Khotbah: 20260208-0930/SR: Perbedaan antara revisi
upd |
upd |
||
| (4 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 33: | Baris 33: | ||
Shalom dan selamat pagi, semuanya diberkati Tuhan? Semuanya sehat-sehat? Semuanya semangat? Amin! Walaupun sejak pagi tadi hujan turun, kita tetap semangat dan penuh sukacita. Puji Tuhan! | Shalom dan selamat pagi, semuanya diberkati Tuhan? Semuanya sehat-sehat? Semuanya semangat? Amin! Walaupun sejak pagi tadi hujan turun, kita tetap semangat dan penuh sukacita. Puji Tuhan! | ||
Rasanya waktu berjalan begitu cepat | Rasanya waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa kita sudah berada di bulan Februari. Memang Tuhan sedang melakukan percepatan-percepatan yang luar biasa, karena Dia akan segera datang menjemput gereja-Nya, menjemput Saudara dan saya. | ||
Siapa yang rindu bertemu dengan Tuhan? Lambaikan tangan Saudara dan katakan, ''“Saya, Tuhan.”'' Puji Tuhan! | Siapa yang rindu bertemu dengan Tuhan? Lambaikan tangan Saudara dan katakan, ''“Saya, Tuhan.”'' Puji Tuhan! | ||
| Baris 41: | Baris 41: | ||
Tema Firman pagi hari ini adalah '''Yunus bin Amitai'''. Kalau kita bicara tentang Yunus, kita tahu bahwa dia adalah seorang nabi. | Tema Firman pagi hari ini adalah '''Yunus bin Amitai'''. Kalau kita bicara tentang Yunus, kita tahu bahwa dia adalah seorang nabi. | ||
== Nama Yunus == | |||
Nama ''Yunus'' berarti '''merpati'''. Burung merpati ini punya ciri yang sangat khas. Dibandingkan burung-burung lain, merpati adalah burung yang '''monogami'''. Bilang sama-sama, ''monogami''. Artinya, dia setia pada satu pasangan. Dia tidak gonta-ganti pasangan. Dia setia. Burung merpati setia pada pasangannya—jantan pada betinanya, betina pada jantannya. Jangan sampai kita sebagai manusia kalah sama burung merpati. Merpati setia, masa manusia tidak setia? | Nama ''Yunus'' berarti '''merpati'''. Burung merpati ini punya ciri yang sangat khas. Dibandingkan burung-burung lain, merpati adalah burung yang '''monogami'''. Bilang sama-sama, ''monogami''. Artinya, dia setia pada satu pasangan. Dia tidak gonta-ganti pasangan. Dia setia. Burung merpati setia pada pasangannya—jantan pada betinanya, betina pada jantannya. Jangan sampai kita sebagai manusia kalah sama burung merpati. Merpati setia, masa manusia tidak setia? | ||
| Baris 59: | Baris 60: | ||
Itulah gambaran dari arti nama Yunus. | Itulah gambaran dari arti nama Yunus. | ||
Sekarang kita masuk ke inti kisahnya. | == Kisah Yunus == | ||
Sekarang kita masuk ke inti kisahnya. Suatu waktu Tuhan berkata kepada Yunus,<br />''“Yunus, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu. Banyak kejahatan di sana. Pergi dan beritakan Firman-Ku.”'' Namun Yunus menolak. | |||
Mari kita baca bersama-sama {{sabdaweb2v|Yunus 1:1-4}}, | |||
Mari kita baca bersama-sama {{sabdaweb2v|Yunus 1:1-4}}, | |||
:'''''Datanglah Firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:''''' | :'''''Datanglah Firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:''''' | ||
:'''''"Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."''''' | :'''''"Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."''''' | ||
:'''''Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, <u>jauh dari hadapan TUHAN</u>; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, <u>jauh dari hadapan TUHAN</u>.''''' | :'''''Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, <u>jauh dari hadapan TUHAN</u>; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, <u>jauh dari hadapan TUHAN</u>.''''' | ||
:'''''Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.''''' | :'''''Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.''''' | ||
Yunus turun ke Yafo, menemukan kapal yang akan berlayar ke Tarsis, membayar biaya perjalanan, dan berlayar menjauh dari hadapan Tuhan. Dua kali Firman menekankan: '''jauh dari hadapan Tuhan.''' Yunus disuruh Tuhan, tetapi ia menolak. Ia memilih lari. | Yunus turun ke Yafo, menemukan kapal yang akan berlayar ke Tarsis, membayar biaya perjalanan, dan berlayar menjauh dari hadapan Tuhan. Dua kali Firman menekankan: '''jauh dari hadapan Tuhan.''' Yunus disuruh Tuhan, tetapi ia menolak. Ia memilih lari. | ||
== #1 Jangan lari == | === #1 Jangan lari === | ||
Inilah poin pertama yang Tuhan ingin ingatkan kepada kita pagi hari ini: '''Jangan lari.''' | Inilah poin pertama yang Tuhan ingin ingatkan kepada kita pagi hari ini: '''Jangan lari.''' | ||
| Baris 91: | Baris 86: | ||
Kalau Saudara masih ingat, mungkin ada yang ikut ibadah pada tahun 2012. Waktu itu setelah saya menerima Firman ini, kita masih beribadah di tempat yang lama. Ibadah pertama berjalan cukup baik. Tapi di ibadah kedua—awal tahun 2012—saya naik ke mimbar dan saya tidak bisa berkhotbah. | Kalau Saudara masih ingat, mungkin ada yang ikut ibadah pada tahun 2012. Waktu itu setelah saya menerima Firman ini, kita masih beribadah di tempat yang lama. Ibadah pertama berjalan cukup baik. Tapi di ibadah kedua—awal tahun 2012—saya naik ke mimbar dan saya tidak bisa berkhotbah. | ||
Saya cuma bisa menangis di hadapan Tuhan. Saya menangis. Bicara pun terbata-bata.<br />Itu satu momen yang sangat melekat dalam hidup saya. Dan saat itu Firman Tuhan dari Yesaya 6 | Saya cuma bisa menangis di hadapan Tuhan. Saya menangis. Bicara pun terbata-bata.<br />Itu satu momen yang sangat melekat dalam hidup saya. Dan saat itu Firman Tuhan dari {{sabdaweb2v|Yesaya 6:8}} kembali menggema: '''“''Siapakah yang akan Aku utus?''”''' | ||
Worship Leader waktu itu adalah Pongky, dan dia menaikkan satu pujian. Ketika saya mendengar pujian itu, hati saya hancur. Dan sampai hari ini, setiap kali saya mendengar pujian itu, hati saya selalu tersentuh dan didorong kembali. | ''Worship Leader'' waktu itu adalah [[Paulus Daniel Santo|Pongky]], dan dia menaikkan satu pujian. Ketika saya mendengar pujian itu, hati saya hancur. Dan sampai hari ini, setiap kali saya mendengar pujian itu, hati saya selalu tersentuh dan didorong kembali. | ||
{{p0 | Nyanyi:}} | {{p0 | Nyanyi:}} | ||
| Baris 114: | Baris 109: | ||
''Tidakkah Kau sadari'' | ''Tidakkah Kau sadari'' | ||
''Dia kasih yang sejati'' | ''Dia kasih yang sejati'' | ||
''Mereka perlukan'' | ''Mereka perlukan'' | ||
</poem> | </poem> | ||
| Baris 164: | Baris 158: | ||
Tuhan mengasihi setiap Saudara. Dia rindu Saudara masuk dalam Kerajaan Surga. Haleluya! | Tuhan mengasihi setiap Saudara. Dia rindu Saudara masuk dalam Kerajaan Surga. Haleluya! | ||
Katakan ke kanan kiri: '''“Saya orang pilihan Tuhan.”''' Amin! Kita orang pilihan Tuhan. | |||
'''Jangan lari.''' | '''Jangan lari.''' | ||
== #2 Jangan marah == | === #2 Jangan marah === | ||
Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Yunus akhirnya pergi ke Niniwe. Dia memberitakan Firman Tuhan: ''“Hei, orang-orang Niniwe! Empat puluh hari lagi Tuhan akan menjungkirbalikkan kota ini!”'' | Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Yunus akhirnya pergi ke Niniwe. Dia memberitakan Firman Tuhan: ''“Hei, orang-orang Niniwe! Empat puluh hari lagi Tuhan akan menjungkirbalikkan kota ini!”'' | ||
| Baris 216: | Baris 209: | ||
Jangan sampai kita seperti anak sulung itu—marah ketika orang lain dipulihkan, iri ketika orang lain diberkati, kecewa ketika orang-orang yang dulu jauh sekarang justru dekat dengan Tuhan. | Jangan sampai kita seperti anak sulung itu—marah ketika orang lain dipulihkan, iri ketika orang lain diberkati, kecewa ketika orang-orang yang dulu jauh sekarang justru dekat dengan Tuhan. | ||
== Penutup == | |||
Saudara, '''jangan lari''' dari Tuhan. '''Jangan marah melihat anugerah Tuhan bagi orang lain'''. Mari kita bersukacita ketika jiwa-jiwa diselamatkan! | Saudara, '''jangan lari''' dari Tuhan. '''Jangan marah melihat anugerah Tuhan bagi orang lain'''. Mari kita bersukacita ketika jiwa-jiwa diselamatkan! | ||
Revisi terkini sejak 9 Februari 2026 16.09
| Pesan Gembala | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 8 Februari 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk taat menjalankan Amanat Agung, bukan dengan lari dari panggilan-Nya seperti Yunus, tetapi dengan hati yang siap diutus dan mau bertobat ketika ditegur. Dalam perjalanan iman, Tuhan mengejar dan memulihkan umat-Nya karena Ia tidak rela satu pun yang dipanggil dan dipilih-Nya hilang, sekalipun harus melalui badai dan proses yang menyakitkan. Di masa penuaian besar ini, Tuhan mengingatkan kita untuk tidak marah atau iri melihat anugerah-Nya bagi orang lain, melainkan bersukacita karena jiwa-jiwa—baik orang jahat maupun orang baik—dipanggil masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Shalom dan selamat pagi, semuanya diberkati Tuhan? Semuanya sehat-sehat? Semuanya semangat? Amin! Walaupun sejak pagi tadi hujan turun, kita tetap semangat dan penuh sukacita. Puji Tuhan!
Rasanya waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa kita sudah berada di bulan Februari. Memang Tuhan sedang melakukan percepatan-percepatan yang luar biasa, karena Dia akan segera datang menjemput gereja-Nya, menjemput Saudara dan saya.
Siapa yang rindu bertemu dengan Tuhan? Lambaikan tangan Saudara dan katakan, “Saya, Tuhan.” Puji Tuhan!
Ada satu tokoh dalam Perjanjian Lama. Tokoh ini disuruh oleh Tuhan, tetapi pada awalnya dia menolak. Namun kemudian dia bertobat dan akhirnya melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Tokoh ini diperintahkan Tuhan untuk memberitakan kabar baik. Dan hari-hari ini kita sedang berada di Tahun Amanat Agung. Amanat Agung ini bukan hanya tema, tapi menjadi bagian dari tugas Saudara dan saya sebagai orang-orang percaya.
Tema Firman pagi hari ini adalah Yunus bin Amitai. Kalau kita bicara tentang Yunus, kita tahu bahwa dia adalah seorang nabi.
Nama Yunus
Nama Yunus berarti merpati. Burung merpati ini punya ciri yang sangat khas. Dibandingkan burung-burung lain, merpati adalah burung yang monogami. Bilang sama-sama, monogami. Artinya, dia setia pada satu pasangan. Dia tidak gonta-ganti pasangan. Dia setia. Burung merpati setia pada pasangannya—jantan pada betinanya, betina pada jantannya. Jangan sampai kita sebagai manusia kalah sama burung merpati. Merpati setia, masa manusia tidak setia?
Selain itu, burung merpati adalah burung yang tahu jalan pulang. Kalau kita punya burung merpati pos, dilepas sejauh apa pun, ditugaskan ke mana pun, dia pasti kembali ke rumahnya. Dia tahu di mana rumahnya.
Jangan sampai kita tidak tahu di mana rumah rohani kita. Karena dari rumahlah terjadi kebangunan rohani. Dari rumahlah terjadi pemulihan. Dari rumahlah kita diberkati oleh Tuhan. Dari rumahlah pemulihan demi pemulihan terjadi! Amin!
Kebangunan rohani dimulai dari rumah tangga kita lebih dulu. Revival terjadi karena kita menjadi saksi. Dimulai dari mana? Dari Yerusalem. Lalu Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi. Dan Yerusalem kita hari ini adalah rumah tangga kita.
Kalau rumah tangga orang-orang percaya mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh di hadapan Tuhan, Indonesia akan dimenangkan bagi kemuliaan Tuhan. Katakan amin.
Burung merpati juga adalah gambaran Roh Kudus—membawa damai. Saya mau katakan kepada setiap kita, ke mana pun Saudara diutus, di kantor, di rumah, di mana pun Saudara berada, bawalah suasana damai. Bukan roh perpecahan, bukan roh perselisihan, tapi roh damai.
Dan satu lagi, burung merpati tidak memiliki kantong empedu. Kalau Saudara pernah memotong ayam dan empedunya pecah lalu mengenai dagingnya, rasanya pahit sekali.
Itu gambaran rohani. Jangan ada kepahitan dalam hidup orang percaya. Apa pun pergumulan kita, jangan pahit hati kepada Tuhan dan jangan pahit hati kepada sesama. Mari kita punya hati yang lapang, hati yang luas, hati yang mau saling mengampuni. Katakan amin.
Itulah gambaran dari arti nama Yunus.
Kisah Yunus
Sekarang kita masuk ke inti kisahnya. Suatu waktu Tuhan berkata kepada Yunus,
“Yunus, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu. Banyak kejahatan di sana. Pergi dan beritakan Firman-Ku.” Namun Yunus menolak.
Mari kita baca bersama-sama Yunus 1:1-4,
- Datanglah Firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:
- "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."
- Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.
- Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.
Yunus turun ke Yafo, menemukan kapal yang akan berlayar ke Tarsis, membayar biaya perjalanan, dan berlayar menjauh dari hadapan Tuhan. Dua kali Firman menekankan: jauh dari hadapan Tuhan. Yunus disuruh Tuhan, tetapi ia menolak. Ia memilih lari.
#1 Jangan lari
Inilah poin pertama yang Tuhan ingin ingatkan kepada kita pagi hari ini: Jangan lari.
Saya tidak tahu apa yang Tuhan sedang perintahkan kepada Saudara saat ini. Tapi satu hal yang Tuhan ingatkan: apa pun pergumulan Saudara—dalam keluarga, pekerjaan, usaha, atau kehidupan pribadi—jangan pernah lari dari Tuhan. Amin!
Saya masih ingat, pada tahun 2012, Tuhan mengingatkan saya melalui Firman dari Yesaya 6:8. Tuhan bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus?”
Pada waktu itu saya tidak menjawab, “Ini aku Tuhan, utuslah kawanku.” Tidak. Dengan tekad saya menjawab, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.”
Pagi ini Tuhan bertanya kepada setiap kita, di tahun Amanat Agung ini. Tuhan bertanya kepada setiap pribadi yang hadir, baik yang onsite maupun yang online: “Siapakah yang akan Aku utus?”
Tuhan tanya sekali lagi kepada Saudara semua yang hadir onsite maupun online: “Siapakah yang akan Aku utus?” Saudara jawab apa? “Ini aku. Utuslah aku!” Amin! Jangan bilang, “Utuslah tetanggaku, ya Tuhan.” Jangan! Jawabnya satu: “Ini aku. Utuslah aku!”
Kalau Saudara masih ingat, mungkin ada yang ikut ibadah pada tahun 2012. Waktu itu setelah saya menerima Firman ini, kita masih beribadah di tempat yang lama. Ibadah pertama berjalan cukup baik. Tapi di ibadah kedua—awal tahun 2012—saya naik ke mimbar dan saya tidak bisa berkhotbah.
Saya cuma bisa menangis di hadapan Tuhan. Saya menangis. Bicara pun terbata-bata.
Itu satu momen yang sangat melekat dalam hidup saya. Dan saat itu Firman Tuhan dari Yesaya 6:8 kembali menggema: “Siapakah yang akan Aku utus?”
Worship Leader waktu itu adalah Pongky, dan dia menaikkan satu pujian. Ketika saya mendengar pujian itu, hati saya hancur. Dan sampai hari ini, setiap kali saya mendengar pujian itu, hati saya selalu tersentuh dan didorong kembali.
Nyanyi:
Tiap hari ku temukan
Mereka yang terhilang
Hidup yang tak menentu
Arah tujuan
Dalam tawa mereka
Tersimpan duka
Namun Tuhan mendengar
Tangis mereka
Mereka perlukan
Kasih Yesus yang benar
Sebagai jawaban
Mereka perlukan
Tidakkah Kau sadari
Dia kasih yang sejati
Mereka perlukan
“Siapakah yang akan Aku utus?” Tuhan bertanya kepada setiap kita. Saudara jawab apa?
“Ini aku. Utuslah aku!” Lambaikan tangan Saudara yang siap untuk diutus. Mari kita menjadi saksi kasih Yesus di dalam kehidupan kita.
Yunus diutus oleh Tuhan, tetapi dia lari dari Tuhan. Dan kalau kita perhatikan, perjalanan pelarian Yunus menjadi cermin bagi perjalanan rohani kita. Ketika seseorang lari dari apa yang Tuhan perintahkan, perjalanan rohaninya makin lama makin turun.
Yunus disuruh pergi ke Niniwe—arahnya ke atas. Tetapi apa yang dia lakukan? Dia tidak mau. Dia pergi ke Yafa, beli tiket, naik kapal, menuju Tarsis. Bahkan akhirnya dia terjun ke laut, lalu ditelan ikan besar, masuk ke dalam laut.
Seharusnya naik ke atas, tapi karena menolak Tuhan, perjalanannya makin lama makin turun… sampai ke dasar.
Begitu juga kehidupan rohani kita. Tanpa kita sadari, kalau kita lari dari Tuhan, rohani kita makin lama makin turun. Karena itu Firman Tuhan pagi ini berkata: Jangan lari dari Tuhan.
Tetap berharap kepada Tuhan.
Tetap melekat kepada Tuhan.
Tetap bergantung kepada Tuhan.
Pegang Dia erat-erat!
Di situ ada kekuatan.
Di situ ada jalan keluar.
Di situ ada pertolongan dan kesembuhan.
Amin!
Akhirnya kapal itu sampai di satu titik—titik merah—diperkirakan sebagai tempat badai menghantam kapal. Orang-orang di kapal berkata, “Pasti ada biang keroknya.” Siapa biang keroknya? Yunus mengaku, “Saya. Buang saya ke laut, maka kapal ini akan tenang.”
Saudara, mungkin hari ini kapal rumah tangga Saudara sedang dihantam badai.
Kapal usaha, kapal pelayanan, kapal kehidupan Saudara sedang dihantam badai.
Ini waktunya introspeksi. Ada apa? Kenapa badai datang terus?
Yunus dibuang ke laut dan ditelan ikan besar. Rasanya enak atau tidak? Tidak enak.
Gelap, sempit, bau, tidak nyaman. Berapa lama dia di sana? Tiga hari tiga malam. Akhirnya Yunus bertobat. Dia berseru kepada Tuhan, dan Tuhan mengampuni dia. Puji Tuhan!
Kalau dia tidak bertobat, mungkin keluarnya jadi perkedel—keluar dari belakang. Tapi karena dia bertobat, dia dimuntahkan keluar dari depan.
Saudara, kita semua perlu pertobatan. Saya perlu pertobatan. Saudara perlu pertobatan.
Kita semua perlu pertobatan.
Akhirnya Tuhan berkata lagi: “Yunus, pergi ke Niniwe.”
Dan saya merenung. Siapa Saudara di sini yang sudah dipanggil oleh Tuhan? Saudara bukan hanya dipanggil, tapi juga dipilih. Katakan sama-sama: dipilih!
Kita dipanggil.
Kita dipilih.
Kita diselamatkan.
Kita sedang diproses.
Dan suatu hari kita akan dimuliakan.
Dengarkan baik-baik, Gereja Tuhan: Kalau Saudara sudah dipanggil, dipilih, dan diselamatkan, Tuhan tidak rela Saudara hilang. Setuju? Amin!
Tuhan mengejar Yunus. Dia tangkap Yunus. Dia izinkan masalah, badai, bahkan perut ikan—bukan untuk menghancurkan, tapi untuk membawa kembali.
Saya mengalami itu. Waktu saya lari, Tuhan tidak rela saya jauh dari Dia. Dia tarik saya kembali dengan berbagai cara.
Karena itu kita bersyukur:
Kita sudah dipanggil.
Kita sudah dipilih.
Kita sudah diselamatkan.
Dan kita sedang diproses oleh Tuhan.
Jangan lari!
Tuhan mengasihi setiap Saudara. Dia rindu Saudara masuk dalam Kerajaan Surga. Haleluya! Katakan ke kanan kiri: “Saya orang pilihan Tuhan.” Amin! Kita orang pilihan Tuhan.
Jangan lari.
#2 Jangan marah
Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Yunus akhirnya pergi ke Niniwe. Dia memberitakan Firman Tuhan: “Hei, orang-orang Niniwe! Empat puluh hari lagi Tuhan akan menjungkirbalikkan kota ini!”
Raja mendengar berita itu. Lalu apa yang dia lakukan? Dia berkata, “Ayo, kita semua puasa!”
Bukan cuma manusia—bahkan binatang pun diajak puasa. Dan apa yang terjadi? Seluruh kota Niniwe—sekitar 120.000 orang—bertobat semuanya. Luar biasa, bukan?
Tapi apa yang terjadi dengan Yunus? Inilah poin yang kedua: Jangan marah! Yunus justru marah! Bukannya bersukacita melihat orang-orang bertobat, dia malah kesal. Kalau Saudara baca pasal-pasal selanjutnya dalam kitab Yunus, dia benar-benar marah sampai Tuhan bertanya kepadanya:
- “Yunus, layakkah engkau marah?” Bahkan Tuhan bertanya dua kali: “Layakkah engkau marah?”
Kenapa Yunus marah? Karena di hatinya dia berkata, “Mereka orang jahat, Tuhan. Tidak usah mereka bertobat.” Saudara yang dikasihi Tuhan, hari-hari ke depan—dalam era penuaian terbesar dan terakhir, Tuhan sedang melakukan percepatan. Kita percaya, menjelang tahun-tahun ke depan, Tuhan akan menuai jiwa-jiwa dalam jumlah besar.
Dan nanti yang datang ke gereja bukan orang-orang yang kita bayangkan.
Orang-orang yang dulu kita anggap jahat.
Orang-orang yang dulu kita anggap tidak layak.
Orang-orang yang latar belakangnya gelap.
Karena itu gereja harus siap menampung.
Puji Tuhan, sampai hari ini dari rencana sekitar 150 cabang, sudah ada 79 yang dipersiapkan. Semua ini adalah anugerah Tuhan untuk menampung jiwa-jiwa.
Kita juga akan membuka ibadah sore hari, mulai bulan April. Kenapa? Karena jiwa-jiwa akan datang.
Dan ketika mereka datang, Saudara tidak boleh menolak mereka! Jangan berpikir, “Wah, saya lebih rohani, saya lebih lama Kristen.”
Dalam Matius 22:1-10, Raja mengadakan perjamuan kawin. Tamu-tamu yang diundang—VIP—menolak datang. Alasannya macam-macam: ladang, usaha, kesibukan. Akhirnya raja berkata kepada hamba-hambanya: “Pergilah ke persimpangan jalan, undang setiap orang yang kamu jumpai.”
Dan apa yang dikatakan Firman Tuhan? Mereka mengumpulkan orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan itu.
Ini pesan Tuhan bagi kita semua!
Sering kali kita merasa,
“Saya sudah Kristen 20 tahun.”
“Saya sudah Kristen sejak kecil.”
“Saya aman.”
Sementara orang-orang yang datang belakangan justru lebih sungguh-sungguh:
lebih tekun berdoa,
lebih haus Firman,
lebih taat.
Dan kita?
Sering kali berkata, “Nanti saja.”
“Saya sibuk.”
“Saya banyak urusan.”
Seribu satu alasan.
Saudara, inilah peringatan Firman Tuhan.
Mari kita bangkit berdiri dan baca Matius 19:30:
- Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.
Ini peringatan buat saya. Ini peringatan buat kita semua. Jangan merasa aman hanya karena sudah lama di gereja. Jangan seperti anak sulung dalam perumpamaan anak yang hilang. Anak bungsu yang lari jauh, kembali, disambut, dipeluk, diberi jubah, cincin, dan pesta.
Anak sulung? Marah. Iri. Kesal.
Papanya berkata, “Nak, engkau selalu bersama-sama dengan aku.” Tapi hatinya penuh kepahitan.
Jangan sampai kita seperti anak sulung itu—marah ketika orang lain dipulihkan, iri ketika orang lain diberkati, kecewa ketika orang-orang yang dulu jauh sekarang justru dekat dengan Tuhan.
Penutup
Saudara, jangan lari dari Tuhan. Jangan marah melihat anugerah Tuhan bagi orang lain. Mari kita bersukacita ketika jiwa-jiwa diselamatkan!
Amin.
Nyanyi:
Selidiki aku
Lihat hatiku
Apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus
Kau yang Maha tahu
Dan menilai hidupku
Tak ada yang tersembunyi bagi-Mu
Telah kulihat kebaikan-Mu
Yang tak pernah habis di hidupku
Kuberjuang sampai akhirnya
Kau dapati aku tetap setia
