Ucapan yang membangun dan berdampak

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 29 Juni 2026 21.40 oleh Jaen (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info | templatetype=inspirational | namespace= Article | pagename= 20260702/IN | title= Ucapan yang membangun dan berdampak | date= 2026-07-02 | event= Menara Doa Unity | displayevent= Menara Doa Unity | actualdate= 2026-06-25 | notes= | name= Karunia Wijaya | completename= Karunia Wijaya | illustration16x9= {{LatestImage/Inspirational | name=Karunia Wijaya | date=2026-01-22 }} | illustration1x1= Logo Inspirational 1x1.webp | illustration...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Tuhan menghendaki agar kita mengucap syukur dalam segala hal dan memakai perkataan kita untuk membangun orang lain. Perkataan yang positif dapat memberi semangat, pengharapan, dan kekuatan bagi mereka yang sedang lemah. Karena itu, marilah kita menjadi pribadi yang membawa dampak melalui ucapan syukur, perkataan yang membangun, dan kehidupan yang menjadi kesaksian.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

1 Tesalonika 5:18

Tuhan menghendaki supaya apa yang kita ucapkan memiliki dampak positif bagi orang-orang yang mendengarnya. Perkataan kita memiliki kuasa yang besar: bisa membangun, tetapi juga bisa melemahkan; bisa menghidupkan semangat, tetapi juga bisa mematikan semangat orang lain.

Dalam keadaan seperti sekarang, ketika banyak orang mengalami kesulitan dan tekanan, kita tetap dipanggil untuk mengucap syukur. Ucapan syukur bukan hanya diucapkan pada hari Minggu ketika kita berada di gereja atau bertemu dengan teman seiman. Ucapan syukur seharusnya menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Ketika kita bertemu dengan sesama orang percaya dan bertanya, “Apa kabar?" sering kali ada jawaban, “Luar biasa!” Saya terinspirasi dengan semangat seperti itu. Sebagai orang percaya, hidup kita seharusnya membawa kesaksian bahwa di dalam Tuhan selalu ada sukacita, pengharapan, dan kekuatan.

Bahkan ketika menghadiri ibadah kedukaan sekalipun, orang percaya tetap memiliki penghiburan dan sukacita dari Tuhan. Inilah yang perlu kita tularkan kepada orang-orang di sekitar kita: bukan sukacita yang dibuat-buat, tetapi sukacita yang lahir dari iman dan pengharapan kepada Tuhan.

Ucapan syukur tidak hanya berlaku di dalam gereja, tetapi juga dalam aktivitas dan kehidupan sehari-hari. Ketika bertemu orang di toko dan ditanya, “Ramai tidak tokonya?” kita bisa belajar menjawab dengan sikap hati yang penuh syukur. Sekalipun keadaan belum ideal, kita tetap bisa bersyukur karena Tuhan masih memberi kesehatan, kekuatan, dan kesempatan.

Dari perkataan kita, orang lain bisa dibangun atau dilemahkan. Karena itu, kita perlu menjaga ucapan kita agar membawa semangat, pengharapan, dan kekuatan.

Saya teringat ketika sedang hiking. Saat tubuh mulai capek, ada orang yang memberi semangat, “Ayo, Pak! Semangat! Sebentar lagi sampai!” Perkataan sederhana seperti itu ternyata dapat membangkitkan kembali kekuatan dan semangat untuk melanjutkan perjalanan.

Demikian juga dalam hidup sehari-hari. Kita dipanggil untuk mengimpartasikan semangat kepada orang lain, bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui sikap hidup kita. Biarlah kehidupan kita menjadi kesaksian yang membawa dampak positif bagi orang-orang di sekitar kita.

Mari belajar mengucap syukur dalam segala hal dan memakai perkataan kita untuk membangun, menguatkan, dan memberi semangat kepada sesama.

Amin.