Jadi, menjadi seorang penyembah bukan sekedar menjadi seorang yang lebih "baik" tetapi menjadi pribadi yang mau meninggalkan kehidupan lamanya yang telah ditebus dari dosa oleh Kristus, menjadi pribadi yang mau diperbaharui roh dan pikirannya oleh Roh Kudus, sesuai dengan kebenaran firman, yaitu ajaran dan teladan Yesus.
Bacaan: Yohanes 4:23-24
Pendahuluan
Dua minggu yang lalu kita sempat belajar bahwa mengenai penyembahan dapat kita mengerti ada dalam dua bentuk, yaitu penyembahan dalam pengertian besar, yaitu mempersembahkan hidup kita sebagai bentuk penyembahan kepada Tuhan, dan penyembahan dalam pengertian spesifik yaitu ekspresi doa, pujian, penyembahan dan juga persembahan. Minggu ini kita akan belajar bagaimana kita menjalan hidup kita sebagai seorang penyembah.
Isi dan sharing
{{ol-list-kom | liclass= h4
- Yoh 4:23-24 Cara hidup penyembah sejalan dengan penyembahannya
Kehidupan sebagai seorang penyembah tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup yang dijalaninya. Seseorang tidak dapat mengklaim dirinya adalah penyembah Allah, namun cara dia menjalani hidupnya sehari-hari tidak sejalan dengan sosok Allah yang ia sembah. Seseorang tidak dapat mengklaim dirinya adalah penyembah Tuhan Yesus, tetapi gaya hidupnya tidak mencerminkan Tuhan Yesus yang ia sembah. Kata "dalam roh" menunjukkan bahwa seorang yang mengklaim dirinya penyembah haruslah sungguh-sungguh hidup, hatinya dan rohnya diarahkan oleh Roh Kudus. Kata "dalam kebenaran" merujuk bahwa seorang penyembah haruslah sungguh-sungguh menuruti Firman Tuhan, yaitu menuruti dan meneladani Yesus Kristus. Yesus adalah sang Firman itu sendiri (
Yohanes 1:1, 14). Jadi, menjadi seorang penyembah bukan sekedar menjadi seorang yang lebih "baik" tetapi menjadi pribadi yang mau meninggalkan kehidupan lamanya yang telah ditebus dari dosa oleh Kristus, menjadi pribadi yang mau diperbaharui roh dan pikirannya oleh Roh Kudus, sesuai dengan kebenaran firman, yaitu ajaran dan teladan Yesus.
- rom 12:1 Hidupnya mengarah pada satu target: perkenanan Tuhan
Rasul Paulus mengajarkan dengan presisi dan tepat bagaimana seorang penyembah menjalankan hidupnya.
Roma 12:1 dimulai dengan kata: "Karena itu." Apa yang ia maksudkan dengan dua kata ini? Dua kata ini menunjukkan pada perihal anugrah keselamatan yang Allah berikan, yang dibahas Paulus secara panjang lebar di kesebelas pasal sebelumnya. Karena kita sudah menerima anugrah keselamatan, kita dinasihatkan untuk mempersembahkan diri kita (dari pengertian kata "tubuh") kepada Allah, itulah penyembahan (dari pengertian kata "ibadah") kita yang sejati. Cara hidup yang bagaimana yang hendaknya kita jalankan sehingga itu menjadi cerminan seorang penyembah/penerima anugrah keselamatan? Ada 3 (tiga) kata kunci yang Paulus ajarakan:
Hidup (Yunani:
zao), yaitu menjalani keseharian hidup sebagai orang yang sudah ditebus dari kematian rohani, sebaliknya hidup dalam sukacita dan penuh pengharapan di dalam Kristus.
Kudus (Yunani:
hagios), yaitu menjalani keseharian hidup terpisahkan dari gaya hidup orang-orang yang tidak mengenal Allah dan duniawi.
Berkenan (Yunani:
euarestos), yaitu menjalani keseharian hidup sejalan dengan keinginan Roh Kudus. Kita mempersembahkan diri kita sebagai rumah yang telah mati kepada dosa dan kini sebagai rumah Roh Kudus.
- mik 6:8 Hidupnya mencerminkan sifat-sifat Allah yang disembahnya
Konteks sederhana dari ayat kita baca adalah teguran nabi Mikha kepada Israel yang hidupnya tidak sesuai dengan penyembahan yang mereka lakukan kepada Allah Israel (yang sekarang kita sembah dalam nama Yesus Kristus). Mereka mengklaim telah memberikan banyak korban bakaran, tetapi Allah tetap tidak berkenan. Mengapa? Karena kehidupan mereka tidak mencerminkan sifat-sifat Allah yang mereka klaim mereka sembah. Dari ayat
mikha 6:8 yang kita baca, nabi Mikha mengingatkan bahwa Allah menuntut hidup kita mencerminkan sifat Dia yaitu:
berlaku adil (Ibrani:
mishpat), yaitu tidak memihak dan jujur dalam memperlakukan sesama manusia,
mencintai kesetiaan (Ibrani:
khesed), yaitu memilih untuk mengutamakan kebaikan, kemurahan hati dan kesetiaan dalam hidup sehari-hari,
hidup rendah hati (Ibrani:
tsana), yaitu penuh hormat kepada Allah dan sadar dengan penuh bahwa tanpa Dia, hidup kita tidak ada apa-apanya.
Kesaksian
Sekalipun engkau ingin hidup mencerminkan Allah dalam pekerjaan/aktifitasmu, menurutmu faktor yang membuatmu sukar untuk melakukannya di sana? Adakah contoh atau pergumulan yang kau hadapi tentang hal ini saat ini? Bagaimana engkau mengatasinya? Bagikan pergumulan dan kisahmu.
Kesimpulan dan saling mendoakan
Jika kita perhatikan dan renungkan, banyak hal yang sebenarnya bisa kita "titipkan" untuk kita persembahkan kepada Allah. Kita bisa menitipkan uang persembahan, persepuluhan, bahkan persembahan sulung atau donasi untuk membantu sesama yang dalam berkekurangan, melalui orang lain atau pihak ketiga untuk disampaikan. Tetapi, penyembahan harus kita persembahkan sendiri. Tidak ada yang bisa mewakili pujian dan penyembahan-Mu kepada Tuhan, dan tidak ada yang bisa mewakili bagaimana engkau menjalani hidupmu sehari-hari di hadapan Tuhan maupun manusia. Itu harus kita lakukan sendiri masing-masing. Karena itu, jalanilah hidupmu sebagai penyembah. Amin.
Jadwal