Khotbah: 20260419-0930: Perbedaan antara revisi
upd |
k Firman |
||
| Baris 132: | Baris 132: | ||
DBR, mari lebih dalam lagi. Sekali di rumah Tuhan, tetap di rumah Tuhan. Sekali mengampuni, mengampuni sungguh-sungguh. Jangan bolak-balik. Yang sering bolak-balik biasanya yang masih selutut. Tetapi Tuhan memanggil kita untuk lebih dalam. | DBR, mari lebih dalam lagi. Sekali di rumah Tuhan, tetap di rumah Tuhan. Sekali mengampuni, mengampuni sungguh-sungguh. Jangan bolak-balik. Yang sering bolak-balik biasanya yang masih selutut. Tetapi Tuhan memanggil kita untuk lebih dalam. | ||
Setelah sungai itu makin dalam, | Setelah sungai itu makin dalam, Firman Tuhan berkata: | ||
:'''''Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup; ikan-ikan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air itu menjadi tawar, dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.''''' ({{sabdaweb2v|Yehezkiel 47:9}}) | :'''''Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup; ikan-ikan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air itu menjadi tawar, dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.''''' ({{sabdaweb2v|Yehezkiel 47:9}}) | ||
Revisi terkini sejak 20 April 2026 13.54
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 19 April 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
Perjalanan iman bukan sekadar mencari berkat, mukjizat, dan pemulihan, tetapi terutama membawa kita untuk ketemu Tuhan dan dipenuhi Roh Kudus. Dalam journey of faith, orang percaya dipanggil untuk bertumbuh lebih dalam, melepaskan luka, pengampunan yang tertahan, dan kehendak sendiri, sampai bisa berkata, “Bukan kehendakku, kehendak-Mu yang jadi.” Ketika hidup mengalir dari hadirat Tuhan, maka hidup itu akan menjadi saluran kehidupan, buah, dan kesembuhan bagi banyak orang.
Shalom semuanya. Umat yang dikasihi Tuhan, kita ada di masa 40 hari ketika Tuhan Yesus mengunjungi sahabat-sahabat-Nya. Kita flashback sedikit. Tuhan Yesus mati di kayu salib. Sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, pada usia sekitar 30 tahun, Tuhan melakukan mukjizat pertama. Mukjizat pertama terjadi di pernikahan. Katakan: pernikahan.
Biarlah pernikahan kita selalu manis. Mukjizat pertama terjadi di mana? Di pernikahan. Air menjadi anggur.
Selama tiga setengah tahun pelayanan-Nya, apa yang Tuhan Yesus lakukan? Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar, orang kusta sembuh, orang mati dibangkitkan. Amin! Mukjizat masih ada.
Lalu apa yang dibutuhkan manusia? Yang dibutuhkan manusia adalah berkat, pemulihan, dan mukjizat.
Kenapa kita butuh berkat? Karena sejak dosa di Taman Eden, manusia hidup dalam susah payah. Tetapi Tuhan berkata bahwa kita akan diberkati. Amin!
Lalu kita butuh mukjizat. Mungkin terjemahan gampang buat anak-anak muda sekarang: gaji UMR Bogor tapi tetap punya rumah. Yang amin mama-papanya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Yang mustahil bagi kita, tidak mustahil bagi Tuhan. Itu sebabnya Papa-Mama pastikan anak-anak ketemu Tuhan.
Lalu kita butuh pemulihan. Hubungan suami-istri dipulihkan, hubungan orang tua dan anak dipulihkan. Jadi manusia membutuhkan berkat, mukjizat, dan pemulihan. Dan Tuhan melakukan itu semua selama Ia masih hidup di dunia. Puncaknya selesai di kayu salib. Kita sudah memperingati Jumat Agung.
Perjalanan iman—the journey of faith
Tetapi ada sesuatu yang luar biasa. Perjalanan iman kita kadang seperti perjalanan murid-murid: kadang senang, penuh percaya diri, merasa pasti bisa, pasti dapat. Tetapi kemudian Tuhan Yesus ditangkap, dipukuli, dan mati di kayu salib. Apa yang terjadi? Perjalanan iman kita sering seperti roller coaster. Kadang kita yakin sekali: “Aku punya Tuhan yang besar.” Tetapi kadang kita turun, bahkan seperti tidak ada masa depan, tidak ada harapan, tidak ada jalan keluar.
Kadang ada waktunya dapat beasiswa, ada waktunya rasanya kuliah pun tertunda. Kadang ada waktunya kita yakin pasti punya rumah, ada waktunya berpikir, “Sudahlah, ngontrak selamanya enggak apa-apa, yang penting punya rumah di surga.” Itu bukan beriman, itu pasrah.
Yesus mati, tetapi hari ketiga Dia bangkit. Amin! Waktu bangkit, semangat murid-murid bangkit lagi. Tetapi perhatikan ini: selama 40 hari setelah kebangkitan, Tuhan Yesus tidak membuat mukjizat lagi, tidak memberkati lagi, tidak memulihkan lagi. Ternyata apa yang paling kita butuhkan bukan hanya berkat, pemulihan, dan mukjizat. Kita butuh Roh Kudus.
Tahukah bahwa berkat tidak pernah otomatis membawa kita dekat kepada Tuhan? Sering kali justru ketika dapat bonus, dapat warisan, orang lupa ke gereja. Sakit doa, sembuh jalan-jalan. Karena itu, keluarga besar Danau Bogor Raya, kalau doamu belum dijawab, jangan kecewa. Sebab sering kali yang kita minta justru bisa membuat kita jauh dari Tuhan.
Dalam 40 hari terakhir itu, sampai nanti Tuhan Yesus naik ke surga, Tuhan cuma kasih satu pesan: tunggu di Yerusalem. Aku akan kirim Penolong. Kita memang butuh berkat, mukjizat, dan pemulihan, tetapi Tuhan mau kita semua dipenuhi oleh Roh Kudus. Amin!
Dapat berkat belum tentu membuat orang hidup benar. Dapat berkat belum tentu membuat orang makin dekat kepada Tuhan. Bahkan kadang dapat berkat malah cerai. Dulu waktu naik angkot mesra, sekarang setelah tabungan bertambah malah retak. Karena itu tangkap baik-baik: kita sering tidak mengerti apa yang kita minta, tetapi kita punya Bapa yang baik. Bapa yang baik memberikan hanya yang baik.
Keluarga besar Danau Bogor Raya, kalau belum Tuhan kasih, jangan kecewa, karena Bapa tahu yang terbaik. Amin!
Jangan kecewa, jangan marah, jangan tinggalkan Tuhan, jangan tinggalkan ibadah, jangan tinggalkan pelayananmu. Selama 40 hari itu Yesus hanya mengunjungi dan menemui murid-murid-Nya.
Titik mula: ketemu Tuhan
Tahukah bahwa semua tokoh Alkitab yang luar biasa, yang dipakai Tuhan dengan dahsyat, titik mulanya adalah ketemu Tuhan. Abraham ngobrol sama Tuhan. Musa ngobrol sama Tuhan. Gideon yang sedang bingung, yang hidupnya seperti kacau, juga ketemu Tuhan. Gideon sedang mengirik gandum di tempat pengirikan anggur—gambarannya tidak nyambung, seperti masak nasi pakai blender. Tetapi justru di situ Gideon ketemu Tuhan.
Dan malaikat berkata kepadanya: Hai pahlawan yang gagah perkasa. Jangan dengar kata orang, dengar kata Tuhan.
Saya mau bilang: ceritamu belum selesai. Amin! Berapa banyak orang yang merasa sudah umur, sudah tidak punya cita-cita, hidup jalan saja, tidak ada rencana lagi? Tidak. Ceritamu belum selesai. Itu sebabnya Tuhan berkata: tunggu, Aku akan kirim Penolong. Apa yang paling kita butuhkan? Kita butuh dipenuhi oleh Roh Kudus.
Kadang kita tahu Yesus bangkit, tetapi kita belum mengalaminya. Kita tahu Yesus bangkit, tetapi ekonomi kita belum bangkit, keluarga kita belum bangkit, pelayanan kita belum pulih, hidup kita masih broken. Dalam kebingungan seperti itulah murid-murid juga sempat kembali ke kampung, seolah-olah cerita revival sudah selesai. Tetapi Tuhan datang mengunjungi mereka. Amin!
Saya mau berkata: waktu engkau pulang dari tempat ini, engkau tidak akan sama seperti waktu engkau datang, kalau engkau ketemu Tuhan. Kalau ketemu Tuhan, before and after pasti beda.
Semua orang berguna
Lalu pertanyaannya: apa tujuan hidup kita? Kenapa saya ada? Ketika orang kehilangan tujuan hidup, dia kehilangan semangat untuk hidup. Kalau ada tujuan, ada semangat bekerja, ada semangat melayani. Tetapi kalau sayapnya patah, dia merasa tidak bisa terbang lagi. Dia mulai bertanya, “Untuk apa saya hidup?”
Saya mau katakan: semua ada tujuannya. Kalau benda-benda saja ada tujuannya, apalagi kita. Engkau mulia, engkau berharga. Tuhan mau kita rendah hati, bukan rendah diri. Dan yang paling tahu tujuan hidup kita secara lengkap adalah Roh Kudus. Amin!
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak berguna. Bilang: saya berguna. Tetapi memang perlu perjalanan untuk menemukan itu. Kadang orang diremehkan: “Kamu bisanya cuma main game, tidur, bangun siang. Mau jadi apa?” Tetapi saya mau katakan: semua ada tujuannya.
Namun tujuan hidup bukan cuma supaya happy, bukan cuma kerja, kerja, kerja. Kita dipanggil juga untuk melayani. Tuhan Yesus berkata bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Kalau orang hanya mau dilayani, bahaya yang timbul adalah merasa berhak: “Hormati saya dong. Siapkan saya ini-itu.” Jangan.
Ada perjalanan iman, ada perjalanan sunyi untuk menemukan tujuan kita. Dan sepanjang hidup, manusia suka mengumpulkan banyak hal. Tetapi dalam journey of faith, untuk ketemu Tuhan kita justru harus banyak melepaskan.
Kita ini senang mengumpulkan—dari kecil mungkin kumpul kelereng, kartu, dan sebagainya. Tetapi makin besar, yang sering dikumpulkan justru sakit hati, kesalahan orang, kesalahan anak, kesalahan menantu, luka, kekecewaan. Semua ditandai, semua diingat. Jangan. Untuk ketemu Tuhan, kita harus banyak melepaskan. Salah satunya adalah pengampunan.
Waktu engkau ketemu Tuhan, Abraham tidak pernah sama lagi. Musa tidak pernah sama lagi. Mother Teresa, yang lahir dari keluarga terpandang, juga berubah total ketika ia ketemu Tuhan. Umur 14 tahun ia bermimpi, bertemu Tuhan, dan sejak itu hidupnya tidak pernah sama lagi.
Sayangnya, tidak semua orang yang datang ke gereja sungguh-sungguh ketemu Tuhan. Bahkan peringatan juga buat saya: tidak semua orang yang melayani sungguh-sungguh ketemu Tuhan. Tetapi Tuhan berjanji, orang yang haus dan lapar akan dipuaskan. Jadi sebelum keluar dari gereja, biarlah ada teriakan dalam hati: “Tuhan, aku mau ketemu Tuhan.” Amin!
Tiga ruangan di Bait Allah
Sekarang saya mau bicara sedikit tentang Bait Allah. Bait Allah yang dibangun Salomo prototipenya adalah Kemah Musa. Bait Allah itu ada tiga ruangan:
- Ruang pertama adalah halaman.
- Setelah halaman ada ruang kudus.
- Lalu ada ruang maha kudus.
Ruang kudus adalah tempat para imam, yaitu suku Lewi yang dikhususkan bagi Tuhan. Mereka mengkhususkan hidup, menjaga hidup, dan melayani Tuhan. Mereka punya komitmen lebih dalam. Saya percaya banyak di sini sudah level kedua—melayani, ikut pertemuan doa, ikut doa puasa, mengkhususkan diri lebih dalam bagi Tuhan.
Sebelum masuk, ada kolam basuhan.
Zaman dulu orang berjalan di padang gurun, kaki mereka kotor, jadi harus dibersihkan
Di sana ada Tabut Allah. Esensi terpenting dari Bait Allah adalah Tabut Allah.
Di dalam Tabut Allah ada dua loh batu, yaitu Sepuluh Perintah Allah yang Tuhan sendiri tulis dan berikan kepada Musa. Tabut Allah adalah lambang kehadiran Tuhan. Kalau bangsa Israel kalah perang, senjata terakhir mereka adalah Tabut Allah. Begitu Tabut Allah diangkat, mereka menang. Kita tidak bisa, tetapi Tuhan bisa.
Tetapi kita juga perlu ingat: kalau kita berkata mengasihi Tuhan, kita harus melakukan perintah-Nya. Tidak bisa pilih-pilih: yang saya suka saya lakukan, yang saya tidak suka saya abaikan. Tidak bisa.
Siapa yang boleh masuk? Imam besar, satu orang saja. Dan imam besar itu masuk dengan sangat hati-hati, karena Allah adalah api yang menghanguskan. Kakinya dipasang lonceng supaya kalau ia berjalan masih terdengar bunyi, tandanya masih hidup. Bahkan dipasang tali, karena kalau ia mati, tidak ada orang lain berani masuk, jadi harus ditarik keluar.
Itu menggambarkan bahwa melayani Tuhan bukan main-main. Para imam harus menjaga mata, telinga, hati, bahkan perkataan mereka. Imam besar melayani bukan hanya dengan waktu dan tenaga, tetapi dengan nyawa. Itu sebabnya Rasul Paulus berkata bahwa dalam pelayanan ini kita belum sampai mencucurkan darah. Artinya: jangan mudah menyerah. Tetap bertahan, tetap beribadah, tetap melayani. Amin!Sekali lagi, dalam journey of faith, untuk ketemu Tuhan kita harus banyak melepaskan. Salah satunya pengampunan. Kita senang mengumpulkan dosa orang, salah orang, luka, kecewa. Tetapi untuk ketemu Tuhan, semua itu harus dilepaskan.
Lalu ingat Maria. Ketika malaikat datang dan berkata bahwa ia akan mengandung oleh Roh Kudus, bagi kita itu kabar baik. Tetapi bagi Maria, itu juga kabar yang berbahaya, bahkan bisa jadi kabar kematian. Seorang gadis yang belum menikah, hamil, pada zaman itu bisa dirajam batu. Tetapi Maria berkata: jadilah padaku menurut kehendak-Mu.
Begitu juga dengan kita. Sering kali kita siap menerima good news dari Tuhan, tetapi ternyata kehendak Tuhan berbeda dengan kehendak kita. Kita ingin semua mudah, cepat, sesuai keinginan kita. Tetapi Tuhan Yesus sendiri memberi teladan di Getsemani:
- Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. (Matius 26:39)
Mari belajar berkata: Bapa, bukan kehendakku, kehendak-Mu yang jadi.
Sungai yang keluar dari Bait Allah
Yehezkiel mendapat penglihatan tentang sungai yang keluar dari Bait Allah. Hidup ini perlu aliran air dari Tuhan. Mula-mula air itu semata kaki. Lalu Tuhan menyuruh Yehezkiel maju seribu hasta—air itu menjadi selutut. Lalu maju lagi—menjadi sepinggang. Lalu maju lagi—menjadi seleher.
Semata kaki masih mudah. Itu seperti orang yang komitmennya masih dangkal: datang minggu ini, minggu depan tidak datang juga tidak masalah. Selutut mulai lebih berat, tapi masih bisa belok-belok. Sepinggang makin berat. Tetapi waktu sudah seleher, bukan kita lagi yang berjalan, melainkan kita dibawa arus. Itu bicara tentang hidup yang semakin dalam di dalam Tuhan.
DBR, mari lebih dalam lagi. Sekali di rumah Tuhan, tetap di rumah Tuhan. Sekali mengampuni, mengampuni sungguh-sungguh. Jangan bolak-balik. Yang sering bolak-balik biasanya yang masih selutut. Tetapi Tuhan memanggil kita untuk lebih dalam.
Setelah sungai itu makin dalam, Firman Tuhan berkata:
- Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup; ikan-ikan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air itu menjadi tawar, dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup. (Yehezkiel 47:9)
Dan lagi:
- Pada kedua tepi sungai itu tumbuh segala jenis pohon buah-buahan untuk makanan. Daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap-tiap bulan berbuah baru, sebab airnya mengalir dari tempat kudus. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. (Yehezkiel 47:12)
Saya berdoa dalam nama Yesus: buahmu menjadi makanan, dan kehidupanmu menjadi obat bagi banyak orang—bagi keluarga besarmu, bagi Bogor, bagi Rayon 7. Asal engkau menerima aliran dari Bait Allah.
Di mana sungai itu mengalir, semuanya hidup. Prinsipnya begini: kita terima dari Tuhan, lalu lewat hidup kita itu dibagikan. Tetapi kalau kita sendiri belum menerima, bagaimana mau membagikan?
Kita perlu Roh Kudus
Karena itu, kita perlu Roh Kudus. Mengapa orang belum bisa mengasihi? Karena belum sungguh-sungguh ketemu Roh Kudus. Ingat, dalam 40 hari itu Tuhan Yesus berkata: tunggu di Yerusalem, Aku beri Roh Kudus.
Buah Roh adalah:
- Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5:22-23)
Dan Firman Tuhan juga berkata:
- Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh. (Galatia 5:24-25)
Kita dipanggil menjadi orang percaya yang sungguh-sungguh, bukan hanya disebut believer tetapi hidupnya penuh kebohongan. Tidak. Kita dipanggil menjadi orang percaya yang benar.
Penutup
Dan akhirnya, dalam perjalanan iman ini, kita akan menghadapi dua hal: iman dan ketakutan. Fear dan faith sama-sama berbicara tentang sesuatu yang belum kelihatan. Dokter bisa berkata, “Sudah selesai. Kalau tidak operasi, tidak bisa.” Itu menimbulkan takut. Tetapi Firman Tuhan berkata:
- Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. (1 Petrus 2:24)
Karena itu, pilih iman. Amin!
Nyanyi:
Ku percaya Kau Tuhan yang tak pernah gagal,
Menjadikanku lebih dari pemenang.
Kupercaya Kau Tuhan yang tak pernah lalai,
Menepati janji-janji-Mu.