Relationship with God: hubungan yang lebih melekat dengan Tuhan
![]() | |
| Inspirational | |
| Tanggal | 10 Februari 2026 |
| Oleh | Andy Sukanta |
| Baca juga | |
| |
Hubungan yang melekat dengan Tuhan adalah kebutuhan, bukan sekadar kewajiban rohani. Saat kita berakar kuat di dalam Tuhan, kita tetap teguh meski badai kehidupan datang. Melekat kepada Kristus membuat hidup kita diubahkan, dipenuhi damai sejahtera, dan menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan.
Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau; jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.
Mazmur ini ditulis Daud ketika ia berada di padang gurun Yehuda, dalam kondisi yang tidak nyaman dan penuh tekanan. Namun justru di tengah situasi itulah Daud menyatakan kerinduannya yang dalam kepada Tuhan. Firman Tuhan menegaskan bahwa hubungan pribadi dengan Tuhan bukanlah sekadar kewajiban rohani, melainkan kebutuhan hidup.
Hubungan yang melekat dengan Tuhan menjadi dasar kita menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, kita perlu menyediakan waktu secara sengaja untuk bersekutu dengan Tuhan setiap hari—melalui saat teduh, doa, dan membaca firman—memberi ruang bagi Tuhan untuk berkomunikasi dengan kita, bukan sekadar menjalankan rutinitas agama.
Mengapa kita perlu melekat kepada Kristus?
- Bersandar penuh kepada Tuhan
- Berakar seperti pohon yang kuat
Ketika kita melekat kepada Tuhan, Dia yang mengubahkan hati kita. Kebiasaan buruk perlahan disucikan, hidup kita diproses, dan karakter dibentuk. Masalah mungkin tetap ada, tetapi kita siap menghadapinya karena Tuhan menaruh damai sejahtera, sukacita, dan hikmat yang melampaui pemahaman manusia—hikmat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
