Nubuat dalam Gereja masa kini (Sikap teologis)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Logo OSP.png
Sikap teologis
GBI Jalan Gatot Subroto
Tanggal17 Mei 2020
PenulisPdp Paul J Tuanakotta, SKom, CBC
Video Voice of Pentecost 3 (Paul Tuanakotta )
Video 2 Voice of Pentecost 68 (Leonardo Wayong)
Unduh Unduh OSP

“supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu.”
2 Petrus 3:2

Gereja masa kini tentu jauh lebih mengenal jabatan-jabatan rohani seperti gembala, penginjil atau pengajar sebab memang ketiga jabatan tersebut yang mereka jumpai dalam kehidupan bergereja, di mana Gembala melakukan tugas pelayanan menggembalakan jemaat, memimpin sakramen, melakukan konseling dan pendampingan serta kunjungan kepada jemaat untuk mendoakan dan memberikan dorongan kepada jemaat untuk bertumbuh secara rohani. Para Penginjil melakukan tugas dan pelayanan untuk memberitakan injil baik di marketplace maupun diutus ke daerah-daerah pedalaman Indonesia untuk melakukan tugas pemberitaan Injil dan perintisan jemaat baru di wilayah lain. Sedangkan para Pengajar melaksanakan tugas pelayanan di kelas-kelas pembinaan jemaat, pendalaman Alkitab, seminarseminar dan kegiatan lainnya yang melengkapi jemaat dengan kebenaran Firman Tuhan yang dibahas secara sistematis, mudah dimengerti dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan Rasul dan Nabi? Apakah jabatan rohani itu masih ada di masa sekarang ini? Masih adakah nabi-nabi sebagaimana dalam Perjanjian Lama? Bagaimana dengan nubuatan-nubuatan yang disampaikan hamba-hamba TUHAN terkenal kaliber nasional dan internasional yang banyak kita dengar di media sosial? Apakah nubuatan mereka valid? Bagaimana jika nubuatan mereka ternyata tidak tergenapi? Apa konsekuensi yang mereka terima? Untuk menjelaskan hal-hal tersebut OSP ini ditulis.

I. Nabi dalam Perjanjian Lama dan Rasul dalam Perjanjian Baru

“supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu.” (2 Petrus 3:2)

“Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya” (Lukas 11:49

Dalam Perjanjian Lama, Tuhan mengangkat para nabi sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada umat Allah, apa yang disampaikan para nabi sama artinya dengan perkataan Allah sendiri[1] dan memiliki otoritas untuk dicatat sebagai Firman Allah. Sementara di dalam Perjanjian baru, Tuhan menunjuk para Rasul sebagai media untuk menyampaikan perkataan Allah dan mendapatkan otoritas yang sama seperti nabi-nabi dalam perjanjian lama sehingga apa yang mereka sampaikan dicatat sebagai Firman.

Dalam hal ini, apa yang disampaikan oleh para Rasul melalui inspirasi Roh Kudus dan dicatat dalam kitab-kitab perjanjian baru memiliki otoritas tertinggi. Tidak ada pesan atau perkataan lain yang disampaikan di luar Firman Tuhan dapat memiliki otoritas, kuasa ataupun kemurnian yang sama.[2] Kesimpulannya, para rasul dalam Perjanjian Baru adalah ekuivalen dari nabi dalam Perjanjian Lama.

II. Nubuatan Nabi-Nabi Perjanjian Baru

II.A. Karunia Nabi

Perjanjian Baru mencatat bahwa dalam masa gereja mula-mula, selain para rasul, ada orang-orang yang memiliki karunia sebagai nabi.

“Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh” (1 Korintus 12:28)

Paulus menulis ada orang-orang yang ditetapkan Tuhan sebagai rasul, nabi, pengajar, mereka yang mengadakan mujizat, kesembuhan, melayani, memimpin dan berkata-kata dalam bahasa roh. Mengapa Paulus memakai kata “pertama”, “kedua” dan “ketiga”? Jika kita melihat ayat 31 Paulus memperlihatkan bahwa ada “karunia yang paling utama”.

“Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.” (1 Korintus 12:31)

Apakah yang dimaksud “karunia paling utama”? Jawabannya dapat kita lihat dari pasal 14:

“Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh” (1 Korintus 14:5b)

Maka yang dimaksud Paulus dengan “karunia yang paling utama” adalah karunia yang paling bermanfaat bagi tubuh Kristus.[3] Sebagai catatan, bukan berarti berkata-kata dalam bahasa Roh tidak berharga karena Paulus sendiri menulis “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua.” (1 Korintus 14:18). Tetapi dalam hal kepentingan membangun jemaat, bernubuat lebih bermanfaat.

Jadi, Rasul adalah yang paling utama karena para rasul-lah yang menanam dan membangun gereja, mereka yang meletakkan dasar pengajaran dan perkataan mereka memiliki otoritas sebagai Firman Tuhan. Selanjutnya para nabi (kedua), kemudian para pengajar (ketiga) dan barulah diikuti dengan karunia-karunia lainnya. Hal ini terlihat ketika Paulus menegaskan bahwa para nabi sekalipun harus tunduk kepada dia sebagai rasul yang memiliki otoritas menyampaikan perintah Tuhan.

“Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan.” (1 Korintus 14:37)

Dengan kata lain, mereka yang memiliki karunia nabi dalam perjanjian baru tidak memiliki otoritas yang setara dengan para rasul. Karunia nabi dengan nubuatannya tidak memiliki otoritas yang sama dengan Firman Tuhan. Itulah sebabnya rasul Paulus memberikan petunjuk bagaimana karunia bernubuat ini dilakukan di dalam gereja.

“Tentang nabi-nabi--baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan.” (1 Korintus 14:29-31)

Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan:

  1. Karunia bernubuat secara aktif dipraktekkan dalam gereja.
  2. Setiap orang bisa mendapatkan karunia untuk bernubuat dari Tuhan.[4]
  3. Jemaat lain dapat menanggapi/menguji (diakrino) nubuatan tersebut.

Jika ditarik ke dalam konteks masa kini. Para Rasul murid Kristus sudah tidak ada, tetapi kita sudah memiliki Alkitab yang lengkap lewat tulisan para rasul. Jadi nubuatan dari para nabi zaman now harus tunduk kepada otoritas Alkitab.

II.B. Bagaimana seorang nabi diuji?

Apakah menguji orang yang bernubuatnya, atau menguji isi nubuatannya? Memang penulis Perjanjian Baru memberikan peringatan akan adanya nabi-nabi palsu, yaitu orang-orang yang datang dan melayani di gereja tetapi memiliki tujuan jahat (Matius 7:15-20; 1 Yohanes 4:1-6). Tetapi dalam kerangka berpikir Paulus, nabi-nabi yang dimaksud adalah orang-orang yang sudah ada dan dikenal oleh jemaat.[5] Dalam hal ini, isi nubuatan merekalah yang harus diuji.[6] Kepada jemaat di Tesalonika Paulus menulis:

“Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:19-21)

Kata menanggapi/menguji (diakrino) memiliki pengertian seperti orang memilah-milah, membedakan atau menilai (Kisah 15:9; 1 Korintus 4:7; 1 Korintus 11:31). Standar apa yang digunakan untuk menguji sebuah nubuatan? Ayat-ayat dalam perjanjian baru menunjukkan bahwa ukuran yang dipakai untuk menguji segala sesuatu, termasuk nubuatan, adalah Firman Tuhan dan pengajaran yang diterima dari para Rasul (Kisah 17:11; 1 Korintus 14:37-38; Galatia 1:8; 1 Yohanes 4:23,6).

II.C. Apakah konsekuensi jika sebuah nubuatan dianggap tidak lolos dari ujian?

Dalam perjanjian lama, seorang nabi yang memberikan nubuatan yang palsu harus dihukum mati (Ulangan 18:20). Hukum ini berlaku karena nabi dalam perjanjian lama memiliki otoritas yang sangat tinggi sebagai penyampai pesan Tuhan. Mereka yang tidak mentaati nubuatan seorang nabi sama artinya dengan melawan perkataan Tuhan sendiri. Oleh karena itu untuk menjaga agar tidak sembarangan orang memanfaatkan otoritas mereka sebagai nabi dengan sembarangan.

Namun hal ini sama sekali tidak nampak dalam petunjuk Paulus kepada jemaat di Korintus.[7] Jemaat hanya diminta untuk menanggapi/menguji setiap nubuat. Tidak ada konsekuensi fatal jika seseorang memberikan nubuat yang tidak lolos uji. Perbedaan ini terjadi karena seperti telah disampaikan dalam tulisan di atas, nabi dan nubuatan mereka dalam perjanjian baru, tidak memiliki otoritas yang sama dengan nabi dan nubuatan dalam perjanjian lama.

III. Kata-kata manusia atau Firman Tuhan?

Apakah yang sebenarnya disampaikan oleh para nabi perjanjian baru? Paulus menggunakan kata “penyataan” (apokalypto).

“Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri.” ({{sabdaweb2v|1 Korintus 14:37

Beberapa hal yang dapat diambil dari ayat tersebut:[8]

  1. Penyataan itu datang secara spontan
    Bukan sesuatu yang dibuat-buat karena ada pemikiran atau persiapan sebelumnya.
  2. Penyataan itu datang secara pribadi kepada seseorang
    Bukan sesuatu yang timbul karena adanya situasi atau fenomena yang diketahui semua orang, tetapi sesuatu yang timbul dalam pikiran seseorang secara pribadi.
  3. Penyataan itu datang dari Tuhan melalui Roh Kudus
    Paulus memberikan gambaran bahwa nubuat itu datangnya dari Roh Kudus sementara orang yang menerimanya tetap memiliki kemampuan untuk mengendalikannya.[9]
  4. Penyataan itu memberikan pengertian terhadap cara Tuhan memandang
    Penyataan yang diterima seorang nabi memampukan dia untuk melihat sesuatu yang berkaitan dengan kehendak Tuhan dan kemudian menyampaikan sedemikian rupa untuk membangun, memberi semangat dan memberikan nasehat bagi seluruh jemaat.
  5. Penyataan itu dapat dikenali sebagai sebuah pesan Tuhan oleh para nabi
    Ayat tersebut mengindikasikan ketika ada sebuah penyataan dari Tuhan, maka orang-orang dapat mengenalinya sebagai pesan Tuhan sehingga dalam kasus tersebut, orang yang sedang bernubuat berdiam ketika orang kedua memberikan nubuatan.

IV. Seberapa jelas sebuah penyataan diterima oleh seorang nabi dalam Perjanjian Baru?

Seberapa banyak yang diketahui seorang nabi dalam Perjanjian Baru mengenai penyataan yang dia terima? Apakah penyataan yang diterima seseorang sesuatu yang jelas atau samar-samar? Tulisan Paulus dalam 1 Korintus 13 memberikan gambaran mengenai hal ini:

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. (1 Korintus 13:8-12)

Dalam bagian tersebut Paulus berkata bahwa:

  • nubuatan pada akhirnya akan berakhir (ay. 8),
  • nubuatan akan berakhir karena nubuatan tersebut tidak sempurna (ay. 9),
  • nubuatan tersebut tidak sempurna karena kita melihat seperti melihat dalam cermin gambaran yang samar-samar (ay. 12).[10]

Ilustrasi cermin menyiratkan sesuatu yang sifatnya:

  1. Tidak langsung. Bayangan dalam cermin hanya berupa pantulan saja, bukan obyek aslinya.
  2. Tidak lengkap. Kita hanya bisa melihat bayangan yang ada di dalam batas-batas cermin, tidak bisa melihat keseluruhannya.

Tidak berarti bayangan dalam cermin itu salah, atau menyimpang. Demikian pula dengan nubuat dari nabi-nabi Perjanjian Baru. Mereka tidak bertemu muka dengan Tuhan Yesus atau berbicara langsung dengan-Nya, tetapi menerima penyataan dari Tuhan dengan cara tidak langsung. Melalui penyataan itu, mereka juga hanya dapat melihat sebagian dari sebuah realita, bukan semuanya. Agabus bernubuat tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan, tetapi dia tidak mengetahui semua kejadian lain yang akan terjadi (Kisah 11:28; 21:11). Beberapa orang di Tirus mendapatkan pernyataan bahwa ada bahaya yang akan menimpa Paulus jika ia pergi ke Yerusalem[11], namun mereka tidak mengetahui semua yang akan Paulus alami (Kisah 21:4). Beberapa orang di Korintus dapat mengetahui rahasia apa yang ada dalam hati seseorang, tetapi mereka tidak mengetahui seluruh isi hati orang tersebut (1 Korintus 14:25).

Nabi-nabi Perjanjian Baru tidak selalu mengerti dengan jelas dan lengkap apa yang dinyatakan Tuhan kepadanya. Itulah sebabnya tidak tercatat bahwa nabi-nabi dalam perjanjian baru menggunakan frasa “Berfirmanlah Tuhan” atau “Tuhan berkata”, nampaknya frasa tersebut hanya digunakan bagi Alkitab saja.

Kesimpulannya, penyataan yang datang dari Tuhan sangatlah berharga, namun terbatas. Nubuatan nabi-nabi perjanjian baru tidak setara dengan Firman Tuhan, oleh karena itu harus selalu diuji oleh seluruh jemaat, terutama para pemimpin gereja. Penyataan tersebut tidak sempurna, dan orang yang menerimanya pun tidak selalu memiliki pengertian yang jelas.[12] Namun semua hal tersebut tidak membuat orang Kristen tidak perlu bernubuat, kenyataannya Paulus dengan jelas mengajarkan:

Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. (1 Korintus 14:1)

Kenyataan bahwa nubuatan yang disampaikan oleh para nabi di perjanjian baru sifatnya tidak sempurna, tidak lengkap, tidak memiliki otoritas yang sama dengan Alkitab, tidak membuat orang percaya berhenti untuk mengejar karunia tersebut. Alkitab berkata bahwa setiap orang dapat dipakai Tuhan untuk menerima penyataan dari Roh Kudus, dan mereka harus belajar untuk dapat menyadari datangnya sebuah penyataan dari Tuhan, mengerti apa yang Tuhan nyatakan, menyampaikannya kepada jemaat dan siap sedia untuk diuji oleh jemaat. (PT)

Bacaan lebih lanjut

Catatan kaki

  1. ^ Grudem, Wayne A., The Gift of Prophecy in the New Testament and Today. Wheaton, IL: Crossway, 2000., 25.
  2. ^ Ibid., 33.
  3. ^ Ibid., 57.
  4. ^ John Piper menulis bahwa kenyataan bahwa para wanita diperbolehkan bernubuat dalam 1 Kor 11:4-5, sementara dalam 1 Tim 2:12 Paulus melarang mereka untuk mengajar dan memerintah laki-laki memperlihatkan bahwa di mata Paulus nubuat yang disampaikan dalam gereja perjanjian baru tidak memiliki otoritas yang setara dengan Firman Tuhan. http://www.desiringgod.org/what-is-prophecy-today, “What is Prophecy Today?”, diakses 18 April 2020
  5. ^ Ibid., 61.
  6. ^ Ibid., 62.
  7. ^ Ibid., 66.
  8. ^ Ibid., 102.
  9. ^ Kor 14:32 dalam terjemahan IMB: “Roh para nabi tunduk kepada para nabi.” Grudem menulis bahwa pengertian dari ayat ini adalah: “Karya Roh Kudus di dalam diri nabi, tunduk kepada nabi”
  10. ^ David Guzik menulis bahwa nasihat orang-orang Tirus adalah interpretasi manusia dari penyataan Roh Kudus tentang adanya bahaya yang menunggu Paulus di Yerusalem. David Guzik, David Guzik’s Enduring Word Commentary. (David Guzik and Enduring World Media. 2014). Acts 21:4, e-sword.
  11. ^ Ibid., 117.
  12. ^ Grudem, The Gift of Prophecy in the New Testament and Today. 107.

Lihat pula