Article: 20261015/IN: Perbedaan antara revisi

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Jaen (bicara | kontrib)
←Membuat halaman berisi '{{unified info | templatetype=inspirational | release=no | namespace= Article | pagename= 20261015/IN | title= Dua modal yang tak terbeli | date= 2026-10-15 | event= Renungan | displayevent= Renungan | actualdate= 2026-10-08 | notes= | name= Anton Hendranata | completename= Dr Ir Anton Hendranata, MSi | illustration16x9= Logo Inspirational.webp | illustration1x1= Logo Inspirational 1x1.webp | illustrationA5= | summary=Kepercayaan membuat perkataa...'
 
Jaen (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 5: Baris 5:
  | title= Dua modal yang tak terbeli
  | title= Dua modal yang tak terbeli
  | date= 2026-10-15
  | date= 2026-10-15
  | event= Renungan
  | event= Menara Doa Unity
  | displayevent= Renungan
  | displayevent= Menara Doa Unity
  | actualdate= 2026-10-08
  | actualdate= 2026-10-08
  | notes=  
  | notes=  
  | name= Anton Hendranata
  | name= Lie Handry Senjaya
  | completename= Dr Ir Anton Hendranata, MSi
  | completename= Pdp Lie Handry Senjaya
  | illustration16x9= Logo Inspirational.webp
  | illustration16x9= {{LatestImage/Inspirational | name=Lie Handry Senjaya | date=2026-03-05 }}
  | illustration1x1=  Logo Inspirational 1x1.webp
  | illustration1x1=  Logo Inspirational 1x1.webp
  | illustrationA5=
  | illustrationA5=
  | summary=Kepercayaan membuat perkataan kita dihargai, sedangkan ketulusan membuat kebaikan kita menjadi berkat. Keduanya tidak dapat dibeli, tetapi dapat dibangun setiap hari melalui kehidupan yang jujur, setia, dan berintegritas. Marilah kita menjaga kedua modal tersebut dengan pertolongan Roh Kudus serta meneladani Tuhan Yesus, yang mengasihi kita dengan tulus tanpa pamrih.
  | summary=Yosua memberi teladan tentang ketaatan, keberanian yang lahir dari iman, dan kepemimpinan rohani dalam keluarga. Keberhasilan orang percaya bukan terutama bergantung pada kemampuan diri sendiri, tetapi pada kesediaan untuk menaati Firman dan percaya kepada penyertaan Tuhan. Karena itu, mari hidup taat, berani menghadapi tantangan bersama Tuhan, dan membawa keluarga kita tetap setia beribadah kepada-Nya.
  | shortsummary=Marilah kita menjaga kedua modal tersebut dengan pertolongan Roh Kudus serta meneladani Tuhan Yesus, yang mengasihi kita dengan tulus tanpa pamrih.
  | shortsummary=Karena itu, mari hidup taat, berani menghadapi tantangan bersama Tuhan, dan membawa keluarga kita tetap setia beribadah kepada-Nya.
}}
}}
{{blockquote/Ayat
{{blockquote/Ayat
| '''''Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas.'''''
| '''''Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi.'''''
| {{sabdaweb2v|Amsal 22:1}}
| {{sabdaweb2v|Yosua 1:7}}
}}
}}
Tidak semua modal dapat disimpan di bank, dicatat dalam laporan keuangan, atau dibeli dengan kekayaan. Uang dapat membeli aset dan membuka kesempatan, tetapi tidak dapat membeli kepercayaan yang sejati ataupun ketulusan hati. Dalam kehidupan dan kepemimpinan, keduanya justru menjadi modal yang sangat menentukan. Kepercayaan dan ketulusan tidak diperoleh melalui transaksi, melainkan dibangun melalui kejujuran, kesetiaan, dan integritas yang teruji oleh waktu.
Ada tiga teladan penting yang dapat kita pelajari dari kehidupan Yosua.


Kepercayaan adalah dasar dalam hubungan antar manusia. Dunia usaha tidak dapat berjalan tanpa kepercayaan antara penjual, pembeli, pemimpin, pekerja, dan mitra bisnis. Ketika kepercayaan dirusak oleh kebohongan, uang sebanyak apa pun tidak dapat memulihkannya dalam sekejap. Itulah sebabnya nama baik dan integritas merupakan kekayaan yang tidak ternilai.
{{ol-list
| 1= '''Ketaatan dan kesetiaan'''
| p1=
Sebelum menjadi seorang pemimpin besar, Yosua adalah seorang pelayan dari pemimpin besar, yaitu Musa. Yosua menunjukkan keteladanan dalam ketaatan dan kesetiaannya kepada Tuhan. Ia melakukan apa yang Tuhan perintahkan melalui Musa dengan sungguh-sungguh.


Kebenaran ini terlihat dalam kehidupan Yusuf. Meskipun pernah dijual sebagai budak dan diperlakukan tidak adil, Yusuf tetap jujur dan bertanggung jawab. Potifar memercayakan seluruh rumahnya kepada Yusuf. Kemudian, Firaun memercayakan pengelolaan perekonomian Mesir kepadanya. Dengan hikmat Tuhan, Yusuf mengelola persediaan makanan sehingga banyak orang diselamatkan dari kelaparan. Orang yang dapat dipercaya akan membawa keamanan dan kesejahteraan bagi banyak orang.
'''''Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, hamba-Nya itu, demikianlah diperintahkan Musa kepada Yosua, dan seperti itulah dilakukan Yosua: tidak ada sesuatu yang diabaikannya dari segala yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.'''''
({{sabdaweb2v|Yosua 11:15}})


Namun, kepercayaan harus disertai dengan ketulusan. Orang yang tulus melakukan kebaikan tanpa agenda tersembunyi dan tidak menuntut balasan. Jika kita menolong hanya untuk memperoleh keuntungan, pujian, atau kedudukan, hal itu bukan ketulusan, melainkan transaksi.
Dari kehidupan Yosua kita belajar bahwa kunci keberhasilan orang percaya bukanlah kehebatan diri sendiri, kegagahan, kekayaan, ataupun kemampuan kita, tetapi ketaatan kepada kehendak Tuhan.


Ketulusan ditunjukkan oleh Rut ketika ia tetap mendampingi Naomi tanpa mendapatkan jaminan materi. Rut bekerja dengan tekun untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kesetiaan dan ketulusannya membuat Boas menghormatinya, lalu Tuhan membuka jalan bagi masa depannya. Dari Rut kita belajar bahwa ketulusan melahirkan kepercayaan, sedangkan kepercayaan membuka pintu berkat.
Ketaatan bukan hanya dalam perkara besar, tetapi juga dalam perkara-perkara kecil. Karena itu, kita perlu membaca Firman Tuhan setiap hari dan memenuhi hati kita dengan Firman. Bukan hanya membaca, tetapi juga merenungkan dan melakukannya dalam kehidupan kita.


Semangat yang sama terlihat dalam diri Barnabas. Ia menjual ladangnya dan menyerahkan hasilnya untuk menolong jemaat. Barnabas tidak memakai kekayaannya untuk membeli pengaruh. Ia menggunakannya dengan hati yang tulus. Ia juga suka menguatkan dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertumbuh.
| 2= '''Keberanian yang bersumber dari iman'''
| p2=
Ketika dua belas pengintai pergi melihat tanah Kanaan, sepuluh orang menjadi tawar hati dan ketakutan karena melihat penduduk negeri itu yang besar dan kuat. Namun ada dua orang yang memiliki sikap berbeda, yaitu Yosua dan Kaleb.


Sayangnya, banyak orang mencoba membeli kepercayaan melalui sogokan, pencitraan, dan janji manis. Padahal, kehidupan yang dibangun di atas kepura-puraan tidak akan bertahan. Kepercayaan hanya dapat dibangun melalui perkataan yang jujur dan tindakan yang konsisten. Ketulusan terlihat ketika kita berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan.
Keberanian mereka muncul karena mereka percaya kepada Tuhan dan yakin bahwa Tuhan menyertai mereka.


Pada akhirnya, kita mungkin tidak memiliki kekayaan besar, tetapi kita tetap dapat memiliki dua modal yang jauh lebih berharga: kepercayaan dan ketulusan. Kepercayaan membuat perkataan kita dihargai, sedangkan ketulusan membuat kebaikan kita menjadi berkat. Keduanya tidak dapat dibeli, tetapi dapat dibangun setiap hari melalui kehidupan yang jujur, setia, dan berintegritas.
'''''Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.'''''
({{sabdaweb2v|Yosua 1:9}})


Marilah kita menjaga kedua modal tersebut dengan pertolongan Roh Kudus serta meneladani Tuhan Yesus, yang mengasihi kita dengan tulus tanpa pamrih. Inilah dua modal yang tak terbeli (kepercayaan dan ketulusan), tetapi nilainya kekal di hadapan Tuhan dan manusia. ''GBU All''.
Hari-hari ini kita juga menghadapi banyak tantangan, baik dalam ekonomi, pekerjaan, keluarga, maupun pelayanan. Sering kali kita merasa khawatir dan cemas terhadap apa yang ada di depan kita.
 
Namun dari teladan Yosua, kita diingatkan untuk '''jangan hanya fokus kepada besarnya masalah, tetapi fokuslah kepada kebesaran Tuhan.''' Dia adalah Allah Imanuel, Allah yang menyertai kita.
 
Keberanian Yosua bukan muncul karena ia merasa dirinya kuat, tetapi karena ia percaya bahwa Tuhan berjalan bersamanya.
 
| 3= '''Kepemimpinan rohani'''
| p3=
Dalam hidupnya, Yosua juga memberikan teladan kepemimpinan rohani. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi dengan tegas menunjukkan komitmen imannya di hadapan seluruh bangsa Israel dan keluarganya.
 
'''''Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!'''''
({{sabdaweb2v|Yosua 24:15}})
 
Sungguh luar biasa teladan yang diberikan Yosua. Ia tidak hanya berkata bahwa dirinya akan mengikuti Tuhan, tetapi juga menyatakan komitmen bahwa ia dan seisi rumahnya akan beribadah kepada Tuhan.
}}
 
Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menjadi teladan iman dalam keluarga. Terlebih bagi para bapak, kita dipanggil untuk menjalankan peran sebagai pemimpin rohani di dalam keluarga. Kita perlu membangun keintiman dengan Tuhan dan mengingatkan seluruh keluarga untuk terus memiliki hubungan yang dekat dengan-Nya.
 
Mari kita membawa semangat dari kehidupan Yosua:
* ketaatan tanpa kompromi terhadap Firman Tuhan,
* keberanian yang bersumber dari iman kepada Tuhan,
* komitmen membawa keluarga untuk tetap mengikut Tuhan sampai akhir.
 
Kiranya kita menjadi pribadi yang taat, berani, dan mampu menjadi teladan iman bagi keluarga serta orang-orang di sekitar kita.
Amin.

Revisi per 12 Oktober 2026 21.15

Yosua memberi teladan tentang ketaatan, keberanian yang lahir dari iman, dan kepemimpinan rohani dalam keluarga. Keberhasilan orang percaya bukan terutama bergantung pada kemampuan diri sendiri, tetapi pada kesediaan untuk menaati Firman dan percaya kepada penyertaan Tuhan. Karena itu, mari hidup taat, berani menghadapi tantangan bersama Tuhan, dan membawa keluarga kita tetap setia beribadah kepada-Nya.

Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi.

— Yosua 1:7

Ada tiga teladan penting yang dapat kita pelajari dari kehidupan Yosua.

  1. Ketaatan dan kesetiaan
  2. Sebelum menjadi seorang pemimpin besar, Yosua adalah seorang pelayan dari pemimpin besar, yaitu Musa. Yosua menunjukkan keteladanan dalam ketaatan dan kesetiaannya kepada Tuhan. Ia melakukan apa yang Tuhan perintahkan melalui Musa dengan sungguh-sungguh.

    Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, hamba-Nya itu, demikianlah diperintahkan Musa kepada Yosua, dan seperti itulah dilakukan Yosua: tidak ada sesuatu yang diabaikannya dari segala yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. (Yosua 11:15)

    Dari kehidupan Yosua kita belajar bahwa kunci keberhasilan orang percaya bukanlah kehebatan diri sendiri, kegagahan, kekayaan, ataupun kemampuan kita, tetapi ketaatan kepada kehendak Tuhan.

    Ketaatan bukan hanya dalam perkara besar, tetapi juga dalam perkara-perkara kecil. Karena itu, kita perlu membaca Firman Tuhan setiap hari dan memenuhi hati kita dengan Firman. Bukan hanya membaca, tetapi juga merenungkan dan melakukannya dalam kehidupan kita.
  3. Keberanian yang bersumber dari iman
  4. Ketika dua belas pengintai pergi melihat tanah Kanaan, sepuluh orang menjadi tawar hati dan ketakutan karena melihat penduduk negeri itu yang besar dan kuat. Namun ada dua orang yang memiliki sikap berbeda, yaitu Yosua dan Kaleb.

    Keberanian mereka muncul karena mereka percaya kepada Tuhan dan yakin bahwa Tuhan menyertai mereka.

    Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi. (Yosua 1:9)

    Hari-hari ini kita juga menghadapi banyak tantangan, baik dalam ekonomi, pekerjaan, keluarga, maupun pelayanan. Sering kali kita merasa khawatir dan cemas terhadap apa yang ada di depan kita.

    Namun dari teladan Yosua, kita diingatkan untuk jangan hanya fokus kepada besarnya masalah, tetapi fokuslah kepada kebesaran Tuhan. Dia adalah Allah Imanuel, Allah yang menyertai kita.

    Keberanian Yosua bukan muncul karena ia merasa dirinya kuat, tetapi karena ia percaya bahwa Tuhan berjalan bersamanya.
  5. Kepemimpinan rohani
  6. Dalam hidupnya, Yosua juga memberikan teladan kepemimpinan rohani. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi dengan tegas menunjukkan komitmen imannya di hadapan seluruh bangsa Israel dan keluarganya.

    Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! (Yosua 24:15)

    Sungguh luar biasa teladan yang diberikan Yosua. Ia tidak hanya berkata bahwa dirinya akan mengikuti Tuhan, tetapi juga menyatakan komitmen bahwa ia dan seisi rumahnya akan beribadah kepada Tuhan.

Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menjadi teladan iman dalam keluarga. Terlebih bagi para bapak, kita dipanggil untuk menjalankan peran sebagai pemimpin rohani di dalam keluarga. Kita perlu membangun keintiman dengan Tuhan dan mengingatkan seluruh keluarga untuk terus memiliki hubungan yang dekat dengan-Nya.

Mari kita membawa semangat dari kehidupan Yosua:

  • ketaatan tanpa kompromi terhadap Firman Tuhan,
  • keberanian yang bersumber dari iman kepada Tuhan,
  • komitmen membawa keluarga untuk tetap mengikut Tuhan sampai akhir.

Kiranya kita menjadi pribadi yang taat, berani, dan mampu menjadi teladan iman bagi keluarga serta orang-orang di sekitar kita. Amin.