Ketika Firman Tuhan diperdengarkan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 26 Januari 2026 14.13 oleh Leo (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Firman Tuhan yang kita dengar selalu menuntut respons yang nyata dalam hidup. Mendengar saja tidak cukup, karena Tuhan memanggil kita untuk memilih kehidupan dan bertanggung jawab atas kebenaran yang kita terima. Ketika kita melakukan Firman Tuhan, hidup kita akan berbuah dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Firman Tuhan yang diperdengarkan selalu menuntut respons dari pendengarnya. Tidak cukup hanya mendengar, tetapi ada proses rohani yang harus terjadi: mendengar, menanggapi, dan bertanggung jawab atas kebenaran yang telah diterima.

  1. Shema – Mendengar Firman Tuhan
  2. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ulangan 6:4)

    Kata Shema dalam bahasa Ibrani bukan sekadar berarti mendengar, tetapi juga mengandung arti taat (obey). Ungkapan Shema Yisrael (Adonai Eloheinu, Adonai Echad) menegaskan bahwa iman kepada Tuhan dimulai dari mendengar Firman-Nya.

    Jadi iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)
    Setiap orang yang rindu imannya bertumbuh harus mau mendengar dan membaca Firman Tuhan. Sama seperti mengenali uang palsu dengan memahami uang yang asli, kita hanya bisa mengenal Tuhan dengan benar jika kita tekun mendengar dan membaca Firman-Nya. Melalui Firman Tuhan, manusia rohani kita dikuatkan dan terus bertumbuh dari hari ke hari.
  3. Response – Menanggapi Firman Tuhan
  4. Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya; sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu, untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka. (Ulangan 30:19–20)
    Mendengar Firman Tuhan saja tidak cukup. Ketika Injil diberitakan, setiap orang diperhadapkan pada pilihan: kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk. Tuhan menciptakan manusia bukan sebagai robot, melainkan memberikan kehendak bebas. Manusia bisa memilih untuk menerima atau menolak Kristus, dan setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi.
  5. Responsibility – Tanggung jawab moral dan spiritual
  6. Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. (Galatia 6:7–8)

    Ketika kita memilih kehidupan dan berkat, respons kita tidak berhenti pada keputusan hati saja, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kita dipanggil untuk menabur kebenaran melalui perbuatan dan perkataan. Prinsip tabur-tuai adalah hukum Allah, bukan sekadar hukum alam, dan berlaku bagi semua orang — baik orang percaya maupun yang belum percaya.

    Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Menabur daging akan menuai kebinasaan, sedangkan menabur dalam Roh akan menuai hidup yang kekal. Karena itu, setiap orang yang mendengar Firman Tuhan — baik di gereja maupun di komunitas COOL — memiliki tanggung jawab untuk melakukan Firman tersebut. Orang yang diberkati adalah orang yang mendengar Firman Tuhan dan melakukannya.