Be still and move on

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 29 Juni 2026 21.32 oleh Jaen (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info | templatetype=inspirational | namespace= Article | pagename= 20260630/IN | title= Be still and move on | date= 2026-06-30 | event= Menara Doa Unity | displayevent= Menara Doa Unity | actualdate= 2026-06-23 | notes= | name= Rera Indarwulan | completename= Rera Indarwulan, SPd | illustration16x9= {{LatestImage/Inspirational | name=Rera Indarwulan | date=2026-01-20 }} | illustration1x1= Logo Inspirational 1x1.webp | illustrationA5= |...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Di dalam Tuhan, berdiam diri dan bergerak bukanlah dua hal yang bertentangan, tetapi bagian dari proses yang saling melengkapi. Ada saatnya Tuhan meminta kita tenang untuk mendengar suara-Nya, dan ada saatnya Ia memanggil kita bangkit melangkah dengan iman. Ketika kita peka terhadap waktu Tuhan, kita tidak akan kehilangan kesempatan dan terobosan yang sudah Ia siapkan.

Lalu Firman-Nya: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

1 Raja-raja 19:11–12

“Berdiam diri” dan “bergerak” seolah-olah adalah dua hal yang bertentangan. Namun di dalam Tuhan, keduanya dapat menjadi satu kesatuan yang utuh.

Kita dapat membayangkannya seperti sebuah ketapel. Supaya batu dapat melesat jauh dan menghasilkan daya dorong yang kuat, karet ketapel tidak langsung dilepaskan, tetapi terlebih dahulu ditarik ke belakang dan ditahan. Semakin jauh ditarik, semakin besar energi yang terkumpul. Ketika dilepaskan, batu itu melesat cepat dan menghasilkan terobosan.

Sering kali ketika Tuhan seolah menarik kita ke belakang dan meminta kita berdiam diri, kita merasa hidup kita tidak maju-maju. Namun sebenarnya Tuhan sedang mengumpulkan kekuatan rohani di dalam diri kita, supaya pada waktunya kita dapat melangkah, bergerak, dan mengalami terobosan yang besar.

Hal ini juga dialami oleh Elia. Setelah mendapat ancaman pembunuhan dari Izebel, Elia menjadi takut dan melarikan diri. Ia pergi menyendiri, bahkan masuk ke dalam gua. Namun di sanalah Firman Tuhan datang kepadanya.

Tuhan meminta Elia untuk keluar dan berdiri di hadapan-Nya. Setelah itu, Tuhan juga berkata kepada Elia:

Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, haruslah engkau mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram.” 1 Raja-raja 19:11–12

Ada saat ketika Elia harus berdiam diri, tetapi ada juga saat ketika Tuhan menyuruhnya bangkit dan pergi. Tuhan mau melakukan sesuatu yang berdampak besar setelah masa berdiam diri itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kapan kita perlu berdiam diri?

Kita perlu berdiam diri ketika sedang panik, takut, marah, atau ketika sedang menunggu petunjuk Tuhan. Berdiam diri bukan berarti menyerah atau tidak melakukan apa-apa. Berdiam diri berarti menenangkan hati, belajar percaya kepada rencana Tuhan, dan menunggu tuntunan-Nya dengan iman.

Manfaat dari berdiam diri adalah hati kita menjadi lebih tenang, pikiran kita lebih jernih, dan kita dapat mengetahui apa yang benar untuk dilakukan. Dalam keheningan bersama Tuhan, kita belajar menangkap suara-Nya dan memahami kehendak-Nya.

Namun ada juga saatnya kita harus bergerak. Ketika Tuhan sudah memberi petunjuk, membuka jalan, dan menunjukkan arah, maka kita harus melangkah dengan iman. Di situlah iman kita bertumbuh dan kita mengalami rencana Tuhan.

Hidup bersama Tuhan bukan hanya tentang bergerak terus-menerus. Tuhan memiliki waktu dan tujuan-Nya sendiri. Ada saatnya kita diminta untuk tenang, tetapi ada juga saatnya kita diminta untuk bangkit dan melangkah.

Karena itu, kita perlu peka. Jika waktunya berdiam diri, jangan terburu-buru. Tetapi jika waktunya bergerak sudah tiba dan kita mengabaikannya, kita bisa kehilangan kesempatan yang Tuhan sudah siapkan.

Mari kita belajar menangkap kairos Tuhan. Saat Tuhan meminta kita berdiam diri, biarlah kita tenang dan mendengarkan suara-Nya. Saat Tuhan membukakan jalan, biarlah kita bangkit dan bergerak dengan iman.

Amin.