Ahitofel: Bahaya menyimpan kesalahan orang lain (Pdt Boy Arifin Djambek)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Menyimpan kesalahan orang lain dapat membawa dampak yang sangat berbahaya, yaitu kehilangan kepekaan rohani, kehilangan nama baik, dan bahkan kehilangan masa depan yang Tuhan rancangkan. Melalui kisah Ahitofel, kita belajar bahwa luka, kekecewaan, sakit hati, dan kepahitan yang tidak dibereskan akan berkembang menjadi dendam yang menghancurkan diri sendiri. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk melepaskan pengampunan, supaya tetap peka terhadap Tuhan, menjaga kesaksian hidup, dan tidak kehilangan hari depan penuh harapan yang Tuhan sediakan.

Shalom, terima kasih buat Bapak Gembala, Pdt Sutadi Rusli, dan segenap pelayan jemaat, saya dapat bersama-sama dengan Bapak/Ibu di minggu terakhir bulan Maret ini. Siapa menikmati hadirat Tuhan yang indah di tengah kita? Haleluya!

Lima hari lagi kita akan memperingati bersama di tempat ini pengorbanan yang terbesar dari Tuhan kita, Yesus Kristus, mati di kayu salib supaya dosa Bapak, Ibu, Saudara, dan saya beroleh pengampunan.

Saya teringat satu tokoh Alkitab, namanya Ahitofel. Nama Ahitofel ini pertama kali muncul di 2 Samuel 15:12 dan berlanjut sampai 2 Samuel 17:23. Lalu kemudian disebut lagi di 2 Samuel 23:34 dan terakhir di 1 Tawarikh 27:33-34.

Kisah Ahitofel ini dibingkai dengan satu pesan buat Bapak/Ibu/Saudara. Kita baru melalui satu minggu yang penuh dengan maaf-memaafkan, lalu kita akan memasuki Jumat Agung, di mana untuk pengampunan dosa kita Tuhan Yesus rela mati di kayu salib. Maka tema khotbah pada pagi hari ini yaitu: Bahaya menyimpan kesalahan orang lain. Bahaya ketika kita tidak melepaskan pengampunan. Bahaya ketika kita tidak memberikan maaf kepada orang-orang yang bersalah kepada kita.

Dan tema ini penting hari-hari ini. Karena situasi dunia sedang mengalami gejolak, goncangan, perang yang begitu keras. Siapa yang setuju dengan saya, kemungkinan orang berbuat salah kepada kita hari-hari ini semakin meningkat? Yang setuju boleh lambaikan tangan. Karena itu kita perlu perhatikan pesan ini.

Bahaya ketika kita menyimpan kesalahan orang lain:

  • Kesalahan itu ketika tidak cepat dibereskan, akan membuahkan kekecewaan.
  • Kalau kekecewaan itu tidak segera dibereskan, meningkat menjadi sakit hati.
  • Kalau sakit hati tidak segera dibereskan, dia jadi kepahitan.
  • Yang paling repot, kalau kepahitan tidak dibereskan, dia menghasilkan dendam.

Dan kalau dendam ini ketemu dengan saudara kandungnya, ada yang tahu namanya siapa? Kesumat. Kalau sudah jadi dendam kesumat, itu susah untuk balik lagi.

Nah, kisah ini digambarkan oleh seorang yang bernama Ahitofel.

#1 Bahaya yang pertama: kehilangan kepekaan rohani

Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? (Galatia 3:3)

Ini pesan Paulus, teguran Paulus, kepada jemaat di Galatia. Mereka sudah mengalami Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Itu berarti sudah mulai dengan Roh. Berapa banyak di tempat ini yang sudah percaya Yesus Kristus adalah satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat? Amin! Berarti Bapak, Ibu, Saudara, dan saya, kita sudah mulai dengan Roh. Dan Paulus mau kita yang sudah mulai dengan Roh, kita mengakhirinya juga dengan Roh. Jangan mengakhiri dengan daging.

Jemaat Galatia di tengah jalan mau balik kembali kepada agama mereka yang lama, agama Yudaisme. Dan ini ditegur oleh Paulus. Kita mulai dengan Roh, kita mengakhiri dengan Roh. Amin!

Sekarang kita lihat siapa sih yang namanya Ahitofel itu sampai dia bisa kehilangan kepekaan rohani.

Ahitofel adalah penasihat raja, dan Husai, orang Arki, adalah sahabat raja. (1 Tawarikh 27:33)

Ahitofel di sini adalah penasihat Raja Daud. Dan Raja Daud sampai zaman Perjanjian Baru dikenal sebagai orang yang intim dengan Tuhan.

Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. (Kisah Para Rasul 13:22b)

Daud ini terus dikenang sebagai orang yang hatinya melekat sama Tuhan. Kalau bahasa Bapa Rohani kita, Pak Niko, DNA gereja kita adalah Restorasi Pondok Daud. Daud menjadi contoh bagaimana orang yang paling intim dengan Tuhan.

Nah, orang yang paling intim dengan Tuhan punya penasihat namanya Ahitofel.

Kalau kita mau mengintip gaya hidup Daud, misalnya dalam Mazmur 101, Daud berkata kira-kira begini: dia mau hidup tidak bercela, membenci perkara murtad, tidak suka hati yang bengkok, tidak mau orang yang mengumpat temannya diam di rumahnya, dan orang yang hidup dengan tidak bercela itulah yang melayani dia. Jadi artinya Ahitofel sudah lulus seleksi dari seorang raja yang berkenan di hadapan Tuhan. Berarti Ahitofel ini dianggap orang yang setia. Lalu kemudian:

Pada waktu itu nasihat yang diberikan Ahitofel adalah sama dengan petunjuk yang dimintakan dari Allah. Demikianlah dinilai setiap nasihat Ahitofel, baik oleh Daud maupun oleh Absalom. (2 Samuel 16:23)

Jadi apa yang keluar dari lidah Ahitofel, nasihat yang diberikan itu dianggap sama dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan, atau sama dengan Firman Tuhan. Itu hebatnya seorang Ahitofel. Dia peka dengan Tuhan. Dan Daud yang peka dengan Tuhan juga bisa sehati dengan Ahitofel.

Bisa jadi bukan hitungan satu dua hari atau satu dua tahun. Nanti kalau kita pelajari Alkitab, kita bisa memperkirakan bahwa Ahitofel ini mungkin sudah puluhan tahun bersama dengan Daud sebagai penasihat. Jadi sampai di sini kita tahu bahwa Ahitofel adalah orang yang sungguh-sungguh rohani! Ini benar-benar orang yang peka sama Tuhan, menyampaikan pesan-pesan Tuhan, dan nasihatnya itulah yang membuat kerajaan Daud menjadi jaya.

Kejatuhan Ahitofel

Tapi apa yang terjadi?

  1. Mengkhianati Daud
  2. Yang pertama, kejatuhan Ahitofel yang mulai dengan Roh berakhir dengan daging. Ketika namanya pertama kali dicatat dalam kisah yang kita baca, itulah saat anaknya Daud yang bernama Absalom kudeta kepemimpinan dari papanya sendiri, mengambil alih menjadi raja Israel.

    Ketika Absalom hendak mempersembahkan korban, disuruhnya datang Ahitofel, orang Gilo, penasihat Daud, dari kotanya, yakni Gilo. Demikianlah persepakatan gelap itu menjadi kuat dan makin banyaklah rakyat yang memihak Absalom. (2 Samuel 15:12)
    Lihat betapa besar pengaruh Ahitofel di Israel. Begitu gabung dengan Absalom, langsung rakyat itu begitu banyak ikut mendukung Absalom menggantikan Daud sebagai raja di Israel. Itu yang pertama. Yang sudah puluhan tahun dengan Daud, hari itu bukannya dia ikut Daud, tapi dia justru dukung Absalom yang kudeta bapaknya sendiri.
  3. Menasehati percabulan
  4. Yang kedua, ketika diminta nasihat sama Absalom, apa yang diberikan oleh Ahitofel? Ia memberi nasihat yang sangat jahat, yaitu menyuruh Absalom meniduri gundik-gundik bapaknya, Daud, di hadapan seluruh Israel. Bayangkan, orang yang tadinya peka dengan Tuhan, hari itu bisa memberikan nasihat tentang percabulan.
  5. Ingin membunuh Daud
  6. Lalu yang berikutnya lebih seru lagi:

    Berkatalah Ahitofel kepada Absalom: Izinkanlah aku memilih dua belas ribu orang. Maka aku akan bersiap dan mengejar Daud pada malam ini juga. Aku akan mendatangi dia selagi ia lesu dan lemah semangatnya, dan mengejutkan dia. Seluruh rakyat yang ada bersama-sama dengan dia akan melarikan diri. Maka aku dapat menewaskan raja sendiri. (2 Samuel 17:1-2)

    Saudara, puluhan tahun dengan Daud, hari itu dia tekad bulat — dendam ketemu dengan kesumat — dia harus bunuh Daud itu yang dia layani puluhan tahun.

    Tapi atas kedaulatan Tuhan, Tuhan masih berkenan sama Daud. Ada Husai, sahabat raja, menyusup di tempatnya Absalom, kasih nasihat yang lain, sehingga Ahitofel tidak jadi diizinkan untuk mengejar Daud. Andai Absalom ikut nasihat Ahitofel, selesai riwayat Daud malam itu juga.
  7. Bunuh diri
  8. Lalu apa yang terjadi dengan Ahitofel?

    Ketika dilihat Ahitofel bahwa nasihatnya tidak dipedulikan, dipasangnya pelana keledainya, lalu berangkatlah ia ke rumahnya, ke kotanya. Ia mengatur urusan rumah tangganya, kemudian menggantung diri. Demikianlah ia mati, lalu ia dikuburkan dalam kuburan ayahnya. (2 Samuel 17:23)
    Di sini kita tahu kenapa tidak ada di antara kita yang bernama Ahitofel. Kenapa enggak ada kenalan Saudara yang bernama Ahitofel. Karena akhir hidupnya itu, dari manusia Roh, bisa demikian jatuhnya, mati bunuh diri, karena tidak berhasil membunuh Daud. Bisa jadi Ahitofel berpikir, “Daripada gua harus lihat muka Daud lagi, lebih baik gua bunuh diri.

Mengapa bisa diawali Roh diakhiri daging?

Kenapa bisa demikian? Mulai dengan Roh, peka puluhan tahun jadi penasihatnya Daud, membawa kerajaan dalam kejayaan, tapi bisa diakhiri dengan daging.

Elifelet bin Ahasbai, anak orang Maakha; Eliam bin Ahitofel, orang Gilo. (2 Samuel 23:34)

Di sini ada daftar pahlawan-pahlawannya Daud. Salah satunya tercatat ada nama Eliam, anaknya Ahitofel. Jadi rupanya Ahitofel ini, kalau istilah kita, bersama dengan keluarganya, ring satu-nya Daud. Bapaknya jadi penasihat, lalu anaknya jadi salah satu pasukan utama Daud yang namanya Eliam.

Sekarang kita mundur ke belakang. Ketika Daud santai di istananya, sementara yang lain maju perang, zaman raja-raja berperang, Daud santai di istana. Lalu dia mengintip, ada yang lagi mandi. Namanya siapa? Batsyeba.

Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu, dan orang berkata: Bukankah itu Batsyeba binti Eliam, istri Uria, orang Het itu? (2 Samuel 11:3)

Nah, di sini kita ketemu masalahnya. Raja yang dilayani selama ini, yang Ahitofel jaga hidup rohaninya, kepekaan rohaninya, supaya menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada Daud, yang membawa kerajaannya dalam kejayaan, hari itu raja yang dilayaninya berzinah dengan cucunya sendiri.

Saudara, bisa jadi Batsyeba ini adalah cucu perempuan Ahitofel. Waktu kecil mungkin ditimang-timang, lalu ketika dewasa dijodohkan dengan Uria, salah satu dari 30 pasukan utama Daud. Tapi hari itu sang raja yang katanya peka dengan Tuhan juga, yang intim dengan Tuhan, jatuh dalam dosa, berzinah dengan cucunya Ahitofel.

Lalu kemudian, walaupun Daud tidak secara langsung membunuh, dia memberi komando supaya Uria ditaruh di medan peperangan yang berat. Tujuannya apa? Supaya Uria mati. Dan betul, Uria mati di medan perang.

Secara manusia mungkin enggak ketahuan, tapi Tuhan Allah tahu. Jangan salah, Bapak, Ibu. Dosa adalah dosa. Yang dilakukan Daud itu dosa yang berat. Tapi Daud merendahkan diri di hadapan Tuhan. Keluarlah Mazmur 51. Setelah ditegur oleh Nabi Natan, Daud bertobat sungguh-sungguh, dan Tuhan mengampuni kesalahannya, sehingga dikenal sampai Perjanjian Baru sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan.

Sayangnya Ahitofel, dia simpan kesalahan Daud itu. Dibuahkan kekecewaan, sakit hati, kepahitan, sampai akhirnya dendam.

Kalau kita boleh hitung rentang waktunya, peristiwa Daud menghampiri Batsyeba kemungkinan ketika Daud berusia sekitar 50 tahun. Daud mulai jadi raja umur 30 tahun, memerintah 40 tahun, berarti wafat umur 70. Pemberontakan Absalom kira-kira saat Daud berusia 60–65 tahun. Kalau kita ambil 65, berarti selama 15 tahun Ahitofel menyimpan itu.

Bisa jadi Ahitofel diam-diam mundur, tidak lagi dekat dengan Daud. Dia kembali ke kampung halamannya, Gilo. Dia tunggu kesempatan selama 10-15 tahun, sampai tiba waktunya dia dukung Absalom. Dia mau bunuh Daud. Sayang gagal. Dan dia mati bunuh diri.

Sekali lagi, dosa adalah dosa. Itu dosa yang berat yang Daud lakukan. Mencemari cucunya Ahitofel, menghancurkan rumah tangganya bersama suaminya yang bernama Uria, lalu Uria dibunuh lewat tangan orang lain. Dan itulah yang tidak bisa dilepaskan dalam pengampunan oleh seorang yang namanya Ahitofel.

Kasih tahu kiri kanan: ampuni saja!

#2 Bahaya yang kedua: kehilangan nama baik

Kalau kita baca 2 Samuel 23:34, itu pasal terakhir kitab Samuel. Berarti sampai ujung akhir hidupnya Daud, yang namanya Eliam itu masih tercatat sebagai salah satu dari 30 pasukan utamanya Daud. Orang pilihan Daud. Sampai akhir pemerintahan Daud, Eliam tetap tercatat.

Tapi ketika nama Ahitofel dicatat dalam 1 Tawarikh 27:34:

dan sesudah Ahitofel ialah Yoyada bin Benaya dan Abyatar. Adapun panglima tentara raja ialah Yoab.

Namanya selesai di situ. Sudah tidak lagi dikenang sebagai penasihat raja.

Dua orang menghadapi masalah yang sama. Ahitofel, berarti Batsyeba adalah cucunya. Eliam, berarti Batsyeba adalah anaknya. Tapi responsnya berbeda.

Yang satu menyimpan kesalahan orang lain, berakhir dalam daging, mati bunuh diri. Yang satu melepaskan pengampunan, Eliam, tetap move on, tetap melayani Daud sebagai salah satu pasukan utamanya.

Kalau mau ngomong-ngomong, andai mau menjatuhkan Daud, yang lebih potensial siapa? Ahitofel atau Eliam? Eliam mestinya. Dia salah satu dari 30, dia sehati dengan teman-temannya. Dia bisa ajak, “Gulingkan itu Daud, raja kurang ajar, menodai putriku, menghabisi menantuku.” Tapi ajaibnya Eliam melepaskan pengampunan. Namanya tetap tercatat.

Yang paling bahaya, Bapak, Ibu, Saudara, seperti Amsal mengajarkan, nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar. Nama yang harum lebih baik daripada minyak yang mahal.

Tapi yang lebih penting bukan hanya jaga nama kita di tengah dunia ini. Hari-hari ini Bapak rohani kita mengingatkan bahwa kita semua harus menjadi muridnya Tuhan Yesus Kristus. Siapa muridnya Tuhan Yesus di tempat ini? Siapa yang mau sampai akhir hidup kita tetap menjadi murid Kristus yang memuridkan orang lain, menuntaskan Amanat Agung? Lambaikan tangan. Berikan tepuk tangan buat Tuhan kita.

Jaga jangan sampai ketika kita menyimpan kesalahan orang lain,

  • nama baik kita di dunia Kekristenan — sebagai hamba Tuhan, pelayan jemaat, jemaat Gereja Bethel Indonesia Danau Bogor Raya — itu hilang. Biarlah kita jaga sampai akhir hidup kita.
  • Dan yang paling penting, bukan hanya nama baik di dunia ini, tapi jangan sampai nama kita dihapus dari kitab kehidupan!

Amin!

#3 Bahaya yang ketiga: kehilangan masa depan

Kehilangan masa depan, ini yang paling menyedihkan.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Siapa yang mau memiliki hari depan yang penuh dengan harapan? Amin!

Ini ayat Tuhan berikan di kitab Yeremia ketika orang Israel itu berontak sama Tuhan, dihukum masuk masa pembuangan 70 tahun di Babel. Menjelang akhir masa penghukuman, Tuhan kasih tahu ayat ini. Sebenarnya Tuhan bukan mau menghukum, tapi menghukum itu supaya Israel bertobat. Kalau sudah tobat, sebenarnya apa yang Tuhan ada dalam hati-Nya untuk Bapak, Ibu, Saudara dan saya? Hanya ada rancangan damai sejahtera. Hanya ada hari depan yang penuh harapan.

Haleluya!

Ingat baik-baik di tengah dunia yang bergoncang ini, itu rancangan Tuhan. Tapi sayang, Ahitofel ambil jalan pintas. Dia mati bunuh diri.

Andai kalau peristiwa itu terjadi ketika Daud berusia 65 tahun, umur 70 Daud wafat digantikan siapa? Salomo. Siapa Salomo? Anaknya dari Batsyeba. Atau dengan kata lain, cicitnya Ahitofel.

Andai Ahitofel melepaskan pengampunan, dan Tuhan kasih umur panjang 5–10 tahun lagi, maka akan banyak orang bernama Ahitofel, dan Ahitofel akan bersaksi bahwa Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia, yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Sayang Ahitofel ambil jalan pintas: mati bunuh diri.

Itu yang membedakan Bapak/Ibu, Saudara, dan saya dengan Ahitofel. Kita masih dikasih kesempatan sama Tuhan melihat hari depan yang penuh dengan harapan, rancangan damai sejahtera yang Tuhan sediakan buat kita.

Walaupun mungkin ada di antara kita yang sedang mengalami rasanya hidup dihancurkan, hidup disakiti oleh orang-orang yang berbuat salah dalam hidup kita, tapi ingat kisah Ahitofel ini. Lebih baik kita lepaskan pengampunan. Jangan simpan kesalahan orang lain, supaya kita sama-sama melihat hari depan yang penuh dengan harapan, rancangan damai sejahtera.

Siapa yang mau melihat hari depan yang penuh dengan harapan, rancangan damai sejahtera? Berikan tepuk tangan buat Tuhan kita. Haleluya!

Tuhan Yesus memberkati.

Video