Khotbah: 20260503-0930: Perbedaan antara revisi
kTidak ada ringkasan suntingan |
kTidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 236: | Baris 236: | ||
Jadi jangan berpikir, “Udahlah, yuk kita nikmati saja di padang gurun.” Jangan. Padang gurun bukan tujuan akhir, Saudara. Itu sekadar ujian. | Jadi jangan berpikir, “Udahlah, yuk kita nikmati saja di padang gurun.” Jangan. Padang gurun bukan tujuan akhir, Saudara. Itu sekadar ujian. | ||
Tuhan bilang di Ulangan | Tuhan bilang di {{sabdaweb2v|Ulangan 8:2}}: | ||
:'''''Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kautempuh atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini, dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.''''' ({{sabdaweb2v|Ulangan 8:2}}) | :'''''Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kautempuh atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini, dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.''''' ({{sabdaweb2v|Ulangan 8:2}}) | ||
Revisi per 1 Juni 2026 21.52
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 3 Mei 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
| |
Menerima Yesus bukanlah tujuan akhir, melainkan permulaan perjalanan menuju tanah perjanjian yang Tuhan siapkan bagi setiap orang percaya. Tragedi terbesar terjadi ketika hidup rohani hanya berputar-putar dalam siklus yang sama — tanpa transformasi, dipertahankan oleh ketakutan dan ketidakpercayaan, lalu diperpanjang oleh romantisasi masa lalu. Jalan keluar dari siklus itu dimulai ketika kita berhenti menormalisasi stagnasi, mau belajar dari proses Tuhan, taat pada pewahyuan yang diberikan, dan mengizinkan Tuhan memperbarui hidup kita sampai benar-benar masuk ke dalam rencana-Nya.
Shalom, Saudara yang ada di sini maupun yang ada di rumah melalui live streaming, shalom. Senang sekali bisa ada di tempat ini. Sekali lagi ini long weekend, ya. Kemarin perjalanan ke Bogor macet luar biasa. Dari Bogor ke Jakarta pun macet. Tetapi pagi ini senang bisa lihat Saudara semua yang ada di tempat ini penuh merayakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Amin.
Pagi hari ini ada satu pesan yang Tuhan taruh di dalam hati saya, yang saya mau ajak kita belajar darinya sama-sama. Judul pesan ini adalah the great tragedy — tragedi yang terbesar. Saudara, kalau dengar judulnya mungkin agak syok. “Wah, kok bicara tentang tragedi yang terbesar, Pastor? Tragedi apa itu?”
Nah, izinkan saya jelaskan. Kurang lebih satu bulan yang lalu kita semua baru saja merayakan Paskah. Benar ya? Kita baru rayakan Paskah, kematian Yesus di atas kayu salib. Tapi sebenarnya, kalau Saudara pelajari Alkitab, Saudara mengerti Firman Tuhan, Paskah pertama justru terjadi jauh sebelum itu, yaitu ketika bangsa Israel Tuhan lepaskan dari Mesir. Itu Paskah yang pertama, Saudara.
Ingat ceritanya: 430 tahun bangsa Israel diperbudak di Mesir. Tetapi oleh tangan Tuhan yang kuat ada 10 tulah dilepaskan. Di tulah yang ke-10, Tuhan perintahkan bangsa Israel, “Kamu ambil domba, kamu harus sembelih darahnya. Kamu ambil, torehkan di ambang pintu.” Dan ketika malaikat maut turun, setiap kali melihat ada tanda darah, malaikat maut akan melewati rumah-rumah itu. Kata “melewati” dalam bahasa Inggris adalah pass over. Itu kata yang kita pakai hari ini dengan istilah Paskah. Itu gambarannya di situ.
Kemudian Paskah itu digenapi oleh kematian Yesus. Yesus datang sebagai Anak Domba yang tidak bercacat dan tidak bercela. Dia harus dikorbankan di atas kayu salib, dan oleh darah-Nya, Saudara dan saya diselamatkan. Alkitab berkata, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Jadi, oleh kematian Yesus, kita-kita yang punya tanda darah dalam hidup kita — artinya kita terima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat — maka maut diluputkan atas kita. Sama prinsipnya: pass over, Paskah.
Nah, kalau Saudara mengerti analogi ini, ingat: kita baru rayakan Paskah kurang lebih satu bulan yang lalu. Tetapi gambaran Paskah di dalam Alkitab adalah terlepasnya bangsa Israel dari Mesir. Maka Saudara harus paham, kelepasan bangsa Israel keluar dari Mesir itu bukan akhir. Itu justru baru permulaan dari perjalanan mereka menuju tanah perjanjian.
Saudara bisa lihat, puncaknya itu bukan ketika mereka keluar dari Mesir. Puncaknya bukan ketika mereka lepas dari perbudakan. Justru Tuhan mau bawa mereka ke tanah perjanjian. Saya percaya gambaran yang sama berlaku dalam hidup kita. Puncak hidup kita itu bukan ketika kita percaya Yesus atau menerima Yesus. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat itu bukan tujuan akhir. Justru itu baru permulaan perjalanan kita.
Sesudah kita terima Yesus, dilepaskan dari kehidupan lama kita, kita punya satu perjalanan yang harus kita tempuh. Ke mana, Pastor? Tuhan punya tanah perjanjian buat hidup setiap kita. Tuhan punya rencana yang besar yang Dia mau kerjakan dalam hidup setiap kita. Amin.
Ingat, menerima Yesus itu bukan akhir. Justru permulaan dari perjalanan itu.
Tetapi ini yang kemudian saya mau Saudara lihat. Sesudah bangsa Israel keluar dari Mesir, Alkitab mencatat bahwa mereka semua cuma berputar-putar di padang gurun. Dan akhirnya sesudah 40 tahun, mereka semua mati di padang gurun.
Saya sebut itu sebagai the great tragedy, tragedi yang terbesar. Kenapa? Mereka keluar dari Mesir hanya untuk pada akhirnya semua mereka mati di padang gurun. Bagus sih keluar dari Mesir, tapi buat apa keluar dari Mesir kalau ujung-ujungnya cuma mati di padang gurun?
Pesan ini harusnya berbicara buat kita. Apa pesannya, Pastor? Jangan sampai sesudah terima Yesus, sesudah keluar dari Mesir, hidup kita cuma berputar-putar di dalam siklus yang sama, dan sampai akhirnya kita enggak pernah menggenapi rencana Tuhan atas hidup kita. Jangan sampai kita mengalami tragedi terbesar yang dialami oleh bangsa Israel.
Bangsa Israel, perjalanan yang mereka tempuh dari Mesir ke tanah perjanjian, yang seharusnya hanya membutuhkan waktu beberapa minggu, akhirnya menghabiskan 40 tahun. Itu pun mereka enggak masuk. Mereka mati di padang gurun.
Satu generasi mati di padang gurun bukan karena Tuhan tidak punya kuasa, tetapi karena mereka terjebak dalam satu siklus. Siklus yang dipenuhi ketakutan, gerutu, komplain, ketidakpercayaan, dan ketidaktaatan. Akhirnya mereka muter-muter, mandek, stuck, nyangkut, mutar-mutar di padang gurun, dan sampai akhirnya enggak pernah menikmati apa yang Tuhan janjikan buat mereka.
Saya percaya padang gurun ini bukan sekadar lokasi geografis, tetapi ini adalah kondisi rohani. Kita terima Yesus, puji Tuhan. Tapi dalam perjalanan ini, jangan sampai kita ngalamin yang bangsa Israel alami: terjebak di dalam satu siklus, berputar-putar di padang gurun.
Gimana kehidupan kekristenan kita hari ini? “Ya beginilah, Pastor, biasa-biasa aja.” Hari Minggu datang ke gereja, hari Senin sampai Sabtu hidup seperti biasa di luar. Minggu datang lagi ke gereja, Senin sampai Sabtu hidup seperti biasa lagi. Cuma berputar-putar.
Jangan sampai hidup kita cuma berputar-putar. Saya khawatir kita lagi terjebak dalam satu siklus di mana kita di situ-situ aja, kita enggak ngalamin perubahan.
Ada orang bilang begini sama saya, “Pastor, saya mau hidup kayak Tuhan Yesus.” Wah, dahsyat. Luar biasa. Bagus. Tapi kemudian saya klarifikasi, “Maksudnya kamu gimana? Hidup seperti Tuhan Yesus bagian mananya?” Dia bilang, “Iya, Pastor, saya mau hidup saya tidak berubah: dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.” Waduh, saya bilang, “Kamu harus tobat.” Kenapa? Yang boleh enggak berubah cuma Tuhan Yesus. Saudara dan saya, kita semua harus berubah. Kita harus berubah. Enggak boleh hidup tetap sama. Karena jangan-jangan kita sedang terjebak di dalam siklus, cuma berputar-putar di padang gurun.
Hari ini saya mau ajak kita belajar. Yuk, belajar gimana caranya kita enggak nyangkut, enggak terjebak. Kita bisa keluar dari siklus kita dan bisa menggenapi apa yang jadi rencana Tuhan buat hidup kita. Ada lima hal yang saya mau kita sama-sama belajar.
#1 Siklus dimulai ketika kelepasan tidak disertai transformasi
Siklus itu dimulai ketika kelepasan tidak disertai dengan transformasi.
Bahasa Inggrisnya: The cycles begin when deliverance is not matched with transformation.
Saudara ingat cerita bangsa Israel? Nanti baca sendiri di rumah, Keluaran pasal 14 sampai 16. Di situ Saudara temukan, sesudah bangsa Israel dilepaskan Tuhan — dan dilepaskan dengan cara yang dahsyat — 10 tulah, Laut Merah dibelah, tentara Firaun diluluhlantakkan, habis semua mati — tetapi yang menarik, beberapa hari sesudah mereka ngalamin kelepasan, mereka sudah komplain sama Musa, sudah menggerutu, sudah bersungut-sungut.
Apa pesannya? Mereka sih dilepaskan, tapi kelepasan mereka tidak diikuti dengan transformasi. Atau bahasa kerennya: mereka keluar dari Mesir, tapi Mesir enggak keluar dari mereka.
Mereka berubah secara posisi geografis — secara fisik memang enggak di situ lagi — tetapi bawaan dari kehidupan lama masih bercokol dalam hidup mereka. Kebawa keluar. Dilepaskan, tetapi tidak mengalami transformasi.
Buktinya apa, Pastor? Waktu mereka sampai di Gunung Sinai, Musa naik ke atas 40 hari 40 malam. Di bawah, mereka kebakaran jenggot. “Wah, ini gimana nih? Pemimpin kita hilang. Jangan-jangan sudah mati di atas.” Mereka menekan Harun, dan akhirnya Harun bikin patung anak lembu emas untuk mereka sembah.
Saya tanya, kenapa lembu? Kenapa bukan babi? Kenapa bukan monyet, gajah, atau jerapah? Kenapa lembu? Jawabannya gampang: karena selama mereka di Mesir 430 tahun, gambaran ilah yang mereka tangkap dari orang Mesir adalah lembu. Jadi itu masih kebawa. Mereka keluar dari Mesir, tapi Mesir masih ada dalam mereka.
Pastor, saya sudah enggak hidup di tempat lama kok. Saya sudah enggak pernah ke diskotek, ke night club, ke tempat-tempat yang salah. Bagus sih, Saudara. Mungkin sudah enggak di situ lagi. Tapi pertanyaannya begini: sifat lama yang Saudara wariskan dari situ masih Saudara bawa enggak hari ini?
Ketika kelepasan tidak dibarengi dengan transformasi, siklus itu dimulai.
Itu sebabnya zaman sekarang banyak orang mencibir, “Ngakunya Kristen, tapi hidupnya enggak ada bedanya dari dulu sebelum kenal Tuhan.” Kenapa? Karena kelepasan tidak dibarengi dengan transformasi.
Firman Tuhan berkata:
- Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)
Hanya sesudah kita berubah, kita baru dapat menemukan kehendak Tuhan atas hidup kita. Hanya ketika kita berubah, baru kita bisa melihat tanah perjanjian yang menanti di depan kita.
Kalau kita enggak berubah, kita akan masuk dalam siklus, cuma hidup berputar-putar di padang gurun. Kristen sih Kristen, datang ke gereja sih datang, rutin lagi. Tapi hidupnya di situ-situ aja.
Firman Tuhan berkata:
- Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17)
Coba bilang sama-sama: saya yang baru sudah datang.
Kalau Saudara enggak izinkan Tuhan mentransformasi hidup Saudara, kita akan terjebak dalam siklus, cuma berputar-putar di padang gurun.
Apa yang harus kita lakukan, Pastor? Coba identifikasi, apa sifat lama kita yang mungkin masih berulang, masih ada lagi. Oh, dulu sebelum kenal Tuhan saya ini pemarah. Terus sekarang masih pemarah. Dulu saya suka maki-maki istri. Sekarang masih begitu. Kenali apa sifat lama yang masih kebawa, lalu izinkan Tuhan mentransformasi hidup Saudara di area itu. Karena kalau enggak, ya Saudara cuma akan terjebak dalam siklus, berputar-putar di padang gurun.
#2 Siklus dipertahankan oleh ketakutan dan ketidakpercayaan
Yang kedua, siklus itu dipertahankan oleh ketakutan dan ketidakpercayaan. Ini yang memberi bahan bakar pada siklus itu supaya jalan terus.
Di Bilangan pasal 13 dan 14, sesudah mereka keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, Musa mengirim dua belas pengintai. Waktu mereka kembali, dua orang bilang, “Dahsyat, Musa. Itu tanah limpah dengan susu dan madu. Tuhan sudah kasih itu buat kita.” Dua orang melihat janji Tuhan.
Tapi yang sepuluh bilang, “Ngeri, Musa. Banyak raksasa di situ. Kita seperti belalang. Kita bakal diinjak habis.”
Yang dua lihat janji Tuhan. Yang sepuluh lihat ancaman. Karena lebih banyak yang melihat ancaman, mereka memutuskan untuk berbelok. Enggak jadi masuk. Akhirnya muter-muter.
Pesannya apa? Mereka lihat janji Tuhan, tapi ancaman yang mereka rasa membuat mereka takut dan membuat mereka memutuskan untuk enggak masuk ke jalur itu.
Aplikasinya apa dalam hidup kita? Sesudah kita bertobat, lahir baru, dilepaskan dari kehidupan lama, kita mulai dengar banyak janji Tuhan buat hidup kita. Benar apa benar? Saudara dengar khotbah tiap minggu: Tuhan mau memberkati hidup Saudara, memulihkan rumah tangga Saudara, memberkati keluarga Saudara, keuangan Saudara. Kita senang dengar janji Tuhan.
Tapi kemudian, waktu kita belajar bagaimana janji Tuhan itu digenapi, ada bagian yang harus kita kerjakan. Dan ketika kita tahu bagian kita, kita jadi takut dan enggak percaya.
Contohnya rumah tangga. Sebelum kenal Tuhan, Saudara berasal dari rumah yang ribut terus, suami istri berantem terus. Saudara bertobat, lahir baru. Tetapi jangan salah paham: mentang-mentang lahir baru, sifat langsung otomatis berubah. Enggak segampang itu.
Kita mulai dengar janji Tuhan: Tuhan mau memulihkan rumah tanggamu. Tuhan mau bikin rumah tanggamu harmonis. Tuhan mau bikin anggur pernikahanmu makin hari makin manis.
Lalu Firman Tuhan berkata, “Hai suami-suami, kasihilah istrimu.” Tetapi suami yang latar belakangnya ribut langsung berkata, “Amit-amit, Pastor. Saya kasih hati sama istri, nanti dia minta jantung, limpa, ginjal, semua diminta.” Takut. Enggak percaya. Akhirnya belok.
Padahal Tuhan mau pulihkan rumah tanggamu.
Istri-istri juga dengar pesan yang sama: “Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu.” Lalu istri bilang, “Tunduk sama model suami begini? Wah, Pastor, makin parah hidup saya, diinjak-injak nanti.” Ketakutan muncul. Ketidakpercayaan muncul. Responsnya bagaimana? “Sudahlah, enggak usah. Rumah tangga orang lain saja dipulihkan, saya enggak usah.” Belok.
Makanya siklusnya muter di situ lagi. Enggak ngalamin janji Tuhan.
Contoh lain: Tuhan bukan hanya mau pulihkan rumah tangga, Tuhan juga mau memberkati keuangan. Wah, amin. Yang punya hutang, Tuhan mau bereskan hutang Saudara. Tetapi waktu kita belajar Firman Tuhan, Firman berkata: apa yang kamu tabur, itu juga yang kamu tuai. Kalau Saudara mau menuai, harus belajar menabur. Enggak ada cara lain.
Lalu kita bilang, “Nabur? Gua begini aja sudah kurang. Makin keluar makin habis, makin miskin.” Takut. Enggak percaya. Akhirnya berkata, “Udah deh, begini aja enggak apa-apa. Biar makan nasi sama garam juga cukup.” Belok.
Akhirnya cuma berputar-putar. “Hidup saya gini-gini aja, Pastor. Dari dulu sampai sekarang Tuhan ngomong berkat-berkat, saya enggak ngalamin.”
Karena waktu melihat janji Tuhan, lalu sadar ada bagian yang harus Saudara lakukan, Saudara takut, enggak percaya, lalu belok. Akhirnya Saudara cuma berputar-putar di padang gurun.
Kita perlu ngerti: padang gurun itu bukan hukuman Tuhan. Itu konsekuensi dari ketidakpercayaan kita. Kita perlu identifikasi bagian-bagian mana yang ketika Tuhan ajar kita, kita belum berani praktikkan. Waktu Tuhan melepaskan janji-Nya, kita harus mau percaya dan melakukan bagian kita. Jangan tinggal dalam siklus yang sama.
#3 Siklus berlanjut ketika kita meromantisasi masa lalu
Yang ketiga, siklus itu berlanjut ketika kita meromantisasi masa lalu.
The cycles continue when we romanticize the past.
Bilangan pasal 11 ayat 4 sampai 6 mencatat bahwa bangsa Israel di tengah padang gurun menggerutu dan komplain sama Musa. Mereka bilang, “Musa, kami teringat kepada ikan yang kita makan dulu waktu di Mesir, gratis loh. Kita ingat ketimun, semangka, bawang-bawangan.”
Tapi sekarang lihat, mereka bilang, “Kami kurus kering begini. Enggak ada yang bisa dimakan kecuali manna tiap hari.”
Ini namanya meromantisasi masa lalu. Apa itu? Di tengah perjalanan, di dalam proses Tuhan, kita ingat terus apa yang ada di belakang kita. Kita punya memori, kita punya kenang-kenangan, kita romantisasi masa lalu.
Menariknya, mereka bisa ingat menu makanan, tapi lupa bahwa waktu di Mesir mereka itu budak. Aneh ya? Mereka lupa status mereka budak. Yang diingat cuma menu makanan. Padahal status mereka budak.
Itu namanya meromantisasi masa lalu.
Dalam hidup kita memang bisa begitu. Saya kadang suka bingung sama orang Kristen yang suka ngomongin masa lalunya seolah-olah kebanggaan.
“Pastor, dulu saya ngerokok dua slop sehari.” Dia ngomong itu kayak kita harus bilang, “Wah, keren ya.”
“Pastor, dulu saya kalau minum alkohol dua botol saya tenggak biasa aja.” Seolah-olah keren.
Saya bilang, “Iya, tapi dulu kamu seperti itu, kamu itu budak. Belum kenal Tuhan. Kamu itu budak dosa. Upah dosa maut. Kok bisa yang diingat begituannya?”
Saya kadang kalau orang cerita begitu saya bilang, “Mau lagi? Saya beliin.”
“Oh, enggak, Pastor.”
Ya, terus kenapa bangga banget?
Kesaksian boleh. Tapi kesaksian itu bukan bangga. Cerita boleh, “Dulu saya begitu, Pastor, dan sekarang kalau saya ingat saya malu. Hidup saya hancur.” Nah, itu kesaksian. Tetapi kalau dibungkus dengan nada bangga, itu bukan kesaksian, itu cari pujian.
Masalahnya di mana? Kalau kita meromantisasi masa lalu, yang terjadi adalah ingatan yang terdistorsi. Itu memperkuat siklus yang sedang menghancurkan hidup kita.
Maksudnya gimana, Pastor? Ketika ketidaknyamanan di dalam transisi membuat masa lalu terlihat menarik, maka kita berisiko balik ke belakang.
Di tengah proses, ketika kita enggak dimengerti orang, merasa sendiri, merasa sedih, lalu mulai ingat, “Aduh, dulu enak ya teman-teman minum gua, mereka bestie banget. Coba deh gua connect lagi.” Karena kita meromantisasi masa lalu, tarikan untuk mundur jadi kuat ketika kita menjalani proses Tuhan.
Saya kasih ilustrasi. Ibaratnya orang sudah punya istri, tapi masih ngomongin mantan. Ada istri yang senang banget suaminya cerita mantan? Enggak ada. Saya bilang ke istri saya, kalau saya bangga-banggain mantan, saya bisa ditembak.
Sebagus-bagusnya mantan, lebih banyak jeleknya daripada bagusnya. Kalau lebih banyak bagusnya, enggak mungkin jadi mantan.
Itulah sebabnya Firman Tuhan berkata:
- Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. (Yesaya 43:18-19)
Tuhan bilang, “Jangan ingat-ingat hal-hal yang dahulu.” Baru kemudian Tuhan bilang, “Lihat.” Dengan kata lain, Saudara enggak akan pernah bisa melihat janji Tuhan dan rencana Tuhan yang besar kalau kita terus melihat ke belakang.
Orang enggak bisa jalan maju kalau yang dilihatin spion terus. Berhenti. Jangan lagi meromantisasi masa lalu.
Nostalgia bisa jadi sesuatu yang berbahaya secara rohani. Saudara enggak mungkin mewarisi janji Tuhan ketika secara emosi Saudara masih menempel dengan ikatan Saudara di masa lalu.
Yuk, kita jujur, di area mana Tuhan sudah melepaskan hidup kita. Jangan tulis ulang sejarah hanya untuk membenarkan kemunduran kita. Bersyukurlah dengan progres yang Tuhan sudah kerjakan. Sekalipun belum lengkap, belum sempurna, tetap katakan, “Terima kasih Tuhan, saya sudah bisa sampai di titik ini.”
#4 Siklus dipatahkan ketika generasi baru bangkit
Yang keempat, siklus itu dipatahkan ketika generasi baru bangkit.
The cycles break when a new generation rises.
Ulangan pasal 2 ayat 3, Tuhan ngomong sama bangsa Israel. Dan saya percaya apa yang Tuhan ngomong ini menjadi pesan profetik buat kita pagi hari ini.
Tuhan bilang: “Telah cukup lama kamu berjalan keliling pegunungan ini. Beloklah sekarang ke utara.”
Tuhan mau bilang sama Saudara dan saya: sudah terlalu lama Saudara cuma berputar-putar di siklus yang sama. Hidup begitu-begitu saja. Tuhan bilang, “Sudah terlalu lama.” Tuhan bilang, “Cukup adalah cukup. Enough is enough. No more. Enggak lagi.” Mulai hari ini, belok. Bergeser. Keluar dari siklus Saudara, masuk ke tanah perjanjian Saudara.
Bilang sama-sama: belok.
Hari ini aku keluar dari siklus.
Ketika bangsa Israel akhirnya dibawa kepemimpinan Yosua, generasi lama yang enggak percaya itu sudah mati semua. Generasi baru bangkit. Mereka terlatih untuk bergantung sama Tuhan, dan siap masuk ke tanah perjanjian.
Mematahkan siklus itu sering kali menuntut kita punya cara berpikir yang baru. Izinkan Tuhan memperbaharui Saudara. Butuh kepemimpinan yang baru. Waktu Tuhan tuntun hidup kita, kita ikutin. Butuh ketaatan yang baru. Kita taat sama Tuhan supaya Dia bawa kita masuk ke tanah perjanjian kita.
Tangkap prinsip ini: Repetition stops when revelation is obeyed.
Pengulangan itu berakhir ketika pewahyuan yang Saudara terima Saudara praktikkan.
Orang Kristen problemnya kita suka mengoleksi pewahyuan. “Oh, Pastor, saya suka dengar khotbah, saya suka dengar pengajaran, saya catat semuanya. Yes, yes, yes. Amin.” Pertanyaan saya: habis kamu aminin, habis kamu catat, dilakukan atau enggak?
Karena pengulangan baru berakhir ketika pewahyuan yang kita terima kita praktikkan. Ini hukumnya. Bukan berapa banyak yang kita tahu yang penting, tetapi berapa banyak dari yang kita tahu yang kita praktikkan. Orang tahu banyak tapi enggak dilakukan, percuma. Saudara tahu sedikit tapi praktik, itu yang menghasilkan terobosan dalam hidup Saudara.
Tuhan tidak pernah mengubah janji-Nya. Yang Dia ubah adalah umat-Nya. Saudara dan saya, Tuhan mau ubah hidup kita.
Berhenti menormalisasi stagnasi. Kalau hidup Saudara sama terus lalu bilang, “Ah, ini mah normal, Pastor.” Enggak. Itu enggak normal. Anak umur lima tahun tingginya segini, normal. Tapi kalau dua puluh tahun kemudian tingginya tetap segitu, ada yang salah. Orang Kristen kalau hidupnya gitu-gitu aja, jangan bilang itu normal. Enggak normal. Hidup kita harus mengalami terobosan. Enggak boleh cuma berputar-putar di padang gurun.
Kenali ketika Tuhan mulai kasih kita arahan untuk bergerak, lalu kita taati dengan segera. Maka kita akan mengalami terobosan.
#5 Padang gurun adalah ujian, bukan tujuan akhir
Yang terakhir, ingat begini: padang gurun itu adalah ujian. Padang gurun itu bukan tujuan akhir.
Jadi jangan berpikir, “Udahlah, yuk kita nikmati saja di padang gurun.” Jangan. Padang gurun bukan tujuan akhir, Saudara. Itu sekadar ujian.
Tuhan bilang di Ulangan 8:2:
- Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kautempuh atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini, dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. (Ulangan 8:2)
Ternyata kenapa dari Mesir enggak langsung lompat ke tanah perjanjian? Karena perjalanan ini adalah proses. Di dalamnya Tuhan mau membentuk kerendahan hati dalam hidup kita.
Saudara yang masih bilang, “Gua mampu sendiri, gua sanggup, gua kaya, gua hebat,” Tuhan mau merendahkan hati kita. Tuhan mau menguji kita, mengubah kita, menyingkapkan apa yang ada di dalam hati kita. Dan saya percaya, waktu kita izinkan Tuhan bawa kita dalam proses, kita akan mengalami terobosan itu.
Prinsip yang terakhir, dengar ini: What you refuse to learn will continue to repeat.
Apa yang Saudara tolak untuk belajar akan balik lagi di situ lagi, di situ lagi. Kenapa kita enggak maju-maju? Ya, karena kita enggak belajar-belajar.
Anak Saudara kelas 3 SD, ujian enggak lulus, ulang. Ujian lagi, enggak lulus, ulang lagi. Apa yang kita tolak untuk pelajari akan terus berlanjut.
Kalau Tuhan terus membawa Saudara kepada pelajaran yang sama, itu lagi, itu lagi, dengar: itu bukan kebetulan. Itu kurikulumnya.
It’s not a coincidence, it’s a curriculum.
Artinya, Saudara belum lolos. Belum lewat.
Mulai hari ini kita tanya: Tuhan sedang mengajar apa dalam musim hidupku ini? Kerja sama dengan apa yang Tuhan mau ajarkan. Ayo berubah. Jangan perpanjang proses yang harusnya pendek. Padang gurun itu seharusnya cuma beberapa minggu, jadi 40 tahun karena mereka enggak mau belajar.
Tuhan mau proses hidup kita. Kalau Tuhan tegur Saudara, ngomong sama Saudara, ajar Saudara, bilang, “Iya, Tuhan, aku mau rendahkan hatiku.” Waktu Tuhan uji, “Ya Tuhan, aku mau terbuka. Aku mau bertobat.” Dan waktu Tuhan mau ubah, kita mau berubah. Proses itu akan pendek. Saudara akan keluar dari padang gurun Saudara, dan kita akan masuk ke tanah perjanjian kita.
Amin.