Iman yang diteruskan kepada generasi berikut

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Iman adalah pilihan sadar yang harus kamu ambil hari ini di tengah sekolah, pergaulan, media sosial, dan tekanan hidup yang nyata. Kamu boleh lahir di keluarga Kristen, tapi iman hanya akan hidup kalau kamu sendiri yang menjaganya.

Bahan Commander of Thousand JC-Youth minggu keempat Februari 2026

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

2 Timotius 1:5 ; Amsal 22:6

Penjelasan materi

Guys, bayangkan sebuah keluarga yang kaya raya, tetapi tidak pernah mengajarkan anak-anaknya cara mengelola kekayaan itu. Secara hukum mereka ahli waris, tetapi secara praktis mereka bangkrut. Gambaran ini sangat mirip dengan cara banyak orang memandang iman: dianggap otomatis diwariskan karena kelahiran, padahal iman justru sering hilang karena tidak pernah diteruskan dengan sengaja. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa iman mengalir lewat garis keturunan; iman mengalir lewat relasi, teladan, dan pembentukan yang konsisten. Ketika generasi sebelumnya berhenti menceritakan karya Tuhan, berhenti hidup selaras dengan apa yang mereka imani, dan berhenti mendidik dengan kesadaran rohani, maka generasi berikutnya tetap membawa label "Kristen" tetapi kehilangan api iman yang hidup. Di titik inilah pertanyaan kritis muncul: apakah iman kita sedang benar-benar diteruskan, atau diam-diam sedang berakhir pada generasi kita?. Nah mari kita belajar ada 3 pengertian dari ayat-ayat Nats di atas:

  1. 2 Tim 1:5 Iman tidak otomatis karena lahir Kristen
  2. Banyak remaja mengira bahwa iman itu otomatis dimiliki sejak lahir. Kalau orang tua Kristen, ikut gereja sejak kecil, dan terbiasa dengar firman Tuhan, maka merasa sudah "aman secara rohani." Padahal Alkitab menunjukkan hal yang berbeda. Iman Timotius tidak disebut sebagai iman keluarga, tetapi iman yang hidup iman yang pernah dilihatnya di nenek dan ibunya, lalu akhirnya ia miliki sendiri. Artinya, iman bukan soal asal-usul, tetapi soal keputusan pribadi. Kamu bisa lahir di rumah Kristen, tapi iman tetap harus kamu pilih sendiri. Sama seperti Wi-Fi di rumah: sinyalnya ada, tetapi kamu tetap harus connect sendiri supaya bisa dipakai.
  3. Ams 22:6 Iman lebih cepat ditiru daripada diajarkan
  4. Remaja sangat peka terhadap "genuine." Kamu bisa langsung tahu mana orang yang serius hidup dengan Tuhan dan mana yang cuma bicara. Karena itu, iman jarang diteruskan lewat nasihat panjang, tetapi lewat contoh hidup sehari-hari. Amsal 22:6 berbicara tentang mendidik, bukan sekadar menasihati. Iman yang nyata terlihat dari hal-hal sederhana: cara bicara, cara menghadapi masalah, cara memperlakukan orang lain. Kalau iman hanya muncul saat ibadah, tapi hilang di rumah atau di sekolah, maka iman itu sulit dipercaya. Sebaliknya, iman yang konsisten meski sederhana lebih mudah diikuti dan dihidupi oleh generasi berikutnya.
  5. Iman harus diteruskan dengan sengaja, bukan dibiarkan
  6. Iman tidak akan bertahan kalau hanya dibiarkan mengalir begitu saja. Dunia hari ini sangat aktif membentuk cara berpikir anak muda lewat media sosial, tren, dan tekanan pergaulan. Kalau iman tidak dibangun dengan sengaja, pelan-pelan ia akan tergeser. Amsal 22:6 mengingatkan bahwa iman perlu diarahkan sejak muda, bukan ditunda sampai "nanti kalau sudah dewasa." Meneruskan iman berarti menciptakan kebiasaan kecil tapi konsisten: doa pribadi, baca Alkitab, ikut dalam COOL, dan keberanian hidup berbeda. Iman yang kuat bukan iman yang kebetulan bertahan, tetapi iman yang dipelihara dengan sadar dan dipilih setiap hari.

Guys, pada akhirnya, iman bukan sesuatu yang bisa kamu titipkan pada orang tua, gereja, atau masa kecilmu. Iman adalah pilihan sadar yang harus kamu ambil hari ini—di tengah sekolah, pergaulan, media sosial, dan tekanan hidup yang nyata. Kamu boleh lahir di keluarga Kristen, tapi iman hanya akan hidup kalau kamu sendiri yang menjaganya. Dan suatu hari nanti, orang lain akan melihat cara hidupmu dan belajar tentang Tuhan lewat kamu. Pertanyaannya sederhana tapi penting: apakah iman itu berhenti di kamu, atau justru mulai diteruskan lewat kamu?

Bahan diskusi

  • Menurutmu, apa bedanya "lahir di keluarga Kristen" dengan "memiliki iman pribadi?"
  • Di lingkunganmu (sekolah, pertemanan, media sosial), hal apa yang paling sering membuat iman sulit dipertahankan? (He)