Ketidakpastian (Pdt Junianto Naibaho, STh, MM)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 29 April 2026 17.13 oleh Leo (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info| templatetype=khotbah | namespace= Khotbah | pagename= 20260426-0930 | toptitle= | title= Ketidakpastian | subtitle= | name= Junianto Naibaho | completename= Pdt Junianto Naibaho, STh, MM | type= khotbah | event= Ibadah Raya | date= 2026-04-26 | location= Grha Amal Kasih | church= GBI Danau Bogor Raya | city= Bogor | illustration16x9= Junianto Naibaho-20260426.jpg | illustrationA5= | illustration1x1= Junianto Naibaho-20260426-1x1.jpg | video1ser...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Sumber stres terbesar manusia adalah ketidakpastian, tetapi di dalam Kristus selalu ada kepastian, sebab Yesus yang bangkit adalah Tuhan yang hidup dan tetap menyertai umat-Nya. Ketidakpastian membuat manusia melihat masa depan sebagai tempat berbahaya, ingin mengontrol semuanya, dan gagal melihat pertolongan Tuhan yang sebenarnya sudah hadir di depan mata. Namun ketika orang percaya tetap berjalan bersama Yesus, bersekutu dengan-Nya, dan taat kepada Firman-Nya, maka di tengah situasi yang tidak pasti sekalipun, Tuhan sanggup memberikan pertolongan, kualitas hidup yang baru, berkat yang cukup, dan menjaga semuanya supaya tidak koyak.

Shalom, kita masih dalam suasana perayaan Paskah dan menjelang hari pencurahan Roh Kudus. Saya mau bagikan kepada Saudara dari kisah ketika Yesus menampakkan diri.

Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. (Yohanes 21:1)

Tahukah Saudara bahwa sumber stres terbesar manusia itu bukanlah kekurangan uang? Sumber stres terbesar manusia juga bukan kekurangan koneksi. Ternyata sumber stres terbesar manusia adalah ketidakpastian, uncertainty.

Menurut Donovan Somera Yisrael, seorang Senior Health Educator dari Stanford Health Center, if we are constantly worrying about the next thing that may happen, worrying about uncertainties, then we will be living under a never-ending existential threat and causing ourselves undue stress that could affect our health, work, and relationship. Artinya, kalau kita terus-menerus khawatir akan apa yang akan terjadi di masa mendatang, terus-menerus terikat pada hal-hal yang tidak pasti, maka kita akan hidup di bawah ancaman yang tidak pernah selesai dan membuat diri kita stres. Akhirnya berdampak pada kesehatan, pekerjaan, dan hubungan.

Karena itu, saya beri judul khotbah pagi hari ini: Ketidakpastian.

Bagaimana Saudara dan saya menghadapi ketidakpastian? Ini bukan hal yang baru. Dari kecil sampai kita besar, sebetulnya banyak hal yang tidak pasti.

Sesudah Yesus bangkit dari kematian, apa yang Dia lakukan? Dia menampakkan diri kepada banyak orang. Dan di Yohanes 21 ini, di pantai Danau Tiberias, ini adalah kali ketiga Dia menampakkan diri. Bahwa Dia menampakkan diri adalah bukti bahwa ada kepastian di dalam Kristus. Amin!

Saya katakan sekali lagi: ada kepastian di dalam Kristus.

Banyak pemimpin agama lahir. Yesus juga lahir. Banyak pemimpin agama hidup. Yesus juga hidup. Banyak pemimpin agama mati. Yesus juga mati. Tapi hanya Yesus yang bangkit dari kematian. Hanya Yesus yang kuburnya kosong.

Saudara, semua pemimpin agama menawarkan kepastian. Semua menawarkan jalan surga. Ada yang berkata kita akan bereinkarnasi. Ada yang berkata pintu surga itu begini dan begitu. Tetapi semua tidak pasti, karena semua yang menawarkan surga belum pernah ke surga.

Yesus berkata bahwa Dia akan pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagi kita, karena sebelumnya Dia dari sana. Sebab itu hanya ada kepastian di dalam Kristus Yesus.

Tetapi di dalam kehidupan kita, kita tetap banyak menghadapi ketidakpastian. Bagaimana masa depan kita nanti, masa depan anak-anak kita nanti, masa depan bisnis, masa depan keluarga. Akhirnya itu membuat kita stres, asam lambung naik, overthinking, dan membuat keputusan-keputusan yang tidak seharusnya.

Semua pertanyaannya jadi satu: gimana nanti kalau gagal? Gimana nanti kalau tidak sesuai harapan?

Yesus menampakkan diri berkali-kali supaya Saudara dan saya mengerti bahwa hidup kita tidak berakhir pada kematian. Orang lain berakhir pada kematian. Tetapi Yesus berkata:

Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. (Yohanes 11:25)

Karena itu, mati bagi orang yang tidak percaya adalah akhir. Tetapi bagi Saudara dan saya yang percaya Yesus, kematian hanyalah transisi kepada kemuliaan yang akan datang.

Sebab itu, hidup dalam Kristus harus berbeda dengan hidup di luar Kristus. Orang-orang di luar Kristus ketika berhadapan dengan ketidakpastian, kebiasaan mereka adalah tepok jidat sambil berkata, “Mati gua.” Mati bisnis gua, mati relationship gua, mati karier gua, dan sebagainya.

Tetapi Yesus bangkit dari kematian supaya Saudara dan saya tidak tepok jidat lagi sambil berkata, “Mati gua.” Supaya Saudara tidak tepuk jidat, tetapi angkat tangan dan berkata, “Puji Tuhan.

Tiga dampak ketidakpastian

Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. (Yohanes 21:2)

Nama yang pertama disebut adalah Simon Petrus. Ini murid yang militan, murid yang paling spontan, murid yang pernah berkata, “Yesus ke mana, saya ikut. Yesus mati, saya mati.” Tetapi dia juga yang kemudian menyangkal Yesus. Jadi nama Simon Petrus ini punya sejarah panjang.

Dari kisah ini saya melihat bahwa ketidakpastian punya tiga dampak.

  1. Ketidakpastian membuat kita melihat masa depan sebagai tempat yang berbahaya
  2. Secara psikologis, waktu Saudara berhadapan dengan ketidakpastian, jiwa Saudara menganggap bahwa ketidakpastian itu adalah a dangerous place, tempat yang berbahaya.

    Mungkin Saudara masih ingat pertama kali masuk TK. Awalnya masih ditemani papa mama. Hari ketiga, hari keempat, guru mulai berkata, “Papa mama di luar ya.” Di situ mulai muncul ketidakpastian, karena ketemu orang-orang baru, wajah-wajah baru, lingkungan baru. Biasanya di rumah Saudara tahu semua, dituntun tangan mama yang penuh kasih. Tiba-tiba sekarang harus menghadapi semuanya sendiri.

    Demikian juga waktu masuk SMP, SMA, kuliah, menikah. Semua yang baru itu sering dianggap berbahaya, karena kita belum pernah mengalaminya. Kita belum punya experience. Akhirnya kita lebih suka yang pasti-pasti saja.

    Dan itu yang terjadi dengan Petrus. Kita baca:

    Kata Simon Petrus kepada mereka: Aku pergi menangkap ikan. Kata mereka kepadanya: Kami pergi juga dengan engkau. (Yohanes 21:3a)

    Yesus sudah mati. Mereka belum sungguh-sungguh paham bahwa Yesus sudah bangkit. Apa yang dilakukan Petrus? Dia kembali ke kehidupan lamanya. Dia bilang, “Aku pergi menangkap ikan.

    Ini kehidupan lama Petrus. Ini dunia yang familiar baginya. Kenapa dia kembali ke situ? Karena itu pasti. Dia tahu caranya, tahu ritmenya, tahu tempatnya. Ketika hidup terasa tidak pasti, manusia cenderung kembali ke zona yang menurut dia aman.

    Tidak jarang dari kita juga begitu. Kita lebih suka yang pasti-pasti saja, padahal Tuhan sedang menyiapkan rancangan yang indah di depan.

    Saya pernah nonton sebuah social experiment tentang orang-orang tua yang akan dibebaskan dari penjara di Amerika. Mereka sudah dipenjara lebih dari 25 tahun, dan sebentar lagi hukumannya selesai. Tetapi yang menarik, mereka justru minta, “Jangan dibebaskan.”

    Kenapa? Mereka bilang, “Selama 25 tahun saya tahu tempat tidur saya, saya tahu dikasih makan tiga kali sehari, saya tahu teman sel saya. Tapi di luar sana saya sudah ngga tahu dunia seperti apa lagi. Saya lebih pilih yang pasti-pasti saja di sini.”

    Tanpa sadar, walaupun Saudara dan saya tidak dipenjara secara fisik, sering kali mindset kita dipenjara. Iman kita dipenjara. Kita lebih suka yang pasti-pasti saja, seperti Simon Petrus.

    Dan biasanya orang yang stres, galau, hidup dalam ketidakpastian, sering ngajak-ngajak. “Ayo ikut saya.” Itu sebabnya murid-murid yang lain berkata, “Kami pergi juga dengan engkau.” Bilang kanan-kiri: jangan ajak-ajak saya.

    Kalau sukses, silakan ajak-ajak. Tapi kalau lagi galau, jangan ajak-ajak. Orang yang lagi galau, stressed, dan overthinking itu kadang juga menginjili, loh. Biasanya diawali dengan kalimat, “Lu udah tahu belum?” lalu mulai sebarkan ketidakpastian, kekhawatiran, suasana takut.

    Jadi dampak pertama dari ketidakpastian adalah kita melihat masa depan sebagai tempat yang berbahaya.
  3. Ketidakpastian membuat kita ingin mengontrol semuanya
  4. Tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. (Yohanes 21:3b)

    Kalimat “mereka tidak menangkap apa-apa” menunjukkan bahwa mereka sedang berusaha mendapatkan sesuatu yang bisa dipegang, sesuatu yang bisa dikontrol.

    Orang yang berhadapan dengan ketidakpastian biasanya jadi sangat suka kontrol. Kita ingin ada pegangan, ada jaminan, ada bukti, ada data. Kita ingin pegang semua.

    Saya juga seorang pebisnis. Walaupun saya Gembala, saya punya perusahaan, punya banyak karyawan. Dari awal tahun kalau urusan bisnis bisa naik turun, ada perang, ada gejolak ekonomi. Apa yang paling gampang saya lakukan? Meeting terus. Ambil data ini, cek itu, cek ini, cek itu. Secara bahasa modern itu namanya micro-managing. Semua pengin saya tahu detailnya. Kenapa? Supaya ada rasa tenang.

    Jadi kalau Saudara punya bos yang lagi sering bikin meeting, itu berarti dia lagi ngga tenang.

    Kita pengin kontrol suami, kontrol anak-anak, kontrol bisnis, kontrol hidup kita. Tetapi kabar baiknya, tadi malam waktu Saudara tidur dan sekarang Saudara bangun, Saudara tahu ngga apa yang terjadi selama Saudara tidur? Ngga tahu. Tapi kalau tadi malam Tuhan jaga Saudara waktu Saudara tidak sadar, Tuhan yang sama juga akan jaga Saudara hari ini ketika Saudara sadar.

    Kalau Dia bisa jaga Saudara selagi Saudara terlelap, Dia juga sanggup jaga Saudara selagi Saudara melek. Dia Tuhan yang baik.

    Jadi Saudara tidak perlu mengontrol semua. Itu sebabnya Firman Tuhan berkata: serahkanlah. Kata “serahkanlah” dalam bahasa aslinya itu seperti melempar. Lemparkan kepada Tuhan. Masalahnya kita sering sudah kasih ke Tuhan, tapi kita ambil lagi. Seolah-olah Tuhan cuma tempat penitipan sementara. Padahal tidak. Tuhan tahu yang terbaik buat kita.

    Malam itu mereka tidak menangkap apa-apa, padahal malam adalah right timing untuk mancing. Tempatnya juga di laut, berarti right place. Tetapi mereka tidak ketemu right fish. Waktunya tepat, tempatnya tepat, tapi ikannya tidak ada.

    Saudara, sering kali kita berpikir yang kita butuhkan itu kepastian. Padahal yang kita butuhkan di tengah ketidakpastian bukanlah semuanya pasti, melainkan siapa yang menyertai kita. Siapa yang di pihak kita. Karena jika Allah di pihak kita, siapa lawan kita?
  5. Ketidakpastian membuat kita gagal melihat pertolongan Tuhan
  6. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. (Yohanes 21:4)
    Nah, ini dampak ketiga. Sering kali waktu hidup kita sedang penuh ketidakpastian, kita tidak melihat pertolongan Tuhan, padahal pertolongan Tuhan ada di depan mata.

Ada kepastian di dalam Yesus

Ketika hari mulai siang. Siang itu is not the right time to fish. Bukan waktu yang tepat untuk mancing. Tetapi justru di waktu yang menurut logika tidak tepat itulah Yesus datang.

Kata Yesus kepada mereka: Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk? (Yohanes 21:5)

Ini menunjukkan hati Yesus. Dia adalah Bapa yang baik. Saya sebagai ayah juga begitu. Kalau siang telepon rumah, yang saya tanya biasanya bukan, “Sudah baca berapa pasal?” Tapi, “Sudah makan belum?” Itu hati seorang ayah.

Demikian juga Yesus. Kedatangan-Nya bukan untuk menakut-nakuti, tetapi membawa kepedulian, sukacita, dan pemulihan.

Kadang kalau kita mendengar tentang kedatangan Yesus yang kedua, kita jadi takut. Tetapi sebenarnya kita sedang menanti Bapa yang baik. Dia peduli. Bahkan Firman Tuhan berkata, sehelai rambut kita pun tidak akan jatuh tanpa seizin Tuhan. Yang kita anggap remeh saja Tuhan perhatikan, apalagi hidup kita.

Maka kata Yesus kepada mereka: Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh. (Yohanes 21:6a)

Kata “maka akan kamu peroleh” menunjukkan bahwa ada kepastian di dalam Yesus. Laut yang tenang belum tentu kepastian. Waktu yang tepat belum tentu kepastian. Tempat yang tepat belum tentu kepastian. Tetapi bersama Yesus ada kepastian.

Pak, Bu, yang lagi berbisnis tahun ini, jangan khawatir. Yesus tahu di mana sumbernya. Anak-anak muda, jangan khawatir akan masa depanmu. Katanya AI akan menggantikan manusia, dan seterusnya. Jangan takut. Tuhan punya rencana yang indah buat kita.

Kita tidak boleh hidup hanya berdasarkan logika. Kita harus hidup berdasarkan percaya kita kepada Tuhan. Itulah kekuatan ilahi.

Lalu dikatakan:

Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. (Yohanes 21:6b)

Padahal waktunya tidak tepat, dan yang kasih nasihat pun bukan nelayan, melainkan seorang tukang kayu. Secara logika tidak masuk akal. Tetapi hidup kita tidak bisa dibangun hanya di atas logika. Hidup kita harus dibangun di atas percaya kepada Tuhan.

Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: Itu Tuhan. (Yohanes 21:7a)

Saya berdoa sepanjang 2026 ini, kalimat “Itu Tuhan” menjadi kalimat yang paling sering Saudara ucapkan. Dalam bisnis Saudara, dalam keluarga Saudara, dalam kesehatan Saudara, Saudara berkata, “Kalau bukan Tuhan, ngga mungkin begini.

Lalu Petrus, ketika mendengar bahwa itu adalah Tuhan, ia langsung terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu dan menghela jala yang penuh ikan.

Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Bahkan sebelum mereka membawa hasil tangkapan, Yesus sudah punya persediaan sendiri. Tuhan tidak bergantung pada hasil Saudara untuk mencukupi. Dia Tuhan yang punya supply sendiri.

Firman Tuhan berkata bahwa Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. Jadi jangan sok bantu Tuhan. Tuhan tahu caranya. Tuhan tahu jalannya. Kita tidak perlu merasa lebih pintar daripada Tuhan.

Lalu kita baca lagi:

Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya. Dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. (Yohanes 21:11)

Ikan jenis apa? Ikan besar.

Selalu di dalam Tuhan, yang datang pertama adalah kualitas. Ikan besar bicara tentang quality blessing. Tuhan mau quality marriage, quality family, quality business, quality education. Buat Tuhan selalu kualitas lebih dulu.

Saudara dipilih Tuhan karena Saudara berharga dan berkualitas. Waktu Tuhan menciptakan langit dan bumi, Dia berkata semua itu baik. Tetapi waktu Dia menciptakan manusia, bukan cuma baik, melainkan sungguh amat baik. Saudara diciptakan dengan tujuan.

Saya tidak tahu panggilan Saudara apa, tetapi kalau Saudara dipanggil Tuhan, Tuhan akan menuntun Saudara menyelesaikan panggilan itu. Dia pasti jaga Saudara, Dia pasti lindungi Saudara.

Dan dikatakan 153 ekor banyaknya. Selain quality, ada juga quantity. Tuhan juga memberkati secara jumlah. Jadi bukan 153 ikan teri, tapi 153 ikan besar. Quality and quantity.

Dan yang menarik lagi: “jala itu tidak koyak.

Berapa banyak bisnis yang hancur? Berapa banyak keluarga yang koyak? Tetapi kalau berkat itu dari Tuhan, Tuhan juga yang menjaga berkat itu.

Sungguh pun jala itu tidak koyak. Sungguh pun keluarga Saudara tidak koyak. Sungguh pun bisnis Saudara tidak koyak. Sekalipun kita jatuh, kita tidak sampai tergeletak. Ada tangan Tuhan yang kuat yang memegang Saudara dan saya.

Saya mau ingatkan pagi hari ini: kita boleh hidup dalam ketidakpastian kalau kita berjalan di luar Kristus. Tetapi waktu Yesus bersama-sama dengan kita, kita tidak perlu takut, karena Dia berjalan bersama kita. Berarti ada kepastian di dalam Dia. Ada kepastian keselamatan. Ada kepastian berkat.

Dan akhirnya Yesus berkata:

Kata Yesus kepada mereka: Marilah dan sarapanlah. (Yohanes 21:12a)

Apa yang paling tepat kita lakukan di tengah ketidakpastian? Persekutuan. Unity dalam doa, pujian, dan penyembahan. “Marilah dan sarapanlah” adalah gambaran khas Yesus. Dalam Perjamuan Kudus ada perjamuan. Di surga nanti ada Perjamuan Kawin Anak Domba.

Ketika Saudara duduk dan mendengar Firman seperti ini, Saudara sedang makan roti hidup dari Tuhan. Roti manna ini menyembuhkan ginjal Saudara, menyembuhkan jantung Saudara, memulihkan pernikahan Saudara, memulihkan bisnis Saudara. Jadi sembuh di dalam nama Yesus.

Penutup

Saya tutup dengan satu hal. Waktu Tuhan berkata, “Tebarkan jalamu,” lalu Petrus bisa langsung sadar dan akhirnya berkata, “Itu Tuhan,” kenapa? Karena itu kejadian kedua dalam hidup Petrus.

Di pasal-pasal sebelumnya, sebelum Tuhan memanggil Petrus, Tuhan pernah pinjam perahunya. Petrus semalaman menangkap ikan dan tidak dapat apa-apa. Lalu Tuhan berkata, “Tebarkan jalamu.” Petrus menjawab, “Semalam-malaman aku sudah mancing dan tidak dapat apa-apa, tetapi karena Engkau yang menyuruhnya, aku lakukan.” Lalu dia dapat ikan banyak.

Nah, di Yohanes 21 ini, kejadian yang sama terjadi lagi. Tidak dapat ikan lagi. Orang yang sama. Yesus yang sama berkata lagi, “Tebarkan jalamu.” Dan Petrus dapat banyak lagi.

Artinya apa? Tuhan mau bilang kepada Petrus, “Aku masih Tuhan yang sama. Kalau Aku tolong kamu di hari-hari yang lampau, Aku adalah Tuhan yang sama yang akan menolong kamu hari ini dan di hari-hari yang akan datang. Sekalipun kamu pernah menyangkal Aku, mengkhianati Aku, sekalipun kamu tidak setia, Aku tetap Tuhan yang sama yang memberkati kamu.

Kalau Tuhan tolong kamu kemarin, Tuhan juga akan tolong kamu di hari-hari ke depan. Jangan khawatir!

Nyanyi:

Aku ada hari ini
Karena Tuhan baik
Dan teramat baik bagiku

Semua yang kualami
Bersama-Mu kulewati
Indahnya kasih Tuhan
Seperti pelangi sehabis hujan

Video