Jangan dimiliki uang
![]() ![]() | |
| Inspirational | |
| Tanggal | 29 Agustus 2026 |
| Oleh | Dr Ir Anton Hendranata, MSi |
| Baca juga | |
| |
| |
Pada akhirnya, siapakah yang duduk di atas takhta hati kita: Tuhan atau uang? Jangan sampai kita terlihat sukses, tetapi kehilangan keluarga, integritas, damai sejahtera, dan iman. Milikilah uang, tetapi jangan biarkan uang memiliki kita. Gunakanlah setiap berkat untuk memenuhi kebutuhan, membangun usaha yang jujur, menolong sesama, dan memuliakan Tuhan. Biarlah uang tetap menjadi hamba dan Kristus tetap menjadi Raja.
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Uang dapat membeli rumah, tetapi belum tentu menghadirkan kedamaian. Uang dapat membangun bisnis, tetapi jika menjadi tujuan utama, uang juga bisa merusak keluarga, integritas, bahkan iman. Jadi, masalahnya bukan uang yang berada di tangan kita, melainkan ketika uang mulai menguasai hati.
Alkitab tidak mengatakan bahwa uang adalah akar segala kejahatan. Yang diperingatkan ialah cinta akan uang. Dalam 1 Timotius 6:10 dijelaskan bahwa karena memburu uang, beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai penderitaan. Persoalannya bukan seberapa banyak uang yang kita miliki, tetapi apakah kita masih menguasainya atau justru mulai diperbudak olehnya.
- Yudas Iskariot memberikan gambaran yang jelas.
- Kisah Zakheus menunjukkan keadaan yang berbeda.
- Ananias dan Safira justru memilih jalan kepura-puraan.
Bukankah hal serupa masih terjadi sekarang? Ada orang yang mengabaikan keluarga demi mengejar penghasilan, berutang demi menjaga gengsi, atau berbohong agar tidak kehilangan keuntungan. Tanpa disadari, uang yang seharusnya menjadi alat telah berubah menjadi tuan.
Mencari penghasilan, menabung, berinvestasi, dan membangun usaha bukanlah dosa. Semuanya merupakan bagian dari tanggung jawab. Namun keuntungan tidak boleh diperoleh melalui korupsi, manipulasi, atau penindasan pekerja. Pengusaha yang takut akan Tuhan tidak hanya bertanya, “Berapa besar keuntungan yang bisa saya peroleh?” Ia juga perlu bertanya, “Apakah cara saya memperolehnya benar dan membawa kebaikan bagi orang lain?”
Prinsip yang sama berlaku dalam pelayanan gereja. Gereja membutuhkan dana untuk menjalankan pelayanan, menolong sesama, dan memberitakan Injil. Karena itu, persembahan harus dikelola secara jujur, terbuka, dan bertanggung jawab. Masalah muncul ketika uang menjadi tujuan utama, lalu keberhasilan pelayanan hanya diukur dari kemegahan gedung, besarnya persembahan, atau saldo rekening. Godaan cinta akan uang dapat menghampiri siapa saja, baik pendeta maupun jemaat. Uang harus tetap menjadi sarana pelayanan, bukan tujuan pelayanan.
Pada akhirnya, siapakah yang duduk di atas takhta hati kita: Tuhan atau uang? Jangan sampai kita terlihat sukses, tetapi kehilangan keluarga, integritas, damai sejahtera, dan iman.
Milikilah uang, tetapi jangan biarkan uang memiliki kita. Gunakanlah setiap berkat untuk memenuhi kebutuhan, membangun usaha yang jujur, menolong sesama, dan memuliakan Tuhan. Biarlah uang tetap menjadi hamba dan Kristus tetap menjadi Raja.

