
Through all my troubles
I'll be still and know
Know You are God
You are the light and rest for my soul
You're God and I'll be still and know

When my heart feels anxious
It's Your voice that calms every storm
When I find myself crying all through the night
You remind me
You remind me

To be still and know
Know You are God
You're right here with me
Through all my troubles
I'll be still and know
Know You are God
You are the light and rest for my soul
You're God and I'll be still and know

Video