Hidup dalam kasih karunia Tuhan (Pdt Budi Jonatan)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 22 November 2022 12.32 oleh Leo (bicara | kontrib) (Penggantian teks - " " menjadi " ")
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari
Pagi ini kami bersyukur Bapa, karena Engkau baik bagi setiap kami, pagi ini kami anak-anak-Mu datang di tempat ini, kami mau mendengarkan Firman Tuhan, mari berbicara kepada setiap kami, Bapa berkati Firman-Mu urapi setiap kami

Kami tidak mengizinkan setiap pekerjaan roh jahat yang mencoba mencuri setiap Firman yang ditabur, yang membuat kami tidak mengerti Firman Tuhan dan mencoba mengalihkan pikiran kami, kami tolak dalam nama Tuhan Yesus, kami meluaskan Roh-Mu bekerja atas hidup kami.

Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Amin.

Shalom, puji Tuhan, pagi ini adalah pagi yang segar. Hari-hari ini sangat exciting, menyukakan, menggembirakan, karena saya percaya di akhir zaman ini mulai terjadi banyak hal. Timur tengah mulai banyak kegoncangan, kita percaya ini kesempatan terang Tuhan akan terbit atas setiap pribadi lepas pribadi dan kemuliaan kebesaran nama Tuhan akan dinyatakan atas hidup setiap kita.

Banyak entrepreneur mulai sungguh-sungguh cinta Tuhan dan hidup mereka menjadi kesaksian yang luar biasa. Saya berdoa Firman ini bisa meneguhkan, memulihkan, menghibur dan memberikan kelepasan bagi setiap kita.

Ada sebuah kejadian dalam Perjanjian Lama, ketika Allah menciptakan manusia, Tuhan menempatkan manusia itu di sebuah tanah di daerah Eden, yaitu Taman Eden.

Kejadian 2:8-9,

Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; di situlah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Segala sesuatu sudah disediakan oleh Tuhan secara sempurna untuk kehidupan manusia. Dia tidak hanya asal dan iseng menciptakan manusia, tapi Dia berikan yang terbaik bagi manusia.

Kejadian 3, manusia melanggar memakan buah yang dilarang oleh Tuhan. Manusia jatuh dalam dosa dan membuat manusia harus keluar dari Taman Eden. Ketika keluar dari Taman Eden, mulai muncul penderitaan, kesusahan, sakit penyakit, itu semua karena mereka sudah berbuat dosa.

Nabi Yesaya katakan, yang menjadi pemisah kita dengan Allah adalah dosa dan pelanggaran kita.

Karena itu apa yang harus dilakukan oleh manusia? Selama masa Perjanjian Lama, ketika manusia berbuat dosa, mereka harus datang mempersembahkan korban dan setahun sekali Imam Besar harus masuk ke Ruang Maha Suci dengan diikat tali (karena kalau Imam Besar itu sedang tidak dalam keadaan kudus dan dia mati di dalam, maka dia harus ditarik keluar dengan tali itu).

Imam Besar mempersembahkan darah. Kehidupan binatang itu ada pada darahnya, jadi ada binatang yang dipersembahkan untuk menebus dosa umat. Ketika darah itu dipercikkan, umat menunggu di luar. Dan ketika Imam Besar itu keluar, umat tahu bahwa mereka sudah disucikan. Setahun sekali, umat Tuhan harus disucikan terus menerus dan ini sudah dilakukan berabad-abad.

Itulah Hukum Musa, atau Hukum Taurat. Hukum Taurat ini dibuat supaya nyata pelanggaran manusia itu. Ketika darah itu dipersembahkan dalam Ruang Maha Kudus, di dalamnya ada Tabut Perjanjian. Tabut itu berbentuk kotak yang ditutup dengan tutup pendamaian. Darah tersebut dipercikkan di sekeliling kotak. Di dalam Tabut ada 3 hal, yaitu tongkat Harun yang bertunas, dua loh batu, dan ada manna.

Tiga hal ini melambangkan apa? Secara simpel, ketiganya melambangkan pemberontakan manusia. Tongkat Harus bertunas karena umat Tuhan waktu itu memberontak. Ketika Musa membawa loh batu itu, umat Tuhan juga menyembah lembu emas. Manna diturunkan ketika umat manusia memberontak pada Tuhan.

Ketika Tuhan melihat darah itu dipercikkan, maka Tuhan melihat pendamaian dengan manusia. Ini menggambarkan Yesus. Karena itu dikatakan bahwa Yesus adalah penggenapan seluruh hukum Taurat. Dalam Hukum Taurat, kalau melanggar satu hukum, berarti orang melanggar kepada seluruh hukum. Tapi dalam Perjanjian Baru, kalau kita taat kepada Kristus, maka kita dibenarkan karena Kristus. Kita bukan dibenarkan oleh standar Hukum Taurat, tapi oleh kasih karunia. Perjanjian Baru adalah Perjanjian Kasih Karunia!

Ketika Yesus mati di kayu salib, darah-Nya tercurah, dan dia menjadi Imam selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek. Dia mempersembahkan nyawa-Nya sekali, untuk selama-lamanya dan duduk di sebelah kanan Allah. Sudah Selesai. Dia menjadi imam bagi kita, sekali untuk selamanya. Karenanya barang siapa percaya kepada-Nya, dia akan diselamatkan, disucikan, dikuduskan.

Saudara, kematian Yesus di kayu salib itu menggambarkan betapa besarnya kasih Allah. Karena begitu besar kasih Allah atas dunia ini, Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Kadang kita tidak memandang hal ini punya meaning yang besar. Saya akan memberikan sebuah ilustrasi. Seorang anak itu memiliki makna yang begitu berharga, bahkan seorang Ibu pasti siap menukar nyawanya demi anaknya. Tapi kalau seorang Ibu sampai hati memberikan nyawa anaknya bagi orang lain supaya orang lain itu tidak dihukum, berarti orang lain itu adalah seseorang yang begitu berharganya. Dia pasti seorang pribadi yang lebih berarti dari hidupnya sendiri. Itulah arti kasih. Seorang pribadi yang dikasihi bahkan melebihi nyawanya sendiri. Itulah yang ditunjukkan Tuhan ketika Yesus mati di atas kayu salib. Anak-Nya sendiri dibunuh demi manusia berdosa. Ditebus dan diselamatkan, sehingga orang yang berdosa sudah dibeli dengan lunas, dengan darah yang mahal, tidak bercacat, berpindah dari posisi terhukum menjadi posisi ditebus.

Saudara, bisa bayangkan kasih Tuhan buat setiap pribadi kita? Saudara sudah bisa mengerti siapa Saudara sesungguhnya di mata Tuhan? Engkau bukan pribadi yang biasa, jangan menganggap remeh hidupmu, karena hidup kita sudah ditebus dengan darah Anak-Nya! Bukan dengan emas ataupun perak, tapi dengan darah yang mahal. Itulah hidup kita!

Roma 8:32 katakan, Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Bagaimana mungkin Allah tidak memberikan kepada kita segala sesuatu, kalau Anak-Nya saja sudah diberikan kepada kita? Jadi ketika kita percaya dan menerima, itulah hidup oleh Iman. Waktu kita percaya Yesus mati di kayu salib demi kita, itulah artinya detik kita percaya, maka detik itu pula kita menerima. Karenanya kita juga harus hidup sesuai dengan apa yang kita percayai.

Ketika Yesus mati di atas kayu salib untuk kita? Apa yang terjadi di atas kayu salib? Bukan hanya penebusan, tapi Kitab Roma katakan bahwa di dalam Kristus terkandung seluruh kekayaan itu. Dia sudah menganugerahkan segala sesuatu di dalam Dia. Terkandung seluruh yang disediakan Tuhan buat setiap pribadi kita. Di dalam Kristus, Tuhan telah menganugerahkan segala sesuatunya itu kepada setiap pribadi kita lewat pengenalan kita akan Dia.

Dalam kisah anak yang hilang, ketika Bapanya masih hidup, anaknya sudah minta warisan, itu sama saja berbicara bahwa dia menganggap Bapanya sudah mati. Dia ambil uang warisan itu lalu dia berpesta, berfoya-foya, dan hidupnya hancur, bahkan bekerja dan makan makanan babi pun tidak bisa. Dalam kondisi keterpurukan, dia berkata, “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” (Lukas 15:17b-19)

Dia katakan tiga hal:

  • aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
  • aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa;
  • jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Bapanya ini sudah mencari anak ini lama, tapi tidak ditemukan, dia sudah menanti-nanti anak ini untuk kembali kepadanya. Dan akhirnya dari kejauhan, Bapa ini melihat seorang gembel, mungkin bajunya compang camping. Tapi dari jauh, Bapanya sudah mengenali anaknya. Dan dalam ayat 21 dikatakan, kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.

Baru saja dia mau berkata yang ketiga, “jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”, si Bapa sudah berkata kepada hamba-hambanya, “Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.” (Lukas 15:22)

Apa yang terjadi? Anak ini ketika datang kepada Bapanya, Bapanya tidak lagi melihat kesalahan kedurhakaan anak ini. Apapun keberadaan anak itu, kumel, jelek, sekurus apa pun, ketika dia datang ketemu Bapanya itu, Bapanya mengakui dia dan bahkan mengembalikan statusnya dia seperti semula. Amin? Bahkan dia membuat pesta bagi anaknya!

Waktu anak sulung pulang, dia bertanya-tanya, dan hambanya memberitahukan: “Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.

Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. (Lukas 15:28-31)

Kembali kepada konteks Roma tadi, banyak orang Kristen seperti anak sulung. Sudah ditebus, tapi sikap hati kepada Bapanya masih sikap hati dan mental orang upahan. Kita masih berasa orang upahan. Artinya, ini yang disebut kita masih hidup dengan pola yang lama, bukan pola yang baru. Kita masih merasa, kalau kita berbuat baik, maka Tuhan akan memberkati saya. Kalau saya saat teduh, Tuhan akan memberkati saya. Dan waktu kita lihat orang lain tidak berbuat seperti kita, kita mungkin berkata orang ini tidak benar. Sama seperti anak sulung yang menghakimi.

Kita memakai berkat Tuhan sebagai ukuran dari apa yang kita lakukan. Apakah ketika engkau bersaat teduh lantas engkau lebih baik di mata Tuhan? Apakah kalau engkau datang ke gereja, barulah engkau merasa layak, sehingga merasa tertuduh kalau tidak ke gereja? Kita merasa lebih baik kalau ke gereja. Kita merasa lebih baik karena kita membaca Alkitab. Apakah kebiasaan agamawi itu membuat kita lebih kudus di mata Tuhan?

Saudara, kita dibenarkan itu sungguh-sungguh hanya dikarenakan apa yang sudah dilakukan Yesus di atas kayu salib! Dia menyucikan kita bukan karena apa yang kita lakukan! Perbuatan baik kita seperti kain kusam di mata Tuhan!

Inilah konsep penebusan, konsep anugerah. Kita benar bukan apa yang kita lakukan, tapi karena apa yang Yesus lakukan, karena darah yang sudah dipercik itu adalah darah pendamaian. Darah itu sudah dipercikkan atas hidup kita, sehingga kita benar bukan karena apa yang kita lakukan, tapi karena darah Yesus yang sudah tercurah atas hidup kita.

Bagaimana berkat-berkat itu terjadi atas kehidupan kita? Kalau kita disebut orang benar, hiduplah sebagai orang benar! Kenapa kita beribadah? Karena kita sedang membangun sebuah bau yang harum buat Tuhan. Hidup kita ini, apa yang kita lakukan itu, karena kita mau memberikan persembahan yang harum bagi Dia.

Kalau kita hidup sebagai orang benar maka kita baca Alkitab. Bukan kita baca Alkitab supaya kita dibenarkan.

Ada janji-janji Tuhan dalam Alkitab, yang disediakan buat kita. Tuhan berikan kunci-kunci dalam Firman Tuhan, itu Tuhan sediakan buat kita. Misalnya, menabur dan menuai. Waktu kita percaya apa yang Tuhan katakan, dan kita lakukan dalam hidup kita, maka pasti terjadi dalam hidup kita. Tidak mungkin tidak. Kenapa? Karena sudah Tuhan sediakan buat kita.

Semakin kita mengenal Kristus, semakin pikiran kita terbuka. Anak sulung itu tidak mengenal pribadi, pikiran Bapanya. Dia tahu statusnya sebagai anak, tapi dia merasa dia harus bekerja sungguh-sungguh dulu agar Bapanya memberikan upah bagi dia. Padahal Bapanya mengatakan bahwa kepunyaan Bapanya adalah kepunyaan anaknya!

Si Bungsu juga tidak kenal Bapanya, tapi waktu dia kembali dan Bapanya memperlakukan seperti itu, barulah dia tahu siapa Bapanya. Kita sering seperti anak Bungsu yang terhilang yang datang kepada Bapa, dan memulihkan kembali statusnya sebagai anak.

Bolehkah orang berdosa menyembah Tuhan? Umum di gereja katakan, orang berdosa tidak ada yang datang ke gereja. Ketika Tuhan datang ke rumah seorang Farisi, ada wanita yang mengikuti Yesus, membasuh kaki Yesus dengan air matanya, dan membersihkan dengan rambutnya, lalu dipecahkannya buli-buli pualam, minyak yang wangi yang sangat harum. Inilah esensi penyembahan.

Tapi orang Farisi bilang apa? Kalau dia nabi, dia tahu perempuan itu siapa. Orang Farisi tahu perempuan itu berdosa, perempuan itu terkenal di kota itu sebagai seorang pelacur. Dan setelah mempersembahkan minyak yang wangi itu, Yesus berkata kepada perempuan berdosa itu, ”Dosamu sudah diampuni.

Saudara, bawalah orang berdosa ke dalam ke gereja! Supaya mereka diampuni! Kalau waria datang ke gereja, kita suka duduk jauh-jauh. Ayo! Bawa pelacur-pelacur itu ke gereja! Bawa para pendosa di dunia ke gereja! Biar mereka ketemu Tuhan di sini. Tapi tradisi gereja seringkali justru menjauhkan para pendosa dari Tuhan. Biarkan mereka tahu Tuhan mengampuni mereka! Gereja bukan untuk orang-orang kudus, tapi orang-orang yang sudah ditebus. Buka hati kita, buka pintu gereja kita buat orang-orang berdosa! Biarlah ketika orang-orang bertemu Saudara maka mereka melihat Tuhan. Ada kasih karunia yang mengalir buat mereka, dari kita kepada mereka dan menjadi sahabat mereka.

Dosa apapun yang kita buat, Yesus katakan, datang padaku, Aku akan menyucikan dosamu sekali untuk selamanya. Lalu Yesus berkata, pergi dan jangan berbuat dosa lagi. Status kita dipulihkan. Banyak orang sekarang mencari status hidupnya, dengan membangun rumah mewah. Lucunya, mereka membangun rumah itu bukannya ditinggali, malah pembantunya yang tinggal di situ.

Ada seorang teman datang ke rumah seorang pengusaha besar di Pantai Indah Kapuk, dan waktu dibukakan pintu, dia lihat pembantunya lagi pada di pinggir kolam renang. Ada yang lagi tidur-tiduran bersantai. Ketika ditanya ke mana majikannya, mereka katakan ada di Singapura, belum pulang sudah sebulan. Kita seringkali membangun rumah karena harga diri atau gengsi. Saudara, tidak salah untuk membangun rumah yang mewah, asal dinikmati. Jangan karena gengsi. Beli mobil, baju semua bermerek, itu karena gengsi. Orang kalau lihat, kadang sudah seperti etalase berjalan. Buat apa? Supaya orang menghargai kita? Ingat, harga diri kita diukur bukan dari apa yang kita punya, tapi harga diri kita sama seperti pribadi Yesus, nyawa Saudara sama seperti nyawa Tuhan Yesus, itu harga diri kita!

Kalau yang punya harta, itu berkat bagi kita, untuk memberi impact di dunia ini. Kaya yang seperti apa? Kita punya paradigma, kalau banyak duit, harta, deposito, saham, barulah itu disebut kaya. Yang tidak punya duit, kita bilang miskin. Firman Tuhan katakan, orang kaya adalah orang yang mampu memberi dalam kelimpahannya. Orang yang merasa kurang melulu artinya dia sebetulnya miskin. Orang yang tidak punya banyak tapi merasa dirinya berkelimpahan, itulah orang kaya.

Kita harus mengubah paradigma kita. Bolehkah kita bekerja untuk kita mendapatkan berkat dan menikmati? Boleh. Tuhan sediakan banyak hal dalam Alkitab ini. Janji-janji, siapa kita, berkat seperti apa, jaminan hidup seperti apa. Itu semua ada di Alkitab, karena Yesus sudah mati bagi setiap kita. Apapun kita, ketika kita percaya, kita akan menerima apa yang diberikan Yesus di atas kayu salib.

Firman Tuhan katakan, orang benar hidup oleh iman. Hidup oleh percaya.

Siapa yang sanggup membangun hubungan satu sama lain? Suami sanggup membangun hubungan dengan istri? Orang tua dengan anak? Kita tidak sanggup. Kita butuh kasih karunia, pertolongan Tuhan. Paulus katakan berbahagialah kamu ada di dalam kelemahanmu karena di situlah kuasa Tuhan sempurna.

Kita butuh kasih karunia. Ketika dalam sebuah perenungan pribadi minggu lalu, saya membaca sebuah buku, dan saya merenungkan, “Iya ya, Tuhan. Kadang saya merasa diri mampu, padahal saya hidup dalam kondisi sebetulnya saya tidak mampu.” Saya punya prinsip “merasa bisa” jadi saya “tidak merasa saya tidak bisa”. Padahal saya tidak sanggup untuk membangun hubungan. Ketika saya merasa tidak sanggup, di situlah saya memberikan pada Tuhan, dan Tuhan yang membuat menjadi nyata. Bukan karena saya, tapi karena Dia! Tuhan mau Saudara percaya sama Dia, Dia mau mengembalikan kita ke Taman Eden, supaya berkat-berkat, penebusan, pengampunan yang sudah Tuhan sediakan bagi kita itu terjadi dalam hidup kita.

Hari ini, ketika engkau masih jatuh dalam dosa:

  • Sadarilah bahwa engkau tidak mampu,
  • Terima bahwa engkau memang gagal,
  • Datang pada salib, di situlah hidup berkemenangan atas dosa!

Penutup

Hari ini saya datang untuk meneguhkan siapa pribadimu di mata Tuhan. Tuhan tidak lagi melihat dosa-dosa yang sedang kaulakukan hari ini. Dia melihat bahwa darah Yesus sudah menguduskan pribadimu. Yang perlu kau akui adalah: Tuhan, aku tidak mampu untuk hidup berkemenangan atas kehidupan dosa ini, aku membutuhkan kasih karunia daripada-Mu. Aku tidak bisa bekerja untuk mendatangkan berkat atas hidupku, tapi bagianku adalah bekerja dan bagian-Mu, Engkau yang mendatangkan berkat untuk hidupku.

Di atas kayu salib, Dia menyediakan segala berkat itu bagi kita, dan berkat itu ada dalam Tuhan Yesus. Karena itu Firman Tuhan berkata barang siapa percaya, maka dia akan menerima. Itulah hidup oleh iman. Apapun hidupmu hari ini, ketika kau merasa tidak mampu, itulah syarat untuk kau menerima kasih karunia, anugerah dari Tuhan!

Apapun pergumulanmu hari ini, datang pada Tuhan! Tuhan Yesus katakan, kemarilah kamu yang letih lesu, yang berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan bagimu.

Setiap orang berdosa layak untuk datang kepada Tuhan Yesus, karena Dia datang untuk engkau yang berdosa. Hiduplah dalam kasih karunia, dalam ketidakmampuan, sehingga engkau bertumbuh dari kasih karunia kepada kasih karunia, dari kelimpahan kepada kelimpahan, dari iman kepada iman. Dan ketika engkau percaya, maka engkau akan menerima!

Amin.