Hidup sebagai penyembah

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 31 Juli 2026 15.25 oleh Leo (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Jadi, menjadi seorang penyembah bukan sekedar menjadi seorang yang lebih "baik" tetapi menjadi pribadi yang mau meninggalkan kehidupan lamanya yang telah ditebus dari dosa oleh Kristus, menjadi pribadi yang mau diperbaharui roh dan pikirannya oleh Roh Kudus, sesuai dengan kebenaran firman, yaitu ajaran dan teladan Yesus.

Bacaan: Yohanes 4:23-24

Pendahuluan

Dua minggu yang lalu, kita sempat belajar bahwa mengenai penyembahan dapat kita mengerti ada dalam dua bentuk, yaitu penyembahan dalam pengertian besar, yaitu mempersembahkan hidup kita sebagai bentuk penyembahan kepada Tuhan, dan penyembahan dalam pengertian spesifik yaitu ekspresi doa, pujian, penyembahan dan juga persembahan.

Minggu ini kita akan belajar bagaimana kita menjalankan hidup kita sebagai seorang penyembah.

Isi dan sharing

  1. Yoh 4:23-24 Cara hidup penyembah sejalan dengan penyembahannya
  2. Kehidupan sebagai seorang penyembah tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup yang dijalaninya. Seseorang tidak dapat mengklaim dirinya adalah penyembah Allah, namun cara dia menjalani hidupnya sehari-hari tidak sejalan dengan sosok Allah yang ia sembah. Seseorang tidak dapat mengklaim dirinya adalah penyembah Tuhan Yesus, tetapi gaya hidupnya tidak mencerminkan Tuhan Yesus yang ia sembah.

    Kata "dalam roh" menunjukkan bahwa seorang yang mengklaim dirinya penyembah haruslah sungguh-sungguh hidup, hati, dan rohnya diarahkan oleh Roh Kudus. Kata "dalam kebenaran" merujuk bahwa seorang penyembah haruslah sungguh-sungguh menuruti Firman Tuhan, yaitu menuruti dan meneladani Yesus Kristus yang adalah sang Firman itu sendiri (Yohanes 1:1, 14).

    Jadi, menjadi seorang penyembah bukan sekedar menjadi seorang yang lebih "baik" tetapi menjadi pribadi yang mau meninggalkan kehidupan lamanya yang telah ditebus dari dosa oleh Kristus, menjadi pribadi yang mau diperbaharui roh dan pikirannya oleh Roh Kudus, sesuai dengan kebenaran Firman, yaitu ajaran dan teladan Yesus.
  3. Rom 12:1 Hidupnya mengarah pada satu target: perkenanan Tuhan
  4. Rasul Paulus mengajarkan dengan presisi dan tepat bagaimana seorang penyembah menjalankan hidupnya. Roma 12:1 dimulai dengan kata: "Karena itu".

    Apa yang ia maksudkan dengan dua kata ini? Dua kata ini menunjukkan pada perihal anugerah keselamatan yang Allah berikan, yang dibahas Paulus secara panjang lebar di kesebelas pasal sebelumnya. Karena kita sudah menerima anugerah keselamatan, kita dinasihatkan untuk mempersembahkan diri kita (dari pengertian kata "tubuh") kepada Allah, itulah penyembahan (dari pengertian kata "ibadah") kita yang sejati.

    Cara hidup yang bagaimana yang hendaknya kita jalankan sehingga itu menjadi cerminan seorang penyembah/penerima anugrah keselamatan?

    Ada 3 (tiga) kata kunci yang Paulus ajarkan:

    • Hidup (Yunani: zao), yaitu menjalani keseharian hidup sebagai orang yang sudah ditebus dari kematian rohani, sebaliknya hidup dalam sukacita dan penuh pengharapan di dalam Kristus.
    • Kudus (Yunani: hagios), yaitu menjalani keseharian hidup terpisahkan dari gaya hidup orang-orang yang tidak mengenal Allah dan duniawi.
    • Berkenan (Yunani: euarestos), yaitu menjalani keseharian hidup sejalan dengan keinginan Roh Kudus. Kita mempersembahkan diri kita sebagai rumah yang telah mati kepada dosa dan kini sebagai rumah Roh Kudus.
  5. Mik 6:8 Hidupnya mencerminkan sifat-sifat Allah yang disembahnya
  6. Konteks sederhana dari ayat kita baca adalah teguran Nabi Mikha kepada Israel yang hidupnya tidak sesuai dengan penyembahan yang mereka lakukan kepada Allah Israel (yang sekarang kita sembah dalam nama Yesus Kristus). Mereka mengklaim telah memberikan banyak korban bakaran, tetapi Allah tetap tidak berkenan. Mengapa? Karena kehidupan mereka tidak mencerminkan sifat-sifat Allah yang mereka klaim mereka sembah.

    Dalam ayat Mikha 6:8 yang kita baca, Nabi Mikha mengingatkan bahwa Allah menuntut hidup kita mencerminkan sifat Dia yaitu:

    • Berlaku adil (Ibrani: mishpat), yaitu tidak memihak dan jujur dalam memperlakukan sesama manusia,
    • Mencintai kesetiaan (Ibrani: khesed), yaitu memilih untuk mengutamakan kebaikan, kemurahan hati dan kesetiaan dalam hidup sehari-hari,
    • Hidup rendah hati (Ibrani: tsana), yaitu penuh hormat kepada Allah dan sadar dengan penuh bahwa tanpa Dia, hidup kita tidak ada apa-apanya.

Kesaksian

Sekalipun Anda ingin hidup mencerminkan Allah dalam pekerjaan/aktivitas Anda, faktor apa yang membuat Anda sukar untuk melakukannya di sana?
Adakah contoh atau pergumulan yang Anda hadapi tentang hal ini saat ini?
Bagaimana Anda mengatasinya?
Bagikan pergumulan dan kisah Anda.

Kesimpulan dan saling mendoakan

Jika kita perhatikan dan renungkan, banyak hal yang sebenarnya bisa kita "titipkan" untuk kita persembahkan kepada Allah.

Kita bisa menitipkan uang persembahan, persepuluhan, persembahan sulung, atau bahkan donasi untuk membantu sesama yang dalam berkekurangan, melalui orang lain atau pihak ketiga untuk disampaikan.

Tetapi, penyembahan harus kita persembahkan sendiri. Tidak ada yang bisa mewakili pujian dan penyembahan kita kepada Tuhan, dan tidak ada yang bisa mewakili bagaimana kita menjalani hidup kita sehari-hari di hadapan Tuhan maupun manusia. Itu harus kita lakukan sendiri masing-masing. Karena itu, jalanilah hidup kita sebagai penyembah.

Amin.

Jadwal