Oleh iman Abraham taat dalam perjalanannya di dunia

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Oleh iman Abraham taat dalam perjalanannya di dunia

Saat Teduh
Tanggal Sabtu, 26 Oktober 2019
Sebelumnya Jumat, 25 Oktober 2019
Selanjutnya Minggu, 27 Oktober 2019

Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. (Ibrani 11:8-10)

Abraham adalah teladan yang paling menarik dalam mempelajari bagaimana kita bisa berjalan dalam iman. Salah satu pelajaran dari kehidupan Abraham adalah bagaimana iman kepada Allah membuat kita sanggup meninggalkan situasi yang sudah kita kenal, mengikut Tuhan untuk masuk ke dalam situasi yang baru dan tidak kita kenal. Lebih dari itu, teladan Abraham memperlihatkan kepada kita bagaimana kita menghadapi seluruh perjalanan kehidupan kita di bumi ini. Kita dapat melihat semuanya ini dalam ketaatan Abraham dalam perjalanannya di dunia ini dalam iman.

Tuhan memanggil Abraham untuk meninggalkan tanah airnya dan mengikuti Tuhan ke tanah yang baru yang akan Tuhan berikan kepadanya. “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu” (Kejadian 12:1). Abraham mentaati perintah Tuhan dengan melangkah ke dalam sebuah perubahan yang sangat besar. “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya.” Ia percaya kepada pimpinan Allah, walaupun ia tidak mengetahui ke mana ia akan pergi. “Lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” Ketika ia tiba di tanah yang dijanjikan tersebut, ia juga harus melangkah dalam iman untuk dapat tinggal di sana sebagai orang asing. “Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing.” Kemudian tahun demi tahun ia harus tinggal dari satu perkemahan ke perkemahan lain bersama anak dan cucunya, yang juga merupakan ahli waris dari tanah tersebut: “di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.”

Ada saatnya ketika Tuhan memanggil kita untuk taat kepada-Nya dan memasuki suatu perubahan yang besar. Hanya kepercayaan kita kepada Allah, seperti Abraham, yang dapat membuat kita tetap bertahan. Sesungguhnya, walaupun situasi di sekitar kita berubah atau tetap sama, kita harus menghadapi kehidupan ini seperti Abraham, yaitu dalam iman. Dunia ini sudah dijanjikan untuk diberikan kepada anak-anak Allah suatu saat nanti.

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi” (Matius 5:5). Sampai saatnya nanti Tuhan menggenapi janji-Nya itu, kita harus tinggal di dunia ini sebagai pendatang, kita ada di dunia ini, tetapi bukan dari dunia ini. Berjalan bersama Allah dan semakin mengenal Dia. Sementara itu, seperti Abraham, kita menunggu dengan iman untuk datangnya kota kekal yang bukan buatan manusia. “Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.”

Doa

Ya Allah Abraham, aku ingin mengandalkan Engkau waktu aku menghadapi perubahan dalam hidup ini, seperti Abraham. Saat aku tinggal di dunia ini, aku memandang kepada Mu untuk memelihara aku dan memakai aku sebagai alat-Mu – sementara aku menantikan kedatangan-Mu kembali. Amin.