Menguasai pikiran dalam iman

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 11 Juli 2026 17.36 oleh Jaen (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info | templatetype=inspirational | namespace= Article | pagename= 20260716/IN | title= Menguasai pikiran dalam iman | date= 2026-07-16 | event= Menara Doa Unity | displayevent= Menara Doa Unity | actualdate= 2026-07-09 | notes= | name= Mikael Wonohito | completename= Mikael Wonohito | illustration16x9= {{LatestImage/Inspirational | name=Mikael Wonohito | date=2026-03-10 }} | illustration1x1= Logo Inspirational 1x1.webp | illustrationA5=...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Renungan singkat (3 kalimat): Roma 12:3 mengingatkan kita untuk menguasai diri dan tidak membiarkan pikiran berjalan terlalu jauh dalam kekhawatiran. Di tengah dunia yang penuh berita menakutkan dan informasi yang belum tentu benar, kita perlu menjaga pikiran tetap melekat kepada Tuhan. Masa depan kita ada dalam tangan Tuhan Yesus, sebab Dia yang menyelamatkan, menuntun, dan memegang hidup kita sampai akhir.

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

Roma 12:3

Sering kali apa yang kita pikirkan, terutama pada hari-hari ini, jauh melebihi apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kita tahu bahwa dunia sedang chaos, berada dalam banyak ketidakpastian. Ada konflik, peperangan, bencana, dan berbagai berita yang membuat banyak orang menjadi takut. Namun sering kali apa yang kita dengar setiap hari belum tentu benar-benar terjadi seperti yang kita bayangkan. Bahkan tanpa sadar, pikiran kita bisa berjalan terlalu jauh melebihi apa yang Tuhan kehendaki.

Beberapa waktu lalu, kita pernah digemparkan dengan isu megathrust. Ketika berita itu pertama kali muncul, istri saya setiap hari mencari informasi tentang gempa. Lama-kelamaan, isi handphone-nya penuh dengan berita tentang gempa, sampai akhirnya muncul kekhawatiran dan ketakutan sendiri. Dari sini kita belajar bahwa kita tidak boleh mudah terpancing. Hari-hari ini iblis berusaha menggiring pikiran kita, bukan untuk memikirkan rencana Tuhan, tetapi untuk dikuasai oleh ketakutan. Sering kali kita ingin mengetahui kehendak Tuhan, tetapi pikiran kita justru berbelok kepada kekhawatiran yang berlebihan.

Inilah yang diingatkan dalam Roma 12:3. Kita tidak boleh dikuasai ketakutan dan kekhawatiran. Tuhan menghendaki agar kita menguasai diri dalam iman kepada Tuhan Yesus. Apa pun yang terjadi, kita percaya hidup kita ada di dalam tangan Tuhan.

Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan menghadapi akhir hidupnya. Tetapi sebagai orang percaya, kita memiliki pengharapan bahwa kita diselamatkan di dalam Tuhan Yesus. Karena itu, yang seharusnya paling khawatir bukanlah orang-orang yang hidup di dalam Tuhan, melainkan mereka yang belum mengenal Dia. Kita boleh memiliki rencana masa depan. Kita boleh punya cita-cita, tujuan hidup, dan persiapan. Namun memikirkan hari esok secara berlebihan sampai membuat kita takut, bingung, dan kehilangan damai sejahtera, itu harus kita hindari.

Misalnya, seseorang terlalu khawatir tentang apa yang akan dimakan besok, lalu membayangkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi. Atau anak Youth yang masih SMP sudah terlalu takut memikirkan kuliah, padahal masih ada beberapa tahun lagi.

Hal-hal seperti ini perlu kita serahkan kepada Tuhan. Kita perlu melekat sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus, supaya iman kita dikuatkan dan pikiran kita tetap terarah kepada-Nya.

Hari-hari ini kita juga harus sangat berhati-hati dengan media sosial. Informasi tersebar begitu cepat. Dengan teknologi AI, video atau berita palsu bisa dibuat semakin mudah. Teknologi bisa sangat berguna, tetapi juga bisa berbahaya bahkan hingga mematikan.

Karena itu, kita perlu menjaga pikiran, menyaring informasi, dan tetap berpegang kepada Firman Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan Yesus yang memegang hidup kita. Dahulu kita diselamatkan, hari ini kita tetap dituntun, dan masa depan kita pun ada dalam tangan-Nya.

Besok, tahun depan, bahkan sepuluh tahun lagi, Tuhan tetap sanggup menuntun dan memegang tangan kita. Jadi, jangan biarkan kekhawatiran berlebihan menguasai pikiran kita. Mari kuasai diri dalam iman kepada Tuhan Yesus. Amin.

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. (Matius 6:34)

Amin.