Haruskah kuatir?

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Kekuatiran adalah hal yang manusiawi, tetapi tidak boleh menguasai hidup orang percaya. Tuhan mengundang kita untuk menyerahkan segala kekuatiran kepada-Nya, karena Ia setia memelihara hidup kita. Saat kita percaya kepada Tuhan, kita akan melihat bahwa Ia selalu punya jalan dan berkat di setiap musim kehidupan.

Kata kuatir banyak muncul dalam Alkitab. Ini menunjukkan bahwa Tuhan memahami pergumulan manusia, karena rasa kuatir adalah sesuatu yang umum dialami oleh setiap orang. Namun pertanyaannya: haruskah kita terus hidup dalam kekuatiran? Dalam Matius 6, Tuhan Yesus menyebutkan beberapa kekuatiran yang sering dialami manusia:

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

| Matius 6:31

Rasa kuatir yang umum dialami manusia antara lain: • masa depan • biaya hidup • pasangan hidup atau pernikahan • kerinduan memiliki anak • kebutuhan sehari-hari Pak Harry membagikan kesaksian pribadi bahwa pada masa mahasiswa, beliau pernah mengalami kekuatiran tentang pembayaran uang kuliah. Ia juga pernah ingin bermain musik, tetapi tidak memiliki dana untuk membeli keyboard. Namun tanpa diduga, Tuhan mempertemukan beliau dengan seseorang yang dipakai Tuhan untuk menolongnya melewati masa itu. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan punya cara untuk menolong, bahkan melalui orang-orang yang tidak kita duga. Karena rasa kuatir, seseorang bisa mulai: • tidak percaya kepada orang lain • tidak percaya kepada diri sendiri • tidak percaya kepada Tuhan Kekuatiran bisa membuat kita meragukan kebaikan orang lain, meragukan kemampuan diri sendiri, bahkan meragukan apakah Tuhan sanggup menolong kita.

Namun Tuhan Yesus berkata: Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. | Lukas 12:22

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. |Matius 6:34

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? |Matius 6:27

Kekuatiran tidak menambah apa pun dalam hidup kita. Justru sering kali kekuatiran menguras pikiran, melemahkan iman, dan membuat kita sulit melihat pertolongan Tuhan. Pak Harry juga membagikan bahwa dahulu ia pernah mengalami kekuatiran yang luar biasa, lalu seorang teman memberikan ayat ini:

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. |Filipi 4:6

Bagaimana kita menghadapi masalah yang hampir membuat kita putus asa?

#1. Serahkan kekuatiran kepada Tuhan

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 1 Petrus 5:7 Kita dipanggil untuk menyerahkan kekuatiran kepada Tuhan, karena Dia yang memelihara hidup kita.

#2. Percaya bahwa Tuhan tahu batas kekuatan kita

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya. 1 Korintus 10:13 Tuhan tahu takaran kekuatan kita. Tidak ada pencobaan yang Ia izinkan melebihi kemampuan kita, dan Ia selalu menyediakan jalan keluar.

#3. Andalkan kekuatan dari Tuhan

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:13

Kita tidak berjalan dengan kekuatan sendiri. Tuhan memberi kekuatan untuk menghadapi setiap keadaan. Setiap orang bisa mengalami rasa kuatir, dan itu adalah hal yang manusiawi. Namun jangan sampai kekuatiran itu menguasai hidup kita, apalagi membuat kita meragukan bahwa Tuhan sanggup menolong.

Ilustrasi:

Ada seorang ibu yang memiliki dua anak. Anak yang satu berjualan payung, sedangkan anak yang lain berjualan es cendol. Ketika musim panas, ibu itu kuatir karena anak yang berjualan payung mungkin sepi pembeli. Ketika musim hujan, ia kuatir karena anak yang berjualan es cendol mungkin kurang laku. Padahal seharusnya ia belajar menyerahkan kedua anaknya kepada Tuhan, karena Tuhan punya jalan dan berkat-Nya masing-masing. Demikian juga hidup kita. Tidak semua keadaan bisa kita kendalikan, tetapi kita bisa mempercayakannya kepada Tuhan. Jangan hidup dikuasai kekuatiran, sebab Tuhan memelihara hidup kita. Amin.

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Mazmur 37:5