Dalam kasih karunia: imam besar yang lebih baik

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Dalam kasih karunia: imam besar yang lebih baik

Saat Teduh
Tanggal Jumat, 14 Juni 2019
Sebelumnya Kamis, 13 Juni 2019
Selanjutnya Sabtu, 15 Juni 2019

Tetapi Ia dengan sumpah, diucapkan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Tuhan telah bersumpah dan Ia tidak akan menyesal: Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya" -- demikian pula Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat. (Ibrani 7:21-22)

Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. (Ibrani 7:25)

Salah satu aspek perjanjian baru kasih karunia yang lebih baik adalah Yesus, Imam Besar kita. Dalam perjanjian lama, imam adalah manusia yang melayani Kristus untuk waktu yang terbatas dan kemudian meninggal. Dalam perjanjian baru, Imam Besar kita melayani untuk selama-lamanya. Yesus menjadi Imam Besar “bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa” (Ibrani 7:16).

Imam pada zaman perjanjian lama adalah keturunan dari Harun dari suku Lewi. Setiap imam bertugas untuk kurun waktu tertentu sebagai peringatan akan imam yang sempurna yang akan datang membawa perjanjian yang lebih baik dari pada hukum Taurat. “Karena itu, andaikata oleh imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan--sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima Taurat--apakah sebabnya masih perlu seorang lain ditetapkan menjadi imam besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang dia tidak dikatakan menurut peraturan Harun?” (Ibrani 7:11). Imam-imam dalam perjanjian lama adalah keimamatan yang sementara, dan memerlukan banyak imam. “Dan dalam jumlah yang besar mereka telah menjadi imam, karena mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat imam” (Ibrani 7:23). Keimamatan Yesus tidak akan pernah dipindahkan kepada orang lain, karena Dia adalah Anak Allah yang kekal. “Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain” (Ibrani 7:24).

Yesus, Imam Besar kita yang kekal, adalah imam menurut peraturan Melkisedek. “Sebab Melkisedek… Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya” (Ibrani 7:1-3). Melkisedek yang membawakan roti dan anggur untuk Abraham, setelah Abraham kembali dari peperangan (Kejadian 14). Tidak ada catatan silsilah Melkisedek, tidak ada catatan mengenai awal ataupun akhir dari pelayanan Melkisedek. Dalam hal ini, Melkisedek seperti Anak Allah: kekal. Jadi, Melkisedek adalah gambaran dari keimamatan Yesus: kekal. Jadi, Yesus sebagai pemberi kasih karunia adalah imam yang lebih baik dari pada mereka yang melayani dalam hukum Taurat. “Demikian pula Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat."

Saat ini, Dia yang sudah rela mati untuk menebus dosa-dosa kita, senantiasa berdoa bagi kita." Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka."

Doa

Tuhan Yesus, Imam Besar-ku. Aku merendahkan diri di hadapan-Mu raja yang Kekal, yang masa keimamatannya tidak akan berhenti. Aku merasakan damai sejahtera karena doa-doa syafaat-Mu bagiku, sehingga aku diluputkan dari segala sesuatu yang datang menghadang aku. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin.