Pagar perlindungan Tuhan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 23 Oktober 2026 13.17 oleh Leo (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Iman bukan hanya dapat dilemahkan oleh penderitaan, tetapi juga oleh kekecewaan dan kenyamanan yang membuat kita lengah. Karena itu, kita membutuhkan “pagar perlindungan rohani” berupa keintiman dengan Tuhan, komunitas, persekutuan, dan kewaspadaan menjaga hati. Seperti Daud, ketika kita jatuh, Tuhan memanggil kita untuk bertobat dan kembali hidup dekat dengan-Nya.

Apabila engkau mendirikan rumah yang baru, maka haruslah engkau memagari sotoh rumahmu, supaya jangan kaudatangkan hutang darah kepada rumahmu itu, apabila ada seorang jatuh dari atasnya.

— Ulangan 22:8

Saat saya menyembah Tuhan dalam ibadah BPP, Tuhan seperti bertanya kepada saya, “Apa yang paling kamu sayangi? Siapa yang paling kamu kasihi?”

Saya teringat kisah seorang misionaris bernama Graham Stuart Staines, yang bersama istri dan keluarganya melayani orang-orang yang terkena kusta di India. Graham kemudian menjadi martir bersama kedua anak laki-lakinya ketika mereka dibakar hidup-hidup di dalam kendaraan. Yang luar biasa, istrinya memilih mengampuni orang-orang yang membunuh suami dan anak-anaknya, dan tetap melanjutkan pelayanan di India.

Dari kisah itu kita melihat bahwa aniaya dan penderitaan tidak selalu menghancurkan iman seseorang. Justru di tengah penderitaan, iman dapat tetap berdiri teguh.

Namun ada hal-hal lain yang tanpa kita sadari dapat melemahkan iman, di antaranya:

  1. Kekecewaan
  2. Kenyamanan

Kekecewaan dapat membuat kita menjauh dari Tuhan. Tetapi kenyamanan pun bisa membuat kita lengah dan merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.

Kita dapat melihat hal ini dalam kehidupan Daud.

Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem. (2 Samuel 11:1)

Ketika pasukannya pergi berperang, Daud justru tinggal di istana. Dalam masa ketika ia mulai lengah, Daud melihat Batsyeba dan kemudian jatuh ke dalam dosa. Hal ini mengingatkan kita bahwa kejatuhan sering dimulai ketika pagar kehidupan kita mulai diabaikan. Jabatan, sanjungan, keberhasilan, dan kenyamanan dapat membuat kita merasa aman, lalu perlahan menjadi lengah.

Ulangan 22:8 berbicara secara harfiah tentang tanggung jawab membuat pagar di atas rumah supaya orang tidak jatuh. Namun prinsip ini dapat menjadi gambaran bagi kehidupan rohani kita: kita juga membutuhkan batas-batas yang menjaga hati, pikiran, hubungan, dan kehidupan kita.

Dosa yang dibiarkan masuk dapat merusak banyak hal. Daud yang sebelumnya dikenal sebagai penyembah Tuhan dan seorang yang mengasihi Tuhan akhirnya melakukan perbuatan yang sangat jahat untuk menutupi dosanya.

Namun ketika Nabi Natan menegurnya, Daud akhirnya mengakui kesalahannya dan berkata:

“Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” (2 Samuel 12:13)

Daud mengalami konsekuensi yang berat dari perbuatannya, tetapi ia juga sungguh-sungguh bertobat. Mazmur 51 memperlihatkan bagaimana Daud datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan memohon supaya Tuhan memulihkan dirinya.

Karena itu, kita perlu membangun pagar perlindungan rohani dalam kehidupan kita.

  1. Tinggal dalam hadirat Tuhan
  2. Kita perlu terus bergantung dan berserah penuh kepada Tuhan. Jangan menunggu masalah datang baru mencari Tuhan, tetapi bangunlah hubungan dengan-Nya setiap hari.
  3. Jangan menjalani kehidupan seorang diri
  4. TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18)
    Kita membutuhkan keluarga, komunitas, dan saudara seiman yang dapat saling menjaga, mengingatkan, dan menguatkan.
  5. Tetap setia dalam persekutuan
  6. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (Ibrani 10:25)
    Persekutuan membantu kita tetap terjaga. Kita membutuhkan Firman Tuhan, doa, penyembahan, dan saudara seiman supaya kehidupan rohani kita tidak berjalan sendirian.
  7. Berjuang bersama dalam panggilan Tuhan
  8. Hari-hari ini kita sedang menghadapi peperangan rohani yang besar bagi generasi, visi, dan misi gereja. Karena itu, kita perlu berjalan bersama, saling menguatkan, dan tetap setia mengerjakan panggilan Tuhan.

    Jangan biarkan kekecewaan maupun kenyamanan merobohkan pagar kehidupan rohani kita. Mari tetap berjaga-jaga, tinggal dekat dengan Tuhan, hidup dalam komunitas, dan menjaga hati agar iman kita tetap teguh sampai akhir.

Amin.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

— Amsal 4:23