Tergerak oleh belas kasihan
![]() ![]() | |
| Inspirational | |
| Tanggal | 25 Agustus 2026 |
| Oleh | Victor Pandiwidjaja |
| Baca juga | |
| |
| |
Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan ketika melihat orang banyak yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil untuk membawa kasih, pengharapan, dan kesaksian Kristus kepada mereka yang belum mengenal Dia. Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit; karena itu, mari kita bersedia dipakai Tuhan menjadi saksi-Nya.
Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
Kita bersyukur pada bulan ini kita merayakan hari kemerdekaan bangsa kita. Demikian juga, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, sesungguhnya kita sudah dimerdekakan. Kita sudah dibebaskan dari kuasa dosa, karena darah Tuhan Yesus berkuasa menghapus dosa kita.
Dari dua ayat ini, kita melihat bahwa masih banyak orang yang belum mengenal Kerajaan Sorga. Yesus berkeliling ke semua kota dan desa. Ia tidak hanya datang ke kota-kota besar atau tempat-tempat yang nyaman, tetapi juga ke desa-desa.
Artinya, dalam pelayanan, kita juga jangan membatasi diri hanya pada tempat yang besar, mudah, atau nyaman. Kita juga perlu memiliki hati untuk menjangkau tempat-tempat yang masih kurang, yang mungkin belum banyak tersentuh, dan orang-orang yang belum mengenal Tuhan.
Firman Tuhan juga mengatakan bahwa Yesus melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Pada zaman itu, penyakit seperti kusta dianggap sebagai aib, bahkan sering dikaitkan dengan dosa. Pada zaman sekarang, ada banyak penyakit berat seperti kanker dan berbagai penyakit lainnya.
Sebagai anak Tuhan, kita percaya bahwa Tuhan berkuasa atas segala penyakit. Kita juga percaya bahwa Tuhan dapat memakai hidup kita untuk mendoakan dan menjadi saluran berkat bagi orang-orang yang sakit.
Namun bukan hanya penyakit secara fisik. Pada waktu itu, kelemahan juga dapat berbicara tentang keadaan fisik seperti buta, tuli, atau timpang. Tetapi dalam konteks kehidupan hari ini, kelemahan juga dapat kita lihat lebih luas, termasuk kelemahan secara rohani.
Contohnya perempuan Samaria. Secara fisik ia mungkin sehat, tetapi ia memiliki pergumulan dalam hidupnya. Ia pernah memiliki lima suami, dan hidupnya menunjukkan ada kebutuhan rohani yang dalam. Tuhan Yesus hadir menjumpainya dan menjadi jawaban bagi hidupnya.
Karena itu, kita juga dipanggil untuk menjadi jawaban bagi orang-orang yang sedang lemah, letih, dan berdosa. Mengapa? Karena Matius 9:36 berkata bahwa mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
Saya teringat kepada ibu saya ketika ayah saya sedang sakit. Sebagian Bapak/Ibu mungkin mengenal ayah saya dari Ciampea. Beliau dipanggil Tuhan pada tahun 2012. Selama hampir satu tahun sebelum itu, beliau sakit. Dari pengalaman itu, kita dapat melihat bahwa merawat orang yang sakit bisa membuat kita lelah dan capek.
Namun kita bersyukur karena kita memiliki Tuhan Yesus. Di dalam Dia, kita memperoleh kekuatan. Tetapi mari kita renungkan: bagaimana dengan orang-orang yang belum mengenal Yesus? Mereka bisa merasa lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Mereka tidak tahu harus datang kepada siapa.
Saat ini, saya dan istri sedang mendoakan dua orang guru musik yang belum mengenal Tuhan. Kami berusaha membagikan kepada mereka siapa jawaban atas hidup kita. Tentunya kami tidak bisa melakukannya dengan cara yang ekstrem, karena isu agama adalah hal yang sensitif. Tetapi saya percaya, kita dapat menunjukkan identitas kita melalui kasih.
Saya percaya ketika kita terus menabur, pada waktunya kita akan menuai. Kita berusaha menjadi jawaban bagi mereka. Ketika mereka merasa lelah, kita bertanya dan mendengarkan pergumulan mereka. Lalu kita menyaksikan bahwa Tuhan kita sangat baik dan sanggup menjawab segala persoalan hidup.
Jadi, kata kunci dari Matius 9:36 adalah belas kasihan. Kita perlu memiliki belas kasihan kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Kita bersyukur karena kita memiliki Tuhan Yesus. Walaupun kita merasa lelah, kita tetap memiliki kekuatan dari Dia. Tetapi orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus bisa merasa lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
Ia bahkan hampir mati karena pekerjaan Kristus, tetapi tetap setia dalam pelayanan.
Mari kita lanjutkan dengan ayat berikutnya:
Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
- Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Matius 9:37–38)
Tuaian banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mari kita meminta kepada Bapa yang empunya tuaian supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja. Dan biarlah kita juga mau dipakai Tuhan menjadi alat dan saksi-Nya bagi banyak orang.
Amin.

