Allah menemani kita dalam badai
| Materi COOL Umum | |
|---|---|
| Tanggal | Jumat, 04 September 2026 |
| Penulis | Departemen COOL |
| Unduh | Google Drive |
| |
| |
Badai yang kita hadapi bisa berupa masalah keuangan, relasi, keuangan, kesehatan, pekerjaan dan lain sebagainya. Badai yang kita hadapi pun bersifat personal dan subyektif; artinya kita tidak bisa dan tidak boleh membanding-bandingkan persoalan yang kita hadapi sepertinya lebih besar atau lebih kecil dari orang lain.
Bacaan: Yesaya 43:2; Yakobus 1:2-4
Pendahuluan
Berbicara tentang "badai" tentu bukanlah badai dalam artian fenomena alam, tetapi persoalan atau pergumulan yang kita hadapi dalam hidup ini. Badai yang kita hadapi bisa berupa masalah keuangan, relasi, keuangan, kesehatan, pekerjaan dan lain sebagainya. Badai yang kita hadapi pun bersifat personal dan subyektif; artinya kita tidak bisa dan tidak boleh membanding-bandingkan persoalan yang kita hadapi sepertinya lebih besar atau lebih kecil dari orang lain. Semua orang menghadapi dan menjalani badainya masing-masing; tidaklah bijaksana dan tidaklah sensitif untuk memberi tingkat kadar kesulitan badai tiap-tiap orang. Dan ini berlaku baik kepada mereka yang percaya kepada Kristus maupun mereka yang tidak. Pertanyaannya: jika semua orang dapat mengalami badai, lalu ada perbedaan atau keistimewaan yang kita dapatkan dari mengikuti Kristus? Bukan artinya kita mencari-cari “keuntungan” atau membandingkan mana yang lebih “enak” imannya, tetapi kita akan melihat apa yang Allah ungkapkan dalam firman-Nya mengenai posisi-Nya dan maksud-Nya dengan mengizinkan kita menjalani badai hidup.
Isi dan sharing
- Yes 43:2 Allah tidak menjanjikan bahwa tidak akan ada badai dalam hidup, tetapi Dia berjanji menyertai kita.
- Yak 1:2-4 Mengapa Allah mengizinkan badai hidup terjadi atas kita, agar membuat kita menjadi pribadi yang semakin matang iman di dalam Dia
Dalam Yesaya 43:2, bahwa air lebih sering mengarah pada arti yang buruk, seperti banjir atau laut yang bergelombang. Demikian juga dengan sungai kerap diartikan sebagai yang buruk secara duniawi, apalagi api. Namun Allah yang mengasihi kita dapat mengubahkan air yang menenggelamkan, menjadi air yang menghidupkan, jika air itu adalah Yesus. Sungai yang menghanyutkan, menjadi sungai kehidupan, jika sungai itu adalah aliran kasih Bapa.
Api yang menghanguskan, menjadi api yang membakar, semangat hidup jika api itu adalah aliran urapan dan kuasa Roh Kudus. Allah mengizinkan kita mengalami persoalan badai "air, sungai dan api" agar kita berharap dan percaya Allah akan menggantinya dengan air-Nya, sungai-Nya dan api-Nya. Seberapun besarnya badai air, sungai, api yang kita hadapi, Tuhan berjanji itu tidak akan menghancurkan hidup kita. Allah memastikan tidak ada yang dapat menjatuhkan kita.
Satu-satunya badai dapat menjadi lebih besar dari pada yang seharusnya diizinkan Allah terjadi, adalah karena kita sendiri yang membuat badai itu menjadi lebih besar, dengan cara mengambil keputusan-keputusan atau respons-respons yang tidak sesuai dengan yang Allah inginkan. Keindahan kasih Allah tercantum dalam kata-kata awal dari ayat ini: "Aku akan menyertai engkau."Rasul Yakobus menambahkan bentuk lain dari badai yaitu pencobaan. Sebagai murid-murid Kristus, pencobaan bisa berwujud dalam banyak hal, yang intinya mendorong para pengikut Kristus untuk melakukan hal-hal dosa, berkompromi, atau berjalan di luar kasih karunia Allah. Pencobaan atau godaan muncul saat orang terdesak secara ekonomi atau nyawa. Yakobus melihat jika cobaan dan godaan mendatangi kita, justru itu adalah momen yang baik untuk berbahagia karena mengetahui bahwa sekarang muncul kesempatan untuk mematangkan iman keteguhan kita kepada Kristus. Cobaan dan godaan adalah ujian yang dapat digunakan sebagai evaluasi untuk kita mengetahui sejauh mana kita teguh dan matang (baca: mantap!) iman di dalam Kristus. Pencobaan dan godaan bukanlah dosa.
Dosa baru terjadi jika kita jatuh mengikuti pencobaan dan godaan tersebut. Allah bukanlah pribadi yang membuat pencobaan dan godaan, tetapi Dia bisa mengizinkan kita dicobai oleh iblis, oleh tekanan dunia, dan oleh hasrat/keinginan/nafsu diri kita sendiri, agar kita tahu sementah atau sematang apa iman kita di dalam Dia. Mereka yang bingung dan tidak tahu bagaimana untuk lulus ujian cobaan ini, rasul Yakobus mengajarkan jawabannya ada di ayat 5-6 (bacalah bersama-sama), yaitu tanya dan minta hikmat kepada Allah, yang tidak akan menahan-nahan hikmat itu dari mereka yang menanyakannya. Yakobus mengaitkan masalah mau bertanya kepada Tuhan atau tidak-pun, akan menunjukkan sejauh mana keteguhan iman seorang percaya kepada Tuhan.Pertanyaan Diskusi
- Apa "air, sungai, api" atau pencobaan sedang engkau hadapi hari-hari ini?
- Sewaktu menghadapi badai, biasanya akan mencoba untuk mengatasinya terlebih dahulu, atau meminta penyertaan Tuhan terlebih dahulu? Jelaskan alasan jawabanmu.
Kesimpulan dan saling mendoakan
Dari dua teks yang kita baca hari ini, ada satu garis merah yang terhubungkan: Allah menyertai kita saat kita dalam badai yang Dia izinkan terjadi, dan respons kita akan hal itu adalah kita bersandar pada Allah untuk menghadapinya dan mematangkan iman kita kepada-Nya. Tuhan begitu mengasihimu, percayalah pada-Nya. Amin.
Jadwal
- 04 Sep 2026: Allah menemani kita dalam badai