Fisher of man (Pdt Drs Timotius Adi Tan, MA)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 22 Januari 2026 11.21 oleh Leo (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info| templatetype=khotbah | namespace= Khotbah | pagename= 20250928-0930 | toptitle= | title= ''Fisher of man'' | subtitle= | name= Timotius Adi Tan | completename= Pdt Drs Timotius Adi Tan, MA | type= khotbah | event= Ibadah Raya | date= 2025-09-28 | location= Grha Amal Kasih | church= GBI Danau Bogor Raya | city= Bogor | illustration16x9= Timotius Adi Tan-20250928.jpg|class=img-fluid col float-end border rounded pb-3]] | illustrationA5= | illustra...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Transformasi hidup dimulai ketika Yesus menjadi Tuhan dan Raja di perahu kehidupan, terutama di saat manusia berada pada titik terendah. Bertolak ke tempat yang lebih dalam berarti menjalani hidup dengan ketaatan penuh, menyeimbangkan tanggung jawab jasmani dan panggilan rohani, serta merespons pewahyuan Roh Kudus dengan iman. Ketika semua dijalani dengan kerendahan hati dan kesadaran bahwa segala sesuatu terjadi oleh anugerah, hidup akan diubahkan dan dipakai Tuhan untuk menjala manusia bagi kemuliaan-Nya.

Lukas 5:1-11,

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.
Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."
Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.
Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."
Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."
Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Yang percaya Firman Tuhan katakan, Amin!

Bapak, Ibu, Saudara, jika kita membaca Lukas 5:1-11 secara eksposisi, kita melihat adanya transformasi dan perubahan radikal dalam hidup Simon. Dari seorang yang tidak punya pendirian, labil, tanpa komitmen yang jelas, Simon diubahkan menjadi Simon Petrus—batu karang yang teguh—rasul yang dipakai Tuhan untuk mewarnai dunia.

kita akan belajar lima langkah transformasi dalam hidup Simon Petrus:

#1 Langkah pertama: Yesus masuk ke dalam perahu kehidupan Simon

Ilustrasi khotbah 20250928-Fisher of man-1.jpg Simon adalah seorang nelayan turun-temurun. Pekerjaannya adalah mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Alkitab mencatat bahwa sepanjang malam Simon bekerja—dari malam sampai pagi, sampai subuh—tetapi tidak mendapatkan seekor ikan pun.

Bayangkan perasaan Simon. Hatinya sedih, hancur, berada di titik terendah. Sebagai seorang suami, ayah, dan pemimpin keluarga, ia pulang tanpa membawa hasil. Itu adalah down time—masa ketika hati kosong, hampa, dan terkoyak.

Saudara, tahukah kita apa yang paling sulit dalam kehidupan—baik sebagai hamba Tuhan, orang tua, pemimpin, maupun pelayan? Mengubah karakter manusia.

Tuhan membebaskan Israel dari Mesir dalam satu malam, tetapi untuk mengubah karakter bangsa itu, Tuhan membutuhkan 40 tahun di padang gurun. Membentuk, mengasah, menjatuhkan, dan menggesek kehidupan mereka.

Saya sudah melayani lebih dari 40 tahun dan menulis banyak buku, termasuk Dare to Change. Namun satu hal yang saya pelajari, baik di dunia sekuler maupun pelayanan, adalah bahwa mengubah karakter manusia sangatlah sulit. Bahkan istri saya pernah berkata, “Pap, jangan kecewa. Mengubah diri sendiri saja susah, apalagi mengubah orang lain.”

Penelitian dunia menunjukkan bahwa khotbah hanya mengubah sekitar 3% manusia. Komsel atau connect group sekitar 7%. Tekad dan komitmen pribadi sekitar 20%. Totalnya baru 30%. Faktor terbesar—sekitar 70%—yang membuat manusia berubah adalah the power of pressure, tekanan hidup.

Ketika ekonomi tertekan, kesehatan terganggu, masa depan terasa gelap—di situlah manusia mulai sadar. Banyak orang baru bertobat ketika sudah berada di titik nadir. Jalan untuk naik sering kali dimulai dari turun paling bawah.

Simon berada di titik itu. Dan di sanalah ia bertemu dengan Yesus. Ia mengizinkan Yesus masuk dan menjadi Tuhan atas perahu kehidupannya.

Poin pentingnya bukan seberapa bagus perahu Simon, bukan seberapa banyak ikan yang ia tangkap, tetapi siapa yang ada di dalam perahu itu.

Saudara, jangan khawatir jika hari ini penghasilanmu menurun. Jangan gentar menghadapi masa depan yang tidak pasti. Dunia boleh bergejolak, ekonomi boleh terguncang, berita perang boleh memenuhi media. Tetapi yang paling penting adalah: siapa nakhoda perahu hidupmu?

Jika Yesus Kristus—Pencipta langit dan bumi—adalah nakhoda hidupmu, maka kita akan aman, tenang, dan kuat. Katakan Amin!

#2 Langkah kedua: Bertolak ke tempat yang lebih dalam

Ilustrasi khotbah 20250928-Fisher of man-2.jpg Yesus melihat hati Simon yang kosong, gelisah, dan hampa. Tanah hati yang seperti itulah yang membuat Yesus masuk ke dalam perahu kehidupan seseorang. Orang yang sombong, takabur, dan merasa hebat tidak mudah disentuh Tuhan.

Karena itu, dalam hidup ada musim-musim: musim rontok, musim dingin, musim beku, dan musim panas. Tuhan mengizinkan semua itu bukan untuk menghancurkan kita, tetapi karena Ia sangat mengasihi kita.

Tuhan ingin terlibat dalam hidup kita, bukan membiarkan kita berjalan sendiri. Dalam suka dan duka, dalam keberhasilan dan kesakitan, Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan orang yang mengasihi Dia.

Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan jiwanya? Yang terutama dan terutama adalah Yesus ada di perahu hidup kita—bukan hanya hari ini, tetapi sampai kekekalan.

Biasanya seorang nelayan, setelah bekerja semalaman, akan pulang ke rumah untuk beristirahat karena lelah. Namun Simon berbeda. Alkitab mencatat bahwa ia sedang membasuh jalanya dan memperbaiki jaringnya. Artinya, meskipun gagal semalaman, Simon tidak menyerah. Ia tetap tekun, rajin, dan bertanggung jawab.

Di sinilah kita melihat mengapa Yesus memilih perahu Simon. Yesus menghargai mentalitas yang benar—orang yang rajin, tekun, dan tidak mudah menyerah, baik dalam kehidupan jasmani maupun rohani. Hatinya memang kosong dan sedang down, tetapi sikap hidupnya tetap benar.

Bagaimana mungkin hidup kita mengalami terobosan jika dari pagi sampai malam hanya dihabiskan untuk hal-hal yang tidak membangun? Bagaimana Tuhan bisa mempercayakan pelayanan dan berkat jika hidup hanya diisi dengan hiburan tanpa tanggung jawab? Bertolak ke tempat yang lebih dalam berbicara tentang kesungguhan dan kedalaman komitmen.

Saudara, mungkin hanya sekitar 3-5% orang yang dipanggil Tuhan secara full time dan full heart—meninggalkan seluruh profesi duniawi untuk melayani Tuhan sepenuhnya. Tetapi sekitar 95%, termasuk saya dan Saudara, dipanggil Tuhan untuk melayani dengan dua tangan.

Tangan kiri bekerja mencari “ikan”—pekerjaan, usaha, bisnis, nafkah. Tangan kanan bekerja menangkap “manusia”—melayani, menginjili, membangun jiwa.

Dua tangan ini harus bergerak bersama. Jangan habiskan seluruh hidup hanya untuk menangkap ikan yang fana, dan jangan pula mengabaikan tanggung jawab jasmani demi alasan rohani. Tuhan memanggil kita untuk menyeimbangkan keduanya, dengan satu prinsip: hati 100% untuk Yesus.

Jadilah “penjala ikan” yang terbaik dalam bidang profesi Saudara—unggul, kompeten, dan bertanggung jawab. Namun pada saat yang sama, hiduplah sebagai “penjala manusia”—bersaksi, melayani, membangun komsel, dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Inilah makna bertolak ke tempat yang lebih dalam di dalam kehidupan Simon.

#3 Langkah ketiga: Taat pada kehendak Tuhan

Ilustrasi khotbah 20250928-Fisher of man-3.jpg Simon adalah nelayan yang sangat berpengalaman. Ia tahu waktu terbaik menangkap ikan adalah malam hari, bukan siang hari. Secara logika dan pengalaman, perintah Yesus untuk menebarkan jala di siang hari tidak masuk akal.

Ilustrasi khotbah 20250928-Insting, Intuisi, Insight.jpg

Namun dalam hidup ini, ada tiga lapisan penting:

  • Pertama, insting.
  • Insting lahir dari latihan dan kebiasaan. Seorang pebisnis berpengalaman tahu kapan harus membeli atau menjual. Seorang ahli keuangan atau psikologi bisa membaca situasi dengan cepat. Insting ini melibatkan tubuh dan pengalaman manusia.
  • Kedua, intuisi.
  • Intuisi lahir dari pengalaman hidup yang panjang—jatuh bangun puluhan tahun. Ini lebih dalam dari insting, tetapi tetap bersumber pada logika dan pengalaman manusia.
  • Ketiga, insight.
  • Inilah yang paling menentukan. Insight berasal dari pewahyuan Roh Kudus. Ini bukan hasil pendidikan formal, bukan hasil pengalaman hidup, dan bukan sekadar pengetahuan Alkitab. Insight adalah saat Roh Kudus berbicara secara pribadi dan spesifik.

    “Rasanya tidak mungkin.”
    “Secara logika tidak masuk.”
    “Secara pengalaman mustahil.”

    Namun ketika Roh Kudus memberi pewahyuan, ketaatan kepada suara itu membuka pintu mujizat.

Simon tidak bertindak berdasarkan insting atau intuisi nelayan. Ia taat pada insight Ilahi yang ia terima hari itu. Ia menebarkan jala—meskipun tidak mengerti sepenuhnya. Dan ketika ia taat, mujizat terjadi: jala penuh ikan sampai hampir koyak.

Hari-hari ini, yang paling kita butuhkan bukan hanya logos—Firman yang kita baca dan pahami—tetapi rhema, Firman yang dihidupkan oleh Roh Kudus dan berbicara secara pribadi.

Logos tanpa rhema bisa berbahaya. Petrus berjalan di atas air bukan karena ia tahu ayatnya, tetapi karena ia menerima perintah pribadi dari Tuhan: “Datanglah.” Tanpa rhema, seseorang bisa tenggelam meskipun hafal ayat.

Simon menerima rhema hari itu—dan ia taat. Itulah kunci mujizat!

Pagi ini, Roh Kudus sedang berbicara secara pribadi kepada beberapa dari Saudara. Mungkin terdengar seperti ini: “Rasanya mustahil, rasanya tidak mungkin sembuh, rasanya tidak akan ada perubahan.” Namun ketika Roh Kudus berbicara, bagian kita adalah mengaminkan dan taat. Ujung dari ketaatan sejati pasti menghadirkan mujizat. Katakan amin.

Mari kita ulangi kembali pelajaran hari ini:

  • Yang pertama, Yesus masuk ke dalam perahu kehidupan Simon.
  • Ia bukan sekadar Juruselamat, tetapi menjadi Tuhan dan Raja dalam hidupnya. Inilah fondasi utama yang akan menentukan seluruh perjalanan hidup seseorang.
  • Yang kedua, bertolak ke tempat yang lebih dalam.
  • Dua tangan harus dikobarkan bersama. Tangan kiri bekerja mencari nafkah—menjala ikan. Tangan kanan melayani Tuhan—menjala manusia. Keduanya dimaksimalkan, tidak dihanguskan salah satunya. Hidup dipersembahkan sepenuhnya bagi Tuhan.
  • Yang ketiga, taat pada kehendak Tuhan. Jangan hanya bersandar pada insting atau intuisi manusia.
  • Tuhan menghargai hikmat dan logika, tetapi ada yang lebih tinggi, yaitu rhema—pewahyuan pribadi dari Roh Kudus. Walaupun kita tidak tahu ujung jalannya, bagian kita hanyalah taat dan melangkah. Bagian Tuhan adalah mengadakan mujizat.

#4 Langkah keempat: Menyadari semua karena anugerah

Ilustrasi khotbah 20250928-Fisher of man-4.jpg Yang keempat, menyadari bahwa semuanya terjadi karena anugerah. Ketika Simon Petrus melihat banyaknya ikan, ia tersungkur dan berkata, “Tuhan, aku ini orang berdosa.” Orang yang melewati proses pertama sampai ketiga akan sampai pada titik ini—takjub dan merendahkan diri. Semakin diberkati, semakin melekat kepada Kristus. Semakin diangkat, semakin rendah hati.

Namun ada respons yang keliru terhadap berkat: kesombongan. Ketika berkat membuat seseorang lupa diri, ujungnya adalah kehancuran. Tetapi Simon Petrus berbeda. Ia sadar, “Aku ada sebagaimana aku ada hanya karena anugerah Tuhan.” Karena itu ia tidak menyia-nyiakan anugerah tersebut. Tangan kirinya tetap bekerja mencari nafkah, tangan kanannya tetap menjala manusia—semuanya untuk kemuliaan Tuhan.

#5 Langkah kelima: Yesus menjadi pusat kehidupan

Ilustrasi khotbah 20250928-Fisher of man-5.jpg Yang kelima, perjalanan transformasi Simon menjadi Simon Petrus adalah gambaran perjalanan hidup kita. Bagi Simon Petrus dan hamba Tuhan yang dipanggil secara khusus, ia meninggalkan semuanya dan melayani Tuhan sepenuh waktu.

Tetapi bagi sebagian besar kita, kita tetap bekerja, berbisnis, melayani, dan membangun kehidupan—namun pusatnya bukan diri sendiri, melainkan Yesus Kristus.

Gereja boleh bertumbuh, pelayanan boleh meluas, cabang boleh banyak, tetapi tujuannya hanya satu: Yesus ditinggikan dan dimuliakan. Dialah pusat kehidupan, pusat pelayanan, dan pusat segala kemuliaan.

Tuhan memberkati kita semua!

Nyanyi:

Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataan-Mu

Ku aman kar'na Kau menjaga
Ku kuat kar'na Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasa-Mu

Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
Mujizat-Nya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkan-Nya

Video