Realitas kebangkitan yang menghidupkan, bukan agama yang mematikan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Realitas kebangkitan yang menghidupkan, bukan agama yang mematikan

Saat Teduh
Tanggal Selasa, 26 Maret 2019
Sebelumnya Senin, 25 Maret 2019
Selanjutnya Rabu, 27 Maret 2019

Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. (Kisah Para Rasul 4:1-2)

Kebangkitan Kristus membedakan antara agama yang mematikan dan persekutuan yang menghidupkan. Hidup dalam kuasa kebangkitan membedakan antara berjuang dalam dunia ini dan hidup dalam kenyataan sorgawi. Perbedaan ini dapat terlihat dengan jelas di antara para pemuka agama Israel dengan murid-murid Yesus.

Para murid memberitakan pesan kebangkitan Tuhan Yesus yang ajaib kepada orang banyak. “Mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati." Pesan tersebut membuat marah pada pemuka agama. “Mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. Orang-orang itu sangat marah." Hari-hari ini, banyak pemimpin agama memperlihatkan tanggapan yang serupa. Agama-agama yang ada di dunia ini dipandang sebagai salah satu jalan menuju Tuhan. Sebagian besar dari mereka tidak menerima mujizat dan hal-hal yang ajaib. Akal dan logika manusialah yang paling berkuasa. Di dalam banyak lingkungan agamawi, kebangkitan Yesus Kristus dianggap sebagai mitos dan tidak masuk akal. Secara munafik mereka membahas kebangkitan walaupun sebenarnya tidak percaya.

Demikianlah juga orang-orang Saduki pada zaman dahulu. Mereka membicarakan mengenai kebangkitan, bahkan bertanya kepada Yesus seolah-olah setuju bahwa Tuhan dapat membangkitkan orang dari kematian. “Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia” (Matius 22:28). Pertanyaan ini mengikuti cerita mereka di mana ada tujuh laki-laki bersaudara menjadi suami dari satu istri melalui rangkaian tujuh kematian dan perkawinan. Pertanyaan ini sebenarnya sebuah kebodohan. Pertama, pertanyaan ini diajukan dalam kemunafikan. “Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan” (Matius 22:23). Kedua, mereka tidak sadar apa yang ditulis oleh Firman Tuhan mengenai kondisi sorgawi. “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Matius 22:30). Tuhan Yesus menjelaskan bahwa para pemikir agamawi ini membuat dua kesalahan dalam pernyataan mereka. “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!” (Matius 22:29).

Kita yang sudah dilahirkan kembali melalui iman kepada Tuhan Yesus yang bangkit dapat jatuh dalam kesalahan yang sama melalui cara hidup kita setiap hari. Kita dapat berbicara mengenai Yesus yang bangkit, tetapi berperilaku seolah-olah hal tersebut bukan kebenaran yang nyata dalam hidup kita. Kita mungkin saja salah, “tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!”

Doa

Allah Bapa di Sorga, terima kasih untuk kesabaran-Mu saat aku memperlihatkan ketidakpercayaan kepada kebangkitan, tetapi hidup dengan akal dan logikaku yang terbatas. Tolong aku untuk mengerti apa yang Alkitab katakan mengenai hidup setiap hari dalam kuasa kebangkitan Kristus. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.