Relationship with God: hubungan yang lebih melekat dengan Tuhan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 6 Februari 2026 09.49 oleh Leo (bicara | kontrib) (baru)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Hubungan yang melekat dengan Tuhan adalah kebutuhan, bukan sekadar kewajiban rohani. Saat kita berakar kuat di dalam Tuhan, kita tetap teguh meski badai kehidupan datang. Melekat kepada Kristus membuat hidup kita diubahkan, dipenuhi damai sejahtera, dan menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan.

Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau; jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.

Mazmur 63:1-3

Mazmur ini ditulis Daud ketika ia berada di padang gurun Yehuda, dalam kondisi yang tidak nyaman dan penuh tekanan. Namun justru di tengah situasi itulah Daud menyatakan kerinduannya yang dalam kepada Tuhan. Firman Tuhan menegaskan bahwa hubungan pribadi dengan Tuhan bukanlah sekadar kewajiban rohani, melainkan kebutuhan hidup.

Hubungan yang melekat dengan Tuhan menjadi dasar kita menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, kita perlu menyediakan waktu secara sengaja untuk bersekutu dengan Tuhan setiap hari—melalui saat teduh, doa, dan membaca firman—memberi ruang bagi Tuhan untuk berkomunikasi dengan kita, bukan sekadar menjalankan rutinitas agama.

Mengapa kita perlu melekat kepada Kristus?

  1. Bersandar penuh kepada Tuhan
  2. Banyak orang merasa hidupnya di luar kendali: pekerjaan menumpuk, kebutuhan bertambah, masalah datang bertubi-tubi, dan emosi sulit dikendalikan. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan Tuhan dan tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Melekat kepada Tuhan menolong kita belajar berserah dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya.
  3. Berakar seperti pohon yang kuat
  4. Akar pohon tidak terlihat, tetapi justru di sanalah sumber kekuatan berada. Akar adalah penopang dan tempat penyimpanan makanan bagi pertumbuhan dan buah. Demikian juga kehidupan rohani kita—roh kita perlu terus menerima makanan rohani dari Tuhan agar bertumbuh kuat. Tanpa akar yang kuat, daun yang rimbun tidak akan bertahan ketika badai datang.

Ketika kita melekat kepada Tuhan, Dia yang mengubahkan hati kita. Kebiasaan buruk perlahan disucikan, hidup kita diproses, dan karakter dibentuk. Masalah mungkin tetap ada, tetapi kita siap menghadapinya karena Tuhan menaruh damai sejahtera, sukacita, dan hikmat yang melampaui pemahaman manusia—hikmat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.