Prophetic preaching

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Prophetic preaching
Logo Voice of Pentecost.jpg
Sikap teologis
GBI Jalan Gatot Subroto
Tanggal24 Januari 2021
Penulis‑1Abraham LalamentikPdt Dr Abraham Lalamentik, MTh
Penulis‑2Dony LubiantoPdm Dr Dony Lubianto, MTh
Penulis‑3Hendrik TimadiusPdt Hendrik Timadius, MBA, MTh
Video Voice of Pentecost 31 (Leonardo WayongLeonardo Wayong )
Unduh Unduh OSP

Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. (2 Timotius 4:2)

I. Peranan khotbah

Khotbah selalu memainkan peranan yang penting di dalam kehidupan gereja Tuhan Yesus Kristus. Khotbah adalah salah satu dari komponen ibadah yang memediasikan kehadiran Tuhan di tengah-tengah jemaat-Nya. Khotbah tidak sama dengan bentuk public speech lainnya. Di dalam khotbah, sang pemberita diberikan kehormatan untuk berbicara atas nama Tuhan. Di dalam kapasitas inilah setiap bentuk khotbah sebenarnya mengandung unsur profetik karena di dalamnya terdapat pernyataan kehendak Allah kepada umat-Nya yang berkumpul saat itu.

Khotbah bahkan dapat dilihat sebagai lokus keempat perjumpaan antara Allah dan manusia, setelah:

  1. Pribadi Tuhan Yesus sendiri (100% Allah, 100% manusia, perfect union)
  2. Penulisan firman Tuhan (100% karya Allah, 100% karya manusia, perfect union)
  3. Gereja Tuhan Yesus Kristus (100% tubuh Kristus di muka bumi, 100% organisasi manusiawi, still unperfected union)
  4. Preaching (100% Kerygma; pernyataan kehendak Allah, 100% bentuk ‘human speechimperfect union)

Sama seperti ketiga lokus sebelumnya, pertemuan antara Allah dan manusia tersebut menghasilkan yang sempurna antara Kasih Karunia dan Kebenaran (Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. - Yohanes 1:14). Kasih Karunia memampukan Allah ‘to address the need of fallen humanity distressed by sin and the effects of sin’, kebenaran memampukan manusia untuk semakin hari semakin diubah menjadi serupa dengan gambar dan rupa Allah.

Di dalam kehidupan Tuhan Yesus, kita melihat ketiga unsur ini hadir dengan jelas di dalam pelayanan dan khotbah-Nya.

  1. Ia melayani kebutuhan masyarakat di mana Ia berada. Ia menyembuhkan orang sakit, Ia memberitakan ‘Kabar Baik’ tentang kerajaan Allah kepada mereka yang tertekan, bahkan di dalam organisasi kecil yang didirikan-Nya, Ia memiliki bujet untuk memberi makan orang-orang miskin.
  2. Ia mengajar dan memberitakan kebenaran dengan tujuan mengubah pola pikir yang salah. Ia melakukannya dengan dua cara: Edukatif; yaitu dengan memberikan perumpamaan-perumpamaan yang menjelaskan suatu prinsip kebenaran sebagai contoh, “Hal Kerajaan Surga adalah seperti…”; dan Konfrontatif: yaitu secara langsung menunjukkan hal yang salah yang sudah bercokol lama dalam kebudayaan. “Kamu telah mendengar...tetapi Aku berkata kepadamu…”
  3. Ia mengambil peran Profetik bagi murid-murid-Nya di akhir pelayanan-Nya. Setelah 3,5 tahun melayani bersama-sama dengan Tuhan Yesus, para murid merasa ada sesuatu yang akan segera berubah dalam rutinitas mereka. Mereka tidak mungkin akan terus menerus melakukan hal-hal rutin yang sudah mereka lakukan selama ini bersama dengan Tuhan Yesus, yaitu melayani sesama dan menolong orang banyak, tetapi mereka merasakan bahwa akan terjadi suatu perubahan dramatis dalam kehidupan mereka. Dapat dikatakan fakta bahwa sebentar lagi Yesus akan ditangkap, disalibkan, mati, dikuburkan, dan bangkit kembali pada hari ketiga adalah penanda pergeseran satu era yang lama memasuki suatu era yang baru. Itulah sebabnya mereka bertanya kepada Yesus; “Guru, apakah yang menjadi tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia…”

II. Pola/kategori khotbah

Dengan memakai kehidupan Tuhan Yesus sebagai template, kita dapat memetakan pola berkhotbah juga masuk ke dalam ketiga kategori ini:

A. Khotbah pastoral yang bersifat melayani, menguatkan, dan menghibur jemaat

Tugas seorang gembala adalah memberi makanan rohani bagi domba-dombanya. Di dalam bahasa modern hal ini mungkin dapat diartikan dengan khotbah-khotbah motivasi yang memberi semangat kepada jemaat. Menarik sekali di Perjanjian Lama kata semangat seringkali muncul dan menjadi tema utama dalam kitab Yesaya, terutama di dalam arti Tuhan yang memperbaharui kekuatan dan harapan umat-Nya.

Dalam pelayanan-Nya, Yesus pun melakukan hal ini. Ia tergerak oleh belas kasihan melihat kumpulan orang banyak. Di dalam khotbah-Nya di bukit, Yesus memadukan unsur pengajaran dan penghiburan dengan begitu sempurna.

Semangat/motivasi diibaratkan sebagai oksigen bagi jiwa. Manusia mungkin bisa hidup 2 menit tanpa oksigen, 2 hari tanpa air, 2 minggu tanpa makanan, tetapi manusia tidak dapat hidup sedetik pun tanpa harapan. Kitab Yesaya menubuatkan bahwa salah satu pelayanan Mesias nantinya adalah memulihkan hati yang remuk dan semangat yang padam (Mazmur 34:18; Mazmur 51:17; Yesaya 57:15; Yesaya 61:1). Bahkan di dalam banyak kasus, pelayanan khotbah yang bersifat encouragement/motivational ini menjadi pintu pertama seseorang mengalami kasih Allah secara nyata. Bentuk khotbah ini adalah sah dan valid, yang menjadi titik krusial adalah harapan macam apa yang ditawarkan oleh sang pembicara. Harapan dan semangat yang Alkitabiah adalah harapan kepada Tuhan, berharap kepada pribadi dan rencana Allah, bukan berharap kepada kemampuannya sendiri (self-motivation).

B. Khotbah pengajaran yang bersifat memberi instruksi, menegur, dan memperbaiki kelakuan

Selama pelayanan publik-Nya selama tiga setengah tahun, Yesus berkeliling dengan menyandang identitas sosial sebagai seorang rabi. Pada masa pasca pembuangan di tengah-tengah masyarakat Yahudi, sebelum pembangunan Bait Allah kedua, sinagoge menjadi ‘center of power’ yang memegang otoritas untuk mengendalikan perilaku sosial dan keagamaan. Setelah terbentuknya Sanhedrin sebagai dewan kemasyarakatan di masyarakat Yahudi, maka otoritas ini menjadi resmi. Masyarakat awam tidak lagi memiliki akses untuk membaca dan mengartikan sendiri Firman Tuhan (Tanakh) dan kemudian melakukannya, tetapi menjadi bergantung sepenuhnya kepada ‘fatwa’ Sanhedrin. Tentu pada masa itu, Roh Kudus belum dicurahkan ke atas semua orang percaya, karena hal itu baru terjadi di dalam masa dispensasi Perjanjian Baru. Yesus, di dalam masa hidup dan pelayanan-Nya mengambil posisi ad interim di mana Ia menantang tafsiran para rabi, dan menetapkan posisi-Nya sebagai penentu kebijakan yang berhak mengoreksi dan memformulasikan perilaku kehidupan orang percaya.

Di dalam Injil Matius pasal 5, di dalam khotbah di bukit, 5 kali tercatat Yesus menggunakan formula ini: “Kamu telah mendengar ……. tetapi Aku berkata kepadamu…”.

  • Matius 5:21-22,
  • Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
    Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
  • Matius 5:27-28,
  • Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
    Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
  • Matius 5:33-34,
  • Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
    Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah.
  • Matius 5:38-39,
  • Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
    Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
  • Matius 5:43-44,
  • Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
    Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Semenjak munculnya Zaman Pencerahan mulai di abad ke-18, dan berkembangnya pengertian hak asasi manusia secara sekuler, penekanan terhadap “informasi sebagai sumber inspirasi” menjadi semakin besar, sehingga andragogi (pembelajaran manusia dewasa) makin lama hanya berfokus memberikan cara belajar terbaik baik orang dewasa, dan sesudah itu ia bebas menentukan sendiri implikasi dari apa yang dipelajarinya; apakah ia harus mengubah perilaku dan kebiasaan-kebiasaan dalam hidupnya, hal itu menjadi kewenangan mutlak dirinya sendiri. Di dalam hal ini memang harus terjadi keseimbangan antara kebebasan individu yang dipimpin oleh Roh Kudus dan nasehat-nasehat korektif yang jelas dari seorang pribadi yang menjadi pusat otoritas yang berwenang dalam kehidupan seseorang.

Pada akhirnya, tugas dari preaching (kerygma) adalah menjadi salah satu dari alat pembentukan jemaat menjadi semakin sempurna, segambar dan serupa dengan Kristus. Meskipun kedua bentuk preaching ini (motivational dan instructional) telah berjalan baik di dalam gereja, gereja tidak dapat dikatakan dapat berjalan ‘in step’ dengan maksud dan rencana Tuhan yang sempurna jika melupakan aspek khotbah yang ketiga di dalam pelayanan Tuhan Yesus, yaitu khotbah Profetik.

C. Khotbah profetik yang bersifat mengungkapkan rencana dan tindakan Allah untuk zaman di mana kita hidup

Khotbah Profetik dibutuhkan untuk mengarahkan tindakan-tindakan kita untuk sesuai dengan “kehendak Tuhan untuk zaman ini” (Kisah 13:36). Petrus pernah menegor Tuhan Yesus ketika Ia menyatakan sudah tiba waktunya bagi Dia untuk menuju ke Yerusalem dan menderita aniaya demi memulai karya penebusan-Nya (Matius 16:21-23). Mungkin tidak diragukan bahwa Petrus bertindak dengan motivasi yang tulus ingin melindungi guru yang dikasihinya. Reaksi Petrus itu sangatlah manusiawi dan mungkin dalam beberapa konteks (budaya) tertentu, menjadi tindakan yang sangat terpuji. Tetapi di sinilah kelihatan ketidakcukupan nalar manusia untuk mengerti sepenuhnya rencana dan kehendak Allah.

Apa yang dialami Petrus adalah juga merupakan gambaran dari tidak sedikit orang percaya yang hidup setelah zaman rasul-rasul, termasuk zaman now di mana kita hidup saat ini. Itulah mengapa khotbah profetik sangat diperlukan. Ada beberapa definisi mengenai khotbah profetik yang telah dinyatakan oleh para biblical scholar, di mana interpretasi mereka tentunya banyak dipengaruhi oleh latar belakang mazhab teologi yang dianutnya. Brueggemann mengatakan khotbah profetik adalah khotbah dialektik karena bersifat mengkritik dan memberi energi.[1], Tisdale lebih menekankan aspek pastoral dari khotbah profetik[2] Tisdale mengidentifikasikan tujuh ciri khotbah profetik, yakni:

  1. Berakar pada kesaksian Alkitab.
  2. Berlawanan dengan budaya dan menentang status quo.
  3. Berkaitan dengan menentang kejahatan dan kekurangan tatanan sosial saat ini dan seringkali lebih berkonsentrasi pada masalah publik daripada masalah individu.
  4. Menuntut pengkhotbah untuk mengkritik atau menunjukkan hal-hal yang bukan berasal dari Tuhan dan realitas baru yang akan diwujudkan Tuhan di masa depan.
  5. Menawarkan harapan akan hari baru yang akan datang dan janji pembebasan bagi umat yang tertindas.
  6. Mendorong keberanian para pendengarnya dan memberdayakan mereka untuk bekerja mengubah tatanan sosial.
  7. Memiliki hasrat untuk keadilan di dunia, imajinasi; keyakinan, dan keberanian untuk mengucapkan firman Tuhan; kerendahan hati dan kejujuran saat berkhotbah; dan kebergantungan yang kuat pada kehadiran dan kuasa Roh Kudus.[3]

Sikap dan pandangan GBI Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta, memberikan definisi khotbah profetik sebagai khotbah yang disampaikan dalam hadirat, pengurapan dan kuasa Roh Kudus, yang mengarahkan tindakan-tindakan kita agar sesuai dengan kehendak Tuhan di zaman Now. Dengan demikian ada tiga unsur minimal yang harus terpenuhi yaitu:

  1. Hadirat, Pengurapan, dan Kuasa Roh Kudus
  2. Khotbah Profetik bukanlah khotbah ‘asal-asalan’ tanpa arah, tujuan dan dasar yang tidak jelas. Mereka yang tidak memahami khotbah profetik menganggap bahwa khotbah tersebut sebagai khotbah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hermeneutika dan tidak memiliki dasar kebenaran Firman Tuhan. Namun semua tuduhan itu sangat tidak berdasar. Khotbah Profetik hanyalah dapat dimungkinkan ketika hamba Tuhan berada dalam hadirat, pengurapan dan kuasa Roh Kudus, dengan demikian Roh Kudus memberikan pesan khusus untuk diperkatakan kepada umat-Nya.

    Alkitab menuliskan beberapa peristiwa terkait dengan hal ini, salah satu contohnya:

    Lukas 21:12-15,
    “Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.

    Bagaimana Aku (Kristus) memberikan kata-kata hikmat terkait dengan peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang dan Tuhan Yesus tidak lagi bersama-sama dengan para murid secara fisik? Hal ini digenapi dengan luar biasa pada masa setelah pencurahan Roh Kudus, yang melalui-Nya Kristus memberikan murid-murid-Nya mulut dan hikmat, ketika para rasul itu dihadapkan kepada imam-imam kepala dan para penguasa. Para rasul menjawab semua pertanyaan mereka sehingga membuat mereka dipermalukan (Kisah Para Rasul 4, 5 dan 6).[4]

    Mencermati apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 16:13,

    “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang”,

    meneguhkan kita bahwa pesan yang diberikan Roh Kudus adalah kebenaran yang tidak mungkin bertentangan dengan prinsip Alkitab, serta bersifat profetis.

    Seorang yang bukan pentakostal dan tidak memiliki pengalaman pentakostal mungkin saja tidak mempercayai hal-hal terkait dengan pesan profetik yang disampaikan Roh Kudus melalui hamba Tuhan yang terbukti memiliki kredibilitas yang baik dan menunjukkan karakter Kristus serta buah pelayanan yang baik. Ia mungkin saja mengkritik dan mengatakan bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan kaidah kebenaran Firman Tuhan yang berlaku (menurut pandangan mahzabnya). Namun bukan berarti ia boleh menghakimi bahwa apa yang dipercayai dan menjadi praktek spiritualitas pentakosta tersebut adalah sesuatu yang tidak valid dan tidak biblikal.

  3. Petunjuk/arahan Tuhan
  4. “sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya.” (Kisah Para Rasul 1:2)

    Ayat ini memberikan gambaran yang sangat baik bagaimana insan pentakosta dapat menerima arahan, perintah, instruksi, tuntunan Tuhan Yesus melalui Roh Kudus. Tanpa berupaya untuk membandingkan, dalam ayat ini tidak dikatakan bahwa Tuhan Yesus memberi perintah kepada murid-murid melalui Firman Tuhan yang tertulis (Alkitab Perjanjian Lama), melainkan melalui Roh Kudus.

    Smith[5] dalam jurnalnya menuliskan bahwa sekalipun teks ayat dan kitab suci sudah tentu ada pada era komunitas Kristen mula-mula, namun peran dari seorang nabi adalah sebuah keistimewaan tersendiri. Sebagai sebuah komunitas yang karismatik, gereja memahami hubungannya dengan Tuhan yang bangkit dari kematian menjadi sebuah hubungan yang dinamis dan penting. Hubungan tersebut dibuktikan dengan kehadiran Tuhan (Kristus) yang berkesinambungan melalui Pribadi Roh-Nya. Bagian yang penting dari hubungan yang dinamis ini adalah pewahyuan yang berkelanjutan dari Kristus melalui Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus di kamar loteng atas (upper room). Roh Kudus yang mengajarkan mereka segala sesuatu, mengingatkan segala yang Tuhan Yesus ajarkan (Yohanes 14:26), memimpin mereka kepada seluruh kebenaran serta memberitahukan hal-hal yang akan datang. Sebagai sebuah komunitas yang profetik, jemaat mula-mula juga disebut sebagai komunitas lisan (oral/aural), di mana para nabi berbicara dan didengarkan. Rasul Paulus bersikeras bahwa iman ‘datang dari pendengaran/datang dengan mendengar’ (Roma 10:17). Sebelumnya Paulus memberikan pernyataan berupa pertanyaan, tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? (Roma 10:14). Tetapi perlu dicatat bahwa Paulus tidak bertanya, “bagaimana mereka dapat memberitakannya (mengkhotbahkannya) tanpa teks kitab suci?” Dia juga tidak bertanya “Apakah ada teks kitab suci di gereja?”

    Mengutip dari Gillespie[6], Smith menyatakan bahwa nabi-nabi Perjanjian Baru adalah para penafsir Injil, penerjemah dari kerygma – yang tidak berdasarkan teks (meskipun kadang-kadang mengutip teks kitab suci), melainkan secara lisan/diucapkan dengan iluminasi dari Roh Kudus. Oralitas kemudian merupakan cara hidup primer dan primordial bagi komunitas Perjanjian Baru. Mark J. Cartledge[7] juga mengatakan bahwa teolog pentakosta umumnya setuju bahwa pengalaman pentakosta melibatkan penerimaan wahyu secara spontan terlepas dari pemikiran kognitif, dan terdiri dari transfer asli dari informasi baru dan/atau yang sebelumnya tidak diketahui. Sedangkan dalam tradisi Protestan atau Injili pengalaman mendengar suara Tuhan paling sering disamakan dengan membaca dan eksposisi dari kitab suci melalui penerangan (iluminasi) Roh Kudus.[8] Dengan demikian, mereka yang mengaku dirinya adalah teolog pentakosta atau pelayan Tuhan aliran pentakosta, namun selalu terpaku dengan konteks, konteks, dan konteks yang kaku (bukan spirit hermeneutics) dalam mendengar suara Tuhan melalui khotbah profetik, tanpa sadar dirinya lebih menyerupai seorang penganut mazhab Injili atau Protestan dibandingkan pentakosta.

  5. Kehendak Tuhan pada zaman now
  6. Unsur ketiga dalam khotbah profetik adalah menyampaikan apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk dilakukan oleh umat-Nya sehubungan dengan situasi dan kondisi ZAMAN NOW. Jika mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata “zaman” adalah jangka waktu yang panjang atau pendek yang menandai sesuatu; masa.[9] Seiring dengan pergerakan yang dinamis dari situasi dan kondisi yang menandai jangka waktu tertentu memungkinkan kita menerima arahan, instruksi kehendak Tuhan yang juga bergerak dinamis. Contoh dalam Alkitab bisa kita lihat dalam:

    Keluaran 17:3-6,
    “Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?" Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: "Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!" Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel.”

    Bandingkan dengan Bilangan 20:5-8, dalam situasi yang mirip namun beda waktunya, perintah atau instruksi yang TUHAN berikan berbeda.

    “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?" Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka. TUHAN berfirman kepada Musa: "Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya."

    Contoh lainnya dapat kita simak dalam peperangan yang dihadapi oleh Daud.

    2 Samuel 5:17-25,
    “Ketika didengar orang Filistin, bahwa Daud telah diurapi menjadi raja atas Israel, maka majulah semua orang Filistin untuk menangkap Daud. Tetapi Daud mendengar hal itu, lalu ia pergi ke kubu pertahanan. Ketika orang Filistin itu datang dan memencar di lembah Refaim, bertanyalah Daud kepada TUHAN: "Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu? Akan Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?" TUHAN menjawab Daud: "Majulah, sebab Aku pasti akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu." Lalu datanglah Daud di Baal-Perasim dan memukul mereka kalah di sana. Berkatalah ia: "TUHAN telah menerobos musuhku di depanku seperti air menerobos." Sebab itu orang menamakan tempat itu Baal-Perasim. Orang Filistin itu meninggalkan berhalanya di sana, lalu Daud dan orang-orangnya mengangkatnya.”

    Bandingkan dengan kelanjutan dari peristiwa tersebut:

    “Ketika orang Filistin maju sekali lagi dan memencar di lembah Refaim, maka bertanyalah Daud kepada TUHAN, dan Ia menjawab: "Janganlah maju, tetapi buatlah gerakan lingkaran sampai ke belakang mereka, sehingga engkau dapat menyerang mereka dari jurusan pohon-pohon kertau. Dan bila engkau mendengar bunyi derap langkah di puncak pohon-pohon kertau itu, maka haruslah engkau bertindak cepat, sebab pada waktu itu TUHAN telah keluar berperang di depanmu untuk memukul kalah tentara orang Filistin." Dan Daud berbuat demikian, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, maka ia memukul kalah orang Filistin, mulai dari Geba sampai dekat Gezer.”

    Sebuah peristiwa yang berkelanjutan, musuh yang sama, hanya berbeda rentang waktu tidak lama, namun TUHAN memberikan instruksi yang berbeda. Hal ini bukanlah merupakan sebuah inkonsistensi, melainkan kekayaan Hikmat Allah yang tak terselami dan betapa kehendak-Nya yang disampaikan melalui hamba-Nya bergerak secara dinamis.

    Sehubungan dengan pembahasan tiga unsur khotbah profetik di atas, dalam masa pandemi ini perubahan pesan Tuhan dalam khotbah profetik terkait “menengking badai” dan “masuk dalam persembunyian” bukanlah sebuah inkonsistensi, bukan khotbah ‘plin-plan’ yang membuat jemaat menjadi bingung, melainkan pesan Tuhan yang progresif terkait dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan yang harus disampaikan kepada jemaat untuk dilakukan.

III. Perbedaan khotbah profetik dengan bernubuat

Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan memberikan penjelasan yang baik mengenai bernubuat. Kita harus membedakan antara nubuat sebagai suatu penyataan sementara dari Roh (1 Korintus 12:10) dan nubuat sebagai suatu karunia pelayanan jemaat (Efesus 4:11). Sebagai suatu karunia pelayanan, nubuat hanya diberikan kepada beberapa orang percaya, yang kemudian harus berfungsi sebagai nabi di dalam jemaat. Sebagai penyataan rohani, nubuat itu sebenarnya tersedia bagi setiap orang Kristen yang dipenuhi Roh (Kisah 2:17-18). Perihal nubuat sebagai suatu penyataan rohani, nubuat merupakan suatu karunia istimewa yang memungkinkan orang percaya untuk meneruskan perkataan atau penyingkapan secara langsung dari Allah di bawah dorongan Roh Kudus (1 Korintus 14:24-25,29-31). Ini bukanlah penyampaian sebuah khotbah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, pada pokoknya nubuat bukanlah pemberitahuan mengenai masa depan, melainkan pemberitaan kehendak Allah, mendorong dan memberi semangat kepada umat Allah untuk meraih kebenaran, kesetiaan, dan ketekunan (1 Korintus 14:3).[10]

Jika kita memperhatikan catatan Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, pernyataan Tisdale terkait tujuh ciri khotbah profetik, definisi khotbah profetik sebagaimana dibahas dalam paper ini, kesamaan antara bernubuat dan khotbah profetik adalah sama-sama memberitakan kehendak Allah kepada umat-Nya di bawah dorongan Roh Kudus. Sedangkan perbedaannya adalah dalam cara penyampaiannya. Nubuat disampaikan tidak dalam bentuk khotbah, melainkan dalam bentuk penyampaian pernyataan secara langsung, umumnya dalam pertemuan doa korporat, ketika mendoakan seorang atau sekelompok jemaat dengan durasi waktu yang biasanya lebih singkat dari berkhotbah. Sedangkan khotbah profetik disampaikan seorang pengkhotbah, di mana sebelumnya ia telah mendapatkan pesan profetik, apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk disampaikan kepada jemaat di dalam khotbahnya. Namun demikian seringkali juga terjadi dalam ibadah aliran pentakosta adalah perpaduan keduanya. Hamba Tuhan yang sedang khotbah profetik di bawah urapan dan dorongan Roh Kudus di tengah khotbahnya menyampaikan nubuatan yang diterimanya saat itu saat di mimbar, bahkan tidak jarang juga pada saat pengkhotbah berdiri di mimbar, sementara masih memimpin penyembahan secara korporat, mendapatkan pesan Tuhan (nubuatan) dan bernubuat, kemudian dengan iluminasi dari Roh Kudus si pengkhotbah dituntun untuk menjelaskan ayat-ayat Firman Tuhan terkait dengan nubuatan yang disampaikan melaluinya, sehingga jemaat mengetahui dan mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan.

IV. Khotbah profetik di dalam narasi Kisah Para Rasul

Kitab Kisah Para Rasul adalah kitab yang paling kuat menampilkan karya Roh Kudus bagi gereja-Nya, sampai ke ujung bumi. Hal ini tercermin dari keberadaan paling tidak 57 referensi mengenai Roh Kudus.[11] Salah satu gambaran karya Roh Kudus di kitab tersebut adalah dalam hal menyampaikan pesan Allah dan menuntun umat-Nya di dalam rencana Allah (plan of God).[12] Dalam konteks ini, Roh Kudus ditampilkan dengan kuat sebagai Roh nubuatan (Spirit of prophecy). Beberapa ahli Alkitab bahkan berpendapat bahwa bagi Lukas penulis Kisah Para Rasul, Roh Kudus tampil terutama sebagai Roh nubuatan.[13] Karena itu, di dalam beberapa kejadian penting (watershed moment) terlihat bagaimana Roh Kudus menyatakan kehendak dan rencana Tuhan lewat khotbah profetik. Mari kita bahas kemunculan khotbah profetik tersebut.

  1. Khotbah pentakosta Petrus yang mewartakan akhir zaman
  2. Kisah 2:14-17,
    “(14) Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. (15) Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, (16) tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel: (17) Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah-bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.”

    Dalam kondisi penuh Roh Kudus, Petrus menyatakan bahwa pencurahan Roh Kudus yang saat itu sedang terjadi adalah penggenapan dari nubuatan Nabi Yoel, yang juga adalah sebuah pernyataan dimulainya era “hari-hari terakhir”.

  3. Khotbah Stefanus yang menceritakan penolakan Israel terhadap rencana keselamatan Allah
  4. Kisah 7:51-52,
    “Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. (52) Siapakah dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh.”

    Stefanus adalah seorang yang penuh Roh Kudus (Kisah 6:5) dan lewat Roh Kudus yang mendorongnya berbicara, ia mendemonstrasikan hikmat yang tidak terbantahkan oleh para lawannya (Kisah 6:10). Dalam kondisi penuh Roh Kudus, Stefanus dengan komprehensif memaparkan kisah penyelamatan Tuhan dan bagaimana para petinggi rohani saat itu sama seperti nenek moyang mereka, Israel, yang menolak inisiatif Tuhan tersebut.

  5. Khotbah Petrus yang memberitakan Injil kepada keluarga dan sahabat Kornelius
  6. Kisah 10:43-44,
    “(43) Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya." (44) Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.”

    Peristiwa yang sering disebut sebagai Pentakosta Bangsa-Bangsa (Pentecost of the Gentiles) ini diawali oleh penglihatan ketika rohnya diliputi oleh kuasa ilahi (Kisah 10:10). Selanjutnya Roh Kudus menuntun Petrus untuk menerima utusan Kornelius yang mencarinya (Kisah 10:19). Jelas terlihat bahwa Petrus dalam kesempatan tersebut adalah sebuah khotbah profetik.

  7. Pernyataan Yakobus yang membebaskan Gentiles dari syarat sunat
  8. Kisah 15:19-20,
    “(19) Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, (20) tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.”

    Keputusan sidang di Yerusalem dalam Kisah 15, yang kemudian dituangkan ke dalam surat edaran, menyatakan “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: ...” (Kisah 15:28). Ini menandakan peran serta Roh Kudus dalam menginspirasi setiap pernyataan keputusan yang keluar dari mulut Yakobus, sebagai pemimpin gereja di Yerusalem saat itu.

Kitab Kisah Para Rasul sering disebut juga sebagai “Kisah Tuhan Yesus yang Bangkit”.[14] Hal ini dengan tepat menggambarkan bahwa Yesus tetap berkarya di dalam berbagai wujud dari karya penyelamatan melalui Roh Kudus, termasuk dalam hal membahanakan suara-Nya oleh para murid-Nya.

V. Penutup

Sebagai sebuah ilmu dan seni, berkhotbah memiliki beragam bentuk dengan kekhasannya masing-masing. Kita tidak bisa menerapkan suatu prinsip (hermeneutik dan homiletik) jenis khotbah tertentu kepada jenis khotbah yang lainnya. Khotbah profetik (prophetic preaching) harus dibedakan dengan bernubuat (prophesy) atau menyampaikan nubuatan (prophecy/prophetic statement), khususnya terkait cara penyampaian, durasi penyampaian dan kegiatan di mana hal tersebut disampaikan. Khotbah profetik seperti halnya juga dengan bernubuat (nubuatan), pada pokoknya bukanlah pemberitahuan mengenai masa depan, melainkan pemberitaan kehendak Allah, mendorong dan memberi semangat kepada umat Allah untuk meraih kebenaran, kesetiaan, dan ketekunan. Sehingga pertanyaan kritis seharusnya bukanlah ditujukan kepada si pengkhotbah, “Mana nubuatannya? Kok tidak terjadi? Anda nabi palsu ya?” melainkan justru ditujukan kepada diri pribadi masing-masing, “sudahkah saya melakukan apa yang menjadi kehendak Allah sebagaimana disampaikan oleh si pengkhotbah?” Insan Pentakosta dengan penuh keyakinan melihat dirinya sebagai pelaku dari Kisah Para Rasul, bukan sebagai sekadar pengamat sejarah gereja. Karena itulah selayaknya semua kita sebagai insan pentakosta menerima bahkan merindukan dikumandangkannya khotbah-khotbah yang profetik di seluruh komunitas kudus di mana mereka berada. Sejatinya, kita semua adalah “people of the Spirit”.[15] Maranatha! (AL/DL/HT)

Catatan kaki

  1. ^ Walter Brueggemann, The Prophetic Imagination (Pennsylvania: Fortress Press, 2001), 115
  2. ^ Leonora Tubbs Tisdale, Prophetic Preaching: A Pastoral Approach (Westminster: John Knox Press, 2010), 10
  3. ^ Ibid
  4. ^ Matthew Henry Commentary, komentari dari Lukas 21:5-19, Tafsiran Alkitab Sabda
  5. ^ James. K.A. Smith, The Closing of The Book: Pentecostals, Evangelicals, And the Sacred Writings (JPT 11, 1997), 52-53
  6. ^ Thomas W. Gillespie, The First Theologians: A Study in Early Christian Prophecy (Wm. B. Eerdmans Publishing, 1994), 32, 237
  7. ^ Tania Harris, Where Pentecostal and Evangelicalism Part Ways: Toward a Theology of Pentecostal, Asian Journal of Pentecostal Studies 23.1 [2020]: 32; Revelatory Experience Part 1 Mark J. Cartledge, Charismatic Prophecy: A Definition and Description” Journal of Pentecostal Theology 5 [1994]: 81; Lee, Pentecostal Prophecy, 160; Samuel W. Muindi, Pentecostal-Charismatic Prophecy: Empirical-Theological Analysis (Oxford: Peter Lang, 2017), 255-256
  8. ^ Ibid, 33; Sang-Whan Lee, Pentecostal Prophecy, 160; Jon Ruthven, On the Cessation of the Charismata: The Protestant Polemic on Postbiblical Miracles (Sheffield: Sheffield Academic Press, 2007), 31
  9. ^ https://kbbi.web.id/zaman, diakses pada Senin, 12 Oktober 2020 pkl.11.24
  10. ^ Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, “Karunia-Karunia Rohani bagi Orang Percaya” (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2002), 1905
  11. ^ Darrell L. Bock, A Theology of Luke and Acts: God’s Promised Program, Realized for All Nations, 211
  12. ^ Salah satu tulisan yang berfokus membahas hal ini adalah John T. Squires, The Plan of God in Luke-Acts.
  13. ^ G.W.H. Lampe, God as Spirit (The Bampton Lectures; Oxford: Clarendon, 1977), 65. Bandingkan dengan Bock (A Theology of Luke and Acts, 212) yang melihat Roh Kudus terutama sebagai Roh kesaksian (Spirit of witness)
  14. ^ Merunut kepada istilah yang dipantik oleh Alan J. Thompson dalam The Acts of the Risen Lord Jesus: Luke's Account of God's Unfolding Plan.
  15. ^ People of the Spirit” bukan hanya identitas yang dimaknai secara khusus oleh Assemblies of God (Garry McGee, People of the Spirit: Assemblies of God), melainkan juga oleh seluruh insan Pentakosta; lihat R.A.N. Kydd, Charismatic Gifts in the Early Church (Peabody, MA: Hendrickson, 1984), 1; yang dikutip dalam Smith, The Closing of The Book, 1.

Lihat pula