Kristen, tapi hambar?

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 28 Januari 2026 13.11 oleh Leo (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Yesus memanggil kita bukan hanya untuk disebut Kristen, tetapi untuk menjadi garam yang memberi rasa bagi dunia. Iman yang tidak berani larut dan hidup berbeda akan kehilangan kuasanya. Kiranya hidup kita tetap asin—jujur, kudus, dan konsisten—sehingga dunia merasakan Kristus melalui kita.

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Matius 5:13

Yesus tidak berkata, “Berusahalah menjadi garam.
Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia.
Artinya, ini bukan target rohani, melainkan identitas. Masalah utama bukan apakah kita Kristen, tetapi apakah dunia masih merasakan Kristus melalui hidup kita.

Garam tidak bekerja di atas panggung; ia bekerja dari dalam. Garam tidak perlu banyak gaya, tetapi harus larut. Garam yang hanya dipajang di botol kaca memang terlihat bersih, mahal, dan estetik, tetapi tidak pernah memberi rasa pada makanan. Demikian pula iman yang hanya tampil di hari Minggu—rapi, aktif, penuh aktivitas—namun tidak pernah menyentuh realitas hidup Senin sampai Sabtu.

Yesus juga memperingatkan tentang garam yang menjadi tawar. Di Timur Tengah, garam bisa kehilangan asinnya bukan karena habis, tetapi karena tercampur—terkena kelembaban, tercemar, dan akhirnya tinggal bentuk tanpa fungsi. Warnanya masih putih, namanya masih “garam”, tetapi rasanya hilang. Inilah gambaran iman yang penuh kompromi: masih Kristen, masih pelayanan, masih ibadah—tetapi kehilangan keberanian untuk hidup berbeda.

Hari ini dunia tidak kekurangan opini. Media sosial penuh suara. Tetapi dunia kekurangan rasa—kekurangan orang-orang yang:

  • jujur ketika semua orang bermain abu-abu,
  • setia ketika semua orang memilih aman,
  • kudus ketika kompromi terasa lebih praktis.

Menjadi garam dunia berarti berani mengorbankan kenyamanan demi menjaga kualitas. Garam tidak pernah bertanya, “Kalau aku larut, aku rugi tidak?” Justru saat ia larut, ia menjadi berguna. Kekristenan yang tidak mau larut dalam dunia—menyentuh, melayani, dan mempengaruhi—akan berakhir sebagai dekorasi rohani.

Yesus tidak memanggil kita untuk menguasai dunia dengan teriakan, tetapi untuk menjaga dunia dari kebusukan melalui kehidupan. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak slogan Kristen; dunia membutuhkan kehidupan yang asin—hidup yang dipenuhi Roh Kudus, dijaga dalam kekudusan, dan konsisten dalam keseharian.

Tuhan Yesus memberkati.