Amanat Agung dimulai dari rumah (Pdm Himawan Hadirahardja, MSc)
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 1 Februari 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
Amanat Agung bukan proyek gereja atau tugas segelintir orang, melainkan cara hidup setiap murid Kristus yang berakar pada otoritas Yesus dan dimulai dari rumah. Keluarga dipanggil untuk memuridkan lewat ketaatan sehari-hari—menghidupi Injil dalam relasi, memberi teladan pengampunan, membuka rumah, dan melatih seluruh anggota keluarga untuk melayani. Tuhan tidak menuntut hasil besar, tetapi ketaatan yang setia dan konsisten, sementara pertumbuhan dan buahnya menjadi bagian Tuhan sendiri.
Shalom. Apa kabar semuanya? Puji Tuhan, Tuhan Yesus baik! Amin.
Pagi ini saya menyampaikan Firman Tuhan dengan judul: Amanat Agung dimulai dari rumah.
Bapak Ibu, Saudara, kita semua tahu bahwa tahun 2026 adalah Tahun Amanat Agung. Namun banyak orang Kristen masih mengira bahwa Amanat Agung itu hanya untuk kelompok tertentu saja—yang ada tiga huruf di depan namanya atau tiga huruf di belakang namanya.
Ada juga yang langsung membayangkan bahwa Amanat Agung itu harus pergi ke luar kota, ke pulau lain, bahkan ke negara lain. Atau harus bikin KKR besar, ada mukjizat, penginjilan massal, dan sebagainya.
Semua itu tidak salah. Semua itu baik. Tidak ada yang jelek.
Tetapi sesungguhnya, Yesus tidak pernah memisahkan Amanat Agung dari kehidupan sehari-hari para murid-Nya.
Siapa para murid Kristus, Bapak Ibu?
Siapa murid Kristus di tempat ini?
Kalau Anda murid Kristus, coba lambaikan tangan Anda.
Amanat Agung disampaikan bukan hanya kepada orang-orang tertentu, tetapi kepada semua orang yang mengaku sebagai murid Yesus. Dan saya ingin menegaskan: Amanat Agung bukan pertama-tama proyek gerejawi, melainkan cara hidup murid Kristus.
Dan tempat pertama untuk mengajarkan, membiasakan, serta mempraktikkan Amanat Agung adalah di rumah. Yang setuju katakan amin.
Mari kita lihat bersama Matius 28:18-20,
- Yesus mendekati mereka dan berkata: Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.
Mari kita bedah ayat ini supaya kita memahami dengan lebih jelas bagaimana keluarga-keluarga Kristen dapat terlibat di dalam Amanat Agung.
I. Amanat Agung berdiri di atas otoritas Kristus
Hal pertama yang perlu kita sadari adalah bahwa Amanat Agung berdiri di atas otoritas Kristus.
Perhatikan ini, Bapak/Ibu. Sebelum Yesus menyampaikan perintah Amanat Agung, Ia membuka dengan kalimat yang sangat tegas: Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.
Amanat Agung bukan lahir dari kebutuhan manusia. Bukan proyek ambisius satu orang, satu gereja, atau satu organisasi tertentu. Amanat Agung diberikan berdasarkan otoritas Yesus sebagai Tuhan—otoritas yang diberikan oleh Allah Bapa setelah Yesus bangkit dan mengalahkan maut.
Karena itu, ketaatan kita melakukan Amanat Agung tidak didasarkan pada apakah kita merasa mampu atau tidak mampu, layak atau tidak layak. Tetapi kalau kita mengakui bahwa Yesus itu berdaulat dan berhak memerintah hidup kita, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus terlibat di dalam Amanat Agung ini. Amin!
Jadi kita melakukan Amanat Agung bukan karena program gereja, bukan karena iming-iming hadiah—bukan karena siapa yang paling banyak dapat jiwa lalu dapat bonus ini dan itu. Bukan. Kita terlibat di dalam Amanat Agung karena kita percaya bahwa Yesus berdaulat atas hidup kita.
Prinsip ini juga harus diterapkan dalam kehidupan keluarga. Banyak orang Kristen ingin memiliki keluarga yang sehat, keluarga yang berhasil. Tetapi sering kali lupa bahwa untuk membangun keluarga yang sehat, otoritas Kristus harus diberikan sepenuhnya.
Mazmur 127:1 mengingatkan kita bahwa tanpa Tuhan, segala usaha membangun keluarga akan sia-sia. Kita hidup di dunia di mana pernikahan sering kali hanya dianggap sebagai gaya hidup—opsional, bukan panggilan. Menikah boleh, tidak menikah juga boleh. Menikah boleh, punya anak atau tidak juga pilihan.
Dunia sangat menekankan kenyamanan diri. Namun Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa keluarga yang dibangun tanpa Kristus sebagai otoritas utama akan kehilangan maknanya.
Apa yang nyaman buat dirimu?
Apa yang enak buat dirimu?
Apa yang kau suka? Lakukanlah. Ikuti kata hatimu.
Bapak Ibu, Saudara, kita hidup di dunia yang sedang terus berusaha menarik kita menjauh dari Kristus dan melupakan hal yang paling esensial dari hidup kita, yaitu bahwa yang berdaulat atas hidup kita hanyalah Tuhan. Yang setuju katakan amin.
Kita sering dibombardir dengan pengajaran seperti:
“Kamu berhak menentukan hidupmu.”
“Kamu berhak menentukan kebahagiaanmu.”
“Kamu harus mencintai dirimu sendiri.” Self-love.
Kalau kita tidak hati-hati, Bapak Ibu, bukan hanya mereka yang belum mengenal Kristus yang terjebak dalam pola pikir ini. Banyak orang yang sudah mengenal Kristus pun ikut terseret dalam pengajaran dan pengaruh seperti ini.
Akibatnya apa?
Banyak kekacauan dalam pernikahan.
Banyak kekacauan dalam keluarga.
Banyak kekacauan dalam gereja, perusahaan, bisnis, dan relasi.
Karena Kristus bukan lagi menjadi penguasa tertinggi di sana.
Rumah tangga bermasalah ketika Yesus tidak lagi menjadi kepala.
Yang memimpin bukan Firman, melainkan ego, ambisi, luka batin, amarah, dan dendam.
Rumah tangga dijalankan bukan berdasarkan prinsip Firman Tuhan, tetapi berdasarkan “kata mama”, “kata papa”, atau budaya keluarga turun-temurun yang lebih dikedepankan daripada kebenaran Firman.
Ketika hidup kita kacau, konflik tidak selesai-selesai, relasi saling melukai, ini adalah waktunya saudara dan saya merenungkan kembali: Jangan-jangan yang menjadi raja bukan lagi Tuhan Yesus.
Ini waktunya kita kembali kepada rancangan awal Tuhan.
Ini waktunya kita mengembalikan Tuhan ke posisi dan porsi yang seharusnya.
Kalau engkau terpanggil untuk melakukan Amanat Agung, Tuhan tidak akan tanya kamu bisa atau tidak bisa. Tuhan tidak akan tanya kamu sudah lulus kelas ini atau itu. Itu semua baik dan penting, tetapi poinnya bukan di situ.
Amanat Agung tidak ada hubungannya dengan jabatanmu, titelmu, atau kondisi keluargamu saat ini.
Betapapun rapuhnya kondisimu sekarang, betapapun rapuhnya keluargamu, setiap kita tetap bisa terlibat dalam Amanat Agung, asalkan dasarnya satu: Tuhan menjadi pemimpin dalam hidup kita. Amin!
II. Fokus Amanat Agung: Menjadikan murid, bukan mengejar hasil
Perhatikan baik-baik Matius 28. Perintah utama dalam bahasa Yunani adalah “jadikan murid” (mathēteusate). Kata “pergi”, “membaptis”, dan “mengajar” hanyalah participle—penjelasan cara melakukannya.
Artinya apa? Fokus utama Amanat Agung bukan hasil, tetapi pemuridan.
Yesus tidak berkata, “Pastikan semuanya berhasil.”
Yesus berkata, “Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”
Di mata Tuhan, ketaatan jauh lebih berharga daripada keberhasilan.
Prinsip ini berlaku juga dalam keluarga. Alkitab tidak pernah menetapkan kriteria keluarga yang “berhasil” menurut standar dunia.
Ketika kita menghadap Tuhan kelak, Dia tidak akan bertanya:
- Anakmu kerja di mana?
- Omset keluargamu berapa?
- Asetmu seberapa banyak?
Karena seberapapun berhasilnya kita, semua itu tidak sebanding dengan apa yang Tuhan miliki. Dan seberapapun suksesnya pelayanan kita, itu tidak membeli tempat terbaik di surga.
Kelayakan kita di hadapan Tuhan bukan ditentukan oleh keberhasilan, melainkan oleh ketaatan.
Dunia menilai hidup by numbers.
Tuhan menilai hidup by obedience.
Karena itu keluarga Kristen pertama-tama bukan dipanggil untuk terlihat berhasil, tetapi hidup taat kepada Tuhan. Sebab ketaatan lebih bernilai daripada persembahan dan pengorbanan. Amin.
III. Kebiasaan keluarga yang menjalani Amanat Agung
Bagaimana setiap keluarga menjalani Amanat Agung? Tidak ada rumus 1-2-3. Tidak ada formula ilmiah.
Yesus menutup Amanat Agung dengan dua hal:
- Perintah untuk mengajar murid melakukan kehendak-Nya
- Janji penyertaan-Nya
Artinya, setiap orang percaya yang mau melakukan Amanat Agung—dengan porsi sekecil apa pun, sesederhana apa pun—akan disertai dan dimampukan oleh Tuhan.
Penyertaan Tuhan bukan hanya untuk misionaris lintas negara atau suku terpencil.
Penyertaan Tuhan juga berlaku bagi setiap keluarga yang setia menjalani Amanat Agung di rumah, dalam keseharian, dan dalam ketaatan.
Haleluya!
Tuhan memberikan kepada Saudara dan saya: Roh Kudus, untuk memampukan kita.
Bukan sekadar supaya kita bisa berbahasa roh, bernubuat, atau berdoa panjang lebar, tetapi tugas utama Roh Kudus adalah memampukan saudara dan saya mengalahkan daging—daging yang selalu mau memberontak melawan kehendak Tuhan, yang selalu mencari alasan supaya tidak taat.
Roh Kudus menolong kita untuk berjalan di dalam kehendak Tuhan.
Ketika ada godaan, ketika emosi menggelegak, ketika luka batin mendorong kita untuk berkata-kata kotor, untuk menyakiti dengan perkataan, bahkan ketika tangan sudah mau melayang kepada anak atau pasangan—Roh Kudus hadir untuk menahan kita dan berkata:
“Ingat Firman.”
“Bukankah Minggu kemarin Firman Tuhan sudah disampaikan?”
“Bukankah tadi pagi kamu baru membaca Firman?”
Itulah tugas utama Roh Kudus, Bapak Ibu Saudara.
Yesus tahu betul bahwa setiap kita memiliki kelemahan.
Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia lebih mudah untuk jatuh ke dalam dosa. Karena itu Yesus berkata, “Aku harus kembali kepada Bapa supaya Roh Kudus turun dan menolong kamu semua—mengingatkan dan memampukan kamu melakukan apa yang Aku lakukan.”
Roh Kudus bukan membuat kita menjadi setengah dewa, superhero, atau tokoh Avengers.
Roh Kudus memampukan saudara dan saya setia berjalan dalam kehendak Tuhan.
Ketika kita hampir jatuh, Roh Kudus berkata:
“Jangan berbisnis dengan orang itu, kamu akan dicurangi.”
“Jomblowan, jomblowati, jangan menikah dengan orang seperti itu. Kelihatannya keren, mobilnya ganti-ganti, tapi hati-hati, jangan tertipu.”
Ketika kita mendengar pengajaran yang sounds right, apalagi dari influencer dengan jutaan pengikut, Roh Kudus mengingatkan: “Uji segala sesuatu. Jangan telan mentah-mentah.”
Termasuk ketika kita menjalankan Amanat Agung yang dimulai dari rumah. Apa pun profesimu, apa pun posisimu, engkau bisa terlibat.
Bagaimana keluarga terlibat aktif dalam Amanat Agung?
- Bangun kebiasaan membawa Firman Tuhan ke dalam ritme kehidupan keluarga
- Didiklah mereka dengan ajaran dan nasihat Tuhan.
- Kebiasaan mempraktikkan Injil dalam relasi sehari-hari
- Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jika kamu saling mengasihi.
- Kebiasaan membuka rumah dan melatih seluruh anggota keluarga untuk melayani
Ulangan 6:6-7 berkata: Ajarkanlah berulang-ulang ketika berbaring, ketika bangun, ketika berjalan, ketika di pintu gerbang.
Semua ini terjadi di rumah, bukan hanya di gereja atau sekolah. Pemuridan bukan cuma soal kumpul lalu khotbah 15 menit. Pemuridan terjadi ketika Firman Tuhan hadir dalam percakapan, doa, dan keputusan sehari-hari.
Ini bukan soal kesempurnaan.
Kalau masih belpotan buka Alkitab—enggak apa-apa.
Kalau masih salah cari kitab—enggak apa-apa.
Kalau masih jatuh, masih kalah dengan daging—enggak apa-apa.
Murid-murid Yesus sendiri pun tidak sempurna.
Petrus dan Paulus pernah berkonflik keras.
Paulus pernah menolak Markus.
Tetapi akhirnya mereka saling menghargai dan berjalan bersama.
Paulus bahkan di akhir hidupnya berkata:
“Panggil Markus, aku perlu dia.”
Orang tua tidak dipanggil untuk sempurna, tetapi taat.
Sambil bertumbuh menjadi serupa Kristus, sambil memuridkan anak-anaknya.
Katakan kepada anak:
“Papi belum sempurna, Nak. Papi juga masih jatuh bangun. Tapi kita bertumbuh sama-sama, ya.”
Itulah pemuridan. Itulah Amanat Agung.
Efesus 6:4 berkata:
Amanat Agung bukan hanya untuk diajarkan, tetapi juga dipraktikkan dan diperagakan.
Anak-anak akan menangkap Injil jauh lebih dalam dan lebih cepat ketika mereka melihat Injil itu dijalani di rumah, bukan hanya didengar di gereja.
Ketika orang tua masih bergumul, masih dalam proses disempurnakan, kadang bisa konflik, kadang tegang, tetapi kemudian saling meminta maaf, saling mengampuni, dan mengalami rekonsiliasi—di situlah anak-anak belajar.
“Oh, ternyata kasih karunia itu seperti ini.”
“Oh, ternyata pengampunan 70 kali 7 kali itu nyata.”
Ketika anak melihat Injil dihidupi, bukan hanya diajarkan, mereka belajar Injil yang sesungguhnya. Mereka belajar bahwa pernikahan tidak harus sempurna. Kadang bisa berantem, kadang diam sebentar—not silent treatment, tapi memberi ruang untuk regulasi emosi—lalu bisa bercanda lagi, bisa doa bersama lagi. Dan anak berkata dalam hatinya, “Wow, Injil itu hidup.”
Yesus berkata dalam Yohanes 13:35,
Dan tempat pertama kasih tanpa syarat itu dipraktikkan adalah di rumah.
Ketika keluarga belajar hidup dalam kerendahan hati, kejujuran, dan pengampunan, Injil menjadi nyata.
Perhatikan gaya hidup jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul pasal 2.
Mereka bukan hanya berkumpul di bait Allah atau sinagoge, tetapi juga di rumah-rumah.
Dalam konteks sekarang, bukan hanya ibadah Minggu di gedung atau lewat YouTube, tetapi juga melalui komsel (COOL).
Rumah-rumah dipakai Tuhan sebagai tempat orang berkumpul, makan bersama, dan saling melayani. Ini bukan sekadar keramahan atau sopan santun. Ini adalah gaya hidup murid Kristus.
Ketika keluarga membuka rumah, menyambut keluarga lain, menyediakan waktu, mendengarkan, menyiapkan hal-hal sederhana—makanan, minuman, tisu, bahkan mengajari cara makan martabak atau cilok—di situlah pelayanan terjadi.
Dan semua anggota keluarga terlibat.
Anak-anak belajar iman bukan hanya lewat pengajaran, tetapi lewat teladan hidup.
Mereka melihat bagaimana orang tua memikirkan orang lain, menghormati orang lain, melayani tanpa pamrih.
Mereka belajar menanggalkan ego dan mengutamakan kepentingan orang lain.
Melalui kebiasaan ini, keluarga bukan hanya menjadi tuan rumah, tetapi murid yang terus dibentuk oleh Tuhan.
Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk berhasil.
Tuhan tidak pernah bertanya soal jumlah.
Tuhan selalu bertanya: “Maukah engkau taat kepada Firman-Ku?”
Itu yang lebih penting di hadapan Tuhan.
Penutup
Apa yang bisa kita bawa pulang hari ini?
- Amanat Agung adalah panggilan setiap keluarga, bukan hanya gereja atau kelompok tertentu.
- Mari kita mulai menjadikan murid dari rumah kita sendiri, lewat kebiasaan hidup yang sederhana, setia, dan konsisten. Ketika ada kesalahan—saling memaafkan. Ketika jatuh—bangun lagi. Minta anugerah Tuhan, minta kuasa Roh Kudus untuk memampukan.
- Firman Tuhan yang hadir dalam rumah, relasi yang mencerminkan Injil, dan keterbukaan kepada sesama adalah cara-cara nyata dan sederhana untuk menjalani Amanat Agung.
- Tuhan memanggil keluarga untuk taat, sementara hasil dan pertumbuhan adalah urusan Tuhan.
Izinkan saya menutup dengan satu pernyataan:
- Amanat Agung yang dijalani keluarga bukan tentang mengejar hasil besar, tetapi tentang kesediaan kecil yang dilakukan terus-menerus dan konsisten di setiap rumah.
Kiranya setiap keluarga jemaat GBI Danau Bogor Raya—baik yang hadir secara onsite maupun yang mengikuti lewat online—boleh berkata dengan sungguh:
Aku dan seisi rumahku
Memuji dan memuliakan-Mu
Penebusku penyelamatku
Penolong dalam hidupku
Aku dan seisi rumahku
Mengangkat tangan mengandalkan-Mu
Bersatu hati mengasihi-Mu
Melayani Tuhan seumur hidupku
Pertanyaan reflektif
- Dari tiga kebiasaan keluarga yang dibahas hari ini, kebiasaan mana yang paling perlu diperkuat dalam keluarga saya saat ini?
- Bagaimana saya, pasangan dan anak-anak dapat saling menolong sebagai keluarga untuk tetap setia, meskipun hasilnya belum terlihat?
- Langkah sederhana apa yang dapat kami mulai minggu ini untuk menjalani Amanat Agung di rumah?