Yesus menjanjikan kelegaan rohani

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Yesus menjanjikan kelegaan rohani

Saat Teduh
Tanggal Senin, 12 Agustus 2019
Sebelumnya Minggu, 11 Agustus 2019
Selanjutnya Selasa, 13 Agustus 2019

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan. (Matius 11:28-30)

Dua dari janji Tuhan “yang berharga dan yang sangat besar” (2 Petrus 1:4) ada dalam ayat renungan kita hari ini: “Aku akan memberi kelegaan” dan “jiwamu akan mendapat ketenangan.” Janji-janji ini melengkapi perenungan kita mengenai janji-janji Tuhan dan perhentian Tuhan. Janji yang pertama berhubungan dengan pembenaran dan kelahiran baru. Janji yang kedua berhubungan dengan pengudusan dan pendewasaan rohani.

Janji yang pertama ditujukan kepada mereka yang bergumul dengan beban rasa bersalah dan dakwaan dosa: “Semua yang letih lesu dan berbeban berat.” Inilah kondisi semua manusia pada awal perjalanan mereka di dunia ini. Daud bersaksi mengenai titik awal perjalanan seorang manusia. “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mazmur 51:7).

Agar dapat menikmati janji mengenai kelegaan yang pertama ini, seseorang harus membawa dosa dan rasa bersalah mereka kepada Yesus. “Marilah kepada-Ku.” Tuhan Yesus dapat menghapus beban dosa ini, karena Ia sudah menanggungnya di kayu salib bagi kita. “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:6). Siapa pun yang datang kepada Yesus dengan rendah hati dalam pertobatan akan menerima pengampunan. Janji ini digenapi. “Aku akan memberi kelegaan.”

Janji yang berikutnya ditujukan kepada mereka yang sudah menikmati janji yang pertama, yaitu pengampunan yang melegakan, tetapi jiwa mereka masih mengalami kegelisahan. Mereka bergumul di bawah tekanan untuk berusaha membuahkan hidup yang sempurna dengan kekuatan mereka sendiri. “Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” (Galatia 3:3). Mereka rindu untuk dibebaskan dari beban yang meremukkan mereka karena berjalan di dalam daging. “Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24).

Agar dapat menikmati janji kelegaan ini, seseorang harus memikul kuk bersama dengan Yesus, artinya berjalan bersama Dia dalam keintiman setiap hari. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku.” Kuk ini bukan dimaksudkan untuk membagi setengah beban antara kita dan Yesus, seperti kuk yang diletakan di antara dua lembu. “Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” Kuk ini adalah kuk persekutuan dan keintiman. “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Mereka yang melangkah di jalan persekutuan dan keintiman dengan Allah akan menerima penggenapan dari janji yang kedua. “Jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Doa

Tuhan Yesus, aku bersyukur Engkau mengaruniakan kepadaku kelegaan dari beban dosa. Sekarang, aku mencari Engkau untuk kelegaan setiap hari dari beban usaha kedagingan. Aku ingin berjalan bersama dengan Engkau dalam keintiman, dari hari ke hari, supaya aku dapat belajar mengikuti jalan-Mu. Aku rindu untuk berjalan dalam kerendahan hati dan beriman kepada-Mu. Amin.