Article: 20260826/IN: Perbedaan antara revisi
kTidak ada ringkasan suntingan |
kTidak ada ringkasan suntingan |
||
| (3 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 26: | Baris 26: | ||
}} | }} | ||
Latar belakang saya sebenarnya berasal dari “seberang”, dari saudara sepupu kita. Waktu itu saya pernah melihat dan berpikir, “Wah, pengikut Tuhan Yesus enak ya, berdoanya hanya seminggu sekali. Sementara saya sehari | Latar belakang saya sebenarnya berasal dari “seberang”, dari saudara sepupu kita. Waktu itu saya pernah melihat dan berpikir, “Wah, pengikut Tuhan Yesus enak ya, berdoanya hanya seminggu sekali. Sementara saya dalam sehari bisa beberapa kali.” | ||
Dengan ketidaktahuan saya pada waktu itu, saya berpikir seperti itu. Tetapi setelah Tuhan menangkap hidup saya, saya baru mengerti bahwa orang Kristen | Dengan ketidaktahuan saya pada waktu itu, saya berpikir seperti itu. Tetapi setelah Tuhan menangkap hidup saya, saya baru mengerti bahwa menjadi orang Kristen ternyata bukan sekedar menunaikan kewajiban untuk berdoa, tapi setiap helaan napas kita seharusnya menjadi doa. | ||
Dalam bahasa Yunani, kata doa adalah '''proseuchē.''' Kata ini dapat dipahami dari dua bagian: | Dalam bahasa Yunani, kata doa adalah '''proseuchē.''' Kata ini dapat dipahami dari dua bagian: | ||
| Baris 35: | Baris 35: | ||
Jadi, doa bukan sekadar rutinitas atau ucapan, tetapi tentang mendekat kepada Tuhan, berhadapan dengan Tuhan, dan menyampaikan isi hati kita kepada-Nya. | Jadi, doa bukan sekadar rutinitas atau ucapan, tetapi tentang mendekat kepada Tuhan, berhadapan dengan Tuhan, dan menyampaikan isi hati kita kepada-Nya. | ||
Saya pernah membaca sebuah tulisan tentang gereja-gereja Protestan di Amerika, bahwa dalam satu tahun ada ribuan gereja yang ditutup. Ketika membaca hal itu, saya berpikir: bukankah kita selalu berdoa kepada Tuhan? | Saya pernah membaca sebuah tulisan tentang gereja-gereja Protestan di Amerika, bahwa dalam satu tahun ada ribuan gereja yang ditutup. Ketika membaca hal itu, saya berpikir: bukankah kita selalu berdoa kepada Tuhan? [[Niko Njotorahardjo|Bapa Rohani kita]] juga menyampaikan target bahwa pada tahun [[2033]], setiap orang akan mengalami perjumpaan yang autentik dengan Tuhan. | ||
Lalu saya teringat kepada Tuhan Yesus di Taman Getsemani. | Lalu saya teringat kepada Tuhan Yesus di Taman Getsemani. | ||
Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 15.14
![]() ![]() | |
| Inspirational | |
| Tanggal | 26 Agustus 2026 |
| Oleh | Andi Ryandi Hermansyah |
| Baca juga | |
| |
| |
Doa bukan sekadar rutinitas, tetapi napas kehidupan orang percaya yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Dalam doa, kita belajar mengampuni, memurnikan motivasi, menerima tuntunan, dan memperoleh kekuatan serta hikmat dari Tuhan. Karena itu, marilah kita tetap berdoa dan bertekun dalam doa, sebab hidup kita membutuhkan Tuhan dalam setiap langkah.
Tetaplah berdoa.
Bertekunlah dalam doa.
Latar belakang saya sebenarnya berasal dari “seberang”, dari saudara sepupu kita. Waktu itu saya pernah melihat dan berpikir, “Wah, pengikut Tuhan Yesus enak ya, berdoanya hanya seminggu sekali. Sementara saya dalam sehari bisa beberapa kali.”
Dengan ketidaktahuan saya pada waktu itu, saya berpikir seperti itu. Tetapi setelah Tuhan menangkap hidup saya, saya baru mengerti bahwa menjadi orang Kristen ternyata bukan sekedar menunaikan kewajiban untuk berdoa, tapi setiap helaan napas kita seharusnya menjadi doa.
Dalam bahasa Yunani, kata doa adalah proseuchē. Kata ini dapat dipahami dari dua bagian: pros, yang berarti mendekatkan diri atau berhadap-hadapan; dan euchē, yang berarti menyampaikan permohonan atau permintaan.
Jadi, doa bukan sekadar rutinitas atau ucapan, tetapi tentang mendekat kepada Tuhan, berhadapan dengan Tuhan, dan menyampaikan isi hati kita kepada-Nya.
Saya pernah membaca sebuah tulisan tentang gereja-gereja Protestan di Amerika, bahwa dalam satu tahun ada ribuan gereja yang ditutup. Ketika membaca hal itu, saya berpikir: bukankah kita selalu berdoa kepada Tuhan? Bapa Rohani kita juga menyampaikan target bahwa pada tahun 2033, setiap orang akan mengalami perjumpaan yang autentik dengan Tuhan.
Lalu saya teringat kepada Tuhan Yesus di Taman Getsemani.
- Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39)
Tuhan Yesus tahu bahwa keesokan harinya Ia akan mengalami penderitaan melalui proses penyaliban. Namun Ia tetap berdoa. Dalam kapasitas-Nya sebagai manusia, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa doa adalah sesuatu yang harus dilakukan.
Karena itu, doa bagi kita bukan sekadar undangan. Kalau undangan, kita bisa datang atau tidak datang. Tetapi doa adalah keharusan, kewajiban, dan panggilan bagi anak-anak Tuhan.
Dalam beberapa kesempatan, mungkin kita merasa sudah berdoa, tetapi seolah-olah tidak menerima jawaban dari Tuhan. Ada beberapa hal yang Firman Tuhan ajarkan kepada kita.
- Dalam doa, kita perlu melepaskan pengampunan
- Dalam doa, kita perlu memiliki motivasi yang benar
- Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. (Yakobus 4:3)
- Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. (Yakobus 4:2b)
- Doa menjadi sumber kekuatan dan hikmat
Ketika kita datang kepada Tuhan dalam doa, kita perlu belajar melepaskan pengampunan kepada siapa pun yang mungkin memiliki masalah dengan kita, atau kepada orang yang kita rasa telah menyakiti kita. Ini tidak mudah, apalagi ketika kita merasa berada di pihak yang paling benar.
Namun hati yang belum mau mengampuni dapat menghalangi kita untuk datang kepada Tuhan dengan bebas. Karena itu, doa bukan hanya soal meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi juga soal membiarkan Tuhan memeriksa dan memulihkan hati kita.Firman Tuhan berkata
Yakobus juga mengingatkan bahwa sering kali kita tidak memperoleh apa-apa karena kita tidak berdoa.
Doa menjadi sumber kekuatan ketika iman kita mulai kendor dan pergumulan hidup terasa begitu menekan. Ketika doa sudah menjadi kebiasaan yang baik, bahkan menjadi napas hidup kita, maka dalam tekanan sekalipun kita tetap memiliki kekuatan karena terus berkomunikasi dengan Tuhan.
Doa juga mendatangkan hikmat. Kita melihat bagaimana Salomo berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan memberikan hikmat kepadanya. Demikian juga dengan kita, ketika kita datang kepada Tuhan dalam doa, Tuhan sanggup memberi hikmat untuk menghadapi setiap keadaan.Karena itu, mari jadikan doa sebagai napas kehidupan anak-anak Tuhan. Jangan hanya berdoa ketika ada masalah, tetapi hiduplah dalam doa, bertekunlah dalam doa, dan tetaplah berdoa dalam segala keadaan.
Amin.
Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui. (Yeremia 33:3)

