Kekuatan di balik kekeringan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Yeremia 17:8

Pendahuluan

Kekeringan tidak hanya terjadi pada lahan tanah. ‘Kekeringan’ juga bisa terjadi dan dirasakan oleh jiwa dan rohani manusia, di mana seseorang merasakan suatu kondisi yang jauh dari hadirat Tuhan.

Orang percaya digambarkan seperti pohon, bukan semak belukar, dengan akar yang tertancap kuat dan dalam untuk menyerap ‘air yang menghidupkan’, ‘sari-sari makanan’, dan kekuatan dari Dia, Sang Sumber Kehidupan; sehingga mampu bertahan bahkan di tengah situasi kekeringan. Sekalipun mengalami tahun-tahun kering, tetapi tidak berhenti menghasilkan buah.

Gembala Pembina mengajarkan seluruh jemaat untuk mengandalkan Tuhan. Orang yang mengandalkan Tuhan adalah orang yang mengikuti segala perintah yang diberikan tanpa ragu-ragu, tanpa banyak pertanyaan, tanpa bersungut-sungut, sebaliknya dengan hati yang percaya disertai ucapan syukur. Demikian juga dalam menghadapi pandemi ini, kalau kita mengandalkan Tuhan, itu berarti kita sedang mengikuti perintah-perintah-Nya.

Mengandalkan Tuhan dengan benar berarti menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, satu-satunya yang kita inginkan. Sedangkan mengandalkan diri sendiri artinya mengandalkan apa yang dimiliki: pendidikan, kekayaan, kedudukan, kepintaran dan sebagainya. Kita harusnya sadar bahwa tanpa Tuhan kita tak berdaya, bersama Tuhan, kita merasa cukup.

Isi dan sharing

Bagaimana caranya kita hidup mengandalkan Tuhan?

  1. Percaya sepenuhnya kepada Tuhan (Amsal 3:5a)
  2. Mengandalkan berarti menaruh kepercayaan seratus persen. Kita tidak akan bisa mengandalkan Tuhan jika kita tidak mempercayai-Nya dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatan kita.

    Dalam Yohanes 4:46-53, “Pergilah, anakmu hidup!”' Demikian Yesus berkata kepada seorang pegawai istana di Kapernaum yang meminta diri-Nya untuk datang dan menyembuhkan anaknya yang hampir mati. Orang itu percaya kepada Yesus dan menaati perintah-Nya. Mukjizat pun terjadi, saat itu juga anaknya sembuh. Ia menaruh kepercayaan kepada kata-kata Yesus dan imannya berbuah manis.

  3. Melekat kepada Tuhan (Yohanes 15:4-5)
  4. Dalam gambaran tentang “pokok anggur”, Yesus ingin mengatakan bahwa tidak ada hal otomatis dalam kehidupan beriman.

    Kata “melekat” berarti, benar-benar menempel sehingga tidak mudah lepas; karib sekali; tertanam; tetap terpaku pada...; terpaut.

    Maka kalimat “melekat pada Kristus” dapat kita artikan: benar-benar menempel pada Kristus sehingga tidak mudah lepas, Bergaul karib sekali dengan Kristus, tertanam di dalam Kristus, tetap terpaku pada Kristus, hatinya selalu terpaut pada Kristus. (((sabdaweb2v|Yohanes 15:1a, 4b}})

  5. Bergaul intim dengan Tuhan (Markus 1:35)
  6. Henokh adalah seorang laki-laki yang pertama kali disebut di dalam Kitab Suci sebagai orang yang berjalan bersama Allah, dan oleh sebab itu, kisah tentang Henokh menjadi contoh yang paling umum digunakan untuk menjelaskan mengenai keintiman ini (Kejadian 5:22-24).

    Henokh selalu hidup dalam kebersamaan yang akrab dengan Tuhan. Sedemikian akrabnya sampai Tuhan mengangkat Henokh ke Sorga pada hari terakhir hidupnya di dunia ini. Karena itu hendaknya kita berkomitmen untuk hidup bersama Tuhan dan terus menghasilkan buah. Berjalan bersama Tuhan bukan berarti tanpa tantangan dan godaan, karena dalam perjalanan hidup, banyak godaan dan tawaran dunia yang bisa menggoyahkan komitmen dan kesetiaan kita berjalan bersama TUHAN.

Kesaksian

Tantangan pergumulan apa yang sedang Anda alami saat ini?

Kesimpulan dan saling mendoakan

Jangan menyerah karena kita punya Tuhan yang hebat.

Catatan

COOL Umum Oktober 2021: