Memberi yang terbaik

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Memberi yang terbaik
Logo Voice of Pentecost.jpg
Sikap teologis
GBI Jalan Gatot Subroto
Tanggal10 Januari 2021
PenulisDony LubiantoPdm Dr Dony Lubianto, MTh
Video Voice of Pentecost 29 (Gisela Kilisya TasmaliaGisela Kilisya Tasmalia )
Unduh Unduh OSP

“…Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Matius 7:9-11)

I. Pendahuluan

Dalam bagian ayat ini, Tuhan Yesus sedang berbicara mengenai hal pengabulan doa. Pengabulan doa selalu diawali dengan satu hal kunci, yakni 'meminta'. Dalam konteks ini Tuhan Yesus membuat sebuah komparasi antara pendengar pada waktu itu yang disebut dengan istilah “kamu yang jahat" dengan 'Bapamu yang di Sorga'. Apa yang sedang Tuhan Yesus komparasikan terkait dengan pemberian? Jika manusia yang jahat saja tahu memberi yang terbaik bagi anak-anaknya, apalagi Bapa di Sorga.

Dari perkataan Tuhan Yesus ini, jika kita kesampingkan konteks meminta dan pengabulan doa, tanpa mengurangi makna dan nilai kebenaran dari ayat-ayat ini, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: Dalam memberi, Bapa Sorgawi memiliki sebuah standar, yaitu YANG TERBAIK. Tentu hal ini tidak dapat kita pungkiri, sebab Bapa telah membuktikannya dengan puncaknya adalah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia sebagaimana dicatat dalam Yohanes 3:16.

Kesimpulan lainnya yang dapat kita ambil adalah, manusia yang jahat (poneros), berdosa juga ternyata memiliki standar yang sama dalam memberi yaitu YANG TERBAIK kepada anak-anaknya.

Betapa dahsyatnya apa yang sedang Tuhan Yesus sampaikan kepada kita mengenai pengajaran ini. Membandingkan dua kutub yang sangat jauh berbeda, Allah Bapa dan manusia berdosa yang memiliki sebuah kesamaan, yakni standar 'memberi yang terbaik', sekalipun tentu secara kualitas tidak dapat disamakan.[1] Tuhan Yesus berkata: Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, APALAGI Bapamu yang di Sorga.”

Jika kita coba telaah lebih jauh, maksudnya dengan kesamaan di sini adalah ketika pemberian itu terkait dengan hubungan (relationship), "...memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu", maka ukuran yang digunakan dalam memberi bukanlah ukuran yang biasa, melainkan yang terbaik.[2] Ternyata memberi yang terbaik berdasarkan hubungan bukan hanya terjadi antara orangtua terhadap anaknya saja, melainkan juga diantara pasangan kekasih. Mereka berupaya tampil yang terbaik di depan pasangan, serta selalu mengupayakan yang terbaik untuk kebahagiaan pasangannya. Hubungan yang kita miliki berpengaruh terhadap standar kita dalam memberi. Semakin berkualitas sebuah hubungan, semakin tinggi standar memberi yang ada dalam hubungan tersebut.

Bertolak dari pemahaman ini, standar kita dalam memberi bagi pekerjaan Tuhan melalui gereja salah satunya juga ditentukan oleh kualitas hubungan kita dengan TUHAN. Kita bisa melihat hal ini dari catatan Alkitab. Di Perjanjian Lama kita akan jumpai hal itu dalam kisah hidup para patriakh.

Tidak sedikit orang Kristen yang memiliki pandangan keliru terhadap prinsip persembahan di era Perjanjian Lama, mereka memandang bahwa semua yang berbau Perjanjian Lama pasti berbau Hukum Taurat di mana dalam masa Perjanjian Baru ini semua yang berbau Hukum Taurat sudah tidak berlaku dan tidak terpakai lagi karena Tuhan Yesus telah membayar lunas dan membatalkan Hukum Taurat.

Sebagian besar orang yang berpandangan seperti diuraikan di atas lupa bahwa Perjanjian Lama memiliki beberapa era. Ambil contoh, terkait dengan Kemah Suci, maka ada era sebelum Kemah Suci dan ada era setelah Kemah Suci. Terkait dengan Raja, ada era sebelum masa kerajaan dimulai dan ada era setelah munculnya kerajaan di Israel dengan Saul sebagai raja yang pertama. Mari kita membahas prinsip persembahan sebelum dan setelah berdirinya Kemah Suci.

II. Persembahan sebelum berdirinya Kemah Suci

Mari kita kembali ke Perjanjian Lama terkait dengan konsep Persembahan sebelum era berdirinya Kemah Suci dan setelah berdirinya Kemah Suci. Sebelum era berdirinya Kemah Suci, dapat kita lihat dan pelajari dari kehidupan para Patriakh dalam Kitab Kejadian.

“Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,” (Kejadian 4:3-4)

Dalam ayat tersebut di ataslah pertama kalinya muncul kata persembahan, yang dalam bahasa Ibrani merupakan kata Minkhah, yang artinya hadiah, pemberian atau korban.

Selain kain dan Habel, dalam kitab Kejadian kita juga melihat contoh para Patriakh dalam memberikan persembahan kepada TUHAN, antara lain:

  1. Nuh (Kejadian 8:20-21)
  2. “Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya. Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu. Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.”

  3. Abraham (Kejadian 18:3-8)
  4. “serta berkata: "Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." Jawab mereka: "Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu." Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: "Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!" Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya. Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan.”

  5. Yakub (Kejadian 31:53-54)
  6. “Allah Abraham dan Allah Nahor, Allah ayah mereka, kiranya menjadi hakim antara kita." Lalu Yakub bersumpah demi Yang Disegani oleh Ishak, ayahnya. Dan Yakub mempersembahkan korban sembelihan di gunung itu. Ia mengundang makan sanak saudaranya, lalu mereka makan serta bermalam di gunung itu.”

Dari beberapa contoh di atas, paling tidak ada 2 (dua) prinsip persembahan dalam era sebelum Kemah Suci berdiri dalam Perjanjian Lama, yakni:

  1. Persembahan merupakan inisiatif pribadi sebagai respon si pemberi persembahan akan kasih, berkat, penyertaan dan perlindungan TUHAN.
  2. Perhatikan teladan para patriakh di atas, jika kita membaca teks Alkitab dari perikop atau pasal-pasal yang mencatat kisah mereka, kita tidak akan menemukan TUHAN memberikan perintah kepada mereka untuk memberikan persembahan, artinya persembahan yang mereka lakukan merupakan inisiatif pribadi sebagai respon mereka atas kasih, berkat, penyertaan dan perlindungan TUHAN.

  3. Persembahan diberikan berdasarkan hubungan pribadi si pemberi persembahan dengan TUHAN.

    Pada waktu para patriakh memberikan persembahan, era itu tidak atau belum ada hukum tertulis yang mengharuskan dan mengatur terkait pemberian persembahan. Dan jika kita simak dengan lebih teliti, dalam Kitab Kejadian, mereka yang memberikan persembahan kepada TUHAN adalah mereka yang memiliki hubungan pribadi dengan TUHAN. Kita tidak akan menemukan di dalam Kitab Kejadian, orang yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan TUHAN memberikan persembahan kepada TUHAN.

Kedua prinsip ini seharusnya menjadi blueprint, menjadi teladan dan semangat kita dalam memberikan persembahan.

II. Persembahan setelah berdirinya Kemah Suci

Setelah Bangsa Israel keluar dari Mesir untuk beribadah kepada TUHAN, Musa diperintahkan TUHAN untuk membangun kemah suci, kemah pertemuan di mana TUHAN akan berjumpa dengan umat-Nya. Dengan berdirinya Kemah Suci, maka TUHAN memberikan hukum-hukum dan aturan-aturan yang mengatur tata cara ibadah, tata cara pelayanan Imam Besar dan para imam, tata cara persembahan, hukum dan aturan moral, hukum dan aturan sosial, dan lainnya.

Sehubungan dengan persembahan, dalam Imamat 1-7 kita melihat berbagai jenis persembahan yang diatur menjadi persembahan:

  1. korban bakaran
  2. korban sajian
  3. korban keselamatan
  4. korban penghapus dosa
  5. korban penebus salah

Di mana jenis korban, tata cara diatur berdasarkan hukum. Apakah hal ini kemudian menjadi sesuatu yang kaku dan baku? Serta membuat orang memberi persembahan hanya berdasarkan hukum (legalisme) semata? Seharusnya tidak. Dengan semangat dan prinsip memberi para Patriakh, memberi sebagai respon atas kasih, berkat, penyertaan dan perlindungan TUHAN serta didasari hubungan pribadi dengan TUHAN, maka aturan dan hukum memberikan persembahan yang diberikan TUHAN seharusnya menjadi sarana yang mempermudah, mempertegas dan memperjelas dalam hal memberi persembahan, sehingga persembahan kita tepat seperti yang dikehendaki TUHAN.[3] Sayangnya, semangat dan prinsip para patriakh dalam hal memberi persembahan kelihatannya makin lama makin memudar dalam diri umat Israel, sehingga persembahan-persembahan menjadi sekedar legalisme semata, sebagaimana kita lihat dalam ayat berikut:

“Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Samuel 15:22)

Sebagaimana ayat tersebut di atas, penting bagi kita untuk menyadari bagaimana persembahan (korban bakaran dan korban sembelihan) dalam Perjanjian Lama, takkan memiliki arti jika tidak disertai dengan hubungan pribadi yang intim dengan TUHAN, jika tidak mendengarkan Suara TUHAN serta jika tidak memiliki ketaatan akan Firman dan ketentuan-ketentuan TUHAN.

Tegoran TUHAN dalam kitab Maleakhi terkait dengan memberikan persembahan memiliki tujuan yang sangat tegas dan jelas, yakni agar umat TUHAN menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

“Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.” (Maleakhi 3:2-4)

Jika kita coba menyelidiki perintah TUHAN dalam Perjanjian Lama, kita akan mendapati bahwa TUHAN menghendaki agar umat-Nya memberikan persembahan yang terbaik. Perhatikan beberapa ayat berikut:

“Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN, Allahmu.” (Keluaran 23:19a; 34:26)
"Apabila seseorang hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian kepada TUHAN, hendaklah persembahannya itu tepung yang terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan ke atasnya.” (Imamat 2:1 bdk. 2:4, 5, 7; 5:11; dan masih banyak lagi ayat senada dalam Kitab Bilangan)

Berdasarkan uraian-uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Mereka yang memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN umumnya memiliki standar yang tinggi dalam memberi, yakni senantiasa berupaya memberi yang terbaik.
  2. Dalam Perjanjian Baru kita bisa meneladani apa yang Maria lakukan (Yohanes 12:1-8), Maria mempersembahkan minyak narwastu murni yang harganya diperkirakan hampir setara dengan upah buruh selama setahun. Bukan hanya soal harga minyaknya yang menjadikan persembahan Maria berkualitas, tapi juga apa yang ia lakukan selanjutnya, menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Bagi seorang perempuan rambut adalah mahkotanya yang berharga. Semua yang Maria lakukan adalah contoh standar yang tinggi dalam memberi[4] , yang dilakukan karena memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN.

    Ketika Maria melakukan hal tersebut, tidak semua orang mendukung apa yang dilakukannya. Kritik datang dari seorang yang cinta uang dan suka mencuri uang kas yang biasa disimpan dan digunakan untuk mendukung pelayanan dan perjalanan Tuhan Yesus beserta dengan murid-murid yang lain.

    Dengan sangat politisnya, si pencuri uang kas membandingkan antara mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Yesus dengan pelayanan kepada orang-orang miskin. Sebuah alasan yang jika dipandang dari sudut pandang humanisme dan sosial sebagai sesuatu yang kelihatannya benar, lebih bermakna dan lebih berdampak, namun Tuhan Yesus melihat jauh sampai kedalaman hati seseorang.

  3. Mereka yang tidak memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN hanya dapat memahami pemberian sebagai sebuah hukum yang tertulis.
  4. Sehingga ukuran dan keputusan dalam memberi senantiasa ditimbang berdasarkan hukum yang tertulis semata, sambil meninjau konteks, konteks dan konteksnya. Ketika yang lainnya sudah dengan tekun dan setia mengembalikan persepuluhan, dirinya masih sibuk menggali:

    • Apakah persepuluhan ini benar Alkitabiah?
    • Apakah persepuluhan tetap berlaku di masa gereja sekarang ini?
    • Ataukah hanya di Perjanjian Lama?
    • Apakah Persepuluhan bisa diterapkan dalam jemaat masa kini atau hanya bagi orang Yahudi saja?

    Dan masih banyak lagi pembahasan-pembahasan yang demikian. Sebenarnya ujung pangkal dari semuanya itu adalah mencari sebuah pijakan untuk menguatkan agar tidak mengembalikan persepuluhan.

    Betapa indah dan luar biasanya jemaat yang mengembalikan persepuluhan atau memberi dengan standar yang terbaik karena dorongan kasih kepada TUHAN, karena memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN dan bukan sekedar dorongan dari hukum yang tertulis.

  5. Kaum "cinta akan uang" dan "pencuri kas" milik TUHAN dengan alasan-alasan yang penuh dengan retorika akan selalu mengkritik mereka yang memberi dengan standar yang tinggi bagi pekerjaan TUHAN melalui gereja.
  6. Seperti halnya kritik Yudas Iskariot terhadap Maria (Yohanes 12:4-6), demikian juga terjadi di masa sekarang ini. Tidak jarang dengan piciknya mereka menyamaratakan semua pendeta/hamba Tuhan yang mengajarkan tentang memberi persembahan sebagai golongan pendeta yang mencari keuntungan pribadi dari jemaat. Sekedar memandang apa yang kasat mata tanpa berupaya membuka komunikasi dan mencari tahu berdasarkan fakta, mereka ‘membabi buta’ menghina, mencerca dengan motif seakan membela warga gereja, namun yang sebenarnya hanyalah mencari muka (popularitas).

Kekristenan adalah hubungan. Hubungan kita dengan Kristus dan hubungan kita dengan sesama. Itulah yang digambarkan dengan hukum yang pertama dan terutama:

Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40)

Tuhan Yesus mengatakan bahwa dalam hukum kasih inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Hukum kasih haruslah menjiwai, mewarnai semua hukum yang tertulis. Kasih kepada TUHAN dan kasih kepada sesama melampaui konteks, konteks dan konteks. Ketika kasih kepada TUHAN dan kasih kepada sesama memenuhi hidup kita karena Kasih Yesus yang terlebih dahulu telah menjamah kita, maka kita hanya akan memiliki satu standar dalam memberi, YANG TERBAIK!

IV. Persembahan Sulung sebagai sebuah dimensi baru dalam hal memberi yang terbaik

Persembahan Sulung yang umumnya dilakukan dalam keluarga besar GBI Jl. Jend. Gatot Subroto pada bulan Februari setiap tahunnya adalah salah satu bentuk disiplin rohani dan proses pembelajaran dalam memberi dengan standar yang tinggi baik dalam hal jumlah atau nilai persembahan, tapi terlebih dalam hal kemurahan hati dalam memberi. Bagi sebagian besar jemaat, mengembalikan persepuluhan yang nilainya sepuluh persen dari penghasilan yang diterimanya mungkin sudah merupakan satu hal yang ‘biasa’. Bahkan tidak sedikit dari antara mereka yang mengembalikan bukan hanya sekedar sepuluh persen, melainkan dua puluh persen dan lebih dari itu. Tetapi memberikan persembahan sulung merupakan sebuah dimensi yang baru dalam memberi. Bukan sekedar sepuluh, dua puluh atau tiga puluh persen, melainkan seratus persen dari penghasilan yang diterima selama satu bulan tersebut. Secara nilai angka atau persentase, seratus persen tentu adalah standar yang tinggi, standar yang terbaik. Namun persembahan sulung bukan sekedar soal angka atau persentase saja, lebih dari itu adalah standar yang tinggi dalam kemurahan hati. Dan ini hanya dapat terjadi pada hati yang telah sungguh-sungguh menyadari bahwa apapun dan sebesar apapun yang diberikannya tidak akan mampu membalas apa yang sudah Tuhan Yesus lakukan dalam hidupnya.

Lihat dan pelajarilah teladan jemaat di Makedonia (2 Korintus 8). Paulus berencana untuk mengajak jemaat di Korintus menabur untuk gereja mula-mula yang ada di Yerusalem. Untuk itu, Paulus menceritakan kepada orang-orang Korintus tentang kehidupan jemaat di Makedonia.

  1. Kepada jemaat di Makedonia telah dianugerahkan kasih karunia (2 Korintus 8:1). Bagaimana kasih karunia ini dinyatakan?
  2. Kasih karunia dinyatakan ketika mereka dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan dan sangat miskin (2 Korintus 8:2), mereka memberi “menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka” (2 Korintus 8:3).
  3. Mereka bahkan mendesak kepada Paulus, supaya mereka beroleh kasih karunia untuk memberi kepada gereja di Yerusalem (2 Korintus 8:4).
  4. Atas dasar apa yang telah diperbuat oleh orang-orang Makedonia, Paulus menasehatkan orang-orang Korintus supaya mereka juga “kaya dalam pelayanan kasih ini”. Di dalam alkitab NIV, hal ini disebutkan sebagai act of grace, tindakan atau perbuatan yang didasari kasih karunia.
  5. Selanjutnya, Paulus meminta supaya orang Korintus juga melakukan hal yang sama seperti orang Makedonia karena “kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Korintus 8:9)

Pesan utama dari cerita di atas adalah bahwa kasih karunia Tuhan Yesus Kristus memberdayakan orang-orang yang seharusnya tidak mampu memberi (‘miskin’) untuk memberi bahkan melampaui kemampuan mereka (‘kaya’). Pemberian yang melampaui kemampuan jelaslah secara kuantitatif maupun kualitatif melebihi persembahan sulung. Bandingkan juga dengan cerita janda miskin yang memberi dua peser, yang juga adalah seluruh nafkahnya (Markus 12:42-44). Dari dua contoh tersebut saja orang-orang Kristen masa kini sesungguhnya dapat meneladani orang-orang Makedonia dalam hal kasih karunia memberi yang memberdayakan kita untuk memberikan persembahan sulung. Lagi pula, jika dibandingkan dengan pesan Firman:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Persembahan dalam bentuk materi (termasuk uang) berapapun besar persentasenya, tentu memiliki standar yang masih jauh di bawah dari apa yang dinyatakan dalam ayat tersebut di atas. Selamat memberi yang terbaik! (DL).

Catatan kaki

  1. ^ Kristus menjanjikan bahwa Bapa di sorga tidak akan mengecewakan anak-anak-Nya. Ia bahkan mengasihi kita lebih daripada seorang ayah manusiawi mengasihi anaknya, dan Ia menginginkan agar kita memohon segala kebutuhan kita kepada-Nya, dengan menjanjikan untuk memberikan yang baik kepada kita. Allah ingin memberikan pemecahan bagi semua persoalan kita dan makanan bagi kebutuhan kita sehari-hari. Dan yang terbaik adalah bahwa Ia memberikan Roh Kudus kepada anak-anak-Nya sebagai Penasihat dan Penolong (Luk 11:13; Yoh 14:16-18). (APHB)
  2. ^ Matthew Lee Smith, “In His Image-Finding our Identity and Purpose in Our Creator”, Indiana: Author House, 2007, h.34 menyatakan: A relationship with God begins when we offer that which is costly. Although most of us today buy our steak or hamburger by the pound, God required a whole animal as an offering! This was a costly offering. Thus the name of the offering was “sacrifice” because it deeply impacted the financial condition of the giver. A relationship with God centers around the best one has. Each offering must be free from visible defects. In other words, God wanted the best from His children. This speaks to His worth. Worship is a relationship that centers around sacrificing the best one to God.
  3. ^ Shelvie Birchfield, “Giving and Receiving by Faith”, Pennsylvania: RoseDog Books, 2011, hal.7 menyatakan: Leviticus begins with the Lord speaking form, out of the tabernacle to Moses to tell the people to give to God, making their offerings of the best they had to Him. This offering was to be voluntarily given, meaning from the heart, unto the Great God who had given them a glorious deliverance from slavery, and had given them His righteous Laws to live by so they could come into the fullness of His life and ways, His presence and blessings.
  4. ^ Tindakan Maria ini merupakan suatu pengorbanan besar, karena minyak narwastu murni itu sangat mahal harganya. Maria sadar bahwa kesempatan untuk mengungkapkan pengabdian kepada Yesus segera akan berakhir, karena itu dia memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Iman dan pengabdiannya kepada Tuhan merupakan teladan tertinggi dari apa yang diinginkan Allah dari orang percaya. Oleh karena itu Yesus menyatakan bahwa perbuatan kasih itu akan disebut di mana saja Injil diberitakan. (Catatan APHB dari Yohanes 12:3)

Lihat pula