Dalam kasih karunia: keintiman yang lebih besar

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Dalam kasih karunia: keintiman yang lebih besar

Saat Teduh
Tanggal Minggu, 16 Juni 2019
Sebelumnya Sabtu, 15 Juni 2019
Selanjutnya Senin, 17 Juni 2019

Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia. Sebab ada dipersiapkan suatu kemah, yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kaki dian dan meja dengan roti sajian. Bagian ini disebut tempat yang kudus. Di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat yang maha kudus. (Ibrani 9:1-3)

Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri. (Ibrani 10:19-20)

Aspek lainnya yang lebih baik di dalam perjanjian baru kasih karunia adalah penyediaan keintiman yang lebih baik dari pada yang dimungkinkan di dalam hukum Taurat. Hukum Taurat perjanjian lama memungkinkan imam-imam untuk masuk ke dalam Ruang Kudus, tetapi hanya satu yang dapat masuk ke dalam Ruang Maha Kudus. Perjanjian baru memungkinkan setiap orang percaya untuk masuk ke dalam ruang maha kudus setiap hari!

Di bawah peraturan hukum Taurat, ada ruang ibadah buatan tangan manusia, di mana umat Tuhan dapat menghampiri Dia. “Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia." Ada ruangan-ruangan dengan tingkat keintiman dengan Allah yang semakin tinggi, yaitu dua ruangan di dalam tabernakel, Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus. Ruang Kudus berisi perabotan rohani, yang melambangkan berbagai hubungan antara manusia dengan Tuhan. “Sebab ada dipersiapkan suatu kemah, yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kaki dian dan meja dengan roti sajian. Bagian ini disebut tempat yang kudus." Di dalam ruangan ini, imam-imam tertentu dapat masuk setiap hari. Mereka harus melayani Tuhan dengan menyalakan pelita, mempersiapkan roti, dan menyalakan dupa. Namun, mereka terpisah dari hadirat Tuhan yang paling intim oleh sebuah tirai yang menghalangi mereka masuk ke Ruang Maha Kudus.

Di balik tirai pemisah tersebut, terdapat ruangan tempat keintiman yang paling tinggi dengan Tuhan. “Di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat yang maha kudus." Di dalam ruangan tersebut terdapat tabut perjanjian dengan dua loh batu berisi Hukum Taurat: “Di situ terdapat mezbah pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian” (Ibrani 9:4). Di atas tabut perjanjian tersebut ada Tutup Pendamaian, di mana hadirat cahaya kemuliaan Tuhan dapat terlihat. “Di atasnya kedua kerub kemuliaan yang menaungi tutup pendamaian” (Ibrani 9:5). Namun, Hukum Taurat mengatur dengan ketat sehingga hanya satu orang imam saja yang dapat memasuki keintiman tersebut satu kali saja setiap tahunnya. “Tetapi ke dalam kemah yang kedua hanya Imam Besar saja yang masuk sekali setahun” (Ibrani 9:7). Tetapi sekarang, setiap pelayan-pelayan perjanjian baru kasih karunia dapat menikmati dengan iman keintiman hadirat Allah setiap saat! “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus."

Doa

Tuhan yang Maha Kudus, aku memuji Engkau untuk jalan kasih karunia yang baru dan yang hidup, yang memungkinkan keintiman dengan Engkau. Dengan iman dan kerendahan hati, aku memohon agar Engkau senantiasa menyatakan hadirat-Mu kepadaku setiap hari. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin.