Teologi Kemakmuran: benar atau salah?

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Teologi Kemakmuran: benar atau salah?
Logo Voice of Pentecost.jpg
Sikap teologis
GBI Jalan Gatot Subroto
Tanggal17 Januari 2021
PenulisAbraham LalamentikPdt Dr Abraham Lalamentik, MTh
Video Voice of Pentecost 30 (Catherine Nathania BunjaminCatherine Nathania Bunjamin )
Unduh Unduh OSP

"Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud untuk menegakkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini." (Ulangan 8:18)

I. Mengenai Teologia Kemakmuran

Seringkali kita dengan serta merta menuduh seseorang, suatu gereja, atau suatu pelayanan menganut Teologi Kemakmuran. Yang pertama-tama harus diperjelas ialah; apakah yang dimaksudkan dengan "Teologi Kemakmuran" tersebut? Di dalam pengertian kontemporer, Teologi Kemakmuran berkaitan erat dengan pengajaran Pemikiran Baru (New Thought Movement) dipelopori oleh Phineas Quimby, yang kemudian berkembang menjadi:[1]

  • Christian Science di bawah Mary Baker Eddy,
  • Positive Confession oleh E.W. Kenyon, dan
  • Word of Faith Movement, yang terkenal dengan Rhema Bible College, di bawah Kenneth E. Haggin.

Esensi-esensi utama pengajaran ini antara lain adalah:

  1. Tuhan menginginkan anak anak-Nya berhasil.
  2. Korban Penebusan Yesus di kayu salib yang bersifat substitusional, maka sekarang sakit penyakit, kemiskinan, dan penderitaan tidak memiliki tempat lagi dalam kehidupan orang percaya yang sungguh-sungguh beriman.
  3. Kita berhak untuk meng-'klaim' apa saja yang kita inginkan, karena seluruh kekayaan Allah tersedia bagi kita di dalam Kristus.

Insan Pentakosta agak sulit di dalam memberikan suatu kritisi yang terlalu memukul-rata (generalisasi) pengajaran ini.[2] Tidak semua gerakan yang mewartakan kemakmuran/berkat Tuhan dapat begitu saja dilabeli sebagai 'teologi kemakmuran'. Gerakan Pentakosta terlahir sebagai gerakan yang menjunjung karya praksis Roh Kudus dalam membebaskan manusia dari dosa, dan juga akibat dosa. Kebenaran ini bukan hanya dipahami secara abstrak, dalam legal sense, bahwa kita kelak akan menyambut kekekalan di sorga karena status kita sudah berubah menjadi orang yang dibenarkan oleh korban Kristus, melainkan juga pada zaman sekarang kita sudah mulai mengalami 'kuasa-kuasa dunia yang akan datang' (Ibrani 6:5 powers of the age to come, ESV), artinya kita telah melihat mujizat-mujizat sebagai perwujudan kecil dari kuasa Kerajaan Allah (Ibrani 2:4).[3]

Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang pertumbuhan lalang dan gandum menjelang akhir jaman. Di mana ada anak-anak Tuhan sejati yang bertumbuh dan bermultiplikasi, di situ pula si musuh akan membangun 'tiruan'-nya (Matius 13:24-30). N.T. Wright, seorang ahli Perjanjian Baru dari gereja Anglikan mengatakan: "idolatry is always a caricature of the truth". Yang dimaksudkannya adalah, setiap bentuk berhala dan penyembahan berhala, selalu mulai dari suatu pernyataan yang benar, tetapi kemudian dibesar-besarkan di luar proporsi yang sepatutnya; dibandingkan dengan kebenaran yang lain.

II. Menelaah 3 (tiga) ajaran utama Teologia Kemakmuran

Jika kita meneliti satu persatu dari tiga pernyataan tersebut, maka kita dapat melihat banyak dukungan dasar-dasar Alkitab tentang pernyataan tersebut.

#1 Allah menginginkan semua anak-anak-Nya berhasil

Kalimat ini tidak salah dalam dirinya sendiri (not wrong in and of itself). Yosua 1:8 mengatakan: "Janganlah engkau lupa memperkatakan Kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau berhati hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung,"

Namun yang harus diperhatikan di dalamnya adalah:

  1. Pengertian tentang 'keberhasilan'
  2. Keberhasilan adalah selalu diukur dari pelaksanaan kehendak Tuhan. Di dalam hal ini, kita harus melihat bahwa kehendak Tuhan secara makro haruslah ditempatkan di atas kehendak Tuhan secara mikro, artinya rencana besar Allah untuk menyelamatkan dunia (missio dei) haruslah menjadi penuntun bagi rencana pribadi kita.

    Di dalam kasus Yosua, dikatakan bahwa ia akan berhasil dalam perjalanannya. Berarti ia akan berhasil memimpin bangsa Israel masuk ke Negeri Perjanjian. Jelas terlihat bahwa sukses material bukanlah menjadi tolok ukur utama dalam menilai keberhasilan.

    • Raja Salomo di dalam kehidupannya berhasil mengumpulkan semua yang diinginkan hatinya, baik kekayaan, ilmu pengetahuan, pengalaman, dan kesenangan, namun di akhir kehidupannya ia menyimpang jauh dari tujuan Allah atas hidupnya.
    • Rasul Paulus, sebaliknya, meninggalkan keberhasilan karir nya di dalam agama Yahudi, dan mengikuti panggilan Allah bagi dirinya untuk menjadi pemberita Injil bagi bangsa-bangsa. Di dalam perjalanan kehidupannya, ia mengalami banyak kehilangan dan penderitaan, namun ia berhasil mengatasi semuanya itu dan menyelesaikan tujuan hidupnya yang diberikan oleh Tuhan.

    Manakah diantara kedua orang ini yang disebut memiliki kehidupan yang berhasil secara jangka panjang? Tentu jawabannya adalah Rasul Paulus. Ia menjadi orang yang sangat berguna bagi Kerajaan Allah dan diakui sebagai pribadi yang paling berjasa di dalam meletakkan dasar-dasar peradaban Barat.

  3. Caranya keberhasilan itu terjadi dalam hidup kita
  4. Ayat ini jelas mengatakan bahwa kita bukan hanya harus 'merenungkan' Firman Tuhan, juga harus 'memperkatakan', tetapi pada akhirnya, harus 'melakukan' Firman Tuhan itu di dalam kehidupan bisnis dan profesi kita.

    Teologia Kemakmuran memang benar dalam mengajarkan bahwa kita harus memenuhi pikiran kita dengan Firman Tuhan, dan 'memperkatakan' Firman; namun Firman yang diperkatakan haruslah Firman yang dipahami secara benar.[4] Juga pada akhirnya, semua kekayaan adalah hasil dari pekerjaan (all wealth is the result of work).

    Kita tetap harus bekerja dan bekerja sesuai dengan hukum Kristus yang sudah Tuhan tetapkan, antara lain.

    • Menghormati Tuhan dengan mengembalikan milik Tuhan
    • Memperlakukan rekan kerja, atasan, bawahan, klien, dengan kejujuran dan integritas
    • Taat kepada hukum yang berlaku di negeri di mana kita beroperasi, dan lain sebagainya

#2 Korban penebusan Kristus di kayu salib bersifat substitusional

Pemahaman teologia kemakmuran akan hal ini adalah bahwa sekarang sakit penyakit, penderitaan, dan kemiskinan tidak lagi memiliki tempat di dalam kehidupan seorang percaya yang sungguh-sungguh. Pernyataan ini jelas harus dimengerti dan ditempatkan dalam konteks dan proporsi yang tepat. Sebagai insan Pentakosta, kita harus bisa menempatkan dua kenyataan besar ini di dalam suatu 'tensi yang kreatif' yang juga sudah dicontohkan dalam kehidupan gereja mula-mula.

  • Para Rasul dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus dan mereka melakukan mujizat, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan-setan (Kisah Para Rasul 5:12-16).
  • Namun di sisi lain; dalam perjalanan hidup gereja mula-mula, mereka mengalami aniaya, penderitaan, oposisi, sebagai bagian dari hidup mereka.

Sebagian besar dari mereka mengalami perlindungan dan kelepasan, namun ada pula yang menjadi martir demi iman mereka. Para Rasul sendiri banyak yang mengalami:

Sebagai insan Pentakosta, kita dapat melihat pola yang lebih besar jika kita menggabungkan perjalanan hidup bangsa Israel di padang gurun (Ulangan 8:1-5) dengan perjalanan Gereja Mula-mula. Tuhan mengizinkan kita melewati 'padang gurun' (kesulitan/penderitaan) untuk:

  • menjaga kita tetap berharap pada-Nya.
  • menjaga hati kita berjarak terhadap godaan kenikmatan dan kesenangan dunia.
  • memurnikan motivasi hati kita.

Pada masa kini, sebelum kedatangan Tuhan Yesus kedua kali untuk mendirikan kerajaan-Nya di atas muka bumi ini, penderitaan tetap dapat dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan Tuhan. Itulah sebabnya insan Pentakosta menjunjung tinggi peranan Roh Kudus sebagai oknum ketiga dalam Tritunggal yang berfungsi sebagai:

  • Jalur Komunikasi dan Persekutuan, yang selalu membawa hadirat Yesus kepada komunitas orang percaya,
  • Dialah Agen Pemberdayaan yang memberi kuasa untuk menang dalam menghadapi semua tantangan,
  • Sekaligus juga sebagai Sang Penghibur yang memberi kekuatan di dalam menghadapi berbagai macam penderitaan yang dihadapi.

#3 Mengklaim apa saja yang kita inginkan

Frasa "meng-'klaim' apa saja yang kita inginkan, karena semua kekayaan Allah tersedia bagi kita di dalam Kristus" harus ditempatkan pada konteks dan proporsi yang tepat.

  • "dan bergembiralah karena Tuhan, maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu…". (Mazmur 37:4)
  • "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus…". (Filipi 4:19)

Para penganut Teologi Kemakmuran mengambil kedua ayat ini sebagai dasar dari pengajaran mereka untuk 'Menyebutkan dan Mengklaim' apa yang kita inginkan (name it and claim it).

Padahal sebenarnya makna dari Mazmur 37:4 adalah tentang pengabulan keinginan dan kerinduan yang lahir dalam hati orang yang sudah memperoleh kebahagiaan, sukacita dan kepuasannya di dalam Tuhan. Sama sekali bukan tentang orang keinginan orang yang sedang lapar dan haus akan hal-hal keduniawian. Dan makna dari Filipi 4:19 berbicara tentang pemenuhan keperluan kita, sama sekali bukan tentang pemenuhan keinginan manusiawi kita.

Pengaruh dari 'Pemikiran Baru' terlihat di dalam dua point yang sering muncul dalam naratif Teologi Kemakmuran.

  1. Pengajaran "Little Gods"[5] (Yohanes 10:34)
  2. Di sini Tuhan Yesus sedang mengutip Mazmur 82:6. Dalam konteks ini, Yesus sedang menunjukkan bahwa klaim-Nya sebagai Anak Allah (The Son of God) tidaklah absurd karena di dalam Mazmur, meskipun itu hanya sebagai suatu 'gaya bahasa' (literary device).

    Allah tidak menyangkal bahwa karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, maka sebutan 'anak-anak Allah' (children of God/children of the Most High) tetap dapat disandang oleh manusia, bahkan ketika manusia itu berbuat jahat, seperti dalam kasus Mazmur 82 tadi.

    Kesalahan fatal dari penganut Teologia Kemakmuran/Pola Pemikiran baru ini adalah; mereka tidak dapat membedakan bahwa ketika Tuhan berkata bahwa Ia 'memperanakkan';

    • baik kepada 'Sang Putra' (God the Son: Pribadi kedua Ketritunggalan),
    • maupun kepada manusia secara umumnya.

    Di sini Dia sedang menggunakan bahasa puitis, bukan sedang menunjukkan realita yang sebenarnya terjadi.

    Para pendukung pengajaran ini selalu berkata, "like begat like", sesuatu pasti akan 'melahirkan' sesuatu yang sama/satu hakikat dengannya. Kucing tidak mungkin melahirkan anjing. Tuhan Yesus sedang memberikan 'hermeneutika' yang benar dan proporsional; Ya, bahkan manusia pun bisa disebut 'anak-anak Allah' karena semua manusia membawa 'gambar dan rupa Allah', padahal manusia tidaklah mengandung 'esensi Allah'.

    Implikasi lanjutan dari pengajaran ini adalah di dalam point berikut di bawah ini.

  3. "Power to create"
  4. Allah adalah pencipta. Itulah yang dilakukan-Nya pertama kali. Allah menciptakan langit, bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Kata "mencipta" dalam bahasa Ibrani "Bara" adalah kata yang eksklusif; dikenakan hanya kepada Allah. Hanya Dia yang bisa menciptakan ex nihilo (dari ketidakberadaan menjadi ada).

    Inilah yang dipakai oleh pengajar Teologi Kemakmuran yang mendorong pengikutnya untuk 'memvisualisasikan' apa yang diinginkan dan 'memperkatakan' "rhema" yang didapatkan dari Tuhan untuk 'menciptakan' barang yang mereka inginkan. Hal ini jelas merupakan kesalahan hermeneutika yang berbahaya jika ditindak lanjuti lebih jauh.

III. Kesimpulan

Seperti kita pernah menghadapi bahaya pengajaran 'hyper grace' yang merupakan bentuk ketidakseimbangan dan ketidakproporsionalan mengenai Soteriologi, maka Teologia Kemakmuran dapat dilihat juga sebagai sebuah bentuk ketidakseimbangan dalam Pneumatologia Praxis. Alkitab dengan jelas memberikan kepada kita konteks yang luas supaya kita dapat menempatkan pengajaran mengenai kemakmuran secara proporsional dengan aman.

Ulangan pasal 7-9 adalah summary dari perjalanan bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun dan memberikan kepada kita beberapa petunjuk untuk menangani masalah 'kekayaan':

  1. Tidak mengidentifikasikan diri kita berdasarkan kekayaan kita
  2. "bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu, bukankah kamu ini bangsa yang paling kecil dari segala bangsa?" (Ulangan 7:7)

    Seringkali harga diri dan identitas kita di dalam masyarakat ditentukan oleh harta kekayaan kita. Kita seringkali merasa inferior jika berada di tengah-tengah orang yang lebih kaya dari kita, dan merasa superior jika berada di tengah-tengah orang yang lebih miskin dari kita. Firman Tuhan dengan jelas mengajarkan bahwa Tuhan-lah sebagai pencipta kita yang menentukan harga diri kita. Kita adalah mulia dan berharga di mata-Nya.

  3. Tidak mencari kenikmatan kita dari kekayaan
  4. "hati-hatilah supaya jangan engkau melupakan Tuhan Allahmu dengan tidak berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini…" (Ulangan 8:11)

    Inilah yang menyebabkan kejatuhan raja Salomo. Ketika kekayaannya semakin bertambah banyak, ia mulai melupakan kenikmatan persekutuan dengan Tuhan dan mulai mencari kenikmatannya dari kesenangan duniawi sebagai buah dari keberhasilannya.

    Tidaklah salah jika kita menikmati entertainment yang ditawarkan oleh dunia ini (makanan, minuman, belanja, travel, music dan film), itupun di dalam batasan dan proporsi yang wajar. Yang harus kita perhatikan adalah, di mana kita menemukan kenikmatan (enjoyment) dan kepuasan (satisfaction) kita. Pada saat kita mulai menaruh enjoyment dan satisfaction kita kepada perkara-perkara duniawi, maka kita sudah mulai masuk kepada pengejaran yang salah (wrong pursuit) dan kita akan terhilang dari rencana Tuhan atas hidup kita.

  5. Tidak menaruh kekuatan kita pada kekayaan
  6. "maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tanganku lah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini…" (Ulangan 8:17)

    Uang seringkali membawa ilusi kendali dan kekuatan kepada orang yang memilikinya. Uang seringkali dapat membelokkan rasa keadilan (sense of justice) seseorang, dan membuat orang yang memilikinya merasa lebih berkuasa dari orang lain.

  7. Tidak mencari tujuan hidup dari kekayaan
  8. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan (Matius 6:24; Lukas 16:13). Mammon adalah personifikasi uang dan kekayaan yang memiliki kuasa untuk 'memanggil' manusia mengikuti/melayani dia, sebagaimana layaknya juga Tuhan.

    Ulangan 8:18 dengan jelas berkata bahwa Tuhan-lah yang memberi kekuatan untuk menghasilkan kekayaan dengan maksud untuk menegakkan perjanjian yang telah diikrarkannya dengan sumpah kepada nenek moyang Israel. Hal ini mengacu kepada Perjanjian Abraham (Abrahamic Covenant - Kejadian 12:2-3) yang di dalamnya terkandung berkat; bukan hanya bagi Israel, tetapi supaya melalui Israel, semua kaum (Mispachah dalam bahasa Ibrani; Ethne dalam bahasa Yunani) juga dapat diberkati.

    Galatia 3:16 menunjukkan bahwa 'keturunan Abraham' yang akan menjadi berkat bagi seluruh 'kelompok etnis' di dunia ini sesungguhnya adalah Tuhan Yesus Kristus. Di dalam bahasa Perjanjian Baru, kita dapat mengatakan bahwa tujuan Allah memberkati kita adalah supaya kita, Gereja-Nya dapat menjadi saluran berkat bagi sesama dan menyelesaikan Perjanjian Allah kepada Abraham; yang digenapi dalam Amanat Agung Tuhan Yesus; yaitu untuk kita pergi dan menjadikan segala bangsa murid-Nya.

Dengan memperhatikan konteks dan parameter tersebut di atas, maka kita dapat mengatakan bahwa pengajaran Teologi Kemakmuran, terutama dalam konteks Amerika Serikat (beberapa nama yang tersebut di atas, juga beberapa yang kontemporer seperti Kenneth Copeland, Jesse DuPlantis, John Avanzini, Creffo Dollar)[6] adalah teologi yang kekanak-kanakan (Infantile Theology) yang:

  • terlalu menekankan hak, dan
  • melupakan tanggung jawab.

Tuhan tidak terlalu kuatir tentang seberapa banyak harta yang kita miliki lebih daripada Ia menguatirkan apakah harta itu memiliki (hati) kita. Ditempatkan pada proporsi yang tepat, harta kekayaan adalah alat yang efektif untuk kita menyelesaikan pekerjaan Tuhan, yaitu Amanat Agung Tuhan Yesus, namun jika tidak dikuasai dengan baik, uang/Mammon akan menyeret kita meninggalkan panggilan Tuhan, dan pada akhirnya akan membinasakan kita. (AL)

Catatan kaki

  1. ^ Sejarah dan kritik atas kegerakan yang disebut juga sebagai "faith movement" atau "positive confession", lihat: Stanley M. Burgess and Eduard M. van der Maas, eds., 'Positive Confession Theology', in The New International Dictionary of Pentecostal and Charismatic Movements (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1 June 2002); Andreas Heuser, 'Prosperity Theology : Material Abundance and Praxis of Transformation', in The Routledge Handbook of Pentecostal Theology, ed. Wolfgang Vondey, Routledge Handbooks in Theology (New York, NY: Routledge, 2020); Frank D. Macchia, 'A Call for Careful Discernment: A Theological Response to Prosperity Preaching', in "Pentecostalism and Prosperity: The Socio-Economics of the Global Charismatic Movement", ed. Katherine Attanasi and Amos Yong, Christianities of The World (New York, NY: Palgrave Macmillan, 2012).
  2. ^ Amos Yong berpendapat, generalisasi yang dapat diandalkan sangat sulit untuk dilakukan mengingat keberagaman yang luas dari tema-tema kemakmuran, Amos Yong, 'A Typology of Prosperity Theology: A Religious Economy of Global Renewal or A Renewal Economics', in "Pentecostalism and Prosperity: The Socio-Economics of the Global Charismatic Movement", ed. Katherine Attanasi and Amos Yong, Christianities of The World (New York, NY: Palgrave Macmillan, 2012).
  3. ^ Keterkaitan Ibr 6:5 dengan Ibr 2:4, lihat Luke Timothy Johnson, Hebrews: A Commentary, New Testament Library (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 2012), Ibrani 6:4-8.
  4. ^ Gerakan Injil kemakmuran seringkali menafsirkan dan memperkatakan Firman tanpa pemahaman yang benar, lihat Burgess and Maas, 'Positive Confession Theology'.
  5. ^ Burgess and Maas, 'Positive Confession Theology'.
  6. ^ Beberapa nama bahkan dikategorikan sebagai "hard prosperity", lihat Kate Bowler, Blessed: A History of the American Prosperity Gospel (New York, NY: Oxford University Press, 2013), 253.

Lihat pula