5 virus karakter dan solusinya (Khotbah Pdt Drs Timotius Adi Tan, MA, CBC)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
5 virus karakter dan solusinya
Timotius Adi Tan-20120805-3x4.jpg

Pdt Drs Timotius Adi Tan, MA, CBC

Ringkasan Khotbah
KebaktianIbadah Raya
TanggalMinggu, 5 Agustus 2012
GerejaGBI Danau Bogor Raya
TempatGraha Amal Kasih
KotaBogor

Shalom, pagi ini begitu luar biasa. Hari ini saya terbeban untuk bicara mengenai Parenting, Mendidik Anak.

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. (Amsal 22:6)

Dalam terjemahan lain dikatakan sejak dini! Menurut psikologi perkembangan, 70% karakter seseorang terbentuk pada usia 0 sampai 12 tahun. Ketika saya menerima kebenaran ini dan mencocokkan dengan Firman Tuhan, dahsyat sekali. Pak SBY menyatakan hal yang sama, masa Golden Age manusia adalah 0-12 tahun. Sesudah 12 tahun, hanyalah pengembangan diri melalui sekolah, bisnis, pertemuan-pertemuan, polesan-polesan saja. Secara Alkitabiah, pedagogik, filsafat, maupun perkembangan, masa itu adalah 0-12 tahun!

Saat reuni SMP saya yang lalu, setelah 35 tahun tidak ketemu saya menemukan hal yang sama. Mereka memang sudah dewasa, ada yang pengusaha, ada yang hamba Tuhan, tapi karakter dasarnya sewaktu SD tidak berubah. Ada seorang teman saya, seorang Profesor di Amerika Serikat, Dosen dalam bidang Bisnis. Walaupun sudah Profesor, tapi ternyata kelakuannya masih seperti SD dulu. Saya menangkap satu hal, ternyata betul, karakter dasar seseorang itu terbentuk dari 0-12 tahun. Betapa dahsyatnya kalau kita masih punya cucu yang masih kecil-kecil, lalu ditanamkan nilai-nilai Firman Tuhan yang dahsyat, apa jadinya? Anak-anak kita akan dipakai Tuhan luar biasa!

Karena itu, sesama saudara sepupu kita sudah menangkap ini. Mereka membuat pesantren-pesantren untuk anak-anak kecil. Orang Yahudi mengajarkan Taurat pada 0-12 tahun dalam Mezbah mereka, sehingga orang Yahudi begitu sukses. Firman Tuhan katakan, ajarkan berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ulangan 6:7)

Setiap hari saya mewawancarai calon karyawan. Satu ketika, sebagai konsultan dan HRD, saya mewawancara sekitar 1700 orang. Dari 1700 itu terpilih hanya 25 orang. Saya melihat selama wawancara berbulan-bulan, dari berbagai universitas terkenal sekalipun, karakter dasar setiap orang ditanam dari orang tuanya!

Saudara, ada anak-anak yang lahir sangat lucu sekali, tertawa bahagia sekali, imut-imut, tapi bayi yang kecil itu yang tadinya imut-imut lucu, waktu dewasanya berubah jadi bengis, narkoba, pembunuh, menghancurkan generasi muda. Tapi ada juga yang sederhana, puluhan tahun kemudian menjadi luar biasa, karena pendidikan melalui Firman Tuhan itu dahsyat sekali!

Ada 5 virus yang menghancurkan anak-anak kita. Sepanjang saya belajar 30 tahun setelah bertobat, kenapa ada orang apatis, hancur, tapi kenapa ada juga yang dipakai Tuhan. Ada 5 virus karakter dan bagaimana cara mengatasinya.

Virus Characters and Solutions

#1 Hypocrisy vs Sincerity and Honesty

Hypocrisy diambil dari bahasa Yunani, ketika seseorang bermain perang, bisa jadi orang baik, penjahat, pendeta, memakai topeng. Virus yang pertama adalah orang yang hidupnya pura-pura. Munafik. Kelihatan di depannya amin, Haleluya, Shalom. Di belakangnya menusuk orang lain, menjelek-jelekkan orang lain. Orang begini tidak punya hati yang kudus.

Cara mengatasinya? Lawan kemunafikan adalah Sincerity dan Honesty, ketulusan hati, kejujuran hati.

Bapak Ibu Saudara semua, tingkat paling tinggi di dalam Kekristenan adalah ketulusan hati. Amin! Ajar anak-anak kita dari sejak kecil untuk tulus hatinya. Apa artinya berbuat baik tapi tidak tulus? Apa gunanya suka memberi tapi tanpa ketulusan, ujung-ujungnya fulus!

Apa artinya melayani Tuhan tapi hatinya jahat dalam hidupnya? Apa gunanya kita melakukan semua hal dalam hidup kita tanpa ketulusan? Ketulusan berbicara hati nurani. Orang yang tulus akan sangat berbeda. Orang yang tulus adalah orang yang melakukan apa yang Tuhan mau, tidak enak sekalipun. Ajar anak kita sejak kecil, kalau ada berantem dengan kakaknya/adiknya/mama/papanya, jangan sampai matahari terbenam, harus selesaikan dengan cepat, supaya hatinya menjadi tulus! Ketika ada dosa, kesalahan, cepat ajarkan untuk berlutut mengaku dosa kepada Tuhan. Sejak kecil, anak diajarkan untuk transparan dan hatinya yang tulus. Ketika suami istri sedang bertengkar, jangan sampai akhirnya dipendam. Tidur saling membelakangi. Kejujuran hati adalah langkah pertama yang sangat penting.

Ketika saya berkhotbah di Bandung, ada telepon berdering, Perusahaan Kimia besar di Indonesia minta saya berbicara dalam Regional. Saya dijanjikan fee sekian-sekian yang nilainya cukup besar. Ketika buka jadwal, saya kaget, karena pada hari yang sama itu saya sudah ada jadwal untuk membawakan seminar di BPK Penabur.

Secara daging, saya ingin membatalkan di sekolah itu. Tapi hati nurani saya bilang, jaga ketulusan hati. Tuhan ingatkan, waktu pelayanan masih muda, engkau ke kampung-kampung, ke pedalaman tanpa minta upah, hanya dikasih pisang, singkong, dan lain-lain, Trace back lagi, saya mengajar di Sekolah Minggu, Remaja, Umum, bisa tulus. Tapi kenapa yang ini saya tidak bisa tulus? Lalu saya minta ampun pada Tuhan. Saya nangis.

Otak selalu berbicara "untungnya berapa"? Tapi hati bicara mengenai ketulusan, kejujuran, honesty, hati nurani. Karena itu Alkitab katakan, Amsal 4:23, Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Segala sesuatu, start from your heart, melayani Tuhan harus dengan hati yang tulus, bukan fulus. Tuhan bukan melihat kepintaran, jabatan, pengalaman, Tuhan melihat hati.

Esoknya saya telepon ke BPK Penabur, saya konfirmasi, ternyata tanggalnya benar dan informasi seminar itu sudah disebarkan, sudah tidak bisa dibatalkan lagi. Kesempatan untuk berbicara di perusahaan besar pun hilang, tapi hati saya penuh damai sejahtera. Dan Tuhan pun tidak pernah berhutang, tidak lama kemudian saya dikontrak BCA 2 tahun, dan itulah kenapa saya bisa menyekolahkan anak pertama saya, Shienny, ke Singapura. Tuhan melihat orang yang tulus hatinya! Amin!

#2 Selfish vs Learning to give and sharing

Racun kedua adalah selfish. Mementingkan diri sendiri. Kita harus sedih kalau kita menemukan dalam diri Saudara, anak-anak kita, menantu, cucu kita, virus keegoisan ini.

Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. (Yakobus 3:16)

Ada istri membunuh suaminya sendiri. Kakak-beradik karena urusan ratusan-milyaran-triliun rupiah, akhirnya saling membunuh. Kenapa? Karena egois. Ajar anak-anak kita, lawan dari selfish adalah learn to give and sharing. Membagi kehidupan.

Ajarkan! Mulai sharing dalam kehidupan. Saya ajarkan anak-anak dari kecil, setiap awal bulan, sini lihat, saya kirim uang ke Popoh saya dan ke Mama saya. Mereka tanya, "Kenapa gede amat Pa? Lebih baik beli tas." Henry, Shienny, harus belajar berbakti kepada orang tua, kirim untuk Mama, Nenek. Setiap awal bulan, saya suka bawa anak ke depan, saya tunjukkan, kasih ke Satpam. Kenapa Pa? Karena mereka gajinya terbatas, anak-anaknya tidak bisa sekolah. Saya ajarkan anak-anak saya untuk berbagi.

Ajarkan itu dari sejak dini! Salah satu tempat yang paling dahsyat adalah di gereja. Engkau bisa belajar melayani dengan tulus. Anak-anak muda belajar melayani. Ada seorang anak muda, satu kali pacarnya direbut seorang pemuda lain. Suatu kali, saat dia menjadi usher, ternyata si perebut pacarnya itu datang. Secara manusia ingin memukul, tapi dia belajar berkorban. Dia menyalami dengan baik.

Gereja adalah satu tempat equip yang paling dahsyat. Di gereja harus muncul Pengusaha paling hebat karena sudah dipersiapkan! Di gereja harus dipersiapkan umat yang layak agar nama Tuhan dipermuliakan! Gereja bukan tempat berdoa saja, bukan cuma mencari wajah Tuhan. Mencari wajah Tuhan itu harus! Tapi gereja harus mempersiapkan orang-orang yang akan menjadi entrepreneur-entrepreneur yang dahsyat. Amin! Bawa anak-anak kita ke komunitas, ajar untuk melayani. Baik di gereja, di perusahaan. Kata kuncinya: melayani.

#3 Instant vs Sacrifice

Semua ingin cepat. Inilah salah satu virus yang menghancurkan anak-anak muda sekarang.

Bapak, Ibu, teman-teman, ketika memandang satu masalah, jangan picik. Kita harus lihat 2 segi, seperti mata uang, ada depan ada belakang. Anak-anak muda kita adalah instan, tapi ada sisi baiknya yaitu kecepatan yang luar biasa. Generasi sekarang sangat cepat, mereka tidak senang office hour. Saya punya anak Pendalaman Alkitab 14 orang, hebat-hebat. Tapi tidak ada satupun bekerja di Perusahaan. Mereka ingin cepat, mereka ingin jadi entrepreneur. Mereka ingin instan, tapi bukan dalam artian negatif. Kita jangan berpikir negatif dulu terhadap ke-instan-an mereka. Bapak Ibu, mereka sangat pintar, lebih dari generasi kita. Positifnya, mereka sangat cepat sekali. Khotbah-khotbah bisa sangat cepat sekali tersebar di seluruh dunia. Contoh, Bong Chandra hanya umur 21 tahun bisa mengumpulkan aset 270 milyar. Merry Riyana, USD 1 juta.

Tapi ada sisi bahaya juga dari instan. Dalam hidup kita harus ajarkan yang namanya Sacrifice. Pengorbanan. Perjuangan. Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan. Jangan gampang-gampang anak-anak diberi uang banyak, mereka akan jadi orang yang sangat lemah. Ajarkan anak-anak dari kecil, ketika mau HP, tahan dulu, tabung dulu. Saatnya tiba baru dikasih.

Empat "P" dalam hidup:

  • ketika orang ada Problem,
  • ditambah Pain (sakit, gesekan),
  • ditambah Pressure (tekanan),
  • akan menghasilkan anak-anak yang punya Purity (kemurnian) dan karakter yang kuat!

Tidak ada kesedihan yang lebih sedih kalau anak kita hancur, cerai, habis, tidak ada gunanya. Mungkin kita kaya hebat pelayanan di mana-mana, tapi kalau anak kita hancur, tidak ada gunanya. Selagi masih ada kesempatan, bawa kepada Kristus!

#4 Pessimism vs Optimism

Pesimisme itu sangat berbahaya. Mungkin ada anak yang curhat sama Papanya, "Pa, saya mah bodoh di kelas, IQ saya bukan cuma jongkok, tapi tiarap, teman-teman bilang saya ngomongnya cadel, idungnya cut bray, teman-teman ngomong Papa kamu supir angkot, miskin, kamu mah ngga bisa apa-apa!"

Orang pesimis tidak akan pernah sukses dalam hidupnya. Ajarkan anak-anak Anda dalam hidup ini untuk Optimism. Iman mengalahkan segala-galanya. Iman bernyanyi pada waktu malam, walaupun belum ada matahari. Iman, bahwa selalu ada jalan keluar di dalam Yesus Kristus Tuhan. Selalu ada mujizat terjadi karena Yesus Tuhan!

Ada 2 cara tercepat bagaimana orang bisa pede pada waktu kecil:

  • Pertama, kenalkan pada Kristus Tuhan. Tanamkan rasa berharga kamu bukan karena penampilan kamu seperti artis, mobil mewah banyak, rasa berharga kamu bukan karena ranking satu, tapi karena Yesus Kristus mencintai kamu sebagaimana apa adanya. Rasa berharga paling kuat adalah di dalam Yesus Tuhan Raja. Haleluya! Dari remaja ajarkan, walaupun kondisi begini, kamu dicintai Tuhan karena Yesus mencintai kamu apa adanya.
  • Kedua, temukan bakatnya. Apa talenta dan minatnya? Apa dia senang olah raga, musik, desain, marketing? Ketika menemukan talentanya, orang akan percaya diri tinggi. Kalau senang baca puisi, ikutkan lomba baca puisi. Suka berenang, lombakan berenang. Ketika bisa melakukan sesuatu sesuai passion-nya maka percaya dirinya akan tinggi!

Dua dasar ini akan membawa anak-anak kita optimis dalam hidupnya.

#5 Rebel vs Respect

Ini yang paling penting. Virus kelima, pemberontakan. Generasi ini sudah masuk dalam generasi rebellion, pemberontak. Banyak anak yang berontak pada orang tuanya. Di Perusahaan-Perusahaan, banyak kali saya melihat orang-orang yang tidak menghormati pemimpinnya, tidak submission. Banyak orang yang tidak menghormati orang yang sudah ditetapkan Tuhan!

Apa akar masalahnya? Karena sejak kecil anak itu tidak diajarkan hormati orang yang lebih tua, tidak menghormati pemimpinnya. Mungkin orang yang lebih tua, pemimpin, memang banyak kesalahan, tapi Tuhan suruh bukan tanduk tapi tunduk! Amin!

Ajarkan sejak kecil respect, menghormati. Dalam Alkitab ada hubungan covenant, takut akan Tuhan. Hormat akan orang tua, atasan, juga di gereja, ini sangat penting, ajar sejak kecil anak untuk takut akan Tuhan! Takut akan Tuhan adalah awal dari semua pengetahuan dari dunia ini. Takut akan Tuhan artinya menghormati Tuhan.

Apa akibatnya kalau sejak kecil menghormati Tuhan? Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi. TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka. (Mazmur 25:12-14)

Buku saya tentang Decision, ini adalah dasarnya. Kalau intim dengan Tuhan, Alkitab katakan, Tuhan akan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Amin. Anak kita akan diberitahukan, ke mana kamu harus mengambil jurusan, saya percaya Tuhan yang menunjukkan jalannya. Anak kita akan diberitahu dengan siapa akan menikah. Tuhan yang akan memberitahukan kepada mereka yang respect akan Tuhan! Orang yang respek akan Tuhan, akan mewarisi bumi, bersama anak cucunya. Orang yang takut akan Tuhan, akan diberitahukan hikmat, inspirasi, kejeniusan dari janji-janji Tuhan di bidang apapun dia bekerja.

Penutup

Repetisi adalah the mother of teaching. Ini adalah karakter Yesus Kristus; Sincerity and Honesty, Learning to give and sharing, Sacrifice, Optimism, dan Respect. Ini bukan filsafat, pedagogi, ini adalah kehidupan Kristus. Kalau kehidupan Kristus ada dalam anak-anak kita, Wow! Nama Tuhan dipermuliakan. Amin!

Kurenungkan FirmanMu siang dan malam
Kupegang perintahMu dan kulakukan
Engkau tahu ya Tuhan tujuan hidupku
Hanyalah untuk menyenangkan hatimu