Bisnis/profesi sebagai mimbar penginjilan (Pdm Rudi Limuria, MA, CFP)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 20 Agustus 2026 10.31 oleh Leo (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Bisnis dan profesi tidak boleh dipisahkan dari kehidupan rohani, sebab setiap orang percaya dipanggil menjadikan tempat kerjanya sebagai mimbar untuk menyatakan Kristus dan ikut menuntaskan Amanat Agung. Karena itu orang percaya perlu menghadirkan nilai dan hadirat Tuhan di marketplace, mengelola pekerjaan dengan integritas serta prinsip Firman, dan menggunakan paradigma Kerajaan Allah dalam memandang keuntungan, karyawan, pelanggan, pajak, serta seluruh sumber daya yang dipercayakan. Menjadi murid Yesus dan berhasil di marketplace bukan dua hal yang bertentangan, selama keberhasilan tidak diperoleh dengan mengorbankan kebenaran dan seluruh pekerjaan diarahkan untuk memuliakan Tuhan serta menjadi berkat bagi sesama.

Shalom, Saudara percaya kita hidup di akhir dari akhir zaman? Amin.

Keadaan dunia memang tidak semakin mudah. Siklus ekonomi mengalami tekanan, perang terjadi di berbagai tempat, tetapi kita bersyukur karena kehidupan kita tidak ditentukan semata-mata oleh siklus ekonomi dan keadaan dunia. Kita mempunyai satu kepastian: Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat kita.

Hari-hari ini kita diarahkan untuk fokus kepada tahun 2033, ketika kita rindu setiap orang mendapat kesempatan mendengar tentang Tuhan Yesus. Kita dipanggil membawa Injil kepada orang-orang yang terhilang. Karena itu ada satu kalimat yang sangat kuat:

Everyone reaching everyone needs everyone
Semua orang menjangkau semua orang, dan untuk itu dibutuhkan semua orang.

Bayangkan, kita dipanggil untuk memberitakan Injil kepada miliaran manusia di dunia. Kalau tugas itu hanya dilakukan oleh para pendeta, tentu tidak akan selesai. Tetapi kalau seluruh tubuh Kristus bergandengan tangan, kita percaya Amanat Agung dapat dituntaskan. Karena itu, siapa pun Saudara—pengusaha, karyawan, profesional, pejabat pemerintahan, bahkan ibu rumah tangga—semuanya dipanggil mengambil bagian.

Jadikan bisnis dan profesi Saudara sebagai mimbar untuk memberitakan Injil.

Hari ini saya ingin secara khusus memperlengkapi anak-anak Tuhan yang berada di marketplace. Apa pun profesi Saudara, baik sebagai karyawan maupun pengusaha, Saudara berharga di mata Tuhan dan dipanggil menjadikan pekerjaan sebagai tempat kesaksian.

Jangan memisahkan kehidupan rohani dan pekerjaan

Sayangnya, ada pola pikir yang cukup umum di antara orang Kristen: “Senin sampai Sabtu cari uang, hari Minggu cari Tuhan.” Seolah-olah Senin sampai Sabtu kita boleh hidup mengikuti pola dunia, kemudian hari Minggu kita kembali menguduskan diri. Itu tidak benar. Pola seperti ini disebut dikotomi, yaitu memisahkan kehidupan menjadi wilayah rohani dan wilayah sekuler.

Ada yang berpikir:

Kalau berbicara tentang Tuhan, tempatnya di gereja.
Kalau belajar Firman, tempatnya di COOL.
Kalau berada di kantor atau bisnis, yang dibicarakan hanya keuntungan dan uang.

Padahal kehidupan tidak seharusnya dipisahkan seperti itu.

Ada pengusaha Kristen yang sangat berhasil secara bisnis, tetapi karena memiliki pola pikir dikotomi, gaya bisnisnya tidak berbeda dengan dunia. Dia memakai cara-cara yang tidak benar, karena merasa prinsip rohani hanya berlaku di gereja. Sebaliknya, ada juga orang yang sangat rohani tetapi bisnis dan pekerjaannya tidak berkembang karena berpikir bahwa dunia pekerjaan adalah sesuatu yang kurang rohani.

Dia takut mengembangkan bisnis karena khawatir dianggap cinta uang. Akhirnya kehilangan kesempatan, tidak mempersiapkan masa depan, dan hidup terus di zona nyaman.

Kedua-duanya keliru. Saudara dapat menjadi murid Yesus dan berhasil di marketplace tanpa mengorbankan kebenaran.

Tuhan hadir di marketplace

Kalau kita membaca Kisah Para Rasul, pelayanan Tuhan tidak hanya berlangsung di dalam rumah ibadah. Para murid melayani di tempat-tempat publik, rumah, penjara, pusat pemerintahan, dan berbagai ruang kehidupan masyarakat. Artinya, Tuhan hadir di tempat kerja.

Setelah para murid dipenuhi Roh Kudus pada hari Pentakosta, mereka keluar dari ruang tempat mereka berkumpul dan menjadi saksi Tuhan.

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8)

Petrus berkhotbah dan ribuan orang bertobat.
Kornelius, seorang perwira Romawi, mengalami lawatan Tuhan.
Paulus bekerja sebagai pembuat tenda.
Priskila dan Akwila juga bekerja dalam bidang yang sama.
Lidia adalah seorang pedagang kain ungu.

Mereka adalah orang-orang yang mempunyai profesi dan aktivitas ekonomi, tetapi sekaligus menjadi bagian dari pekerjaan Kerajaan Allah.

Karena itu tidak ada dikotomi. Semua terpanggil menuntaskan Amanat Agung. Bukan hanya pendeta yang memiliki mimbar!

Bisnis Saudara adalah mimbar.
Profesi Saudara adalah mimbar.
Kantor Saudara adalah ladang pelayanan!

Bekerja bukanlah kutukan

Ada orang yang berpikir bahwa bekerja merupakan akibat dosa. Tidak demikian! Sejak awal penciptaan, sebelum manusia jatuh dalam dosa, Allah sudah memberikan tanggung jawab kepada manusia untuk mengelola ciptaan-Nya.

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26)

Manusia menerima tanggung jawab untuk mengelola dunia yang Tuhan ciptakan. Kita dapat menyebutnya sebagai mandat budaya: mengembangkan sumber daya, talenta, kemampuan, dan segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepada manusia. Jadi bekerja sudah ada sebelum kejatuhan manusia.

Yang berubah karena dosa bukan keberadaan pekerjaan, tetapi kondisi manusia dan dunia kerja. Pekerjaan kemudian dapat diwarnai oleh kelelahan, persaingan yang tidak sehat, intrik, ketidakadilan, dan berbagai dosa lainnya.

Namun rancangan awal Tuhan adalah agar manusia bekerja dengan sukacita, menghasilkan karya yang baik, mengembangkan talenta, serta memuliakan Tuhan melalui pekerjaannya.

Karena itu berdagang, membangun usaha, mengembangkan perusahaan, maupun meniti profesi dapat menjadi pekerjaan yang kudus ketika dilakukan untuk kemuliaan Tuhan.

Bisnis juga memiliki dimensi rohani

Mengelola bisnis dan uang ternyata melibatkan banyak unsur rohani. Misalnya:

  1. rasa cukup,
  2. integritas,
  3. menghargai orang lain,
  4. keadilan,
  5. penguasaan diri,
  6. kemurahan hati,
  7. kerendahan hati,
  8. dan kasih.

Semua ini bukan sekadar persoalan teknis bisnis. Ini adalah persoalan karakter dan kerohanian.

Pekerjaan juga seharusnya memiliki makna. Jangan memberikan pekerjaan yang sia-sia hanya karena kita merasa sudah membayar seseorang. Pekerjaan seharusnya menolong seseorang mengembangkan talenta dan kapasitasnya menjadi lebih baik.

Karena itu coba tanyakan kepada diri sendiri: Apakah pekerjaan saya sedang memuliakan Tuhan?

Firman Tuhan berkata:

Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. (1 Korintus 2:11-12)

Kemudian:

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. (1 Korintus 2:14)

Karena itu tidak heran kalau dunia berkata:
“Kalau tidak bohong, bagaimana mau untung?”
“Kalau bayar pajak dengan benar, rugi.”
“Semua orang melakukan seperti itu. Kalau kamu jujur, kamu bodoh.”

Mengapa? Karena nilai tersebut dinilai dengan cara berpikir manusia duniawi. Kalau kita ingin hidup benar di marketplace, manusia rohani kita harus semakin kuat. Roh Kudus harus memimpin kehidupan kita. Di era Pentakosta Ketiga ini, jangan hanya membawa api Roh Kudus di dalam gedung gereja. Bawalah api itu keluar!

Masuklah ke kantor.
Masuklah ke perusahaan.
Masuklah ke pemerintahan.
Masuklah ke dunia pendidikan.
Masuklah ke seluruh marketplace.

Di sanalah kita menjadi saksi Kristus.

Bolehkah orang Kristen mencari keuntungan?

Ada yang bertanya: “Pak Rudi, kalau begitu boleh tidak bekerja mencari uang? Boleh tidak bisnis mencari keuntungan?”
Tentu boleh.

Seorang atlet bertanding untuk meraih medali.
Seorang profesional berharap kariernya berkembang.
Seorang pengusaha tentu berharap bisnisnya menghasilkan keuntungan.

Yang menjadi persoalan bukan keuntungan, tetapi bagaimana keuntungan tersebut diperoleh dan untuk apa keuntungan tersebut dipakai.

Firman Tuhan berkata:

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Karena itu keuntungan harus diperoleh dengan prinsip-prinsip kebenaran Tuhan.

Menjadikan bisnis dan profesi sebagai mimbar

Sekarang saya ingin memberikan tiga tips sederhana supaya bisnis dan profesi kita sungguh-sungguh menjadi mimbar.

#1 Hadirkan hadirat Tuhan di tempat kerja

Bagaimana caranya? Melalui doa, pujian, dan penyembahan. Pernahkah Saudara berpikir untuk berdoa sebelum memulai pekerjaan? Tidak perlu selalu dalam kelompok besar. Dua atau tiga orang berkumpul pun dapat berdoa bersama.

Apakah Saudara pernah terpikir mendoakan rekan kerja yang sedang mengalami masalah keluarga? Mungkin ada yang sedang menghadapi perceraian, sakit, tekanan pekerjaan, atau pergumulan lainnya. Jadilah orang yang membawa kasih Tuhan. Jadilah Firman yang hidup melalui kejujuran, kasih, dan perilaku kita.

Ketika Saul berada dalam tekanan roh jahat, Daud memainkan kecapi dan Saul mengalami kelegaan. Demikian juga kita dapat membawa atmosfer yang berbeda ke dalam dunia kerja melalui kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus.

Kalau suasana kantor penuh ketegangan, berdoalah.
Kalau ada budaya ketidakjujuran, hadirkan nilai kebenaran.
Kalau pekerjaan terus mengalami masalah, datang kepada Tuhan dan minta hikmat.

Bukan berarti setiap persoalan bisnis secara otomatis disebabkan oleh roh jahat. Kita tetap perlu melakukan evaluasi profesional, memperbaiki sistem, dan mengambil keputusan yang bijaksana. Namun sebagai orang percaya, kita juga mengundang Tuhan hadir dan memimpin setiap pekerjaan.

Firman Tuhan berkata:

Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. (Mazmur 22:4)

Kita membawa hadirat Tuhan keluar dari tembok gereja dan masuk ke tempat kita dipanggil untuk menjadi saksi-Nya.

#2 Kelola bisnis dengan nilai-nilai kebenaran

Alkitab tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Alkitab juga mengajarkan prinsip hidup dalam pekerjaan dan bisnis. Firman Tuhan berkata:

Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan, mengenai ukuran, timbangan dan sukatan. (Imamat 19:35)

Sejak dahulu Tuhan sudah berkata kepada umat-Nya: Kalau berbisnis, jangan curang. Gunakan ukuran yang benar. Gunakan timbangan yang benar.

Firman Tuhan juga berkata:

Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui. (Amsal 10:9)

Karena itu marketplace harus dikelola dengan kebenaran. Ada orang yang berkata: “Saya tidak percaya Tuhan, tetapi saya juga bisa menjadi orang baik.” Tentu orang yang tidak percaya pun dapat melakukan berbagai hal yang baik. Namun pertanyaannya adalah: apa dasar kebaikan tersebut?

Kalau hanya hukum yang menjadi dasar, bagaimana kalau hukum tidak mengatur suatu hal? Kalau hanya budaya keluarga, bagaimana kalau budaya keluarganya berbeda? Orang percaya mempunyai dasar yang tidak berubah, yaitu Firman Tuhan.

Hukum manusia dapat berubah.
Budaya dapat berubah.
Situasi dapat berubah.
Namun kebenaran Tuhan tetap!

Karena itu kita melakukan yang benar bukan hanya karena takut ditangkap, diawasi, atau diketahui orang. Kita melakukan yang benar karena Tuhan adalah benar.

#3 Gunakan paradigma Allah

Paradigma adalah cara kita memandang sesuatu. Kalau cara pandang kita negatif, kita akan melihat segala sesuatu secara negatif. Orang yang hidup pada masa perang mungkin selalu penuh kewaspadaan. Dia sulit percaya kepada orang lain dan cenderung menimbun karena takut kekurangan.

Tetapi ketika kita hidup bersama Tuhan, kita mempunyai cara pandang yang berbeda.

Kita mempunyai keselamatan.
Kita mempunyai sukacita.
Kita mempunyai masa depan dan pengharapan.

Karena itu bisnis juga harus dikelola dengan paradigma Allah, bukan hanya paradigma dunia.

Mengenai tujuan bisnis, paradigma dunia sering berkata: Tujuan utama bisnis adalah memaksimalkan keuntungan.

Paradigma Allah melihat lebih luas:

  1. Bisnis menyediakan produk dan jasa yang berkualitas serta menjadi berkat bagi seluruh pihak yang terkait.
  2. Supplier dibayar dengan benar dan tepat waktu.
  3. Karyawan menerima haknya.
  4. Pelanggan memperoleh produk yang baik
  5. Bisnis dikelola dengan efisien dan bertanggung jawab.
  6. Keuntungan tetap penting, tetapi keuntungan menjadi hasil dari pengelolaan yang baik, bukan alasan untuk mengorbankan kebenaran.

Mengenai karyawan, paradigma dunia dapat melihat karyawan hanya sebagai human capital: “Saya bayar mahal, jadi kamu harus menghasilkan sebanyak mungkin.” Paradigma Kerajaan Allah memandang karyawan sebagai manusia yang berharga dan mitra dalam pekerjaan.

  1. Ada kerja sama.
  2. Ada penghargaan.
  3. Ada kesempatan untuk berkembang.
  4. Ada rasa memiliki.

Mengenai pajak, ada perbedaan antara tax evasion dan tax planning.

  1. Tax evasion berarti menghindari atau menggelapkan pajak secara tidak benar.
  2. Tax planning berarti mengatur transaksi dan bisnis secara sah agar kewajiban pajak dikelola secara efisien.
  3. Dua-duanya berbicara tentang pajak, tetapi sangat berbeda dalam nilai dan cara melakukannya.

Orang percaya harus tetap berada di dalam kebenaran.

Integritas justru membangun bisnis

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa perusahaan yang menjunjung tinggi etika dan integritas dapat memiliki kinerja yang lebih baik dalam jangka panjang.

Mengapa?

Karena karyawan lebih loyal.
Orang-orang berkualitas tertarik bekerja di sana.
Produk yang dihasilkan lebih dipercaya.
Harga dipandang lebih adil.
Pelanggan menjadi lebih loyal.

Prinsip utamanya: integritas bukan musuh keberhasilan bisnis.

Kita tidak harus memilih antara: “Berhasil tetapi tidak benar,” atau: “Benar tetapi tidak berhasil.”

Dengan pertolongan Tuhan, kita dapat menjalankan pekerjaan dengan kompeten sekaligus berintegritas.

Marketplace juga membutuhkan pemuridan

Banyak anak Tuhan di dunia kerja membutuhkan tuntunan.

Bagaimana menghadapi persaingan?
Bagaimana menghadapi tekanan untuk berkompromi?
Bagaimana mengambil keputusan yang sulit?
Bagaimana mengembangkan bisnis tanpa jatuh dalam cinta uang?
Bagaimana menjadi pemimpin yang benar?

Karena itu gereja juga perlu memperlengkapi jemaat yang berada di marketplace dengan kesaksian, pengajaran, mentoring, dan pengalaman nyata dari orang-orang percaya yang menjalani profesinya dengan benar. Kita perlu mendengar kesaksian orang-orang yang menghadapi tantangan dunia kerja, memikul salib, tetap berpegang kepada kebenaran, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang.

Mitos bahwa seseorang tidak mungkin sekaligus menjadi murid Yesus dan berhasil di marketplace harus dihancurkan. Kita dapat berkata: Yes, saya bisa menjadi murid Yesus dan berhasil di marketplace tanpa mengorbankan kebenaran.

Penutup

Bisnis dan profesi bukanlah wilayah yang terpisah dari Tuhan. Tidak ada kehidupan rohani pada hari Minggu dan kehidupan sekuler pada hari Senin sampai Sabtu.

Seluruh hidup kita adalah milik Tuhan.
Pekerjaan kita adalah bagian dari panggilan.
Bisnis kita adalah bagian dari pelayanan.
Profesi kita adalah mimbar.

Karena itu: Hadirkan hadirat Tuhan di tempat kerja.

Bangun kehidupan doa dan jadilah pembawa damai serta kasih Kristus. Kelola pekerjaan dengan nilai-nilai kebenaran.

Jangan korbankan integritas demi keuntungan. Gunakan paradigma Allah.

Lihat bisnis, karyawan, pelanggan, supplier, pajak, keuntungan, dan seluruh sumber daya dari sudut pandang Kerajaan Allah. Kita semua dipanggil untuk menuntaskan Amanat Agung. Jangan hanya menunggu orang datang ke gereja.

Bawalah Kristus ke tempat di mana Saudara berada setiap hari.

Ke ruang rapat.
Ke toko.
Ke pabrik.
Ke kantor.
Ke profesi.
Ke perusahaan.
Ke pemerintahan.

Jadikan bisnis dan profesi Saudara sebagai mimbar penginjilan!

Amin.

Nyanyi:

Yesus hanya Kau yang kuandalkan
melebihi siapa pun juga
Yesus hanya Kau yang kupercaya
di setiap waktu
Tiada lain yang kuandalkan
selain Kau, Yesus.

Video