Mahkota orang percaya (Pdp Irawan Timothy Karsono, MTh)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 4 Juli 2026 09.33 oleh Leo (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Mahkota orang percaya berbicara tentang upah kekal yang Tuhan sediakan bagi setiap orang yang sudah diselamatkan oleh anugerah, lalu hidup setia, merindukan kedatangan Tuhan, menguasai diri, memenangkan jiwa, dan menggembalakan sesama bagi kemuliaan-Nya. Seluruh perjuangan iman di dunia ini tidak sia-sia, sebab Tuhan menilai kesetiaan, karakter, motivasi hati, dan perbuatan yang mempermuliakan Dia, lalu memberikan mahkota sebagai upah sorgawi bagi orang percaya. Namun pada akhirnya semua mahkota itu bukan untuk kesombongan manusia, melainkan untuk dipersembahkan kembali kepada Tuhan sebagai wujud penyembahan, sehingga hidup orang percaya harus berfokus pada mahkota sorga, bukan pada kesenangan dunia yang sementara.

Shalom. Apa kabarnya? Luar biasa di dalam Tuhan! God is good all the time, and all the time God is good. Puji Tuhan.

Saya senang sekali boleh berada bersama-sama dengan Bapak, Ibu, Saudara di tempat ini. Tuhan baik untuk kita semua. Amin. Puji Tuhan.

Hari ini kita akan bahas satu tema, yaitu Mahkota Orang Percaya. Siapa yang mau jadi pemenang di sini? Amin! Kita semua mau jadi juara, kita mau jadi pemenang. Kita tahu Tuhan akan menjadikan kita lebih daripada pemenang. Haleluya.

Pertanyaannya, Bapak, Ibu, Saudara, apa sih yang sedang kita kejar pada hari-hari ini? Apa yang sedang kita kejar di dalam kehidupan kita di muka bumi ini? Apakah kita mengejar harta, tahta, cinta? Atau kita mengejar kedudukan, popularitas?

Segala sesuatu yang kita kejar di dunia ini pasti akan berakhir. Semua tidak ada yang abadi. Semua bisa berkurang, lenyap, bahkan hilang tanpa jejak.

Orang yang tadinya begitu viral, begitu terkenal, dielu-elukan, bisa tiba-tiba kehilangan ketenarannya. Ngga diingat lagi sama orang lain. Harta yang berlimpah bisa, karena gejolak ekonomi, tiba-tiba bukannya untung tapi bangkrut. Hari ini harga emas lagi bagus, tetapi bisa saja nanti terjun bebas. Ngga ada yang pasti, ngga ada yang abadi dalam pencapaian kita di dunia ini. Amin.

Bahkan ketika kita mencapai segala sesuatu, bahkan dalam label rohani, di dalam label pelayanan sekalipun, kalau dengan ambisi kita mengejar segala sesuatu — pencapaian demi pencapaian, kedudukan demi kedudukan, tanggung jawab demi tanggung jawab — hati-hati, semuanya tidak ada yang abadi. Semuanya bisa lenyap begitu saja.

Nah, kabar baiknya, Bapak, Ibu, Saudara, Tuhan kita menyediakan sesuatu yang kekal buat setiap kita.

Mari kita baca Wahyu 22:12:

Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.

Ternyata Tuhan menyediakan upah sorgawi bagi kita semua yang percaya, yang hidup bagi Tuhan.

Siapa yang percaya bahwa keselamatan tidak diperoleh dengan perbuatan baik? Boleh lambaikan tangan. Semua karena anugerah Tuhan. Ada anugerah Tuhan yang Tuhan kerjakan, yang Tuhan sediakan. Lalu bagian kita apa? Menerima dengan iman.

Ngga ada perbuatan baik di situ. Karena semua orang sudah berbuat dosa. Upah dosa adalah maut. Ngga bisa kita timbang-timbang perbuatan baik dan perbuatan jahat, karena satu perbuatan dosa kita sudah cukup untuk membawa kita masuk ke dalam neraka.

Tetapi puji Tuhan, ada kasih karunia di dalam Tuhan Yesus, sehingga kita yang percaya kepada Tuhan Yesus menerima hidup yang kekal. Tapi setelah itu, setelah kita ada di dalam keselamatan, Tuhan mau kita berbuah perbuatan-perbuatan yang mempermuliakan nama Tuhan.

Dan Dia sediakan upah buat setiap kita yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mempermuliakan Dia.

Ini akan terjadi pada waktu kedatangan Yesus yang kedua kali. Tahap yang pertama, Bapak, Ibu, Saudara perlu mengerti, waktu Yesus datang untuk kedua kali, ada tahap pertama yaitu Dia datang di awan-awan.

Waktu itu tanda diberi, penghulu malaikat berseru, sangkakala dibunyikan. Pasti bunyinya megah sekali, spektakuler. Yang ngga tahu bunyinya seperti apa. Mungkin bukan bunyi yang biasa, tetapi bunyi yang sangat luar biasa.

Lalu apa yang terjadi? Tuhan turun dari sorga di awan-awan. Lalu orang-orang yang mati di dalam Tuhan terlebih dahulu dibangkitkan. Lalu kita yang masih hidup pada waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali itu, kita diubahkan tubuh kita menjadi tubuh kemuliaan.

Lalu apa yang terjadi? Kita akan sama-sama — yang mati di dalam Tuhan, yang masih hidup, yang sudah diubahkan tubuhnya — diangkat menyongsong Tuhan di udara. Ini dahsyat. Ini peristiwa yang harus kita rindukan, karena kita akhirnya bertemu muka dengan muka dengan Kekasih hati kita, Juru Selamat kita yang agung, Tuhan Yesus Kristus.

Lalu apa yang terjadi di sorga nanti? Sementara di bumi dimulai masa tribulation, di sorga kita menikmati kebersamaan dengan Tuhan kita. Ada doa, pujian, penyembahan siang dan malam. Day and night, and day and night. Ngga berhenti-berhenti. Makanya kita perlu latihan di bumi ini punya gaya hidup doa, pujian, penyembahan!

Lalu apa yang terjadi lagi? Ada yang namanya pesta kawin Anak Domba. Mengapa mengambil istilah pesta kawin? Karena di dalam hubungan manusia, hubungan yang menyatu dan tidak bisa dipisahkan lagi adalah di dalam pernikahan. Dua menjadi satu.

Bukan artinya akan ada pernikahan secara biologis di sorga, tetapi ini melambangkan bahwa umat Tuhan dengan Tuhannya — Mempelai Pria dengan mempelai wanita — bersatu dan tidak terpisahkan lagi. Siapa yang mau mengalami hal itu, katakan yes.

Lalu akan ada yang namanya takhta pengadilan Kristus. Di situ bukan diadili untuk dinyatakan siapa yang selamat dan siapa yang tidak selamat. Karena yang tadi diangkat pasti sudah selamat masuk sorga. Tetapi ada penilaian atas perbuatan-perbuatan yang mempermuliakan Tuhan. Motivasi-motivasi waktu kita melayani Tuhan, waktu kita menjalani kehidupan kita — dasarnya apa?

Pak Niko pernah menggolongkan keselamatan menjadi tiga jenis. Ada yang kehilangan keselamatan, ada yang seperti hampir-hampir diselamatkan, dan ada yang benar-benar diselamatkan dengan utuh.

Kita ingat di 1 Korintus 3, ada orang yang diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api. Diselamatkan sih, tetapi gosong. Waktu diuji dengan api, ternyata motivasinya terbuat dari apa? Kayu, jerami, sesuatu yang gampang terbakar. Dia diselamatkan, tetapi kehilangan upah, kehilangan mahkota.

Tetapi kita mau jadi bagian orang-orang yang diselamatkan secara utuh, secara sempurna. Diselamatkan, lalu menerima upah, menerima mahkota.

Nah, ini yang kita mau pelajari hari ini. Ada lima jenis mahkota yang akan kita terima pada waktu kedatangan Yesus yang kedua kali ini. Dahsyat ya. Betapa Tuhan merancang masa depan yang luar biasa, masa depan yang penuh harapan, masa depan yang gilang-gemilang, bukan cuma di bumi ini, tetapi di dalam kekekalan. Dia sudah merancangkannya buat kita, untuk kita memerintah bersama-sama dengan Dia.

Lima mahkota

#1 Mahkota kehidupan

Yang pertama adalah mahkota kehidupan. Ini untuk siapa? Untuk orang-orang yang setia sampai mati.

Hendaklah engkau setia sampai mati dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. (Wahyu 2:10)

Ini dikatakan kepada jemaat di Smirna, jemaat yang mengalami penganiayaan. Mereka mengalami tekanan secara ekonomi, tekanan secara status, bahkan beberapa di antara mereka dijebloskan ke dalam penjara. Karena di bagian sebelumnya dikatakan bahwa Iblis akan menjebloskan beberapa orang di antara kamu ke penjara. Bahkan mereka membayarnya dengan nyawa.

Akan ada yang mati karena mempertahankan iman, tetap setia sampai mati di tengah segala pergumulan mereka. Yesus berpesan kepada jemaat ini: hendaklah engkau setia sampai mati.

Berapa besar pergumulanmu hari ini? Penderitaanmu hari ini? Pesan yang sama buat kita semua: tetap setia sampai mati. Amin. Haleluya.

Mahkota kehidupan disediakan untuk orang-orang yang tetap setia. Tetap setia walaupun gunung itu tak berpindah, tetap percaya.

Sekalipun penyakit kita belum sembuh, kita tetap mengiring Tuhan. Sekalipun ekonomi kita belum membaik, masih morat-marit, kita tetap percaya kita ada di dalam tangan Tuhan dan kita tidak pernah menukar iman kita.

Kemenangan terbesar bukan ketika kita berdoa lalu menerima mukjizat. Ya, ketika kita menerima mukjizat, itu kemenangan. Tetapi kemenangan terbesar adalah ketika doa kita belum dijawab, bahkan ketika Tuhan tidak menjawab doa kita.

Paulus pernah berdoa tentang duri di dalam dagingnya. Dia meminta kepada Tuhan sampai tiga kali. Lalu Tuhan katakan apa?

Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanmulah kuasa-Ku menjadi sempurna. (2 Korintus 12:9a)

Di situlah kemenangan yang sesungguhnya buat orang Kristen. Tetap bertahan dalam penderitaan. Tapi jangan takut. Tuhan kita adalah Penolong yang setia yang tetap menyertai kita bahkan di dalam kesesakan sekalipun. Dan kita tidak meninggalkan Tuhan. Tetap percaya sampai akhir sekali. Yesus tetap Yesus.

Yesus yang menyuruh kita untuk tetap setia sampai akhir, Dia sudah lakukan bagian-Nya terlebih dahulu. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Dia taat sampai mati, bahkan mati di atas kayu salib. Jadi Yesus bukan cuma omon-omon. Waktu Dia mengatakan, “Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu,” Yesus sudah lakukan lebih dulu. Mengasihi kita dengan segenap jiwa dan raga-Nya, bahkan mati buat kita. Tetapi bukan cuma mati, Dia bangkit, Dia naik ke sorga, menyediakan tempat buat kita. Bahkan sekarang kita baca, Dia menyediakan upah buat setiap kita yang setia sampai akhir.

Kesetiaan adalah sesuatu yang sangat mahal di mata Tuhan. Tuhan melihat bukan tampilan luarmu, bukan kehebatanmu, bukan kekayaanmu, tapi apa yang ada di dalam kesetiaanmu, karaktermu, ketekunanmu, lebih daripada pencapaian-pencapaianmu.

#2 Mahkota kebenaran

Yang kedua adalah mahkota kebenaran, untuk mereka yang merindukan kedatangan Tuhan.

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. (2 Timotius 4:8)

2 Timotius adalah kitab terakhir yang dituliskan oleh Paulus, karena ini menjelang kematiannya. Tuhan sudah kasih tanda.

Kalau kita baca sampai bagian awal saja, mungkin kita pikir, “Oh, pantesan Paulus disediakan mahkota kebenaran. Rasul yang luar biasa, menulis sebagian besar dari Perjanjian Baru. Wajar dong.”

Tetapi jangan berhenti membacanya. Dikatakan: bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Siapa yang merindukan kedatangan Tuhan Yesus? Segera. Amin. Haleluya!

Tetapi pertanyaannya, Bapak, Ibu, Saudara, kenapa sih kita merindukan kedatangan Tuhan Yesus? Apakah karena harga dolar sudah melambung jauh? Karena pergumulan hidup yang ada di dunia ini? Apakah kita bilang, “Tuhan Yesus, kenapa Engkau ngga cepat datang sih?” Apakah karena itu kita merindukan kedatangan Tuhan?

Baik, kita mau lihat ciri-ciri orang yang merindukan kedatangan Tuhan seperti apa.

Yang pertama, ciri orang yang menantikan kedatangan Tuhan adalah orang yang menjaga kekudusannya. Loh, apa hubungannya? Ternyata begini. Waktu kita merindukan kedatangan Tuhan, ngga akan ada orang yang merindukan kedatangan Yesus kalau dia tidak merindukan kehadiran-Nya setiap hari dalam kesehariannya. Ngga akan kita merindukan kedatangan Tuhan kalau sehari-harinya kita cuekin Tuhan.

Kita harus jadi pribadi yang punya keintiman dengan Tuhan. Dan kalau kita mau intim dengan Tuhan, kita tahu kita harus merasakan hadirat-Nya, dekat sama Dia. Supaya kita dekat sama Dia, kita harus menjaga yang namanya kekudusan. Karena Tuhan itu kudus.

Jadi ketika kita mengatakan, “Aku rindu kedatangan Tuhan,” artinya kita mau menjaga kekudusan kita.

Lalu kita tidak cinta dunia, tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Dunia ini akan berakhir, akan lenyap. Tetapi kita mau menaruh pengharapan kita, kita mau memandang kepada perkara yang di atas. Kita mau minta kehendak Tuhan terjadi atas kehidupan kita.

Lalu apa lagi? Tanda orang-orang yang menantikan Tuhan, dia on fire waktu melakukan doa, pujian, penyembahannya. Bukan cuma di ibadah raya, tetapi di dalam kehidupan sehari-harinya. Doa pribadinya, doa dengan keluarga, doa dengan cool-nya. Dia punya gaya hidup doa, pujian, penyembahan yang tetap menyala-nyala sebagai tanda kerinduan akan Tuhan.

Lalu dia setia melayani. Ketika kita merindukan kedatangan Tuhan, ini peristiwa yang aktif, bukan pasif. Bukan artinya kita berkata, “Oh, Tuhan Yesus sudah mau datang, ngga usah lakukan apa-apa.” Justru menjelang kedatangan Tuhan Yesus, kita harus semakin giat melakukan pelayanan kita supaya lebih banyak lagi orang datang sama Tuhan.

Lalu hidup di dalam pertobatan. Belum ada yang sempurna di antara kita. Amin? Masih banyak kemungkinan untuk tergelincir dan sebagainya. Tetapi bagian kita adalah ketika kita sadar tentang hal itu, kita segera berbalik kepada Tuhan. Jadi menantikan kedatangan Tuhan bicara tentang hal-hal ini. Puji Tuhan.

#3 Mahkota abadi

Mahkota yang berikutnya adalah mahkota abadi, untuk orang-orang yang menguasai diri.

Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. (1 Korintus 9:25)

Di kota Korintus, satu kota yang modern pada masanya, pusat hiburan, pesta pora, kehidupan hedonis, kemabukan, penyembahan berhala, semuanya tumplek di kota itu. Tetapi di tengah-tengah masyarakat seperti itu pun ada orang-orang yang menguasai diri dalam segala hal, yaitu mereka yang mengambil bagian dalam pertandingan, para olahragawan.

Kalau kita lihat kehidupan atlet, mereka bisa menjadi juara di dalam pertandingan-pertandingan, apalagi turnamen seperti Piala Dunia, pasti mereka melakukan bagiannya bukan seperti orang biasa. Mereka menempah dirinya dengan begitu rupa. Latihan kedisiplinan, mengatur pola makan, pola istirahat, dan sebagainya, supaya akhirnya bisa menang.

Mereka berbuat demikian untuk memperoleh satu mahkota yang fana. Stefanos, mahkota kemenangan. Mahkota yang fana itu terbuat dari jalinan daun yang dijadikan mahkota. Gampang layu sebenarnya. Mahkota itu diberikan kepada raja, kepada prajurit yang memenangkan peperangan, atau kepada atlet yang menang pertandingan.

Tetapi kita, orang percaya, dipanggil untuk memperoleh satu mahkota yang abadi.

Artinya apa, Bapak, Ibu, Saudara? Harusnya orang Kristen adalah orang-orang yang paling bisa menguasai diri dalam segala hal. Bukan sebaliknya.

Harusnya ketika dua tiga orang berkumpul, Tuhan hadir di situ, orang mengalami perbedaannya. Betul ya? Suasana diubahkan, orang senang, “Wah, ada anak Tuhan nih.”

Tetapi sementara di beberapa tempat, kalau dua tiga orang berkumpul, mereka pakai salib gede-gede, tapi suasana yang jadi seram. Karena dua tiga orang berkumpul, namanya orang Kristen, tapi ada botol minuman di situ, mabuk-mabukan, bikin keonaran, dan sebagainya.

Harusnya kita orang percaya yang sudah menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus, kita menjadi orang-orang yang menguasai diri dalam segala hal, supaya kita mendapat mahkota yang abadi.

Dalam segala hal apa saja?

Yang pertama tentunya dalam pikiran kita. Karena dimulainya semua dari pikiran. Semua perbuatan jahat kita pasti kita pikirkan dulu sebelumnya sebelum kita ambil tindakan. Ngga ada sebenarnya istilah khilaf. Semua dimulai dari pikiran.

Gimana pikiran kita bisa dikuasai? Kalau isinya negatif-negatif, kotor, buruk, ya ngga bisa. Hanya bisa ada satu cara: sirami terus dengan air jernih, yaitu dengan Firman Tuhan.

Seperti ember yang isinya air kotor, kalau disirami terus dengan air yang jernih, lama-lama air kotornya akan keluar dan tersisa apa? Air yang jernih. Demikian pikiran kita. Ngga bisa memorinya dicabut begitu saja lalu diganti dengan memori yang baru. Ngga bisa. Harus diisi dengan kebenaran Firman Tuhan.

Makanya baca Kitab Suci setiap hari.

Saya mau tanya, semua yang baca Firman Tuhan secara konsisten setiap hari? Amin.

Saya percaya mulai hari ini kita semua baca Firman Tuhan secara konsisten supaya pikiran kita dikuasai bukan oleh hawa nafsu, tetapi oleh kehendak Tuhan, oleh Firman Tuhan. Amin!

Kalau pikiran kita dikuasai, perkataan kita pasti bisa dikuasai juga. Hari-hari ini banyak orang tidak menguasai perkataannya, bukan cuma lewat mulutnya, tetapi juga jempolnya di media sosial, dunia maya, dan sebagainya. Banyak orang terlibat perdebatan yang sebenarnya ngga perlu. Kita harus jaga perkataan kita.

Emosi juga harus dikuasai. Jangan disalip sedikit di jalan, buka kaca, lalu kebun binatang yang keluar. Jangan sampai kita jadi batu sandungan.

Lalu kuasai diri dalam hal seksual. Seks itu kudus di dalam pernikahan yang diberkati oleh Tuhan. Yang masih pacaran, jaga kekudusan betul-betul!

Media sosial juga harus dikuasai. Jangan engkau dikuasai media sosial. Scroll TikTok terus sampai kehabisan waktu, ngga bisa ibadah, ngga bisa baca Alkitab.

Keuangan juga perlu dikuasai. Hati-hati dengan pinjol, dengan godaan-godaan yang kelihatannya aman, tapi ternyata menghancurkan.

Makanan perlu dikuasai juga. Bukan berkuasa atas makanan, bukan semua makanan harus saya kuasai lalu saya makan semua. Bukan begitu. Tapi jaga makan. Kalau sudah tahu ada kolesterol, darah tinggi, jangan ditengking, “Darah Yesus lebih tinggi lagi.” Ngga begitu. Jaga apa yang kamu konsumsi.

Rokok, minuman keras, lalu kita berkata, “Emangnya kalau ngerokok ngga masuk sorga?” Mungkin masih bisa masuk sorga, tapi kecepatan masuknya nanti. Harusnya masih 15 tahun lagi, 20 tahun lagi, tetapi karena kebiasaan itu kita jadi ngga bisa berkarya dengan baik untuk Tuhan.

Kemudian kuasai diri dalam waktu. Ada waktu untuk melayani, waktu untuk keluarga, waktu untuk beribadah, waktu untuk bekerja, waktu untuk istirahat, dan seterusnya. Jaga keseimbangan. Jangan terbolak-balik.

Ingat bahwa buah Roh puncaknya adalah penguasaan diri. Orang bisa setia kenapa? Karena dia bisa menguasai dirinya. Waktu ngga ada orang, ngga ada pasangannya, dia tetap setia. Orang bisa sabar bagaimana? Karena dia bisa menguasai dirinya dalam hal emosi. Puji Tuhan.

#4 Mahkota kemegahan

Lalu ada mahkota kemegahan untuk kita yang memenangkan jiwa.

Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? (1 Tesalonika 2:19)

Ini menunjuk kepada siapa? Kepada orang-orang yang diselamatkan lewat pelayanannya Paulus. Paulus melihat mereka bagaikan mahkota yang bisa dia banggakan di hadapan Tuhan. Dia bersukacita di hadapan Tuhan. Dan demikianlah harusnya kita memandang orang-orang lain. “Oh, ini orang-orang yang belum diselamatkan. Kita perlu selamatkan karena ini berharga. Ini bagaikan mahkota buat kita.”

Mahkota kemegahan diberikan kepada orang yang mau membawa jiwa kepada Kristus. Siapa yang mau bawa jiwa-jiwa di hadapan Tuhan? Amin.

Waktu kita ada di sorga, ngga ditanya mobil terakhirmu merek apa, teknologinya gimana. Ngga. Berapa harta kekayaanmu, jabatan terakhirmu apa. Ngga. Tapi jiwa-jiwa yang kau persembahkan di hadapan Tuhan. Harusnya ini menjadi kerinduan kita semua.

Waktu kita di sana nanti, ketika kita diangkat, rapture, akan ada satu sosok yang lain, orang lain yang sama-sama diselamatkan, lalu dia dengan terharu memeluk kita atau menyalami kita. “Oh, terima kasih ya. Gara-gara kehidupanmu, saya boleh ikut sampai di sini. Kalau ngga, saya sudah pasti bukan ada di sini, tapi di neraka.”

Akan ada orang-orang yang menyalami kita, mengucapkan terima kasih, karena kita sudah berbuat sesuatu atas kehidupan mereka, dan mereka boleh menikmati keindahan sorga, menikmati kemuliaan hadirat Tuhan. Perhatikan, jiwa sangat berharga bagi Tuhan!

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? (Markus 8:36)

Lihat komparasinya. Jiwa atau nyawa dibandingkan dengan seluruh dunia ini. Seluruh kekayaan, kemewahan, kita bayangkan berapa harganya, berapa jumlahnya, berapa nilainya. Luar biasa. Tapi tidak sebanding dengan harga satu jiwa di mata Tuhan. Ini dahsyat.

Artinya ketika kita melihat orang lain, saudara kita, teman kita, rekan kerja kita, rekan bisnis kita, mereka belum kenal Tuhan, kita harus melihat: ini seorang yang sangat berharga di mata Tuhan. Kita harus berdoa, kita harus minta sama Tuhan kesempatan untuk bersaksi kepada mereka.

Lalu kita bertanya, “Gimana caranya bersaksi? Saya bukan lulusan teologi.” Ngga ngerti banyak, tapi engkau mengalami kehidupan di dalam Tuhan, itu sudah cukup. Tinggal saksikan saja cinta kasih Tuhan atas kehidupanmu.

Kalau bingung lagi, bawa saja ke tempat ini orang-orang yang kelihatan letih lesu, berbeban berat, ngga bahagia hidupnya, ngga punya sukacita. “Ayo, kamu mau mengalami sukacita, kamu mau mengalami damai sejahtera yang sederhana? Datang ke GBI DBR jam 5 sore setiap hari Minggu.”

Lalu kehidupan mereka diubahkan karena mereka mengalami hadirat Tuhan. Mereka terima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, jadi anak Tuhan. Engkau akan menerima mahkota itu. Amin. Haleluya!

#5 Mahkota kemuliaan

Lalu yang terakhir adalah mahkota kemuliaan, buat orang-orang yang menggembalakan domba-domba Allah.

Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. (1 Petrus 5:4)

Ini dikatakan oleh Petrus kepada orang-orang yang menggembalakan domba Allah.

Ternyata, Bapak, Ibu, Saudara, menggembalakan itu bukan bicara tentang jabatan, tapi tentang fungsi. Apa itu menggembalakan? Ternyata menggembalakan artinya menjaga. Kita menjaga kawanan domba Allah yang ada di dalam kehidupan kita. Siapa yang paling utama? Keluarga kita. Amin!

Orang tua punya anak, anak punya saudara, dan sebagainya. Kita jaga dengan cara apa? Ajarin kebenaran Firman Tuhan di dalam keluarga masing-masing. Kita sedang menggembalakan kawanan domba Allah yang ada pada kita. Melindungi dengan doa, melindungi dengan nasihat Firman Tuhan supaya mereka tidak tersesat.

Ada orang-orang yang menanyakan iman dan pengharapan kepada kita, lalu kita ajari mereka. Kita memberi makan rohani kepada mereka. Kalau Bapak, Ibu, Saudara ada di dalam kelompok cool, ini lebih gampang lagi untuk dilakukan. Saling jaga, saling lindungi, saling beri makan rohani, saling sharing kebenaran Firman Tuhan, saling berbagi kesaksian. Engkau sedang menggembalakan kawanan domba Allah dengan fungsi yang ada, bukan tentang jabatannya.

Memulihkan juga. Kita ketemu sama orang-orang letih lesu yang kehilangan kasih, lalu kita datang, kita hadir, kita menemani, memberikan kekuatan. Kita sedang menggembalakan kawanan domba Allah. Kita mengasihi jiwa-jiwa. Kita hadir buat mereka.

Ini kan kata-kata Yesus: Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Peristiwanya kapan, Bapak, Ibu, Saudara? Setelah Yesus menemui Petrus. Setelah peristiwa apa? Penyangkalan Petrus.

Menjelang kematian Yesus, Petrus menyangkal sebanyak tiga kali sebelum ayam berkokok. Dia sangat menyesalinya. Tetapi puji Tuhan, Yesus datang khusus kepada Petrus untuk memulihkan hatinya, memulihkan kembali panggilan ilahi kepada kehidupannya.

Lalu ada pertanyaan yang diulang-ulang oleh Tuhan Yesus. Pertanyaannya apa? “Simon Petrus, apakah engkau mengasihi Aku?”

Petrus jawab, “Aku mengasihi Engkau, Tuhan Yesus.” Yang terakhir, bahkan sambil nangis-nangis.

Lalu jawaban Yesus apa? “Kalau engkau mengasihi Aku, gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Siapa di sini yang mengasihi Tuhan? Kalau engkau mengasihi Tuhan, gembalakanlah domba-domba Tuhan. Amin!

Untuk apa mahkota itu?

Pada akhirnya, semua mahkota itu dipersembahkan kepada Tuhan

Tetapi pada akhirnya, Bapak, Ibu, Saudara, semua mahkota yang Tuhan berikan ini, puncaknya ternyata bukan untuk kita peroleh saja, apalagi menjadi kesombongan, tetapi semuanya menjadi penyembahan kita di hadapan Tuhan.

Bahkan di sorga nanti semua yang kita hasilkan lewat semua hal tadi — setia sampai mati, merindukan kedatangan Tuhan, menguasai diri, memenangkan jiwa, menggembalakan domba Allah — semuanya dipakai untuk kemuliaan Tuhan, untuk kita persembahkan kembali kepada Tuhan.

Pastikan ketika kita masuk ke sorga nanti ada persembahan yang kita bawa, yaitu mahkota tersebut. Amin.

Peristiwa ini digambarkan di dalam Wahyu 4:10-11,

maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata:
"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

Kita tahu ada lagu Pak Niko tentang hal ini.

Waktu kita melihat Anak Domba Allah di atas takhta-Nya, kita tahu bahwa seluruh kehidupan kita semua adalah karena anugerah Tuhan. Kita bisa mencapai semua tadi, menguasai diri dan sebagainya, karena Tuhan ada di dalam kita. Ada anugerah yang memampukan kita.

Lalu dengan segera kita melemparkan mahkota itu — bukan berarti tidak sopan — tetapi kita tahu semua hanya karena anugerah Tuhan. Amin.

Penutup

Pertanyaannya hari ini, Bapak, Ibu, Saudara:

  • Apakah hidup kita, hidupku, hidupmu, sedang mengejar mahkota dunia atau sedang mengejar mahkota sorga?
  • Apakah hari ini kita sedang hidup setia bagi Tuhan, atau iman kita sudah mulai padam, kesetiaan kita sudah mulai berkurang, kita ngga lagi dekat sama Tuhan?
  • Apakah kita ada di gereja, tetapi sehari-hari kita jauh dari Tuhan?
  • Dan pertanyaan yang terakhir yang perlu kita renungkan: kalau hari ini, malam ini juga Tuhan Yesus datang yang kedua kali, apakah kita sudah siap menyambut kedatangan-Nya?

Pastikan kita tidak menukar mahkota kekal dengan kesenangan sementara.

Amin! Haleluya!

Nyanyi:

Tak akan pernah kusesali
Mengiring Yesus sepanjang hidupku
Lewati lembah air mata
Kusaksikan kemuliaan-Mu dinyatakan

Berapapun harga yang harus kubayar
Kukan tetap setia

Melayani mengasihi-Mu
Mengiring-Mu seumur hidupku
Janji-Mu kan tetap kupegang teguh
Sampai kudapat mahkota kehidupan