Keterikatan atau kemerdekaan (2)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Keterikatan atau kemerdekaan (2)

Saat Teduh
Tanggal Sabtu, 11 Mei 2019
Sebelumnya Jumat, 10 Mei 2019
Selanjutnya Minggu, 12 Mei 2019

Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. (2 Korintus 3:14-17)

Perjanjian baru kasih karunia, yaitu hidup yang bergantung kepada Roh Kudus, menghasilkan kemerdekaan: “Di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan." Perjanjian lama menghasilkan keterikatan bagi mereka yang berusaha untuk hidup di dalamnya, karena perjanjian lama tidak menyediakan jalan untuk memenuhi tuntutannya. Dalam renungan kita yang sebelumnya, kita melihat ikatan kerahasiaan akibat hidup mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kebutaan rohani adalah salah satu ikatan akibat hidup di bawah hukum Taurat.

Bangsa Israel dibutakan oleh selubung akibat pikiran yang tumpul. “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan." Tumpulnya pikiran ini berhubungan dengan rasa percaya kepada kemampuan diri sendiri. Yohanes pembaptis memegang teguh standar kebenaran Allah dan memanggil orang-orang supaya bertobat dari dosa-dosa mereka. “Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Yohanes 3:3). Yohanes menyadari bahwa orang-orang Farisi merasa benar karena mereka adalah keturunan dengan nenek moyang mereka Abraham. “Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami!” (Yohanes 3:8). Yesus juga menemukan hal yang sama ketika Ia melayani. “Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” (Yohanes 8:33). Seperti orang Farisi yang membenarkan diri sendiri, orang-orang ini juga berpikir bahwa mereka lebih baik dari pada orang lain sehingga tidak butuh pertobatan. “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini… Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain” (Lukas 8:9, 11). Sampai hari ini banyak orang yang mengandalkan warisan agama keluarga mereka sebagai hal yang cukup untuk bisa dibenarkan di hadapan Allah.

Hal seperti ini membuat mereka buta. Mereka tidak dapat melihat seperti Tuhan melihat. Tuhan memberitahu mereka apa yang mereka butuhkan, tetapi mereka tidak meminta pertolongan Tuhan untuk menjawab kebutuhan itu. Betapa malangnya hal ini, karena hanya Dia-lah yang sanggup untuk menyingkapkan selubung mata mereka. “Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya."

Doa

Ya Tuhan sumber kebenaran, aku bertobat dari cara hidup yang membenarkan diri sendiri. Aku ingin hati dan pikiranku menjadi lembut di hadapan-Mu. Aku tidak mau berjalan dengan selubung yang membutakan mataku. Dengan rendah hati aku berbalik kepada-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin.