Nebukadnezar menjadi contoh dari kasih karunia Tuhan terhadap kerendahan hati

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Nebukadnezar menjadi contoh dari kasih karunia Tuhan terhadap kerendahan hati

Saat Teduh
Tanggal Selasa, 24 September 2019
Sebelumnya Senin, 23 September 2019
Selanjutnya Rabu, 25 September 2019

Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu… Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi… Pada waktu akal budiku kembali kepadaku… aku dikembalikan kepada kerajaanku... Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak. (Daniel 4:34-37)

Ketika Nebukadnezar meninggikan dirinya sendiri, ia menjadi contoh dari penolakan Allah terhadap kesombongan. “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?" Raja belum habis bicara, ketika suatu suara terdengar dari langit: "Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu” (Daniel 4:30-31). Ketika ia merendahkan dirinya sendiri, ia menjadi contoh dari kasih karunia Allah terhadap sikap rendah hati. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (1 Petrus 5:5).

Nebukadnezar digiring ke padang rumput untuk hidup seperti binatang. “Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung” (Daniel 4:33). Waktu di mana penolakan Allah terhadap kesombongan Nebukadnezar berhenti ketika ia memandang kepada Allah. “Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku.” Sekarang, dengan akal yang mampu berpikir dengan benar, ia mulai memberikan pujian dan penghormatan kepada Allah yang Mahatinggi. “Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu.”

Kejadian ini memperlihatkan sebuah perubahan yang terjadi kepada raja Nebukadnezar. Sebelumnya, ia meninggikan dirinya sendiri. Sekarang, ia meninggikan Allah. Sebelumnya, ia mengira bahwa ia sendirilah yang mengangkat dirinya ke atas tahta. Sekarang, ia melihat kehendak Allah dibalik kenaikannya menjadi raja. “Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi.” Tuhan kemudian menganugerahkan kasih karunia kepada raja yang merendahkan dirinya ini, yang sebelumnya berjalan dalam keangkuhan. “Pada waktu akal budiku kembali kepadaku… aku dikembalikan kepada kerajaanku.” Setelah kembali duduk di atas tahta, ia memberikan penghormatan kepada Raja sorga. “Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga.” Lalu, ia menambahkan sebuah pernyataan yang memperlihatkan sebuah kepercayaan yang baru yang ia temukan ketika ia direndahkan. “Dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak”

Doa

Allah yang Mahatinggi, aku mengakui bahwa kadang ketika aku mengalami keberhasilan aku berasumsi bahwa itu adalah hasil pekerjaanku. Terima kasih untuk kasih karunia-Mu yang selalu Engkau limpahkan ketika aku mengembalikan hormat kepada-Mu. Tolong aku agar mataku selalu memandang Engkau supaya aku dapat berpikir dengan pengertian yang benar dan memberikan semua hormat dan pujian kepada-Mu setiap hari. Amin.