Article: 20260126/DV: Perbedaan antara revisi
Baru |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 30: | Baris 30: | ||
| 2= Doa mendahului dan menyertai pengutusan dalam Alkitab | | 2= Doa mendahului dan menyertai pengutusan dalam Alkitab | ||
| p2= Yesus sendiri menjalani pelayanan-Nya dalam doa. Sebelum memilih dua belas murid, Yesus berdoa semalaman ({{sabdaweb2v|Lukas 6:12–13}}). Sebelum penderitaan dan salib: Yesus berdoa di Getsemani ({{sabdaweb2v|Matius 26:36 46}}). Yesus, Anak Allah, tidak menjalani misi tanpa doa. Ini menunjukkan bahwa doa bukan tanda kelemahan, melainkan jalan ketaatan dan persekutuan dengan Bapa. | | p2= Yesus sendiri menjalani pelayanan-Nya dalam doa. Sebelum memilih dua belas murid, Yesus berdoa semalaman ({{sabdaweb2v|Lukas 6:12–13}}). Sebelum penderitaan dan salib: Yesus berdoa di Getsemani ({{sabdaweb2v|Matius 26:36-46}}). Yesus, Anak Allah, tidak menjalani misi tanpa doa. Ini menunjukkan bahwa doa bukan tanda kelemahan, melainkan jalan ketaatan dan persekutuan dengan Bapa. | ||
Kisah Para Rasul menegaskan hubungan erat antara doa dan misi: | Kisah Para Rasul menegaskan hubungan erat antara doa dan misi: | ||
Revisi per 27 Januari 2026 14.15
| Devosi | |
|---|---|
| Tanggal | 26 Januari 2026 |
| Penulis | Pdt Dr Dony Lubianto, MTh |
| Artikel devosi lainnya | |
| |
Amanat agung (Matius 28:18–20) adalah mandat utama Yesus Kristus bagi gereja di segala zaman. Gereja dipanggil untuk pergi, menjadikan semua bangsa murid, membaptis, dan mengajar mereka hidup dalam ketaatan kepada Kristus.
Alkitab menunjukkan bahwa amanat agung tidak pernah dimaksudkan untuk dijalankan hanya dengan strategi, organisasi, atau kekuatan manusia, melainkan melalui ketergantungan penuh kepada Allah yang dinyatakan terutama melalui doa. Sebagai insan Pentakosta, doa bukan sekadar aktivitas pendukung misi, tetapi jantung dari misi itu sendiri.
- Amanat agung berakar pada otoritas Allah, bukan kemampuan manusia
- Doa mendahului dan menyertai pengutusan dalam Alkitab
- Doa sebagai sarana karya Roh Kudus dalam amanat agung
- Doa menjaga fokus misi tetap sejalan dengan hati Allah
Yesus membuka amanat agung dengan pernyataan yang sangat penting: Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. (Matius 28:18). Amanat agung dimulai bukan dengan perintah "pergilah", tetapi dengan deklarasi tentang otoritas Kristus. Ini menegaskan bahwa misi gereja bersumber dari Allah sendiri. Gereja bukan pemilik misi; Allah adalah pemilik misi. Gereja hanya ikut mengambil bagian dalam karya Allah. Karena itu, misi harus dijalankan dengan sikap bergantung kepada Tuhan, bukan mengandalkan diri sendiri.
Doa adalah ekspresi paling jujur dari ketergantungan tersebut. Tanpa doa, misi mudah berubah menjadi proyek manusia, ambisi institusi, atau sekadar aktivitas keagamaan.Yesus sendiri menjalani pelayanan-Nya dalam doa. Sebelum memilih dua belas murid, Yesus berdoa semalaman (Lukas 6:12–13). Sebelum penderitaan dan salib: Yesus berdoa di Getsemani (Matius 26:36-46). Yesus, Anak Allah, tidak menjalani misi tanpa doa. Ini menunjukkan bahwa doa bukan tanda kelemahan, melainkan jalan ketaatan dan persekutuan dengan Bapa.
Kisah Para Rasul menegaskan hubungan erat antara doa dan misi:
Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa. (Kisah Para Rasul 1:14). Doa mendahului pencurahan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2), keberanian bersaksi (Kisah Para Rasul 4:31), pengutusan misionaris (Kisah Para Rasul 13:1–3). Gereja tidak berdoa karena misi sulit, tetapi karena misi adalah karya Allah.Amanat agung bukan hanya soal pergi, tetapi soal menjadikan murid. Ini adalah proses jangka panjang yang menuntut kesabaran, kasih, dan kesetiaan. Doa menolong gereja tidak terjebak pada angka semata, tidak tergoda mengejar hasil instan, dan tetap setia pada pembentukan murid yang sejati.
Gereja yang rindu menyelesaikan amanat agung perlu membangun budaya doa, bukan hanya program doa. Doa pribadi, doa komunitas, dan doa korporat harus menjadi nafas kehidupan gereja. Strategi tetap penting, tetapi strategi harus lahir dari doa. Amanat agung adalah mandat ilahi yang tidak dapat diselesaikan dengan kekuatan manusia semata.Doa adalah pengakuan bahwa Allah adalah pemilik misi, sarana menerima kuasa Roh Kudus, dan penjaga agar gereja tetap setia pada hati Tuhan. Gereja yang berdoa adalah gereja yang berjalan bersama Allah. Dan gereja yang berjalan bersama Allah akan dipakai-Nya untuk menyelesaikan amanat agung. Jika bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya. (Mazmur 127:1). (DL)
Alkitab menunjukkan bahwa Amanat Agung tidak pernah dimaksudkan untuk dijalankan hanya dengan strategi, organisasi, atau kekuatan manusia, melainkan melalui ketergantungan penuh kepada Allah yang dinyatakan terutama melalui doa.