Menganggap yang lain lebih utama

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 31 Oktober 2026 10.49 oleh Leo (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Kerendahan hati membuat kita tidak mencari pujian dan kepentingan diri sendiri, tetapi belajar menghargai serta melayani sesama. Yesus adalah teladan kita, karena Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Karena itu, marilah kita semakin menyerupai Kristus dengan hidup dalam kasih, kerendahan hati, dan sikap yang mendahulukan kepentingan orang lain.

Dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

— Galatia 5:26

Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.

— Filipi 2:3

Musuh terbesar bagi kita sebagai orang percaya bukan hanya nafsu duniawi, tetapi juga kesombongan hati. Kesombongan membuat kita mencari pujian yang sia-sia dan sering menganggap diri sendiri lebih baik daripada orang lain.

Firman Tuhan pagi ini kembali mengingatkan kita untuk menganggap yang lain lebih utama daripada diri kita sendiri. Sebagai orang percaya, kita harus belajar merendahkan diri seperti Yesus, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.

Maka sebagai orang Kristen sejati:

  1. Janganlah gila hormat
  2. Hindarilah kesombongan dan keinginan untuk selalu dipuji.

    Pujian manusia dapat membuat kita terlena dan mulai mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Karena itu, ketika kita menerima penghargaan, tetaplah rendah hati dan kembalikan segala kemuliaan kepada Tuhan.

    Kita melayani bukan supaya nama kita dikenal, tetapi supaya melalui hidup dan pelayanan kita, nama Yesus semakin dimuliakan.
  3. Jangan mencari kepentingan sendiri
  4. Firman Tuhan mengajar kita untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain.

    Menganggap orang lain lebih utama bukan berarti kita tidak memiliki nilai atau harus selalu mengabaikan diri sendiri. Artinya, kita tidak menempatkan ego, kedudukan, dan kepentingan pribadi di atas kasih kepada sesama.

    Kita belajar untuk tidak selalu ingin menang sendiri, tetapi bersedia mendengar, menghargai, menolong, dan melayani orang lain dengan hati yang tulus.
  5. Hiduplah dalam kasih
  6. Marilah kita lebih cepat melihat dan memperbaiki kesalahan diri sendiri daripada sibuk mencari kekurangan orang lain. Ketika kita memperhatikan sesama, lakukanlah bukan karena ingin tahu atau menghakimi, tetapi karena kita sungguh mengasihi dan menghormati mereka.

    Yesus berkata supaya kita belajar kepada-Nya karena Ia lemah lembut dan rendah hati. Kristus sendiri adalah teladan terbesar bagi kita dalam kerendahan hati. Karena itu, jangan biarkan kesombongan menciptakan perseteruan dan pertentangan di antara kita sebagai sesama orang percaya.

    Marilah kita hidup dalam kasih dan kerendahan hati, saling menghormati, saling mendahului dalam memberi hormat, dan melayani seorang akan yang lain.

Semakin kita mengenal Kristus, seharusnya semakin sedikit keinginan kita untuk meninggikan diri dan semakin besar kerinduan kita untuk menjadi berkat bagi sesama.

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Lukas 14:11)
Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. (Matius 18:4))

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

— Filipi 2:4